Yang bisa kita pelajari dan kita ambilhikmahnya dari kisah di bawah ini,
lakukan penelitian dan persiapan jauh-jauh hari sebelum kita terpaksa
melakukannya.
salam,
wa
Batu Bara dan Solusi Bahan Bakar Minyak
Senin, 2 Juni 2008 | 01:24 WIB
Berkembangnya harga minyak dunia yang telah melampaui 130 dollar AS per
barrel mengakibatkan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak atau BBM.
Harga BBM sangat mungkin dinaikkan lagi jika harga minyak dunia terus
melambung.
Meningkatnya harga BBM bukan hanya masalah nasional. Negara lain pun
mengalaminya. Menghadapi harga BBM yang makin tak terkendali, sementara
sumber minyak Indonesia terus berkurang, sudah waktunya pemerintah tegas
mengambil langkah strategis.
Dengan memiliki kandungan alam cukup besar, Indonesia dapat mengatasi masalah
ini. Memberdayakan segala potensi, sumber daya alam sampai sumber daya
manusia, Indonesia bisa keluar dari kesulitan. Dengan mengolah batu bara
secara benar, paling tidak dalam enam tahun ke depan masalah ini bisa
teratasi dengan baik. Caranya? Dengan membangun pabrik yang memanfaatkan
batu bara untuk menghasilkan bahan bakar pengganti BBM.
Hal ini telah dibuktikan Afrika Selatan sejak rezim apartheid berkuasa.
Negara ini telah mengembangkan bahan bakar dari batu bara melalui proyek
Sasol I, II, III, serta IV dengan teknologi prosesnya yang telah teruji
(proven) dan kelayakan ekonomi yang baik sejak 10 tahun terakhir sehingga
mampu swasembada bahan bakar pengganti BBM.
Pada tahun 1982, sebagai Direktur Jenderal Industri Kimia Dasar, dengan
persetujuan Menteri Perindustrian Ir Suhud dan restu Presiden Soeharto,
saya mengirimkan satu tim ke Afsel untuk mempelajari teknologi tersebut di
pabrik Sasol I dan II. Tim ini bisa dibilang sebagai misi silent operation
karena pada masa itu Indonesia tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan
negara tersebut.
Saat itu misi ini diatur Brigjen Benny Murdani dari Departemen Pertahanan,
dibantu Pemerintah Belanda. Tim berangkat ke Afsel dipimpin Kolonel Subiakto,
yang waktu itu menjabat Atase Pertahanan KBRI Belanda dengan tim teknis/
ekonomis Ir Wagiono dan Ir Sunaryo dari Direktorat Jenderal Industri Kimia
Dasar.
Pertimbangan penjajakan dan studi ke Afsel saat itu karena batu bara merupakan
sumber energi andalan, baik untuk masa itu maupun untuk masa mendatang.
Dengan perkiraan harga minyak bumi yang cenderung meningkat pada masa
mendatang, dirasa perlu untuk meneliti aspek kelayakan pemanfaatan batu bara
untuk pembuatan BBM. Tepatnya, dengan proses gasifikasi batu bara melalui
proyek Sasol I, Sasol II yang saat ini telah berkembang dengan Sasol III dan
IV, Afsel telah mampu swasembada bahan bakar pengganti BBM.
Pemerintah Afsel sangat kooperatif. Penjelasan mereka sangat rinci mencakup
bidang teknis dan ekonomis. Berdasarkan penelitian oleh Sasol Afsel pada
tahun 1982, yang dilakukan pada sampel brown coal, batu bara muda yang diambil
dari Sumatera Selatan, kandungan batu bara kita terbukti cocok untuk dijadikan
bahan bakar pengganti BBM (synthetic). Namun, karena saat itu harga BBM masih
wajar dan terjangkau, Presiden Soeharto menyarankan proyek tersebut sementara
ditunda dan ditegaskan pula agar batu bara (brown coal) di Sumsel dicadangkan
untuk keperluan itu.
Dewasa ini, dengan meningkatnya harga BBM, pemerintah diharapkan segera
mendorong terlaksananya pembangunan pabrik bahan bakar dari batu bara untuk
pengganti BBM.
Swasembada BBM
Pemanfaatan batu bara sebagai bahan bakar pengganti BBM tidak sulit, tetapi
biayanya cukup besar. Untuk membangun satu pabrik diperlukan waktu enam tahun,
termasuk untuk studi kelayakan, pencarian dana, pembangunan pabrik, termasuk
pengoperasian pabrik.
Karena kelayakannya baik, untuk merealisasikan proyek ini tidak sulit
memperoleh investor, baik dari kalangan BUMN maupun swasta, PMDN, dan PMA.
Soal teknologinya kita bisa bekerja sama dengan Afsel. Pelaksana pembangunan
pabrik dapat dilakukan perusahaan dalam negeri atau asing melalui tender
internasional. Pemerintah perlu menetapkan berapa pabrik yang perlu segera
dibangun.
Demi menunjang suksesnya program ini, sebaiknya dibuat kebijakan, di pusat
atau di daerah, agar ekspor batu bara brown coal dihentikan. Pendapatan devisa
yang selama ini diperoleh dari ekspor batu bara brown coal bisa diganti dengan
meningkatkan ekspor nonmigas. Dengan catatan, iklim usaha harus diupayakan
semakin kondusif.
Di samping membangun pabrik yang menghasilkan bahan bakar pengganti BBM dari
batu bara, ada baiknya jika bangsa ini juga membangun pabrik gasifikasi batu
bara untuk membuat amonia, pupuk, metanol, dan DMA (pengganti LPG).
Pembangunan pabrik-pabrik tersebut dapat dilakukan BUMN atau swasta.
Pada tahun 2008 China telah selesai membangun proyek gasifikasi batu bara
untuk menghasilkan amonia, pupuk, metanol, dan DMA.
Jika hal ini terlaksana, masalah berat yang dihadapi bangsa ini akan bisa
teratasi dalam waktu relatif kurang dari satu dasawarsa.
Berbarengan dengan langkah ini, Indonesia perlu mengambil langkah untuk
biofuel melalui penelitian dan apabila layak, dapat terus dibangun mengingat
kita kaya akan sumber daya alam nabati, sedangkan batu bara pun pada suatu
saat akan habis. Namun, pendirian biofuel dari nabati harus dilakukan secara
hati-hati agar suplai pangan dan ekologi tidak terganggu.
Hartarto Sastrosoenarto Menteri Perindustrian dan Perdagangan (1983-1995);
Menko Wasbang dan PAN (1998-1999)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/02/01241563/batu.bara.dan.solusi.bahan.bakar.minyak
--
--
Info pengelolaan milis anda :
<http://pub.bhaktiganesha.or.id/itb77/milis/list-info-itb77.txt>