Re: Laporan : SURAT BUAT KANG GOEN
Liestyawati <liesaja@...> writes:
> saya memang tidak mau "membuang" tulisan kang nanang
> yang bagus ini.
> menurut saya tulisan inipun bisa dimasukkan dalam buku
> itb77.
> wass, lies
Setuju, mbak Lies. Mas Nanang "harus" mengiklaskannya....
demi itb77.... demi generasi penerus...
Wong saya, kok....
"Saya" bukan apa-apa.
"Saya" bukan siapa-siapa.
Apa yang sudah kujalani, kalau dunia pengin mem-"baca"-nya, kenapa tidak ?
Malu ? Ah..... sudah terjadi... terjadilah....
Bangga ? Ih.... apa yang bisa dibanggakan... ?
Kembali ke leptop ?
Yah, sikap seperti Thukul yang berani menertawakan diri sendiri,
itu bisa termasuk dibilang bijak.
Yah, mudah-mudahan saja, jejak "saya" bisa bermanfaat untuk belajar bagi
generasi penerus.
> --- nanang kuswara <cangkurileung_2rj@... wrote:
> -------------------------------------------------------------------
Kang Goen,
Terima kasih telah dihubungi. Senang juga bisa
ber-komunikasi. Dan rasa senang itu, juga karena
seolah ada pernyataan "join the club". Tentang
permintaan Kang Goen untuk ngisi Buku 30 tahun
itb77, saya fikir-fikir, ma'af, urungkan saja.
Pasalnya itu semacam buku putih, yang tidak hanya
jadi kilas balik kegigihan perjuangan angkatan 77,
namun juga kompilasi keberhasilan angkatan yang
bakal menjadi cermin, panduan serta motivasi bagi
angkatan-angkatan setelahnya.
Memang benar, pelajaran yang paling baik adalah
kegagalan. Dan benar pula, tidak semua mahasiswa
dapat berada di barisan "hall of fame", serta bisa
melewati kawah chandradimuka dan berhasil memakai
toga. Tapi setidaknya, lebih layak buku kita hanya
berisi kisah sukses dengan segala macam sisi
perjuangannya. Apalagi bila buku ini jadi konsumsi
mahasiswa yang cara berfikirnya masih beda,
sedemikian rupa sehingga gandrungnya akan kesuksesan
tanpa diikuti pertimbangan beratnya perjuangan.
Biarlah, mereka memiliki motivasi tertingginya,
dengan membaca kisah kesuksesan para senior-nya.
Dasar pemikiran diatas, bila kita bicara
kesuksesan, seiring dengan bertambahnya usia kita
memiliki konsep yang berbeda dengan mahasiswa pada
umumnya. Kesuksesan, (dengan terminologi
socio-economy) memang ujung dari sebuah harapan dan
perjuangan. Tapi bagi saya, itu hanya sebuah titik
resultante yang bermuara pada satu posisi
kebahagiaan nisbi, dan mengisi ruang tak terbatas
serta tergantung pada vektor-vektornya, yakni impian
dan kesempatan. Kesuksesan seseorang bisa jadi
merupakan kegagalan bagi orang lain. Dan kegagalan
kita, boleh jadi dianggap kesuksesan menurut
pandangan sebagian orang. Bahkan kesuksesan
seseorangpun akan mengalami pergeseran, seiring
dengan berubahnya vektor impian dan kesempatan yang
dimilikinya.
Contohnya adalah sejarah perjalanan kehidupan
saya. Ketika orang tua bangkrut tahun 1979, saya
harus kabur dari itb. Sebagai anak sulung dari
sepuluh bersaudara ditambah orangtua yang depresi,
sayapun berkewajiban mengambil tongkat pimpinan
keluarga. Merasa tidak cocok dengan pekerjaan
sebagai designer bungkus obat-obatan di percetakan
Krishna Batara, serta penulis sajak di majalah
mangle, saya terpaksa pulang kampung. Dan di sana,
impianpun punah saat menjadi pembuat bata merah.
Walau tahun 80-an saya masuk Hilton, saya tetap
menganggap hidup saya sarat kegagalan. Bagaimana
tidak, saat harapan mulai tumbuh bisa selamat dari
cap pembuat bata merah, saya diterima Hilton bekerja
di tempat basah. Tukang cuci WC dan locker para
hotelier, yang walaupun memakai jas, dasi dan
mahalnya wewangian, masih sesama pelayan. Hebatnya,
orangtua serta sanak saudara bilang : itu tanda
anugerah. Benarkah ?
Mungkin saja orangtua ada benarnya. Boleh dibilang
"I was really lost, but at the right post". Gaji
pertama sebesar 150 ribu saat itu, bagi saya sangat
bermakna. Saya kirim wessel ke kampung agar
adik-adik yang di rumah jangan bersedih, dan kembali
ke sekolah. Karir sayapun mulai diperhatikan, dari
tukang ngepel lantai ditarik menjadi Office-Clerk.
Kemudian Roomboy, tukang merapihkan kamar-kamar.
Setelah jadi penyelia, saya diminta ikut pendidikan
di AHMA (American Hotel & Motel Association), TSA
(Training Service Asia), HILITES (Hilton
International Lessons In Teaching and Effective
Supervision) dan ratusan pendidikan perhotelan
lainnya. Ketika untuk pertama kalinya Hilton
International Inc meng-operasi-kan apartemen, yakni
The Hilton Residence pada tahun 1987, saya diminta
merancang "Departmental Operating-Manual" untuk
Departemen Housekeeping serta Front Office. Jenjang
karir kembali naik ketika saya ditarik jadi
Assistant Manager, Senior Assistant Manager,
Assistant Front Office Manager, Front Office Manager dan
sekarang Operation Manager, yang bagi ukuran
sekarang, sungguh merupakan posisi dasar dan biasa.
Namun ada satu kepuasan non-finansial, ketika
"zero base of manning guide" yang saya ciptakan,
yakni rumus efficiency untuk menghitung jumlah
karyawan hotel dengan beragam profesi dikaitkan
dengan volume-bisnis yang ada, diakui ketepatannya.
Sistim perhitungan yang didasarkan kepada pendekatan
hari kerja effective ini, dipakai di semua Hilton
yang ada di Indonesia saat itu. Konon juga di
hotel-hotel yang berada dalam group-nya Singgasana
Hotels & Resorts sekarang. Konsep ini tidak hanya
memberikan arahan bagi karyawan agar selalu menjaga
produktifitas dan kualitas kerja, tapi juga panduan
bagi pengusaha agar tidak melakukan PHK semena-mena.
Mudah-mudahan saja konsep ini akan menjadi kenangan
manis, dan menjadi sebuah ceritera senja bagi
cucu-cucu saya, kelak, saat saya mulai berjuang
menghindari batuk-batuk, terbungkuk-bungkuk, dan
terseok-seok dengan tongkat di tangan yang gemetaran
.........................
Kebahagiaan lainnya Kang Goen, saat saya merasa
telah menjalankan konsep agama yang saya yakini,
"Nafi'in li ghoerihi", yakni berguna bagi sesama.
Hari-hari yang saya lalui, selalu ber-orientasi
kepada kebahagiaan orang lain, dan bukan karena
takut komplin (complaint - red). Sebagai penjual
jasa, sikap ramah, luwes dan lurus tak perlu
dipaksakan, itu jalan kehidupan. "Allah mengasihi
orang yang ramah saat berjualan, ketika membeli dan
berkehendak" , Muhammad menegaskan. Konsep ini
universal dan tidak primordial. Dari yang sederhana
sampai paripurna. Bahkan Yang Maha Mencipta, telah
menarik benang merah profesi para nabi sehingga
mereka memiliki pekerjaan yang sama, sebagai
pelajaran betapa pentingnya kita bagi yang lainnya.
"Allah tak mengutus seorang nabipun, kecuali ia
menggembalakan kambing" - demikian Muhammad SAW
bersabda. Oleh karena itu, biarkan kegagalan saya
menjadi parameter bagi kesuksesan rekan lain. Dan
ibarat sebuah gedung megah, biarkan saya menjadi
sebuah bata merah, yang insya Allah sedikit memberi
kekuatan bagi kesuksesan angkatan.
Hidup adalah kerja. Sedang kerja pasrah, sejatinya
juga ibadah. Kebahagiaan akan dirasakan bila kita
bersikap ihsan. Yakni ikhlas melakukan pekerjaan
tanpa paksaan, karena dianggap sebagai kewajiban
dari Yang Maha Mengawasi walau tanpa evaluasi, dari
Yang Maha Melihat kendati tak kasat, dari Yang Maha
Menyentuh biarpun tak bertubuh. Ah, pengaruhNya
seakan tak tergapai, bahkan disaat kita loncat ke
tinggi bukit akal fikiran kita. Padahal jaraknya
hanya sebatas taqwa dan do'a ....................
Itulah hidup, Kang Goen, antara suka dan duka.
Antara miskin dan kaya. Antara berkah dan musibah.
Antara karunia dan cobaan. Sungguh, semuanya mesti
jalan penuh tabah dan amanah. Bagaimanapun,
kesuksesan yang dikejar semua orang bukanlah berarti
kebahagiaan. Ia hanya alat untuk mendapatkannya.
Sementara kebahagiaan itu sendiri, berada nun jauh
di sana. Tidak bisa diraba tapi hanya dirasa. Ia
sunyi, bersemayam di lubuk hati sendiri
...................
Salam,
NK
Mas Nanang, garis antara drop-out dengan dapat melanjutkan ke semester
berikutnya, saya pernah mengalaminya. Ketika mau melewati jenjang
sarjana muda, saya terganjal oleh matakuliah Rangkaian Logika.
Kenyataannya, saya mengikuti (dan mengulang) matakuliah itu selama
tiga semester...
Kalau urusan saya kekurangan (miskin), emang sudah dari sononya...
Makanya saya salut kepada Andreas, yang merangkap jadi guru SMA. Saya
dulu profesinya jadi guru les anak SMP. Begitu masuk SMA, murid saya
nggak mau lagi diajar oleh saya. Ngelamar jadi guru bimbingan test
saja, saya nggak keterima.
Mungkin sayanya yang memang bodoh, tapi Allah swt masih kasihan kepada
saya. Asisten matakuliah itu diganti oleh teman-teman seangkatan saya,
seingat saya, Bu Guru Ita, Pak Guru Boy Trianto, saya lupa lagi satunya,
sebagai asisten.
Agaknya karena asisten yang mengajar teman seangkatan, saya jadi lebih
semangat belajar. Itu menjadi jalan saya untuk lolos ke tingkat sarjana.
Ketika melewati garis itu, rasanya jadi hampa. Semua mengalir begitu
saja. Tapi juga seperti kehilangan sesuatu. Saya bingung mengungkapnya.
Ada teman semasa SMA, yang memberi saya secarik kertas, dengan ungkapan
sebagai berikut :
Anda bisa saja jatuh 1000 kali, namun masih ada kebangkitan Anda untuk
ke 1001 kalinya.
Kisah Mas Nanang mencerminkan ungkapan itu. Itu kisah yang mahal value-nya.
Jadi, generasi muda jangan dikasih yang berhasil saja. Itu instan namanya.
Mereka bisa menjadi buta terhadap adanya effort atau proses perjuangan,
jatuh dan bangun berulang kali, untuk mencapai sesuatu. Dan belum tentu
berhasil. Istilahnya, kumaha ridho Allah.
salam,
wa
--
KEGIATAN ALUMNI ITB-77
Proyek Pabrik Biodiesel : http://ganeshaenergy.blogspot.com/
Penulisan buku 30 tahun : http://buku30tahun.blogspot.com/
Lihat, isi & update Direktori:
<http://www.warungindonesia.com/nitip/itb77/index.php>
Beasiswa utk mahasiswa/i ITB :
<http://pub.bhaktiganesha.or.id/itb77/milis/donasi-itb77.txt>
Acara2 reuni & koleksi foto2 :
<http://www.acarareuni.blogspot.com/>
ADMINISTRASI MILIS
Info pengelolaan milis anda :
<http://pub.bhaktiganesha.or.id/itb77/milis/list-info-itb77.txt>