PROFESOR !
|
PROFESOR Apa dan bagaimana profesor (professor)? Teman-teman kita baru-baru ini ada yang mendapatkan sebutan profesor atau bolehlah kita sebut mendapat gelar profesor. Konon telah terjadi sedikit perdebatan ketika mengatakan “gelar profesor” dikhawatirkan rancu dengan apa yang dimaksud dengan gelar akademik. Sebagian orang memiliki pendapat bukan gelar tetapi lebih mengatakan sebagai “sebutan” atau titel (title) padahal sebutan bisa juga berarti gelar, seperti misalnya bergelar Haji atau Hajah. Sedangkan berdasarkan undang-undang guru&dosen untuk dunia pendidikan resminya profesor merupakan jabatan akademik bagi (diberikan pada) seorang ilmuwan yang memiliki kompetensi (keahlian/kepakaran) di bidang tertentu, yang dianggap telah mencapai capaian tertinggi dari bidang kompetensi yang dimilikinya atau dengan kata lain sudah cukup mumpuni pada bidang kepakaran yang digelutinya dari sejak ia memulai memutuskan menjadi seorang ilmuwan. Saat ini di Indonesia terdapat dua jenis profesor: 1. Profesor dari Universitas (Perguruan Tinggi) dikenal juga sebagai “guru besar”. Seorang ilmuwan yang dalam hal ini adalah sebagai dosen/pengajar/guru dari universitas yang mendapatkan jabatan profesor sering dikatakan juga orang tersebut telah mencapai capaian tertinggi akademis (karir sebagai dosen). 2. Profesor Riset (Research Professor) dari Lembaga Penelitian (Litbang) yang dulu dikenal sebagai APU (Ahli Peneliti Utama). Seorang ilmuwan yang dalam hal ini sebagai peneliti dari suatu lembaga penelitian yang telah mendapat gelar profesor riset sering dikatakan juga orang tersebut telah mencapai capaian tertinggi jabatan fungsional (karir) peneliti. Contoh beberapa negara lain yang memiliki dua jenis profesor seperti tersebut di atas misalnya China, Rusia dan Jerman. Pertanyaannya bagaimanakah untuk mencapai capaian tertinggi tersebut? Dan kurun waktu berapa lama profesor tersebut akhirnya bisa dicapai? Sebenarnya untuk mencapai posisi profesor tidaklah seperti mengambil gelar akademis seperti doktor, yang mana untuk mencapai doktor harus ada pembimbing atau ada yang mempromosikan (promotor). Untuk mencapai profesor hanya dirinya sendirilah yang melakukan untuk mencapai (melewati) seluruh persyaratan yang telah ditetapkan guna mendapat jabatan profesor tersebut. Dengan demikian seseorang yang dikukuhkan menjadi profesor dapat dikatakan dirinya sendirilah yang mempromosikan, dirinya sendirilah yang berinisiatif untuk meminta diadakan sidang guru besar untuk pengukuhan profesor. Seperti halnya pengukuhan guru besar di universitas, untuk pengukuhan seseorang menjadi profesor riset, dirinya sendirilah yang mengajukan untuk diadakan sidang Majelis Pengukuhan Profesor Riset untuk pengukuhan dirinya. Dari segi kurun waktu kapan seseorang bisa mencapai seluruh persyaratan untuk menjadi profesor tidaklah dibatasi dengan kurun waktu tertentu. Berbeda dengan studi pasca sarjana seperti magister, doktoral biasanya ditetapkan pula maksimum (lamanya dalam kurun waktu) harus dicapai misalnya untuk doktor bisa 3,5 thn – 5 thn. Untuk mencapai profesor bisa cepat jika seseorang tersebut memang cukup produktif dalam melahirkan karya-karya ilmiah di bidang yang sedang digelutinya seperti misalnya melahirkan karya tulis ilmiah yang dipublikasikan berupa buku ataupun makalah-makalah ilmiah yang dipublikasikan melalui jurnal ataupun prosiding. Hal yang perlu diketahui untuk mencapai gelar profesor persyaratan utamanya adalah ilmuwan tersebut harus bergelar akademis tertinggi yaitu doktor. Seperti contohnya baru-baru ini, koran Kompas (7 Februari 2010) mengupas seseorang bernama Saldi Isra yang mencapai jabatan profesor di bidang hukum dari Universitas Andalas Padang dalam usia 41 tahun. Saya kira untuk seusia ini tergolong cukup muda menjadi profesor. Meskipun ia sudah cukup lama dari sejak ia muda mungkin pada usia tigapuluhan sudah banyak memproduksi karya tulis ilmiah termasuk menerbitkan beberapa buku, pengukuhan sebagai profesornya dilakukan setelah dia mencapai gelar doktor. Begitupun bagi seorang peneliti, ia bisa mencapai jabatan fungsional peneliti tertinggi yaitu Peneliti Utama jika memang kredit poin untuk diangkat sebagai peneliti utama tercapai akan tetapi ia tidak bisa dikukuhkan sebagai profesor riset apabila gelar akademisnya belum mencapai doktor. Eksistensi profesor di perguruan tinggi pengangkatannya berdasarkan surat keputusan yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) yang kedudukannya dibawah presiden namun peraturan ini merupakan turununan dari sebuah undang-undang tentang guru&dosen sehingga payung hukumnya sangat tinggi karena berupa undang-undang. Berbeda dengan profesor riset pengangkatannya justru oleh presiden yang kedudukannya jelas di atas seorang menteri, akan tetapi payung hukum keberadaan profesor riset tidak melalui undang-undang yaitu hanya dengan Peraturan Menteri Pembinaan Aparatur Negara (Menpan) tentang PNS peneliti. Konon dahulu kala (ini cerita dari seorang dosen senior di ITB yang telah menjadi profesor) ketika terjadi pembahasan sebutan yang tepat dari kata professor dalam bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Semula akan diterjemahkan sebagai “Maha Guru” dengan alasan bahwa seorang profesor adalah seseorang yang memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari hanya sekedar seorang guru atau dosen karena dia dituntut untuk dapat melahirkan seseorang yang bergelar akademis doktor dan melahirkan seseorang yang mampu menjadi guru atau dosen. Nah sekarang bisa dimengerti mengapa seorang profesor harus terlebih dahulu bergelar doktor karena bagaimana mungkin ia membimbing seseorang menjadi doktor kalau ia sendiri bukan seorang doktor. Tetapi rupanya sebutan maha guru dirasakan terlalu melambung ketinggian dan dapat memberikan makna yang terlalu berlebihan, oleh karenanya dipilihlah yang lebih moderat yaitu sebutan “Guru Besar” ketimbang “Maha Guru”. Kata Maha sementara ini lebih sering didengar untuk kedudukan Tuhan yaitu Maha Esa karena Tuhan merupakan yang tertinggi dari seluruh apa yang ada di jagad raya ini, dan kemudian untuk Mahasiswa karena memang seorang mahasiswa seharusnya memiliki tingkatan lebih tinggi dibandingkan seorang siswa pelajar SMA. Bagaimana dengan profesor riset? Seorang profesor riset tidak berkewajiban untuk mengajar di suatu perguruan tinggi dan tidak berkewajiban menjadi seorang dosen. Bagi jabatan fungsional peneliti, penilaian mengajar di universitas jauh lebih kecil dibandingkan penilaian dalam memberikan bimbingan penelitian bagi para peneliti yunior. Seperti halnya ilmuwan di universitas untuk para peneliti di lembaga penelitian menerbitkan karya tulis ilmiah yang dipublikasikan baik nasional maupun internasional atau memproduksi kaya ilmiah yang dipublikasikan dalam penerbitan buku merupakan suatu kewajiban karena tidak ada hasil penelitian yang tidak dilanjutkan dengan publikasi ilmiah. Atau penelitian dianggap belum selesai dan dianggap kurang hasilnya jika tidak ditindaklanjuti dengan suatu penulisan ilmiah yang dipublikasikan. Pernah saya membaca artikel analisis mengenai politik di koran kompas penulisnya adalah sorang pneliti senior dari LIPI dan telah mencapai profesor riset. Diakhir tulisannya disebutkan bahwa penulis adalah Guru Besar Riset Ilmu Politik dari LIPI. Nah, untuk hal ini dapat saya sampaikan melalui tulisan ini bahwa sebutan Guru Besar Riset sebagai pengganti dari Profesor Riset adalah tidak tepat karena asal muasal yang melatar belakangi sebutan profesor riset yang dalam bahasa Inggrisnya Research Professor berbeda dengan asal muasal profesor di universitas yang merupakan guru/dosen (lecturer) pemberi kuliah sehingga dikatakan sebagai guru gesar. Meskipun pada praktisnya baik profesor dari perguruan tinggi maupun profesor riset dari lembaga penelitian untuk singkatnya kedua-duanya sering dipanggil profesor. Hal lain cukup penting dikemukakan untuk diketahui dimana secara umum banyak yang kurang memehami dengan cukup tepat yaitu sebutan profesor bagi seseorang sebenarnya tidak melekat untuk selamanya pada orang tersebut. Karena memang profesor adalah merupakan suatu jabatan sehingga jika sudah tidak menjabat lagi biasanya sebutan jabatan bisa hilang dengan sendirinya. Hal ini berbeda dengan gelar akademis yang terus melekat pada nama seseorang yang memang telah meraihnya. Tetapi entah mengapa seseorang telah mencapai profesor sering diapresiasi dengan sebutan profesor meskipun orang tersebut telah pensiun dari universitas dimana dia mengajar, seperti misalnya Professor Emeritus hal ini merupakan suatu penghormatan kepada seorang ilmuwan dan diperbolehkan menggunakan gelar kedudukannya selama orang tersebut memang masih menginginkannya dan masyarakat lingkungan dekatnya atau komuniti ilmuwan serta koleganya memberikan apresiasi atas karya-karya dari seorang profesor tersebut yang masih terus dirasakan kontribusi keilmuannya dalam perkembangan dunia ilmu pengetahuan termasuk teknologi atau dunia iptek. Contoh yang mudah bagi anak bangsa kita yang mendapat apresiasi gelar kedudukan profesor seperti ini adalah Profesor BJ. Habibie. Ada contoh lain yaitu yang hilang dengan sendirinya karena jabatan kedudukan profesornya sudah tidak diduduki kembali maka sebutannyapun menjadi hilang yaitu Yusril Ihza Hahendra ia meraih gelar kedudukan profesor di UI tergolong masih muda ketika itu. Begitu juga apa yang terjadi di dunia penelitian, masyarakat umum masih banyak yang belum mengerti bahwa gelar kedudukan/jabatan fungsional profesor riset bagi seorang ilmuwan peneliti sebenarnya jika masih ingin melekat pada diri ilmuwan tersebut maka ia berkewajiban untuk memelihara (maintain) kedudukan fungsional tersebut yaitu dengan tetap melakukan kegiatan yang dapat menghasilkan karya tulis ilmiah di bidangnya dan sedapat mungkin untuk dipublikasikan. Hal ini wajib dilakukan dalam kurun waktu dua tahun yaitu menerbitkan karya tulis ilmiah baik sendirian (sebagai penulis tunggal) maupun bersama-sama dengan peneliti lainnya. Sebagaimana disampaikan di atas bahwa karya tulis ilmiah akan dilahirkan oleh seseorang jika memang orang tersebut melakukan suatu penelitian ataupun kajian. Apapun hasil dari suatu kegiatan penelitian atau suatu kajian dipastikan harus ada hasilnya yang memberikan kontribusi pada dunia ilmu pengetahuan jadi tidak ada kata gagal. Dalam dunia penelitian dikenal bahwa seorang peneliti dibisa melakukan kesalahan karena sebagai manusia bisa berbuat salah akan tetapi tidak diperbolehkan berbohong (harus jujur). Dapat kita bayangkan jika seorang ilmuwan peneliti berbuat tidak jujur seperti misalnya melakukan manipulasi data maka akan berimplikasi yang sangat berbahaya ketika hasil penelitiannya akan diimplementasikan bagi kemaslahatan umat. Sebenarnya pernyataan semacam ini tentu berlaku umum yaitu tidak hanya bagi para ilmuwan di dunia penelitian akan tetapi juga untuk para ilmuwan di dunia pendidikan yang dalam hal ini di universitas. Kembali ke jabatan fungsional profesor riset secara formal jika seorang profesor riset tidak berhasil maintain kedudukan jabatannya seharusnya sebutan profesor hilang dengan sendirinya. Akan tetapi tidak mudah diketahui oleh masyarakat luas bahwa seorang profesor riset bisa saja dengan berbagai kesibukannya sebenarnya ia tidak berhasil memelihara atau mengumpulkan kredit poin untuk menjaga kedudukan profesor riset melalui publikasi karya tulis ilmiah, pada praktisnya ternyata tidak pula secara otomatis hilang sebutan profesor bagi dirinya. Tulisan ini disusun untuk memberikan pemahaman yang cukup bagi teman-teman yang mungin masih belum memahami secara persis tetang “apa dan bagaimana profesor itu!” H.A |
Jiwa yang menolak patah
/*Mengapa ada orang yang mampu terus berjalan meski cobaan menghantamnya bertubi-tubi ? */ /*Namun kenapa juga yang lainnya justru patah, meski nampaknya ujian dan derita yang is terima relatif lebih ringan ? */Ada banyak sebab tentu. Tapi salah satunya adalah, karena orang-orang yang mampu melangkah terus, yang tidak mundur dan tidak berhenti, adalah orang-orang yang /*"kreatif".*/ Jiwa-jiwa mereka kreatif menemukan celah dan terobosan untuk menjaga diri agar tidak patah, agar tidak berhenti. Tentu, di dalamnya ada sebentuk cinta dari Allah swt, sehingga mereka menemukan kunci-kunci untuk tidak berhenti karena cobaan dan nestapa apa pun. Dan, kunci penyangga itu ternyata ada di mana-mana. /* */ /*Ia Tidak Berhenti, Karena Cinta Ternyata di Sekelilingnya*/ Laki-laki itu pejabat tinggi suatu perusahaan swasta, berusia 40-an, belum menikah. Beberapa tahun lalu, ia menuturkan kisah hidupnya yang paling rahasia dalam sebuah harian nasional, demi berbagi dengan seorang yang tertimpa pengalaman buruk mirip yang pernah ia alami. Laki-laki itu membaca dalam rubrik konsultasi, tentang anak muda yang merasa dirinya kotor dan hidupnya berakhir, karena menjadi korban pelecehan seksual temannya sendiri. Ternyata, laki-laki 40-an tahun itu, semasa SD, pernah diperlakukan sama. Saat itu ia tengah berwisata di pantai bersama guru dan teman-teman sekolahnya. Tiba-tiba ia dipanggil beberapa kakak kelas. Ia menduga akan diajak bermain bersama. Ternyata, di tempat yang jauh dari keramaian, ia mengalami pelecehan seksual, di bawah todongan pisau. Ia sangat terpukul, hingga menangis terus dan mengubur diri di dalam pasir. Sampai sore datang, dan guru serta teman-teman lain yang mencarinya, menemukannya masih di dalam pasir, gemetar. Bertahun-tahun ia mencoba melupakan peristiwa tragis itu. Ada masa di mana ia merasa sangat membenci para pelaku, yang masih kanak-kanak itu. Ada masa ia merasa tidak sanggup melihat orang lain. Namun pada akhirnya ia mencoba sesuatu yang amat sulit, memaafkan. Satu kata yang terus ia ucapkan hingga dewasa, "maafkan, maafkan." Ia menduga, mereka pun punya masa lalu yang kelam, boleh jadi mereka sebelumnya pernah pula menjadi korban. Ternyata itulah yang menjadi titik balik ia membuka hatinya untuk melihat sisi lain dunianya. Sebelum "terbangun", ia tidak mampu membuka dirinya untuk orang-orang terdekat, untuk orang tuanya, untuk adik dan kakaknya yang kesemuanya sudah menikah. Hingga dewasa, ia amat penuh dengan laranya sendiri, dan kehilangan waktu untuk peduli pada lingkungannya. Ia tenggelam dalam dunia kerja, menghasilkan uang berlimpah, yang tak kunjung membuatnya "sembuh". Kemudian, sewaktu ia memberi perhatian dan kasih sayang pada keluarganya, terutama pada para keponakannya, ia menemukan mutiara cinta ternyata ada di mana-mana. Kini, setiap ia datang ke rumah saudara-saudaranya, anak-anak mereka menyambutnya dengan kegembiraan yang polos. Di sanalah, ia merasa bisa berlabuh, menemukan kebahagiaannya, menemukan kesembuhannya. Malah, oleh keluarganya, ia dijadikan "kepala" keluarga, termasuk oleh ayah ibunya. Ternyata, mereka telah lama memendam cinta untuknya. Laki-laki itu pun tidak kalah, jiwanya menolak untuk patah, karena cinta ternyata ada di sekelilingnya. /*Ia tidak Berhenti, Karena Memilih Tegak Meski Tertatih-tatih*/ Betapa kerasnya kehidupan di ibukota. Ini tidak dipungkiri siapa pun. Namun, di Jakarta pula, kita bisa menemukan manusia-manusia yang mampu tegak, meski hidupnya diselang-selingi "kejutan" yang tak nyaman. Di halte pasar di bilangan Tebet Timur, Jakarta Selatan, misalnya. Sepasang suami istri sejak belasan tahun berdiam di kios rokok dan minuman dingin yang sekaligus dijadikan tempat tinggalnya. Modal yang seadanya, masih harus menanggung hutang para awak bus yang kerap mangkal di sana. Mereka pun masih harus membayar berbagai pungutan demi keamanan. Termasuk ke pejabat lokal, demi perijinan. Semua itu, bahkan sudah dijalani sang istri sejak ibunya masih hidup. Ia dibawa ibunya merantau ke Jakarta sejak kanak-kanak. Dan, kios itu adalah warisan ibunya, sebelum wafat. "Jenazah si Mbok kami bawa ke desa, di sana kan ada kuburan desa. Biaya merawatnya lebih murah. Kalau di sini mahal, nggak sanggup bayar," tuturnya. Siang itu, percakapan rutin terdengar di halte. "Kapan utangnya dibayar? Udah banyak nih, udah 30 ribu," tutur sang istri pada seorang supir, yang tengah memarkir busnya di depan halte. Sang awak nampak terkejut, seolah tak percaya. "Masak sebanyak itu?" Perempuan itu melanjutkan, "Ini ada catatannya." Suaminya, yang tengah beristirahat di dalam kios, terbangun dan membenarkan istrinya. "Yah, nanti dibayar," itulah akhirnya jawaban sang awak bus. "Kalau begini terus, modalnya bisa habis," ujar perempuan itu perlahan. Meski sehari-hari harus hidup amat prihatin, namun seperti diakui perempuan itu, ia merasa masih mampu bertahan. "Memang pemasukan sedikit sekali, kami sering terpaksa makan apa adanya, tapi kami masih bisa bertahan. Di kota besar kayak Jakarta, itu sudah bagus kok," ujar sang istri. Demikianlah. Meski tersendat-sendat, mereka sudah memilih. /*Ia Tidak Berhenti, Karena Harus Menjadi Pelita Lingkungan*/ Boleh jadi, pilihan untuk tidak berhenti, didesak pula oleh lingkungan. Namun, tidak semua orang menyambut desakan ini. Waras Soebroto, penduduk desa Kedung Rejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, adalah orang yang mengambil desakan ini. Hasilnya, ia melangkah terus, dan memberi arti positif buat lingkungannya. Waras sudah bekerja selama belasan tahun sebagai petugas pengawas hutan lindung. Setiap bulan, ia hanya dibayar 3000 (tiga ribu) rupiah. Ia amat prihatin dengan kondisi suaka alam di Banyuwangi, yang dijarah para penebang liar. Inilah awal mulanya Waras merasa harus melakukan sesuatu: total melindungi suaka alam dengan segala kemampuannya, dengan semua waktu yang ia punya. Termasuk "memerangi" penebangan liar. Resikonya, ia sering menghadapi ancaman dari penebang liar dan pencuri kayu, bahkan kerap diisukan akan diguna-guna. Meski begitu, Waras tidak mundur. Ia merasa tidak boleh mundur, karena lingkungannya akan tambah hancur jika ia memilih jalan itu. Secara kontinyu Waras malah mencoba meyakinkan masyarakat, tentang pentingnya menjaga suaka alam. Ia terus membangun kesadaran kolektif. Tidak tanggung-tanggung, Waras akhirnya berhasil mengamankan 6 lokasi suaka alam di daerah Banyuwangi. Pilihan serupa diambil pula La Ode Muhammad. Ia hanyalah satu dari banyak penduduk Desa Wantimoro, Kecamatan Kabawo, Muna, Sulawesi Tenggara. Mulanya, La Ode bersama warga Suku Bajo di kampung Wantimoro tinggal di laut, di atas perahu bido. Suku Bajo memang menjadikan laut sebagai sumber pencaharian, bahkan sebagai tempat berkelana. Namun, kehidupan mereka lama-kelamaan terjepit, akibat potensi ikan makin merosot. Dalam situasi ini, kekhawatiran soal masa depan menghinggapi mereka. Hingga La Ode tersadar, ia mesti melakukan sesuatu. Lantas, ia mengajak suku Bajo untuk menetap di darat dan bertani dengan pola sanitasi. Mereka berhasil. Ratusan kepala keluarga telah mengubah pola hidupnya, dan mereka mampu bertahan, bahkan tingkat ekonominya terus membaik. Warga menganggap La Ode Muhammad sebagai pelita lingkungannya. Bagi La Ode dan Waras, mereka tidak kalah justru karena lingkungannya. /*Ia Tidak Berhenti, Karena Ia Punya Mimpi*/ Namanya Az Zamakhsyari. Ia seorang ulama terkenal, ahli dalam banyak ilmu pengetahuan agama. Namun, ia lebih terkenal sebagai tokoh ilmu /nahwu/ (gramatika bahasa Arab). Menjadi ahli dalam ilmu bahasa bagi Az Zamakhsyari adalah keberhasilan yang boleh dibilang sebagai prestasi dan kesuksesan luar biasa dalam menghadapi rintangan. Betapa tidak, sejak kecil ia telah mempelajari ilmu /nahwu/, tetapi hingga menginjak remaja ia tak kunjung paham dengan ilmu yang dipelajarinya. Bayangkan, selama bertahun-tahun belajar untuk membedakan antara subyek (/mubtada/) dan obyek (/khabar/) saja ia tidak bisa. Sementara teman-temannya, hampir semuanya telah mengusai ilmu itu. Bahkan ada di antara mereka yang diberi tugas untuk mengajar adik-adik kelas mereka. Kenyataan ini nyaris membuat Az Zamakhsyari putus asa. Ia merasa malu dengan usianya yang semakin tua tetapi belum tahu apa-apa, apalagi ia harus duduk dan belajar bersama anak-anak yang jauh di bawah usianya. Di tengah kegalauannya ia berniat meninggalkan sekolah, pergi merantau untuk mencari ilmu di tempat lain. Setelah cukup jauh berjalan, ia mampir berteduh di sebuah rumah. Ketika sedang beristirahat sambil menyandarkan punggungnya di tembok, ia melihat seekor semut kecil sedang menggigit sisa kulit korma. Semut itu berusaha menarik kulit korma yang ukurannya lima kali lipat lebih besar dari tubuhnya, ke lubang di tembok itu. Berkalikali ia melakukannya namun selalu gagal, kulit korma selalu jatuh ke tanah. Az Zamakhsyari terpaku melihat kelakuan semut itu, yang mempunyai keuletan mengagumkan. Setelah berkali-kali gagal, ternyata sang semut berhasil membawa naik kulit korma itu. Saat itu muncullah pemikiran dalam benak Az Zamakhsyari, "Seandainya aku melakukan seperti yang dilakukan semut ini niscaya aku juga akan berhasil." Setelah mengucapkan itu, ia memutuskan kembali ke sekolahnya dan membatalkan niatnya untuk merantau. Hasilnya, Az Zamakhsyari benar-benar meraih impiannya. Ia menguasai ilmunya sedemikian rupa. Bahkan, ia menjadi tokoh nahwu yang sangat disegani. Mimpi dan cita-cita, yang di dalamnya termaktub tekad, semangat dan kerja, memang seringkali membuat orang tidak mau berhenti. Bahkan, seekor semut pun, menghayati semangat ini. Apatah lagi, kita, manusia. /*Ia Tidak Berhenti, Karena Batinnya Kaya*/ Seorang perempuan kurus berkulit gelap tampak duduk di depan "rumahnya" di sebuah pojok Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan. Dari cangkir plastik yang tak lagi bersih, ia menikmati betul seruputan demi seruputan kopi hangat. "Rumah" perempuan itu hanya susunan papan berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang berasal dari kotak kayu yang biasa ditemukan di pasar, ada pula yang memanjang. Bagian yang menjadi atap rumah ditutupi selembar terpal warna biru untuk menghalangi kucuran air saat hujan datang. Antara atap dan lantai hanya ada jarak satu meter. Karenanya, setiap kali keluar masuk "rumahnya" perempuan itu harus membungkuk-bungkuk. Di ambang pintu yang rendah, sebuah papan penggilasan pakaian dipasang sebagai jembatan. Di bawahnya, selokan kecil meliuk mengalirkan air berwarna hitam kehijauan. Dalam keterbatasan ruang di halaman yang lebarnya hanya setengah meter, ia tampak berusaha mempercantiknya dengan lima pot tanaman yang terbuat dari bekas wadah cat tembok. Kelimanya diatur berjajar memanjang. Jadilah gerbang. Sayangnya, daun-daun tanaman dalam pot itu nyaris habis dipatuki ayam peliharaannya yang tak banyak jumlahnya. Maryati, nama perempuan itu. Wajahnya sudah berkerut-kerut meski usianya belum genap 40 tahun. "Saya sudah 25 tahun tinggal di sini," katanya sambil menyebut usianya sendiri, 37 tahun. Ia tinggal bersama suaminya. Karena sempit, Maryati hampir setiap malam tidur di luar rumah. Beralaskan karung dan selembar kain. Kadang tidur di "halaman" dan kadang tidur di atas tumpukan rangka besi besar di samping "rumah". "Syukurlah ada besi-besi itu. Kalau air sungai meluap ya cukup terlindungilah, enggak hanyut," kata Maryati. Meski harus tinggal di "rumah" sempit di lokasi yang tak sewajarnya, dalam setiap pembicaraannya Maryati selalu mengucap syukur. "Alhamdulillah, saya masih punya rumah. Kalau enggak di sini, mau di mana lagi? Di kampung saya di Indramayu saja masih tinggal di rumah saudara," katanya. "Maklumlah, orang kecil," lanjutnya. Untuk hidup sehari-hari, Maryati berjualan sayur di dekat terowongan Manggarai. Setiap bulan ia mengirim sedikit uang untuk dua anaknya di kampung. Sekali dalam dua hari, Maryati biasa pergi ke Pasar Induk Kramat Jati atau Pasar Minggu. "Beli cabai, tomat, sayur juga," katanya. Namanya berjualan, risiko rugi sudah sangat dia pahami tanpa mengeluh. "Nggak apa-apa kalau rugi, udah risiko," begitu ia menyebut. Penghasilannya yang minim masih harus dikurangi untuk biaya hidup rutin yang tak bisa dia hindari, misalnya untuk mandi, mencuci, dan buang hajat di WC umum. "Kami mandi bayar di kamar mandi umum, air juga harus beli," ujar Maryati, yang lagi-lagi mengucapkan syukur sewaktu menceritakan ada penghasilan tambahan selain berjualan sayur. Meski hidup serba prihatin dan mesti menghadapi berbagai situasi yang tidak nyaman, Maryati tak goyah. Ia tetap tinggal di gubuk kecilnya. Tetap berjalan terus mencari nafkah, bahkan tetap berbagi rejeki dengan keluarganya di desa. Keyakinannya, kalau memelihara waktu-waktu shalat ia akan selalu aman. "Kalau kita shalat lima waktu, pasti aman deh," katanya sambil tersenyum. Melihat Maryati, kita serasa melihat potret kekayaan batin. Ini adalah kekayaan hakiki, yang membuat manusia tidak patah, tidak kalah. Sampai kapan pun. Wallahu'alam /http://beranda.blogsome.com/2009/01/13/jiwa-yang-menolak-patah//
Panjang Umur Harus Mengutamakan Akhlak dan Selaras dengan Alam
Pakar seni bela diri merangkap master pengobatan tradisional China LI YOU FU mengatakan: meningkatkan akhlak, selaras dengan kehendak alam, melepaskan keakuan, balik ke asal kembali ke jati diri, kesemuanya adalah jalan mencapai panjang umur secara mendasar. Selama ribuan tahun, orang orang selalu menelaah tentang metode kesehatan dan panjang umur, dan semua orang berharap dapat memiliki kehidupan yang sehat dan bahagia. Pakar seni bela diri merangkap master pengobatan tradisional China LI YOU FU pada tanggal 1 November 2009 dalam sebuah seminar berthema "moralitas dan kesehatan" memberi-tahu pada khalayak : Meningkatkan moralitas, selaras dengan kehendak alam, melepaskan keakuan, balik ke asal kembali ke jati diri, semua ini adalah jalan mencapai panjang umur secara mendasar. Jika sanggup mewujudkan demikian, penyakit akan menjauhi anda, dan anda akan memperoleh sebuah kehidupan yang baru dan cerah. Li You Fu mengatakan, dasar untuk memelihara kesehatan adalah peningkatan moralitas, tanpa moralitas, apapun tidak layak dibicarakan, semuanya tidak ada gunanya. Orang zaman dulu mengatakan: “menjaga pikiran dari dalam, tanpa nafsu tanpa keinginan”, ini berarti seseorang tidak boleh terlalu serakah, tidak boleh berlebihan mengejar kenikmatan materi. Dosa terbesar dari manusia adalah “tak pernah merasa puas”. Dengan tanpa nafsu tanpa keinginan, seseorang baru dapat balik ke asal kembali ke jati diri. Dia menceritakan sebuah kisah kuno, Kaisar Huangdi pernah minta petunjuk pada Guang Cheng Zi bagaimana caranya supaya rakyat bisa berkecukupan sandang pangan,,hidup dengan tenteram, agar rakyat di seluruh negeri semuanya patuh pada Kaisar. Sebaliknya dia malah dimarahi oleh Guang Cheng Zi: “yang kamu pelajari semua adalah ilmu pecah belah, kamu tidak mau mengikuti Tao (jalan) besar, maka aku tidak dapat memberi petunjuk padamu!” Yang dimaksud Guang Cheng Zi adalah kaisar terlalu tergesa, ibarat tanaman di ladang belum matang sudah mau dipanen, awan belum terkumpul sudah menginginkan hujan turun. Kaisar Huangdi pulang menutup diri merenung, dan kedua kalinya dia kembali meminta petunjuk pada Guang Cheng Zi bagaimana agar bisa selaras dengan Tao (jalan) langit dan bumi. Pada waktu itu Guang Cheng Zi yang berusia 1200 tahun menjawab: “Tao adalah hukum yang alami. Manusia harus selaras dengan alam, melepaskan keakuan, baru bisa memahami hukum langit dan bumi yang alami. Yang disebut "hukum atas dasar Yin dan Yang", adalah sesuai dengan kehendak langit, mengikuti hukum perubahan alam untuk menjalani kehidupan sehari-hari. "Selaras dengan hitungan aturan alam" adalah melaksanakan pembinaan dan penggemblengan diri sesuai metode pemeliharaan kesehatan yang benar, misalnya keseimbangan psikologis, pola hidup yang teratur, makan minum yang wajar, olahraga secukupnya dan lain-lain. Tepat seperti yang Lao Zhi (Pendiri aliranTao) katakan, “makan apapun terasa enak, pakai apapun terasa indah, hidup dengan tenteram, biasakan selalu gembira.” Eksperimen kristal molekul air yang dilakukan fisikawan kuantum Jepang Ben Mori Kou pernah mengejutkan seluruh dunia. Eksperimen menunjukkan bahwa air bukan saja dapat mendengar berbagai jenis musik, berbagai jenis bahasa, tapi juga dapat membaca huruf berbagai negara. Mentalitas dan pikiran manusia dapat mempengaruhi struktur kristal air. Jika Air mendengar kata-kata "cinta" dan "terima kasih", atau kata sejenis lainnya, kristal yang dihasilkan menjadi paling indah, namun jika mendengar kata-kata “sebel banget", "kubunuh kau" dan kata lain yang bernada sama, kristal air akan menjadi jelek berkerut, pecah berantakan. Ini menunjukkan bahwa mentalitas / niat pikiran manusia dapat mempengaruhi alam, maka ilmu pemeliharaan kesehatan tradisional sangat menekankan berpikiran bajik. Li-You Fu mengatakan: "Bila setiap orang memiliki pikiran yang baik , bukan saja tubuh akan sehat, duniapun akan menjadi lebih indah." Li You Fu beranggapan, pengobatan tradisional China dan Chikung (latihan olah jiwa dan raga) termasuk aliran Tao, semua adalah kebudayaan warisan dewa. Pengobatan tradisional China dan pengobatan metode Chikung semua dapat menyembuhkan penyakit dan menyehatkan tubuh. Keduanya juga mengutamakan keseimbangan internal dan eksternal, saling menyelaraskan. Di saat berlatih Chikung menghendaki hati dan pikiran menyatu, internal dan eksternal menyatu. Disamping itu tuntutan dalam Wushu (seni bela diri) tradisional berupa dada agak kedalam punggung ditarik tegak , dengan rileks menyalurkan tenaga, serta jurus-jurus: bergerak seperti ombak, tenang seperti gunung, bangkit seperti kera, turun seperti burung murai, berdiri seperti pohon cemara, duduk seperti lonceng dll, semua itu juga mengutamakan keseimbangan serta keselarasan jiwa dan raga manusia. Dia mengemukakan, tabib masyur di Zaman Tiongkok kuno bernama Sun Si Miao pernah mengatakan: “membunuh makhluk hidup untuk mempertahankan hidup, semakin jauh dari cara hidup. Saya saat melakukan pengobatan, sekiranya dapat menggunakan tumbuh-tumbuhan maka tidak menggunakan hewan, tidak dengan nyawa sebagai bahan obat. Namun sekarang para dokter di daratan China sudah demikian bejat sampai-sampai mengambil organ dari tubuh orang hidup untuk dijual-belikan. Moralitas manusia sudah merosot hingga demikian rendah, untuk apa membicarakan lagi perihal kesehatan. Li You Fu juga mengatakan bahwa perampok di zaman dahulu bahkan lebih baik daripada manusia masa kini. Waktu itu para perampok hanya merampok harta, tidak merampok alam, tapi manusia sekarang sudah merampok alam, orang kaya memonopoli tanah, menguasai gunung, menebang hutan, secara gila-gilaan menjarah sumber daya alam, merusak lingkungan, sehingga manusia sendiri tidak dapat bertahan hidup. Krisis moralitas menyebabkan krisis lingkungan, Sekarang di daratan China air yang tercemar mencapai hingga 70%, air laut berbalik(intrusi) masuk daratan, udara terpolusi, dalam keadaan begini bagaimana manusia masih bisa bertahan hidup? Sumber dari semua ini adalah kerusakan moral, manusia semakin menjauhi moralitas, bencana yang ditimbulkan akan semakin besar. Tanpa moralitas, kehidupan juga tidak ada lagi Usai berpidato, Li You Fu masih sempat menjawab pertanyaan para hadirin. Ada hadirin yang bertanya padanya: “tadi kamu bilang sudah berumur 61 tahun, namun kelihatannya seperti baru berumur 38 tahun, apa resep rahasia kamu memelihara kesehatan?” Li You Fu menjawab sambil tersenyum: “selain di masa muda pernah berlatih Wushu, resep rahasiaku adalah berlatih Falun Gong. Sejak tahun 1996 sampai sekarang,saya telah berlatih 13 tahun, mendapatkan manfaat yang tak terhingga. Sejati-Baik-Sabar dari Falun Gong adalah prinsip hukum alam semesta. Sebenarnya metode kultivasi memelihara kesehatan yang benar benar mendalam, semua terdapat dalam buku “Zhuan Falun” ini. Jika anda ingin seperti saya, maka ikutlah saya berkultivasi Falun Gong”. Beliau juga menyarankan agar semua orang menyaksikan pertunjukan grup kesenian “Shen Yun”. "Itu adalah kebudayaan tradisional China yang sesungguhnya, sangat bermanfaat bagi jiwa dan raga." Demikian anjurannya. (Erabaru/akw) http://erabaru.net/featured-news/48-hot-update/10353-panjang-umur-harus-mengutamakan-akhlak-dan-selaras-dengan-alam Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Mertua Sugijadi Wafat
Ass wr wb , Berita duka cita telah meninggal dunia Ibu Cakrawati Sudarso Mertua Sugijadi Waluyo (SI 77)pada usia 89 Th jam 17.00 wib meninggal di Rs RC Veteran , jenazah akan disemayamkan di Rumah duka rumah Bpk Sugijadi dg alamat Taman Rempoa Indah , Jln Palem Raja Utama Blok D 14 Ciputat Tangerang 15412 . Semoga almarhumah mendapat maghfiroh dan kemuliaan di sisi Allah swt. Amin. Salam, KAH Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Berikan Anak Hadiah Seumur Hidup
/Anak-anak *setiap hari *hidup bersama orang tua, interaksi yang
dihasilkan kedua orang tua seolah-olah merupakan udara yang
mengelilingi anak-anak. Dia berada dimana-mana, setiap detik
selalu eksis, hanya saja terkadang orang tua *sering lupa* bahwa
mereka setiap saat menentukan mutu udara semacam ini.
/
<http://3.bp.blogspot.com/_cZuxSSr1YmE/S2_YbU90sSI/AAAAAAAAC8U/RBrayBY5C_U/s1600-h/20.jpg>/*Hubungan
*/antara suami dan istri adalah hubungan yang paling intim di antara
semua hubungan manusia. Ia bisa sangat kokoh, bisa juga sangat rapuh; ia
bisa manis seperti madu juga bisa pahit seperti empedu; ia bisa pula
saling meyelaraskan, sebaliknya juga bisa saling menghancurkan; ia
mungkin saling bertentangan, bisa pula saling bekerja sama ... dan
sebagainya. Pasangan suami istri harus menciptakan udara yang segar,
supaya anak-anak tumbuh dan berkembang, ataukah sebaliknya ingin
mengacau dan mengotori udara, membuat anak-anak menderita, bahkan
mentalnya terkulai layu?
Melalui beragam hal-ihwal dalam kehidupan sehari-hari, tercermin
hubungan suami istri yang baik., Anak-anak akan menghayati secara
mendalam bahwa /*kasih sayang* adalah saling memahami, saling
menghormati, saling berbakti dan bertanggung jawab/. Mereka akan melihat
kegembiraan yang berlipat ganda dengan saling berbagi rasa, serta
berkurangnya rasa cemas dengan saling memikul. Mereka juga telah melihat
kasih sayang harus dipupuk setiap hari, hubungan pernikahan harus dibina
seumur hidup; mereka juga telah menyaksikan*/ perkawinan bukanlah makam
cinta, melainkan sebuah teater pertunjukan cinta kasih./*
/
*Interaksi antara suami dan istri,* lebih-lebih adalah sebuah contoh
bagi anak-anak untuk belajar menjalin hubungan antarmanusia/. Komunikasi
yang jujur dan tulus dapat meningkatkan keakraban dan kecocokan hati
yang lebih dalam; menghormati seseorang layaknya tamu, agar anak-anak
tahu bahwa kendati akrab seperti suami istri, juga harus saling
menghormati, saling mendukung, bersama-sama membesarkan dan mendidik
anak, bersama memikul tanggung jawab keluarga, ini merupakan kewajiban
bersama agar anak-anak menyadari bahwa suami istri adalah sebuah tubuh
kebersamaan jiwa, kesalahan dan konflik yang kadang kala terjadi antara
suami istri, serta jalan penyelesaiannya, itu justru agar anak-anak
menyaksikan sifat manusia yang sesungguhnya dan pergolakan emosi,
perihal solusinya dengan cara damai bagaikan habis hujan langit semakin
cerah, atau dengan cara emosional bagaikan gunung meletus, itu adalah
cara mendidik dengan versi yang berbeda.?
Semoga para orang tua memperlakukan satu sama lain dengan sinar mata
yang selalu penuh senyum, anak-anak akan /*"menyimpan baik-baik"
*/senyuman tersebut, dan menggunakan prinsip luhur dibalik senyuman itu
untuk menggapai kehidupan yang indah! Hubungan baik antara suami dan
istri, adalah sesuatu yang layak disimpan dan digunakan seumur hidup,
yang merupakan hadiah bagus dari kedua orang tua kepada anaknya.
(Erabaru/akw)
/http://erabaru.net/featured-news/48-hot-update/10350-berikan-anak-hadiah-seumur-hidup/
hemmm..... perang dagang ???
Apakah ini bentuk perang dagang ? Sependengaran saya, produk itu di sini, ditelan mentah-mentah begitu saja... Toh di negeri ini "tidak butuh" menekan pedal gas... karena jalannya macet... Nggak butuh pedal rem yang canggih... karena jalannya pelan... Pokoknya itu mobil built up.... ya mestinya canggih donk...salam, wa Toyota 'planning recall of Prius' in US and Japan Toyota chief Akio Toyoda: "I am very, very regretful that this has happened" Toyota is to recall the latest model of its flagship Prius cars because of a possible fault with the brakes, reports from Japan say. The firm did not comment on the reports, but said it would be announcing soon what action it would take over problems with the Prius. Toyota has already recalled about eight-million vehicles with faulty accelerator pedals. Company president Akio Toyoda has publicly apologised for the problems. TOYOTA RECALLS: STORY SO FAR -. September 2007, US: 55,000 Camry and Lexus cars in floormat recall -. October 2009, US: 3.8m Toyota and Lexus vehicles recalled due to floormat problem -. November 2009, US: floormat recall increased to 4.2m vehicles -. January 2010, US: 2.3m Toyota vehicles recalled due to accelerator pedal problems (of those, 2.1m already involved in floormat recall) -. January 2010, US: 1.1m Toyotas in floormat recall -. February 2010, Europe: 1.8m Toyota's in pedal recall -. February 2010, Japan, US: 200 reports of brake faults in new Prius (none recalled) The brake problem is thought to affect about 270,000 Priuses that were sold in the US and Japan starting last May. Toyota blames a software glitch and says it has already fixed vehicles sold this year. According to Japan's largest newspaper, Yomiuri, Toyota has already notified car dealers in Japan that it plans to recall its latest Prius model. It will make a formal announcement after reporting to the government, according to the reports. It is unclear whether a similar total recall is planned for the US, but dealers there have reportedly been told that Toyota plans to repair the brakes on thousands of Prius vehicles. The US Transportation Department said last week it was investigating braking problems in the 2010 Toyota Prius after Toyota admitted brake problems with the model. The US National Highway Traffic Safety Administration has received 124 reports from drivers about the braking issue, including four of crashes. There have been no reports of any such accidents in the UK. The US investigation will look into allegations of momentary loss of braking power while travelling over uneven road surfaces. Toyota said the glitch was not legally a safety hazard, and that it had received no reports of any accidents related to it. Toyota estimates its losses will reach $2bn (£1.23bn) in costs and lost sales from its worldwide recall of vehicles that might have faulty accelerator pedals, but a recall of Prius models would send this figure even higher. But these losses could escalate if the trust and reputation the company built up over a period of decades is demolished, observers say. http://news.bbc.co.uk/2/hi/business/8502894.stm -- -- Info pengelolaan milis anda : <http://pub.bhaktiganesha.or.id/itb77/milis/list-info-itb77.txt> Penting! Jangan letakkan milis di kolom CC, Subject harus diisi, dan jangan lebih dari 1 MB.
resiko membangkitkan energi listrik...
Bukan untuk nakut-nakuti.... hanya mengingatkan... Menyediakan energi listrik skala besar, ada resikonya... Di negeri semaju USA pun, resiko itu bisa terjadi.... salam, wa 5 Dead, Dozens Hurt in Connecticut Power Plant Blast By ROBERT D. McFADDEN Published: February 7, 2010 A power plant under construction in central Connecticut exploded with earthquake force that shook homes across much of the state on Sunday as workers purged natural gas lines in preparation for the plant to open this year. At least five people were killed and more than two dozen were injured as a section of the plant collapsed and burned. Before Blast, Few Safety Problems as Energy Project Rose at Abandoned Mine Site (February 8, 2010) The New York Times http://www.nytimes.com/2010/02/08/nyregion/08kleen.html?ref=nyregion Witnesses said the explosion at the Kleen Energy Systems plant in Middletown, 15 miles south of Hartford, occurred at 11:17 a.m. in a thundering convulsion of flames and smoke seen for miles around and felt as far away as cities and towns on the shore of Long Island Sound, 30 miles away. As towering plumes of dark smoke poured into a dazzling blue sky, scores of ambulances, fire engines, police cars and helicopters streamed to the scene on the west bank of the Connecticut River on the southern outskirts of the city, the home of Wesleyan University. Fire and rescue teams from Middletown, Durham, Portland, Cromwell and other towns converged as crews fought the blaze into the afternoon. Aerial pictures showed a smoking, sprawling riverside site with buildings housing generators, fuel tanks and other power equipment, topped by two smokestacks. The explosion apparently occurred in the largest building, called the Power Block, which was destroyed. River Road leading to the site was a tangle of firefighting and rescue equipment. Flames were seen shooting from a pipeline after the blast, but the line was capped shortly after noon, officials said. Even so, scattered fires blazed and smoke billowed over the scene for hours, and search-and- rescue teams looked through the rubble for victims into the night. The search, with dogs, sound-detecting and thermal imaging equipment, could go on for days, officials said. Mayor Sebastian N. Giuliano of Middletown, at a late-afternoon news briefing, said that five people were known to be dead, but he did not release names pending notification of their families. The son of one victim, Raymond Dobratz, 57, of Old Saybrook, a pipe fitter who had been working at the plant for a year, said his father had been killed. Mayor Giuliano said the number of dead and injured remained unclear because the number of workers at the plant fluctuated, in part because so many subcontractors were involved. He said the workers had been purging gas lines all weekend. He said that as many as 200 construction workers had been at the plant daily, though fire officials said only about 50 were on the job at the time of the explosion. The mayor said various contractors were being asked to identify workers at the site on Sunday. “We need to know who was there today,” the mayor said. And while the cause of the blast remained undetermined, the mayor said that a natural gas explosion was “the assumed cause.” He added, “Terrorism has been ruled out.” Mr. Giuliano said that many of the construction workers had been evacuated from the site before draining the lines of natural gas, as standard procedure, and he said there had been no previous accidents at the plant — “not so much as a hangnail,” he said. The explosion was under investigation by the state and local police and by several federal agencies, including the Occupational Safety and Health Administration, the Justice Department’s Bureau of Alcohol, Tobacco, Firearms and Explosives and the United States Chemical Safety Board, which examines chemical industrial accidents. Daniel M. Horowitz, a spokesman for the chemical safety board, said that a team of investigators would be at the site on Monday. Fire officials said the explosion occurred as workers for the construction company, O & G Industries, were purging the pipelines of natural gas, the main source of fuel for the plant, in a procedure known as a blow-down. Mr. Horowitz said he could not confirm that report, but noted that a gas purge last June at a food-processing plant in Garner, N.C., killed four people and injured 67 others. He said his agency had issued urgent safety recommendations in that case just Thursday related to purging, the clearing of air during maintenance or installation of new piping. Gordon Holk, the Middletown plant’s general manager, said workers from O & G; Ducci Electrical Contractors, of Torrington; and Keystone Mechanical Electrical Contractors had been at the site on Sunday. Tests were under way in preparation for a spring or summer opening of the 620-megawatt plant, which has been under construction since September 2007 in an old feldspar quarry and was 95 percent finished. The plant, one of the largest power facilities to be built in New England in recent years, was to supply electricity to Connecticut Light and Power. As many as 1,000 workers had been employed in building the plant, but the number had declined to 400 or 500 recently, according to Philip Armetta, the project’s developer, whose 45 percent interest was placed in a trust when he pleaded guilty in 2007 to a charge of failing to disclose knowledge of price-fixing in the state’s trash disposal industry. Representative Matthew Lesser, a freshman Democrat who lives a mile from the plant and represents an adjacent district in the State House, said the $1 billion plant, which has faced “regulatory hurdles,” had been expected to cut the costs of power in a state that has some of the highest rates in the nation. Al Santostefano, the deputy fire marshal in Middletown, said the authorities believed that about 50 employees were in the building where the explosion occurred, and he spoke of the difficulties of searching for victims in the rubble. “It’s a slow dig,” he said. “There’s a possibility someone could still be alive under the debris.” While the number of casualties was uncertain, hospitals in Middletown, Hartford and New Haven reported receiving more than two dozen injured people. At Middlesex Hospital in Middletown, Peg Arico, a spokeswoman, said 26 people were brought from the site for treatment. Two victims suffering major injuries that could not be treated at Middlesex were transferred to trauma centers, one to Hartford Hospital and one to Yale-New Haven, Ms. Arico said. Most of the others were treated and released. “We did not see a lot of burn victims,” she said. “Of the ones that we are still treating, many have broken bones and others have abdominal pain. The injuries can be described as impact injuries from the explosion.” Hartford Hospital said two injured people were brought directly from the explosion, in addition to one transferred from Middlesex . The explosion shook the walls and windows of homes 20 to 30 miles from the scene and touched off an avalanche of telephone calls as residents across a swath of the state contacted relatives and friends to see if anyone had been hurt. It also set off a flood of Internet commentaries. The project contractor, O & G Industries, was described on its Web site as a closely held company based in Torrington. Algonquin Gas Transmission was listed as the gas supplier, and the plant’s turbines were manufactured by Siemens Power Generation. Kleen Energy Systems is owned principally by Energy Investors Funds, which recently acquired an 80 percent share. Mr. Lesser, a member of the Energy and Technology Committee of the State House, said he was having a cup of coffee when his building shook. “There was a loud rumble and my windows in my apartment rattled for 5 to 10 seconds,” he recalled. “I had no idea what it was. It was peculiar, but I didn’t think anything of it.” Then, he said, he began getting phone calls and text messages about the explosion. “The first couple asked, ‘Did you feel that?’ and one person thought it was an earthquake,” he said. “And then the subsequent ones reported about the explosion itself.” The tests being conducted at the plant on Sunday were in preparation for a spring opening, he said. “The hope was that by increasing generation, we could bring electric rates under control.” http://www.nytimes.com/2010/02/08/nyregion/08explode.html?hp -- -- Info pengelolaan milis anda : <http://pub.bhaktiganesha.or.id/itb77/milis/list-info-itb77.txt> Penting! Jangan letakkan milis di kolom CC, Subject harus diisi, dan jangan lebih dari 1 MB.
Tuhan Melihat Hatimu
<http://kisahsufi.wordpress.com/2009/10/31/tuhan-melihat-hatimu/>
Pada suatu hari, *Hasan Al-Basri* pergi mengunjungi Habib Ajmi, seorang
sufi besar lain. Pada waktu salatnya, Hasan mendengar Ajmi banyak
melafalkan bacaan salatnya dengan keliru. Oleh karena itu, Hasan
memutuskan untuk tidak salat berjamaah dengannya. Ia menganggap kurang
pantaslah bagi dirinya untuk salat bersama orang yang tak boleh
mengucapkan bacaan salat dengan benar.
Di malam harinya, *Hasan Al-Basri* bermimpi. Ia mendengar Tuhan
berbicara kepadanya, "Hasan, jika saja kau berdiri di belakang Habib
Ajmi dan menunaikan salatmu, kau akan memperoleh keridaan-Ku, dan salat
kamu itu akan memberimu manfaat yang jauh lebih besar daripada seluruh
salat dalam hidupmu. Kau mencoba mencari kesalahan dalam bacaan
salatnya, tapi kau tak melihat kemurnian dan kesucian hatinya.
Ketahuilah, Aku lebih menyukai hati yang tulus daripada pengucapan
tajwid yang sempurna.
*/Sumber/*: syafii.wordpress.com
<http://syafii.wordpress.com/2007/04/02/kisah-kisah-sufi-tuhan-melihat-hatimu/>
/http://kisahsufi.wordpress.com/2009/10/31/tuhan-melihat-hatimu//
salam,
wa
Toyota 'planning recall of Prius' in US and Japan
Toyota chief Akio Toyoda: "I am very, very regretful that this has happened"
Toyota is to recall the latest model of its flagship Prius cars because of
a possible fault with the brakes, reports from Japan say.
The firm did not comment on the reports, but said it would be announcing
soon what action it would take over problems with the Prius.
Toyota has already recalled about eight-million vehicles with faulty
accelerator pedals.
Company president Akio Toyoda has publicly apologised for the problems.
TOYOTA RECALLS: STORY SO FAR
-. September 2007, US: 55,000 Camry and Lexus cars in floormat recall
-. October 2009, US: 3.8m Toyota and Lexus vehicles recalled due to floormat
problem
-. November 2009, US: floormat recall increased to 4.2m vehicles
-. January 2010, US: 2.3m Toyota vehicles recalled due to accelerator pedal
problems (of those, 2.1m already involved in floormat recall)
-. January 2010, US: 1.1m Toyotas in floormat recall
-. February 2010, Europe: 1.8m Toyota's in pedal recall
-. February 2010, Japan, US: 200 reports of brake faults in new Prius (none
recalled)
The brake problem is thought to affect about 270,000 Priuses that were sold
in the US and Japan starting last May. Toyota blames a software glitch and
says it has already fixed vehicles sold this year.
According to Japan's largest newspaper, Yomiuri, Toyota has already notified
car dealers in Japan that it plans to recall its latest Prius model. It will
make a formal announcement after reporting to the government, according to
the reports.
It is unclear whether a similar total recall is planned for the US, but
dealers there have reportedly been told that Toyota plans to repair the
brakes on thousands of Prius vehicles.
The US Transportation Department said last week it was investigating
braking problems in the 2010 Toyota Prius after Toyota admitted brake
problems with the model.
The US National Highway Traffic Safety Administration has received 124
reports from drivers about the braking issue, including four of crashes.
There have been no reports of any such accidents in the UK.
The US investigation will look into allegations of momentary loss of
braking power while travelling over uneven road surfaces. Toyota said
the glitch was not legally a safety hazard, and that it had received
no reports of any accidents related to it.
Toyota estimates its losses will reach $2bn (£1.23bn) in costs and lost
sales from its worldwide recall of vehicles that might have faulty
accelerator pedals, but a recall of Prius models would send this figure
even higher.
But these losses could escalate if the trust and reputation the company
built up over a period of decades is demolished, observers say.
RSS Feed