Hengki,
Tulisannya
sangat bagus dan materinya sangat mengena dan relevan pada saat kita sedang kembali
mikirin sistim perindustrian yang memang kelihatannya tidak mempunyai grand
strategy.
Semoga
para pengambil kebijakan dan para pelaku industri bisa tergugah utk ikut
memperbaiki kekurangan ini.
Salam,
Nanang
From:
itb77-bounce-DzvTHOYnpihaCN38hz+VB57PR6L3/7vP@public.gmane.org [mailto:itb77-bounce-DzvTHOYnpihaCN38hz+VB57PR6L3/7vP@public.gmane.org] On Behalf Of Triharyo
Sent: Friday, February 01, 2008
8:53 AM
To: itb77-DzvTHOYnpihaCN38hz+VB57PR6L3/7vP@public.gmane.org
Subject: [itb77] Tulisanku tentang
"Soeharto & Teknologi" di Koran Republika
Rekans
Atas permintaan Koran Republika,
saya menuliskan op-ed ini. Opini saya bisa dibaca di koran Republika hari ini
atau pada link berikut http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=321933&kat_id=16
. Saya terus terang belum
pernah menulis untuk sebuah koran. This is a first experience for me.
Jumat, 01 Februari 2008
Soeharto dan
Teknologi
Oleh :
Triharyo
Soesilo
Direktur Utama Rekayasa Industri
Salah satu kriteria kesuksesan seorang pemimpin bangsa adalah
melihat keberhasilannya dalam mengembangkan teknologi di negeri yang ia pimpin.
Presiden Kennedy pada 25 Mei 1961 di depan anggota kongres dan senat Amerika
Serikat mencanangkan untuk mendaratkan seorang manusia di bulan dan
mengembalikannya ke bumi sebelum dekade 1960-an berakhir. Tantangan ini dicapai
oleh AS pada 20 Juli 1969 yang diwakili seorang astronot bernama Neil
Armstrong. Walaupun pencapaian ini tidak mampu disaksikan Kennedy yang
tertembak di Kota Dallas, Texas, pada 22 November 1963, sejarah tetap mengakui space race (balapan ke bulan) dicanangkan
oleh Kennedy tahun 1961.
Presiden Ronald Reagan pada 23 Maret 1983 juga membuat sejarah
dengan mencanangkan strategi baru untuk meningkatkan pertahanan terhadap
serangan peluru kendali bermuatan nuklir. Strategi ini sering dijuluki Star Wars yang intinya meningkatkan
teknologi untuk menembak jatuh peluru kendali Rusia yang sedang terbang menuju
AS.
Di dunia berkembang, kita mengenal Presiden Brasil Luiz Incio da
Silva (Lula) yang dilantik pada 2003. Sejarah membuktikan berkat dorongannya
pengembangan industri bioetanol dari produk sampingan gula di Brasil menjadi
semakin maju. Ia memberikan keringanan pajak bagi mobil dengan bahan
bakar etanol. Pada 2004 jumlah mobil flex
fuel yang hanya 17 persen waktu itu meningkat menjadi 53,6 persen
tahun 2007.
Soeharto sebagai anak petani pada awal kepemimpinannya memusatkan
perhatian pada pembangunan pertanian. Ia kembangkan teknologi intensifikasi dan
ekstensifikasi. Karena umumnya petani tak puas jika tidak ditunjukkan bukti,
Soeharto mengembangkan lahan percontohan. Ia mempunyai lahan penelitian
di Tapos untuk mencoba teknologi pertanian dan peternakan. Dia juga menerapkan
teknologi informasi penyuluhan dan bimbingan yang disebut intensifikasi massal
(inmas) dan bimbingan massal (bimas). Program penyuluhan menggunakan
teknologi radio dan televisi, seperti temu wicara program kelompencapir,
dikembangkan.
Indonesia bisa melipatgandakan produk beras. Indonesia
pada 1969 hanya memproduksi 12,2 juta ton beras. Lalu, dengan teknologi baru
pada 1984 mencapai produksi 25,8 juta ton. Pada 14 November 1985 Mr Edouard
Saouma, dirjen FAO, memberikan penghargaan kepadanya. Soeharto terus mencari
teknologi untuk meningkatkan produktivitas. Dia mendorong pemakaian pupuk yang
lebih besar ukurannya sehingga lebih hemat (pupuk briket). Namun, program ini
terhenti karena berbagai kepentingan pribadi keluarga Soeharto.
Lalu, bagaimana kepiawaian Soeharto dalam merangkul dan
mengembangkan teknologi di luar teknologi pertanian, misalnya di bidang
industri? Di sinilah peran Soeharto terlihat tidak fokus. Dia mengembangkannya
secara lebar (broad-based strategy).
Awalnya pengembangan teknologi industri diarahkan pada substitusi impor. Seluruh
pengembangan untuk memproduksi produk secara mandiri. Pada era 1970-an sebagian
besar pabrik dibangun oleh teknolog asing untuk menghasilkan produk substitusi
impor.
Kilang Dumai yang dibangun oleh kontraktor Jepang Ishikawajima
Harima Industries Co diresmikan tanggal 8 September 1971, Kilang Sei Pakning
yang dibangun Refican Ltd (Refining Associates Canada Limited) dialihkan ke
Pertamina pada September 1975. Kilang minyak Cilacap yang dibangun oleh Fluor,
AS, diresmikan tahun 1977, pabrik pupuk Kujang, dan pabrik pupuk Pusri yang
juga dibangun oleh perusahaan AS, Kellogg, adalah berbagai industri yang
dibangun untuk melakukan substitusi impor. Namun, pembangunan pabrik maupun
kilangnya dilakukan oleh kontraktor asing.
Menjelang 1980-an, setelah melihat cadangan minyak dan gas mulai
menurun, mulailah Soeharto mengembangkan program pembangunan kemandirian
industri dalam negeri, tidak hanya untuk melakukan substitusi impor. Tujuan
utamanya untuk meningkatkan produk ekspor nonmigas. Soeharto tetap menerapkan broad-based strategy dengan berbagai
regulasi. Keputusan Presiden yang mensyaratkan kandungan lokal pada semua
tender pemerintah dikeluarkan. Keppres ini pada awalnya diterapkan dan
dikendalikan oleh Mensesneg Soedharmono dan kemudian dilanjutkan oleh Menko
Ekkuwasbang Hartarto dan Saleh Afif. Untuk setiap tender pemerintah waktu itu,
semua kontraktor harus menghadap ke kantor Sekretariat Negara. Pada era ini
dibentuk departemen baru yang mengurus peningkatan penggunaan produksi dalam
negeri yang antara lain dijabat oleh Ginandjar Kartasasmita.
Pada era inilah
tumbuh berbagai industri dalam negeri dan perusahaan nasional. Mereka
mendapatkan kesempatan membangun dan memproduksi produk dalam negeri.
Contohnya, kelompok Bakrie memperoleh preferensi mengembangkan industri
perpipaan, kelompok Bukaka mendapat kesempatan untuk membangun industri belalai
pesawat terbang dan pompa angguk, kelompok Arifin Panigoro mendapat kesempatan
membangun industri transmisi listrik. Lalu, ada PT Rekayasa Industri
mendapatkan kesempatan untuk membangun pabrik pupuk, PT Inti Karya Persada
Teknik mengembangkan kemampuan membangun pabrik LNG, PT Tripatra Engineers
mendapat kesempatan membangun fasilitas pengolahan gas alam. Juga ada industri
strategis, seperti PT Dirgantara Indonesia, PT Inti, PT Pindad, dan PT PAL.
Salah satu hal yang
patut disayangkan adalah fokus industri pada pengolahan produk pertanian yang
disarankan oleh para ekonom saat itu tidak digubris oleh Soeharto. Karena
kepiawaian Habibie, Soeharto lebih memilih teknologi tinggi (high-technology) industri pesawat terbang
ketimbang teknologi pengolahan industri agro pascapanen. Industri penggilingan
padi menjadi tidak terintegrasi. Industri gula tidak efisien. Industri produk
oleokimia yang merupakan produk hilir kelapa sawit tidak mendapat perhatian.
Sejarah membuktikan
kebijakan meninggalkan teknologi pascapanen produk pertanian adalah kesalahan
utama Soeharto di bidang teknologi. Ini yang membuat Indonesia saat ini belum
memiliki keunggulan industri pengolahan produk pertanian. Indonesia sebuah
negara yang mempunyai keunggulan lintasan matahari yang sangat panjang di
khatulistiwa. Salah satu keunggulan kompetitif dibanding negara lain adalah
cuaca yang baik dan juga energi matahari sangat berlimpah.
Pada awal pemerintahannya, Soeharto menyadari itu dengan
menerapkan berbagai teknologi untuk mendorong swasembada produk beras. Namun,
pada akhir masa kepemimpinannya, Soeharto melupakan keunggulan ini dan terpukau
pada teknologi tinggi yang bahan bakunya tidak tersedia di Indonesia. Itulah
catatan sejarah Soeharto di bidang teknologi hingga kita bernasib seperti
sekarang ini.