Sent: Wednesday, January 31, 2007 10:14
PM
Kalo kita nyimpan rasa minder, atau barangkali ada sedikit saja rasa
prasangka tidak baik, repotlah! Ucap, tingkah laku, asesoris yang nempel pada
teman kita, menjadikan kesan sombongkan diri, padahal belum
tentukan?
Sebenarnya punya sifat agak cuek melihat tingkah laku orang membuat
kita jadi santai
, begitu barangkali.
Ini Agus Wahyudiono yang dulu Ketua HM TPB,
ya? Pakai motor Honda GL?
Sedikit komentar tentang tulisan di atas. Saya
dulu juga sering merasa minder, terutama bila melihat teman-teman yang lebih
sukses, sementara kita dalam keadaan terpuruk.
Tapi kemudian saya belajar, bahwa
perasan-perasaan negatif itu sering kali muncul kalau kita belum bisa berdamai
dengan diri sendiri. Bukan perasaan minder saja, ttp kadang-kadang ada perasaan
tidak senang melihat kesuksesan orang lain.
Orang yang tidak bisa berdamai dengan diri
sendiri, berarti orang itu belum bisa berdamai dengan Tuhan. Masih suka
komplain, kenapa keadaan saya seperti ini? Kenapa saya bernasib seperti ini? Dan
sebagainya.
Proses untuk mengatasi perasaan-perasaan
negatif itu cukup lama (bertahun-tahun) dan perlu diyakinkan berkali-kali.
Mula-mula gambar diri (self-image) saya yang dipulihkan. Bahwa saya
berharga di mata Tuhan. Kehadiran saya di muka Bumi ini bukan suatu kebetulan.
Tuhan menciptakan saya untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Tuhan
jauh sebelum dunia dijadikan. Dan sebagainya. Kemudian saya belajar untuk
berdamai dengan Tuhan (tidak komplain lagi). Lalu berdamai dengan diri sendiri
(menerima diri sendiri apa adanya). Terakhir berdamai dengan orang lain (tidak
iri, sirik, kesal terhadap orang lain).
Boleh tanya teman-teman TI. Kalau ada acara
kumpul-kumpul, saya sekarang daftar duluan. Padahal dulu, sudah daftar sering
gak datang.
Satu lagi, setelah bisa berdamai dengan diri
sendiri, kita bisa menulis Kisah Pribadi kita apa adanya.
Salam,
Paulus