Paulus Herlambang | 1 Jan 04:54
Picon

Selamat Tahun Baru 2007

SELAMAT TAHUN BARU 2007
Semoga tahun yang baru ini lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya.
 
Marilah kita masuki tahun yang baru ini dengan penuh sukacita dan optimisme.
 
Saya pribadi terpesona melihat angka 2007 itu. Saya bukan orang yang percaya pada ramalan angka. Tetapi, melihat angka 2007 itu sendiri, terkesan bahwa tahun ini adalah tahun yang baik.
 
Bukan karena Jakarta sejak sore hingga malam begitu cerahnya, sehingga penduduk Jakarta berbondong-bondong keluar rumah, yang berakibat kemacetan di mana-mana sejak pukul 20.00. Walaupun cuaca yang cerah juga menambah kesan baik tsb.
 
Bukan karena istri saya lahir pada tanggal 7 (Desember).  Jelas angka 7 adalah angka kesukaan istri saya, karena itu adalah tanggal lahirnya.
 
Bukan karena sebagian orang percaya bahwa angka 7 adalah angka Tuhan. Pagi ini saya tanya istri saya, "Apa sih maksudnya angka Tuhan?" karena saya sering mendengar ungkapan 'angka 7 adalah angka Tuhan' dari dia. Istri saya menjelaskan bahwa (menurut Alkitab), Tuhan menciptakan alam semesta ini dan segala isinya dalam enam hari. Pada hari ketujuh Tuhan beristirahat.

"Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat (hari ketujuh - red) dan menguduskannya (Keluaran 20:11)".

Oooo begitu.
 
Mungkin pandangan saya tentang angka 7 tsb memang terpengaruh oleh pandangan istri saya. Pagi ini istri saya menambahkan, bahwa ayahnya juga senang angka 7. Oleh karena itu, ayahnya kalau memberi orang biasanya menggunakan angka 7. Misalnya Rp 700.000 atau Rp 70.000 zaman istri saya kuliah.
 
Pagi ini saya mencoba menganalisis pendapat saya sendiri, kenapa saya suka angka 2007 itu dibanding angka tahun-tahun sebelumnya, sejak kita memasuki milenium yang baru. Saya menemukan seperti ini: Sebagian besar angka akhir tahun 2000-an hingga 2006 mengandung unsur lengkung (0,2,3,5,6). Hanya angka 1 dan 4 saja yang tidak mengandung unsur lengkung. Angka 1 terlalu sederhana, hanya coret dari atas ke bawah, batita juga bisa. Angka 4 terlalu susah membuatnya, apalagi bagi anak yang baru belajar nulis. Angka 7 cukup sederhana, tidak mengandung unsur lengkung (unsur lengkung kan cukup sulit bagi anak yang baru belajar nulis), dan cukup mudah menuliskannya. Jika anda perhatikan angka-angka berikutnya setelah angka 7, yakni 8 dan 9, semuanya mengandung unsur lengkung. Angka 10 sudah ada unsur lengkungnya lagi.
 
Ternyata saya suka hal-hal yang sederhana. Ini merupakan penemuan terbaru dan orisinal yang saya lakukan sendiri atas kepribadian saya. Istilah ilmiahnya: Menjadi psikolog atas diri sendiri. Saya tidak suka hal-hal yang terlalu sederhana. Juga tidak suka hal-hal yang terlalu rumit. Saya suka hal-hal yang tingkat kesulitannya sedang. Tidak mau terlalu pusing dan tidak mau terlalu santai sampai tidak ada tantangan sama sekali.
 
Semalam hingga pagi tadi, ketika Metro TV menayangkan acara pergantian tahun di berbagai kota besar seluruh dunia (dimulai dari Sydney -- kota favorit saya -- hingga London pagi tadi, saya selalu terpesona ketika angka 2007 muncul menjelang akhir pertunjukan kembang api yang meriah itu.
 
Bagaimana kesan anda terhadap tahun 2007 ini? Biasa-biasa saja atau ada yang istimewa?
 
Salam,
Paulus
Andreas Japar | 1 Jan 07:12
Picon

Re: Selamat Tahun Baru 2007

Saat saya masuk TPB, mendapatkan NRP: 0770007, masuk Farmasi 4277017 (?lupa); masuk angkatan 88 karena pindah jurusan ke TF lalu lulus menjadi 7477502 (jumlahnya angka  belakang 7)..Tinggal di tempat kost di Bandung, Jl. Kesatriaan no. 7..Wah 7 melulu..
 
Salam,
AJP
----- Original Message -----
Sent: Monday, January 01, 2007 10:54 AM
Subject: [itb77] Selamat Tahun Baru 2007

SELAMAT TAHUN BARU 2007
Semoga tahun yang baru ini lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya.
 
Marilah kita masuki tahun yang baru ini dengan penuh sukacita dan optimisme.
 
Saya pribadi terpesona melihat angka 2007 itu. Saya bukan orang yang percaya pada ramalan angka. Tetapi, melihat angka 2007 itu sendiri, terkesan bahwa tahun ini adalah tahun yang baik.
 
Bukan karena Jakarta sejak sore hingga malam begitu cerahnya, sehingga penduduk Jakarta berbondong-bondong keluar rumah, yang berakibat kemacetan di mana-mana sejak pukul 20.00. Walaupun cuaca yang cerah juga menambah kesan baik tsb.
 
Bukan karena istri saya lahir pada tanggal 7 (Desember).  Jelas angka 7 adalah angka kesukaan istri saya, karena itu adalah tanggal lahirnya.
 
Bukan karena sebagian orang percaya bahwa angka 7 adalah angka Tuhan. Pagi ini saya tanya istri saya, "Apa sih maksudnya angka Tuhan?" karena saya sering mendengar ungkapan 'angka 7 adalah angka Tuhan' dari dia. Istri saya menjelaskan bahwa (menurut Alkitab), Tuhan menciptakan alam semesta ini dan segala isinya dalam enam hari. Pada hari ketujuh Tuhan beristirahat.

"Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat (hari ketujuh - red) dan menguduskannya (Keluaran 20:11)".

Oooo begitu.
 
Mungkin pandangan saya tentang angka 7 tsb memang terpengaruh oleh pandangan istri saya. Pagi ini istri saya menambahkan, bahwa ayahnya juga senang angka 7. Oleh karena itu, ayahnya kalau memberi orang biasanya menggunakan angka 7. Misalnya Rp 700.000 atau Rp 70.000 zaman istri saya kuliah.
 
Pagi ini saya mencoba menganalisis pendapat saya sendiri, kenapa saya suka angka 2007 itu dibanding angka tahun-tahun sebelumnya, sejak kita memasuki milenium yang baru. Saya menemukan seperti ini: Sebagian besar angka akhir tahun 2000-an hingga 2006 mengandung unsur lengkung (0,2,3,5,6). Hanya angka 1 dan 4 saja yang tidak mengandung unsur lengkung. Angka 1 terlalu sederhana, hanya coret dari atas ke bawah, batita juga bisa. Angka 4 terlalu susah membuatnya, apalagi bagi anak yang baru belajar nulis. Angka 7 cukup sederhana, tidak mengandung unsur lengkung (unsur lengkung kan cukup sulit bagi anak yang baru belajar nulis), dan cukup mudah menuliskannya. Jika anda perhatikan angka-angka berikutnya setelah angka 7, yakni 8 dan 9, semuanya mengandung unsur lengkung. Angka 10 sudah ada unsur lengkungnya lagi.
 
Ternyata saya suka hal-hal yang sederhana. Ini merupakan penemuan terbaru dan orisinal yang saya lakukan sendiri atas kepribadian saya. Istilah ilmiahnya: Menjadi psikolog atas diri sendiri. Saya tidak suka hal-hal yang terlalu sederhana. Juga tidak suka hal-hal yang terlalu rumit. Saya suka hal-hal yang tingkat kesulitannya sedang. Tidak mau terlalu pusing dan tidak mau terlalu santai sampai tidak ada tantangan sama sekali.
 
Semalam hingga pagi tadi, ketika Metro TV menayangkan acara pergantian tahun di berbagai kota besar seluruh dunia (dimulai dari Sydney -- kota favorit saya -- hingga London pagi tadi, saya selalu terpesona ketika angka 2007 muncul menjelang akhir pertunjukan kembang api yang meriah itu.
 
Bagaimana kesan anda terhadap tahun 2007 ini? Biasa-biasa saja atau ada yang istimewa?
 
Salam,
Paulus
witarto | 1 Jan 10:52
Picon
Favicon

Re: Selamat Tahun Baru 2007

Paulus Herlambang <paulush@...> writes:

> SELAMAT TAHUN BARU 2007
>  
> Saya pribadi terpesona melihat angka 2007 itu. 

> Saya menemukan seperti ini: Sebagian besar angka akhir tahun 2000-an hingga 
> 2006 mengandung unsur lengkung (0,2,3,5,6). Hanya angka 1, dan 4 saja yang 
> tidak mengandung unsur lengkung. 

Jadi ingat alm Pak Tino Sidin. Untuk melukis, unsurnya garis lurus dan 
lengkung.

Kalau begitu, bisa dilanjutkan, kalau mau pergi ke suatu tempat, beloknya
hanya ada dua arah.... 

> Bagaimana 
> kesan anda terhadap tahun 2007 ini? Biasa-biasa saja atau ada yang 
> istimewa?

Otak atik angka
2007 = 2+0+0+7 = 9

9 adalah angka istimewa... merupakan angka satuan terbesar..
Kalau Anda lahir di hari Sabtu Pahing, Sabtu = 9, Pahing = 9. 
Di jumlah = 9

Seperti almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX, lahirnya Sabtu Pahing.
Dari majalah Intisari, saya baca, bahwa
Mobil beliau pun angka nomor polisinya: 1881 = 1 + 8 + 8 + 1 = 9 

selamat tahun baru 9 eh .... 2007

wa

-- 
KEGIATAN ALUMNI ITB-77

Proyek Pabrik Biodiesel      : http://ganeshaenergy.blogspot.com/

Penulisan buku 30 tahun      : http://buku30tahun.blogspot.com/

Lihat, isi & update Direktori:
<http://www.warungindonesia.com/nitip/itb77/index.php>

Beasiswa utk mahasiswa/i ITB :
<http://pub.bhaktiganesha.or.id/itb77/milis/donasi-itb77.txt>

Acara2 reuni & koleksi foto2  :
<http://www.acarareuni.blogspot.com/>

ADMINISTRASI MILIS

Info pengelolaan milis anda  :
<http://pub.bhaktiganesha.or.id/itb77/milis/list-info-itb77.txt>

Paulus Herlambang | 1 Jan 14:03
Picon

Angka keberuntungan

Dari angka 7 beralih ke angka 9, terus ke nomor mobil.
 
Saya jadi teringat bos saya ketika pertama kali bekerja, setelah lulus kuliah. Bos saya itu nomor mobilnya 18 semua. Misalnya, yang saya ingat, B 18 XP. Kata seorang teman yang tahu selera bos tsb, karena 1 + 8 = 9. Angka keberuntungan, buat yang percaya.
 
Waktu dia meminta seorang karyawannya yang pintar menggambar untuk mendesain logo PT Cigading Habeam Center, jumlah gigi pada logo yang tampak seperti gambar roda gigi itu minta dibuatkan sebanyak 18 buah. Jadi angka kesukaannya 18, karena jumlahnya 9.
2007 = 2+0+0+7 = 9, angka keberuntungan! Boleh saja sih percaya. Tapi kita harus lebih percaya kepada Yang Memberi Keberuntungan, Tuhan YMK, bukan angkanya.
 
Salam,
Paulus
 
 
----- Original Message -----
Sent: Monday, January 01, 2007 4:52 PM
Subject: [itb77] Re: Selamat Tahun Baru 2007

> Paulus Herlambang <paulush <at> ...> writes:
>
> > SELAMAT TAHUN BARU 2007
> > 
> > Saya pribadi terpesona melihat angka 2007 itu.
>
> > Saya menemukan seperti ini: Sebagian besar angka akhir tahun 2000-an hingga
> > 2006 mengandung unsur lengkung (0,2,3,5,6). Hanya angka 1, dan 4 saja yang
> > tidak mengandung unsur lengkung.
>
> Jadi ingat alm Pak Tino Sidin. Untuk melukis, unsurnya garis lurus dan
> lengkung.
>
> Kalau begitu, bisa dilanjutkan, kalau mau pergi ke suatu tempat, beloknya
> hanya ada dua arah....
>
> > Bagaimana
> > kesan anda terhadap tahun 2007 ini? Biasa-biasa saja atau ada yang
> > istimewa?
>
> Otak atik angka
> 2007 = 2+0+0+7 = 9
>
> 9 adalah angka istimewa... merupakan angka satuan terbesar..
> Kalau Anda lahir di hari Sabtu Pahing, Sabtu = 9, Pahing = 9.
> Di jumlah = 9
>
> Seperti almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX, lahirnya Sabtu Pahing.
> Dari majalah Intisari, saya baca, bahwa
> Mobil beliau pun angka nomor polisinya: 1881 = 1 + 8 + 8 + 1 = 9
>
> selamat tahun baru 9 eh .... 2007
>
> wa
Saiful Ridwan | 1 Jan 22:49
Picon
Favicon

Info Direktori - 070102

Teman2,
Liburan akhir tahun kemarin saya gunakan utk bersih2 data di Direktori, dan gabung data dari berbagai sumber, termasuk dari:
- data file Excel yg diterima dari Direktorat Pendidikan ITB (Ichsan / Intan Ahmad) yg lalu sempat di kodifikasi oleh Lies.
- data reuni terakhir SI (Freddy), dan foto (Goenarso / Freddy)
- cari2 di internet (ternyata ada beberapa nama ITB77 yg bisa ditemukan infonya melalui Google)
Berikut beberapa info terakhir Direktori:
// jumlah yg tercatat di Direktori saat ini: 1154. Dari jumlah ini hanya ada:
--- 360 yg diketahui alamatnya (31%)
--- 421 yg tercatat nomer HP nya (36%)
--- 409 yg tercatat email nya (35%)
--- 219 fotonya, ada 6 foto yg belum tertebak.
Dari jumlah 1154 diatas kemungkinan masih ada yg tercatat lebih dar i satu kali (karena satu alumni tercatat di Direktoti dg nama yg berbeda sewaktu kuliah di ITB)
// Masih ada 39 nama yg belum diketahui M nya, dan 621 yg belum diketahui T nya. Sptnya lomba T perlu segera dibuka lagi.
 
Dari info diatas, jelas kita masih jauh dari target utk membuat Direktori ITB77 yg lengkap. Utk itu saya mohon bantuan/saran teman2 bagaimana caranya kita bisa mengumpulkan lebih banyak data lagi.
Yg jelas bagi teman2 yg di milis ini yg belum sempat memutakhirkan datanya di Direktori, sangat diharapkan utk segera melakukannya. Kita pan udah di taon 2007 lho :-)
Bagi yg lupa, Direktori bisa diakses di: http://www.warungindonesia.com/nitip/itb77/index.php
username: itb77
password: kebonbibit
sedangkna petunjuk cara memutakhirkan data sudah saya tempel di halaman muka Direktori.
Wa ss,
/sr

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Saiful Ridwan | 1 Jan 22:53
Picon
Favicon

Info Direktori - 070102 - mohon info

Teman2,
Sewaktu proses bersih2ku selama liburan kemarin tercatat beberapa hal yg perlu dikonfirmasi dan/atau informasi khusus thd data yg ada di Direktori sesuai dibawah.
Trims banyak sebelumnya.
 
Data dari Direktorat Pendidikan ITB  Data di Direktori Online
Nama M Kode M Nama
A. Konfirmasi M
Data M yg dari ITB beda dg di Direktori Online. Tolong konfirmasi mana yg betul.
Sinar Adil Makmur 05 EL116 ?m9
Armyn Julyzarmansyah 01 EL49 ?m9
Harsito 07 TA1 ?m9
Indriyono Darmawan '07 SI28 ?m9
Heru Marlianto 08 FT27 ?m9
Dun' Yadi M Amri 03 MS40 ?m9
Mulyono  05 TK10 ?m8 
Marthen Kanginan 13 EL26 ?m7
Timbul Pramono 09 EL122 ?m7
Ichsan Setya Putra 06 MS21 ?m6
Jeffrey R. Padmajaja 05 EL86 ?m4
Denny Siahaan 07 GD25 ?m4
I G N Sri Danardono 10 TA5 ?m3
Dewi Nurtjahjani Utami 01 BI3 ?m3
Unu Wydianugraha 12 BI22 ?m12
Danny M Gandana 12 FT3 ?m11
Dany Setiawan 12 FT4 ?m11
Budi Wibowo 13 EL59 ?m10
Bambang Edhileksono 01 GD1 ?m10
Tri Widodo 02 EL124 ?m1
Charles Ferry Antameng 02 BI19 ?m1
B. Konfirmasi Nama
Data nama yg dari ITB miri^p dg di Direktori Online. 
1. Tolong konfirmasi apakah nama yg tercatat di Direktori adalah o rang yg sama dg yg dari ITB.
P. J. Pritadewi TA16 ?petty basoeki
Indriarti Kurniawan 13 SI82 ?Indriati Buyung
R Wahyu I.Hartikno 03 TI3 ?Wahyoe Prawoto
John Haulian PP 02 TI36 ?Johnny Purba
Laurentius Irwan 07 TI35 ?Irwan Natarahardja
Suwito 01 MS10 ?Herman Suwito
Henry Nurjani 04 MS52 ?Henry Teja
Lili Soleh 10 TP14 ?Moh Soleh
Ada nama yg terdaftar di Direktori tapi tak ada di data yg dari ITB.
2. Tolong informasi apakah nama2 yg tercatat di Direktori dibawah ini ada versi lainnya. Kemungkinan tercatat di data yg dari ITB dlm versi yg lain tsb.
TA6 ?Laksono Budi Prasetyo
TA20 ?timbul wibowo
?Danardana
AR47 ?Husein Rasjad
TK39 ?Setio Djuwono ?TP
TK44 ?Syafrizal
TK18 ?Sigit Prayudi
TK37 ?Makbul Padmanagara
TK9 ?Dadi Maspanger
SI130 ?Syahril Alfian
SI54 ?Cece Rachmat
SI61 ?Djoni Djuarsa
SI94 ?Nasrifuddin Zuhri
GL25 ?Henri
GL16 ?Budi Priatna K
FA17 ?Rachmizar
TM2 m9 ?Erning Dianto
TP20 ?Titi Istiwarni
TP13 ?Listiyono
TP12 ?John Jauhary
BI16 m1 ?Rina Ratnasih
KI9 m9 Opip Sofyani Sambas
C. Konfirmasi M dan Nama
Lucky Eka L 10 EL28 ?m7 ?lucky suria
Iwan Indrakusuma 04 EL36 ?m14 ?iwan soerono

__________________________________________________Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Saiful Ridwan | 1 Jan 23:05
Picon
Favicon

Re: Pemerintah Harus Pakai IGOS

Hengki,
Mungkin ada baiknya utk juga kontak dg Dr Engkos Koswara, salah satu Deputi MenRistek yg juga adalah penanggung jawab langsung IGOS utk menanyakan lebih detail / saran2 khusus implementasi IGOS utk skala PT RekInd.
Beberapa hari lalu saya sudah sempat kirim email ke dia (dulu kenal di Inggris bareng dg Ali FT77, dan kolega dekat Husein Akil FT77), dan dia respons secara positif emailku.
 
 

Triharyo soesilo <triharyo-WFZpCyA5SlEMaY++rXgPVg@public.gmane.org> wrote:
Agus & rekans

Thanks atas feedback ini. Saya juga mendapat respond hampir serupa dari
rekan-rekan ICT di kantor kami saat saya mau me-la unch IGOS untuk
menggantikan Windows. Any other feedback ?.

Salam Hengki
-----Original Message-----
From: Agus Rusmantoro [mailto:agus-LvBE3OOh3vHQT0dZR+AlfA@public.gmane.org]
Sent: Tuesday, December 26, 2006 11:30 AM
To: itb77-DzvTHOYnpihaCN38hz+VB57PR6L3/7vP@public.gmane.org
Subject: [itb77] Re: Pemerintah Harus Pakai IGOS

Dear all,
Tanpa mengurangi rasa penghematan, bersama ini saya sampaikan pengalaman
saya
menggunakan Linux dan Windows.

1. Saya menggunakan Linux karena ingin belajar dan juga untuk menghindari
virus (terutama e-mail) yang biasa jalan di windows, walaupun katanya
akhir-akhir ini ada virus yang berjalan di Linux.

2. Beberapa aplikasi excel tidak bekerja dengan baik di Linux. Saya duga
penyebabnya adalah libraryny tidak lengkap tidak sebanyak excel
seperti
mencari tanggal terakhir pada bulan tertentu.

3. Aplikasi powerpoint bila di baca dengan Linux membutuhkan waktu coneversi
yang bergantung besarnya file, kadang kala h anging bila filenya terlalu
besar. Hasil konversi kadang kala tidak sama dnegan aslinya.

4. Fasilitas membuat presentasi di Linux tidak sebaik di Power point, misal
:
otomatis font ajustment, yaitu bila teksnya terlalu banyak maka besarnya
font akan berkurang dsb.

5. Beberapa fasilitas yang standard di windows menjadi tidak standard di
Linux
terbentur masalah lisensi seperti membaca file DVD, Flash untuk
menampilkan gambar bergerak di Internet dsb.

6. Drivernya tidak selengkap windows. Saat ini aku menggunakan notebook NEC
dan wifinya tidak di dukung oleh Linux. Sudah cari kemana-mana dan
sampai
saat ini belum ketemu.

7. Pembuatan program di Linux tidka semudah di WIndows, terutama dengan
teknologi formnya (Vb6).

Dan banyak lagi yang lain.
Saat ini Linux yang digunakan adalah dari Suse 10.1.

Wassalam,,
aplication

_________________________________________________ _
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Saiful Ridwan | 1 Jan 23:08
Picon
Favicon

Semua Bermula dari Redmond

Salut utk majalah TEMPO yg telah menjadikan kasus Microsoft sbg berita utama TEMPO minggu ini.
 
Pemerintah tidak konsisten dalam menjatuhkan pilihan pada peranti lunak di kantor pemerintah. IGOS dikembangkan, Microsoft akan dibeli. Ada apa di balik perubahan itu?
SEBUAH jamuan makan istimewa berlangsung siang itu di Executive Briefing Center. Ini sebuah ruangan di kantor pusat Microsoft, perusahaan peranti lunak komputer kenamaan dunia, di Redmond, Washington, Amerika Serikat, 27 Mei 2005. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah menteri menjadi tamu penting hari itu. Sang tuan rumah tentu saja adalah Bill Gates, pemilik Microsoft, lelaki 51 tahun yang sudah menjadi ikon terpenting kemajuan teknologi komputer dunia. Tiga puluh ek sekutif top Microsoft ikut dalam jamuan itu.
Presiden Yudhoyono sempat memberikan ceramah. RI Satu itu mengajak Bill Gates bekerja sama mendirikan pusat riset teknologi di Indonesia. Setelah itu, SBY bertemu empat mata dengan Bill Gates. Tidak jelas apa materi yang dibicarakan. Pada akhir pertemuan, manusia terkaya di dunia itu sempat mengantar Presiden Yudhoyono menuju mobilnya—konon ini sesuatu yang jarang dilakukan Bill Gates.
”Gandeng tangan” itu sempat diberitakan bakal membawa Gates sebagai penasihat teknologi Presiden Yudhoyono. Tapi setelah pertemuan Redmond, kabar lanjutan tentang kerja sama dengan Microsoft tersebut langsung redup dari halaman media massa.
Satu setengah tahun kemudian tiba-tiba tersiar kabar Menteri Komunikasi dan Informatika, Sofyan Djalil, dan Presiden Microsoft Asia Tenggara, Chris Atkinson, pada 14 November 2006 menandatangani memorandum of understanding. Bisa diduga, inilah tindak lanjut dari pertemuan Yu dhoyono dan Bill Gates di Redmond. Kontan saja nota kesepahaman itu diprotes keras sejumlah kalangan di dalam negeri karena dinilai memboroskan anggaran.
Dalam nota setebal sembilan halaman itu disebutkan, Indonesia bersedia membeli lisensi 35.496 unit Microsoft Windows dan 177.480 unit Microsoft Office. Harga resmi yang dipatok Microsoft untuk Windows sebesar US$ 274 dan Office US$ 179. Artinya, pemerintah harus membayar Rp 377,6 miliar. Jumlah ini sesungguhnya tidak sensasional. Tapi pemerintah sebenarnya punya pilihan untuk memakai software gratis alias open source seperti yang ditawarkan Linux.
Lagi pula, pilihan memakai Microsoft jelas bertentangan dengan Deklarasi 30 Juni 2004. Ketika itu lima menteri, termasuk Menteri Komunikasi dan Informasi Syamsul Mu’arif, sepakat mendukung program ”Indonesia, Go Open Source” (IGOS), pemakaian peranti lunak legal berbasis open source di instansi-instansi pemerintah.
IGOS memang masih perlu terus dikembangkan, sementara Windows sudah siap pakai. Microsoft punya iming-iming lain dalam nota kesepahaman tersebut. Perusahaan itu memberikan bonus berupa hibah lisensi Windows dan Office untuk Pentium III dan sistem di bawahnya kepada pemerintah Indonesia. Tapi sejumlah praktisi lokal paham benar bahwa iming-iming begini adalah trik dagang yang sudah usang. Soalnya, komputer Pentium III dan sistem di bawahnya sudah waktunya masuk kotak alias pensiun.
Penunjukan langsung Microsoft juga dituduh melanggar Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Barang dan Jasa Bagi Pemerintah. Dalam peraturan itu, setiap instansi diwajibkan menggelar proses tender dalam pengadaan barang.
Soal proyek tanpa tender itulah yang kini diselidiki Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Nota kesepahaman itu, kata Faisal Basri, anggota komisi itu, bisa merusak persaingan usaha antara sesama penyedia jasa peranti lunak.
Nota kesepahaman itu juga dinilai kurang elok karena bertentangan dengan semangat pemerintah menghemat anggaran. Selain lebih murah, jika proyek ini dikerjakan penyedia jasa peranti lunak lokal, kata Faisal Basri, bisa membuka lapangan kerja baru. Itu sebabnya, KPPU bertekad memanggil pemerintah untuk meminta klarifikasi atas kasus ini.
Para wakil rakyat di Senayan juga geregetan dengan nota kesepahaman itu. Komisi Informasi dan Komunikasi Dewan Perwakilan Rakyat berencana memanggil Menteri Sofyan Djalil pada awal Januari 2007.
Rencana itu sudah tepat. Teknologi informasi memang sudah menjadi hajat hidup orang banyak. Dan akan banyak praktisi serta pengguna yang berpotensi terkena rugi jika MOU dengan Microsoft dijalankan. Suara keberatan terhadap MOU, misalnya, datang dari Onno W. Purbo, pakar teknologi informasi.
Pemerintah, kata Onno Purbo, seharusnya menggunakan teknologi alternatif open source seperti Open Office, yang bisa diperoleh dengan cuma-cuma. S udah banyak juga anak Indonesia yang mengembangkannya. Pointer Linux merupakan salah satu buah karya para ahli Indonesia.
Mutu peranti lunak lokal pun sudah diakui dunia. Januari 2007 ini, menurut Onno, sejumlah ahli Indonesia akan menggelar Asia Source di Sukabumi, Jawa Barat. Sekitar 150 delegasi dari negara-negara di Asia Pasifik akan hadir. ”Mereka ingin belajar open source dari Indonesia,” kata Onno. Lalu, mengapa pemerintah harus mengikatkan diri pada Microsoft dengan ongkos begitu tinggi? Seperti kata iklan: tanya kenapa?
u u u

 
Pemerintahan Megawati pernah berupaya menggunakan open source. Deklarasi 30 Juni 2004 tadi adalah pemancangan tekad mewujudkan IGOS. Bukan sebatas tekad, sejumlah langkah nyata sudah dilakukan. Panduan pengembangan sistem sudah diterbitkan. Pusat pelatihan direncanakan didirikan untuk memudahkan sosialisasi.
Di era SBY, niat untuk meneruskan program ini pernah te rlihat jelas. Menteri Komunikasi dan Informatika, Sofyan Djalil, dalam surat edaran tertanggal 24 Oktober 2005 meminta para menteri dan pejabat negara menggunakan peranti lunak yang legal. Sofyan juga menganjurkan agar para pejabat itu menggunakan perangkat lunak lokal yang berbasis open source.
Keseriusan pemerintah mengembangkan si IGOS terlihat dari proyek yang dikembangkan oleh Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman. Bersama sejumlah badan seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, dan sejumlah lembaga lain, Kusmayanto mengembangkan teknologi berbiaya hemat ini.
Aplikasinya juga sudah ada. Sejak 15 Januari 2006 kantor Menteri Riset sudah memakai IGOS. Aplikasi itu berupa surat elektronik, Internet, pengolah kata, dan pembuat materi presentasi. ”Institut Teknologi Bandung bahkan sudah mengembangkan aplikasi komputer pengolah dan penghasil peta,” kata Kusmayanto.
Walau baru dikembangk an, IGOS sudah digunakan untuk kegiatan ASEAN Science and Technology Week, awal Agustus 2005 lalu. Karena sudah siap pakai, Kusmayanto bahkan sudah menyusun rencana kegiatan empat tahun sampai tahun 2009.
Itu sebabnya, mantan Rektor ITB ini ikut barisan yang anti-MOU dengan Microsoft itu. Dia setuju pembajak peranti lunak perlu diberantas, tapi, ”Kita tidak harus bergantung pada satu perusahaan.” IGOS, tutur Kusmayanto, adalah peluang untuk menunjukkan kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhannya secara mandiri.
Jika kemudian program ini berjalan lamban, kata Kusmayanto, itu karena ego sektoral antardepartemen cukup kuat. Kusmayanto mengaku kesulitan mengkoordinasikan penggunaan program IGOS di komputer lembaga pemerintah.
Kepada Tempo, Sofyan membenarkan bahwa komitmen mengembangkan open source sudah dicanangkan sejak 2004. ”Tetapi saat saya cek berapa yang sudah jalan, ternyata tidak ada. Begitu MOU dibikin, sekarang semua ribut,” katanya. Wal au setuju untuk terus mempromosikan penggunaan IGOS, Sofyan menukas, ”Promosi itu tidak bisa dalam satu malam.”
Mungkin Sofyan kurang lengkap meneliti. Sebab, Menteri Riset mengatakan semua komputer di BPPT, sekitar 300 komputer, sudah dioperasikan penuh dengan IGOS. Penghematan yang dilakukan luar biasa besar. Program ini bisa menghemat sampai 85 persen biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli peranti lunak Microsoft. Lembaga seperti Batan dan Bakosurtanal juga sudah memakai IGOS.
Adu angka dan adu argumen ini kelihatannya masih akan panjang. Sementara itu, Menteri Sofyan segera punya kesibukan baru, melayani panggilan KPPU, DPR, dan dimintai keterangan sehubungan dengan pengaduannya atas Faisal Basri. ”Saya tidak melanggar apa pun, jadi tak ada masalah,” ujar Sofyan.
Dengan keyakinan itu Sofyan mengadukan Faisal Basri, anggota KPPU, kepada Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, Kamis pekan lalu. Faisal dituduh mencemarkan nama baik So fyan. Dalam sebuah situs berita, menurut Sofyan, Faisal menuduh pemerintah telah menerima dana dari Microsoft. ”Dari mana asal-usul tuduhan itu? Murah benar harga kita,” ujar Sofyan kesal.
Faisal Basri memastikan pemerintah sangat dirugikan akibat nota kesepahaman dengan Microsoft. Perjanjian itu berjalan mulus, menurut Faisal, lantaran Bill Gates Foundation telah menjanjikan bantuan lebih dari Rp 10 miliar kepada pemerintah untuk mengembangkan riset e-government.
”Janji bantuan Bill Gates itu mempengaruhi pemerintah untuk membuat nota kesepahaman tersebut,” kata Faisal. Menurut ekonom itu, ditunjuknya salah seorang petinggi Microsoft sebagai penasihat presiden memperkuat alasan yang dikemukakannya. Bantuan Bill Gates Foundation memang bukan suap. Tapi, Faisal melanjutkan, ”Ini merupakan perselingkuhan, karena pemerintah sebelumnya bertekad mengembangkan peranti open source.”
Pada 28 Agustus lalu, Presiden Yudhoyono memang menerima seor ang petinggi Microsoft di Istana Negara. Ini agaknya lanjutan pertemuan di Redmond. Menurut sumber, yang dibicarakan dalam pertemuan itu adalah perkembangan teknologi informasi di Indonesia.
Tony Chen, Presiden Direktur Microsoft Indonesia, menyangkal tuduhan bahwa MOU mulus karena janji bantuan dari Bill Gates Foundation itu. ”Tuduhan itu sama sekali tidak benar,” katanya. Bill Gates Foundation, katanya, berbeda manajemen perusahaan dengan Microsoft. Bantuan itu, kalaupun ada, tidak perlu dipersoalkan karena, menurut Chen, bantuan yang sama lazim diberikan yayasan tersebut kepada sejumlah negara berkembang. Biasanya bantuan diberikan untuk program kesehatan, seperti memberantas wabah penyakit, dan, ”Bukan untuk pengembangan teknologi informasi,” ujar Chen.
Faisal Basri menilai langkah Sofyan mengadukan dirinya justru akan mengurai masalah ini lebih jelas. ”Saya tidak menyebut suap, tapi saya bisa buktikan ini perselingkuhan. Hal ini malah membuat S ofyan malu,” Faisal menandaskan.
Urusan belum akan berakhir cepat. Tapi soal peranti lunak yang akan dipakai pemerintah, Sofyan Djalil mulai melirik jalan tengah. Nota kesepahaman dengan Microsoft itu, kata Sofyan, akan jalan terus, tapi setiap departemen boleh memakai peranti lunak apa saja asalkan halal dan bukan bajakan.
Sebuah langkah kompromi yang terdengar ”mendua”. Semestinya, pemerintah tegas berpihak pada pemakaian peranti lunak yang bebas diakses dengan sistem mana pun—dan bukan satu sistem milik perusahaan mana pun.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Saiful Ridwan | 1 Jan 23:10
Picon
Favicon

’Error’ Proyek Microsoft

’Error’ Proyek Microsoft

Di depan sidang Dewan Perwakilan Rakyat yang akan memanggilnya awal Januari nanti, Menteri Sofyan Djalil sebaiknya menyiapkan diri dengan baik.
Sebagai menteri yang mengurus bidang komunikasi dan informatika, ia akan ditanya mengapa pemerintah RI menandatangani memorandum of understanding (MOU) dengan perusahaan Microsoft asal Amerika Serikat, pada 14 November lalu, untuk memakai peranti lunak (software) di lingkungan kantor pemerintahan. Menteri Sofyan akan dicecar pertanyaan mengapa memilih peranti lunak Microsoft, yang jauh lebih mahal, ketimbang mengembangkan ”Indonesia, Go Open Source” (IGOS), yang lebih murah dan pernah didukung lima menteri melalui Deklarasi Bersama IGO S.
Menteri Sofyan bisa saja menjawab, MOU antara pemerintah RI dan Microsoft itu belum mengikat dan masih bisa diubah. Dia juga bisa mengatakan bahwa yang penting bagi pemerintah bukan keharusan memakai merek Microsoft, melainkan pemakaian peranti lunak yang legal, baik dari kode terbuka (open source) maupun kode tertutup (proprietary).
Alasan ini tentu masuk akal. Pemakaian peranti lunak yang halal akan menyelamatkan Indonesia dari tuduhan sebagai markas peranti lunak bajakan—tuduhan yang bisa mendatangkan berbagai macam sanksi dari dunia internasional bagi pemerintah.
Namun, bagian terberat yang harus dijelaskan Menteri Sofyan di DPR adalah mengapa ia (dan pemerintah RI) seakan berpaling dari IGOS yang murah dan mulai melirik Microsoft. Menteri Sofyan pasti akan ditanya apakah MOU itu ada kaitannya dengan hasil pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan bos Microsoft, Bill Gates, di Redmond, Washington, akhir Mei tahun 2005 lalu. Kalau benar ada kaitannya, tentu pertanyaan berikut adalah apa saja benefit yang diminta Bill Gates dari pemerintah Indonesia.
Perlu juga dijawab secara terbuka: benarkah MOU itu ada hubungannya dengan janji bantuan dari Bill Gates Foundation kepada Indonesia seperti yang diduga oleh anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha Faisal Basri? Jawaban Sofyan akan menentukan apakah tensi pertemuan nanti akan menurun atau malah meningkat ke titik didih.
Seandainya Menteri Sofyan menjawab MOU dengan pihak Microsoft didorong oleh kenyataan bahwa IGOS belum siap pakai, pernyataan itu bisa dibantah. Menteri Riset dan Teknologi menyatakan seluruh komputer di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, juga di Badan Tenaga Nuklir Nasional dan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, telah memakai IGOS dan beroperasi mulus tanpa gangguan. Artinya, tak ada alasan program itu tidak bisa dipakai di kantor pemerintah yang lain.
Maka, inti persoalan sebenarny a adalah kebijakan pemerintah soal pemakaian peranti lunak komputer. Di sini memang terasa ada yang tidak konsisten. Dalam Deklarasi Bersama IGOS pada 30 Juni 2004, semangat untuk mengembangkan open source software terasa sangat bergelora. Tapi surat Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Djalil pada 24 Oktober 2005 agak berbeda. Surat kepada para menteri, lembaga pemerintah, sampai bupati dan wali kota seluruh Indonesia itu mulai membuka peluang instansi pemerintah memakai peranti lunak kode tertutup, asalkan legal. Selanjutnya, MOU dengan Microsoft, dua bulan lalu, seakan malah ”mengunggulkan” peranti lunak kode tertutup Microsoft, meskipun Menteri Sofyan menyatakan masih mendukung open source.
Ketegasan memilih peranti lunak ini penting. Satu alasan pokok bisa dijadikan dasar pertimbangan: semua dokumen publik harus bisa diakses dengan software apa pun. Dengan kata lain, seluruh lapisan masyarakat, tanpa harus terhalang oleh kewajiban membeli peranti lu nak kode tertutup, harus dipastikan bisa mengakses dokumen publik tadi.
Ada banyak keuntungan dengan memakai peranti lunak kode terbuka. Peranti jenis ini bisa dimiliki secara gratis. Di Brasil, dari 300 ribu komputer di kantor pemerintah yang dialihkan ke open source, ditaksir bisa dihemat US$ 120 juta dalam setahun. Selain itu, program-program open source bisa diotak-atik sesuai dengan kebutuhan penggunanya karena source code (kode program) bisa dimiliki oleh pengguna. Ini yang tidak bisa dilakukan dengan program kode tertutup Windows, misalnya. Penyebabnya, kode program dalam Windows tidak dikuasai oleh pengguna. Dengan menguasai kode program open source, dokumen yang sifatnya rahasia juga bisa mendapat pengamanan lebih baik karena sistem pengamanan bisa diciptakan sendiri.
Sudah banyak negara di dunia yang mulai beralih ke open source, termasuk negara kaya seperti Jerman dan Korea Selatan. Terlalu congkak rasanya jika Indonesia yang miskin ini ti dak mengikutinya. Apalagi para ahli Indonesia sudah menguasai teknologi maju itu.
 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Saiful Ridwan | 1 Jan 23:12
Picon
Favicon

Sebuah Dongeng tentang IGOS

Sebuah Dongeng tentang IGOS

Indonesia menjadi kiblat aplikasi peranti lunak bebas di Asia. Berkat IGOS yang mengirit ongkos.
Setahun terakhir, Engkos Koswara sering berkeliling Asia. Jabatan Ketua Proyek Indonesia, Go Open Source (IGOS) membuatnya kebanjiran undangan menjadi pembicara penerapan perangkat lunak terbuka. ”Di Asia, kita dianggap pelopor open source,” kata Engkos pekan lalu.
Syahdan, pada awal 2005 di Jakarta diadakan pertemuan para kepala negara dan kepala pemerintahan ASEAN untuk membahas sistem peringatan dini tsunami yang baru saja menyerang kawasan ini. Seluruh presentasi memakai sistem operasi berbasis Linux. Sistem gratis ini bekerja memuaskan. Dari situlah, kata Engkos, negara-nega ra ASEAN tertarik untuk meniru. Bahkan Menteri Teknologi dan Inovasi Malaysia Jamaluddin Jarjis, yang menjadi tuan rumah Regional Innovation Forum, 22 November 2005, mendeklarasikan Indonesia sebagai kiblat perangkat lunak terbuka di Asia Tenggara.
Tak hanya dari kalangan pemerintah, tokoh-tokoh open source Indonesia juga banyak diminta menularkan ilmunya. Agenda pakar telematika Onno W. Purbo, misalnya, tahun ini sudah penuh. Ia akan melanglang ke India, Nepal, hingga Amerika Latin untuk memberikan ”kuliah” mengenai peranti lunak ini.
Peranti lunak terbuka adalah software yang kode programnya bebas diakses, bebas dimodifikasi, dan bebas didistribusikan. Misalnya Fedora atau turunannya, yang dibuat IGOS: IGOS Nusantara 2006. Lawannya adalah peranti lunak proprietary, yang hanya sah dipakai setelah mendapat izin dari pemiliknya—dengan membeli atau mendapat hibah. Contohnya Windows buatan Microsoft.
Misi IGOS adalah memasyarakatkan pemakaian pera nti lunak bebas di kantor-kantor pemerintah. Tapi bukan hanya itu. Program ini sarat cita-cita mulia: dari menurunkan angka pembajakan software, mencerdaskan dan memandirikan bangsa, mengantisipasi kebutuhan peranti lunak di masa depan, hingga mengirit ongkos teknologi informasi sampai 85 persen.
Pemakaian peranti lunak bebas adalah berkah dari berlakunya Undang-Undang Hak Kekayaan Intelektual pada 2003, yang mewajibkan komputer memakai peranti lunak legal. Setahun sesudahnya, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Negara Riset dan Teknologi, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Menteri Pendidikan Nasional, dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia mendeklarasikan IGOS.
Kementerian Riset dan Teknologi, yang menjadi ujung tombak program ini, gesit berbenah. Pengganti Menteri Hatta Rajasa, Kusmayanto Kadiman, segera menggebrak dengan membuat aturan unik. ”Pegawai tidak boleh masuk kantor kalau komputernya tidak open source,” ujar Engkos menirukan titah Menteri Kusmayanto.
Pada Juni tahun lalu, 300 komputer di kantor ini sudah disterilkan dari Windows. Komputer Kusmayanto yang paling dulu dibersihkan. ”Saya sengaja memintanya. Kalau menterinya bisa pindah ’agama’ ke open source, yang lain mestinya lebih gampang,” ujar dia.
Migrasi Kusmayanto berjalan lancar. Ia menyesuaikan diri dengan sistem baru hanya dalam hitungan hari. Tapi, tak semua secepat dia. Menurut Engkos, yang juga Asisten Deputi Pengembangan Jaringan Informasi Menteri Riset dan Teknologi, kantornya perlu enam bulan untuk membuang seluruh Windows karena banyak data penting tersimpan di komputer tua. ”Di kelompok pemakai, adaptasi jauh lebih cepat. Helpdesk sudah sepi pengaduan pada bulan kedua.”
Dengan migrasi itu, kantor Menteri Riset dan Teknologi bisa menghemat Rp 1,4 miliar. Ini hanya dari perhitungan pembelian lisensi Microsoft Windows dan Office dengan memakai harga komersial Rp 2,4 juta dan Rp 1,6 juta, belum jika menghitung pengeluaran untuk membeli lisensi peranti lain. Program antivirus atau pengolah gambar, misalnya.
Migrasi terus meluas ke kantor-kantor pemerintah yang lain: Badan Tenaga Atom Nasional, Badan Pengawas Tenaga Nuklir, sebagian unit LIPI, dan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). ”Bakosurtanal bahkan sudah melangkah ke open map,” ujar Kusmayanto. Open map adalah aplikasi sistem publikasi peta yang memakai peranti lunak bebas. ”Karena kalau memakai sistem proprietary, harganya mahal,” ujarnya.
Beberapa universitas juga melakukan migrasi ke open source. Sementara itu, dari 5.200 warung Internet, menurut Ketua Asosiasi Warung Internet Indonesia Judith M.S. Lubis, 30 persennya sudah memakai kode terbuka.
Ironi terjadi di Departemen Komunikasi dan Informatika. Deklarator IGOS ini baru memakai sistem terbuka di Direktorat Jenderal Aplikasi Telematika pada Oktober 2006. Direktur Sistem Informasi Perangkat Lunak, Lolly Amalia Abdullah, berkilah, ”Sistemnya belum siap.”
Peranti lunak bebas, ujar Lolly, tak selalu bisa membaca data dari departemen lain. Misalnya data Rencana Kerja Lembaga, yang berformat Microsoft Office, atau grafik anggaran yang dikirim Departemen Keuangan. Ia mengaku kendala itu dapat disiasati dengan menyiramkan ”Pasir” alias Program Arsitektur Standar Sistem Informasi dan Interoperabilitas. Toh, hingga kini beberapa dari 90 komputernya masih memakai sistem Microsoft.
Tidak hanya itu ironi di Departemen Komunikasi dan Informatika. Saat IGOS bersiap meluncurkan sistem operasi IGOS Nusantara 2006, Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Djalil menandatangani kesepakatan pembelian lisensi dengan PT Microsoft Indonesia pada 14 November 2006.
Sofyan mengatakan kesepakatan dengan Microsoft dibuat untuk melegalkan peranti lunak bajakan di kantor pemerintah. Indonesia, kata dia, sudah lama bercokol di peringkat lima negara pencuri hak cipta. Dari 9 juta unit komputer, 87 persen memakai peranti ilegal—500 ribu di antaranya milik pemerintah. Peranti lunak bikinan IGOS tidak bisa diandalkan dalam pengentasan pembajakan ini. Indikatornya, ujar dia, peranti IGOS tak segera diadopsi semua lembaga negara.
Penilaian Sofyan membikin Staf Ahli Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Kementerian Ristek, Richard Mengko, tersenyum. Pembajakan, ujar Richard, justru harus diperangi dengan open source. Windows tetap boleh dipakai, tapi silakan beli sendiri. ”Di Vietnam, cara ini jitu. Sejak pemerintah menetapkan keharusan memakai peranti lunak terbuka, angka pembajakan di sana turun drastis.”
Menurut Engkos, penyebab utama IGOS ”tak jalan” ada pada payung hukum. Tak ada kewajiban bagi instansi pemerintah beralih ke open source, selain imbauan lewat surat edaran Menteri Komunikasi tanggal 24 Oktober 2005.
Di negara lain, kewajiban menanggalkan program proprietary di komputer kant or publik diatur dalam undang-undang. Norwegia, Jerman, bahkan Peru, Brasil, dan Venezuela mempunyai beleid itu untuk menghindari ketergantungan peranti lunak pada satu perusahaan dan lebih terbuka menyajikan data publik.
Inggris juga berencana menghentikan pasokan peranti lunak proprietary ke sekolah-sekolah. Ini buntut penelitian British Educational Communication and Technology Agency yang menemukan bahwa sekolah yang memakai peranti bebas bisa menghemat 60 persen belanja teknologi informasi per tahun.
Dana adalah masalah lain yang menghambat IGOS. Meski deklaratornya lima menteri, tak sepeser pun duit untuk program ini. Baru pertengahan tahun lalu Kementerian Ristek menyisihkan Rp 500 juta untuk seminar, mencetak buku panduan, dan mengenalkan kode terbuka ke daerah-daerah. Jadilah, kata Engkos, ”IGOS menjadi seperti makhluk dongeng.” Berwujud hanya dalam perbincangan.
Bagja Hidayat

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


Gmane