Mas Tami,
Apa yang dilakukan Mai patut diacungkan jempol, didukung dan wajib diperhatikan dengan sungguh oleh semua kalangan, baik perempuan maupun laki-laki; kalangan masyarakat umum maupun pemimpin bangsa dan negara..
Perbuatan yang 'menistakan' kaum perempuan bertentangan dengan kehendak Allah karena perempuan diciptakan Allah sebagai 'Penolong yang sepadan bagi kaum laki-laki' dan 'Surga berada di bawah telapak kaki ibu'.
Dikuatirkan, apa yang menjadi 'hukuman' orang-orang yang tidak mengikuti Firman Allah dan bahkan bertentangan denganNYA.
Wallahualam...
Pemahaman Gender (relasi dan posisi perempuan dan laki-laki) dalam kejadian di bawah sepertinya masih bias; dan perlu di'kembalikan'/re-orientasi kepada yang semestinya.
Kita tahu, para kaum Adam semuanya di zaman sekarang lahir setelah perempuan, karena hanya satu orang yang lebih dulu lahir dari perempuan, yaitu Adam sendiri (orang pertama di ciptakan Allah).
Ada peribahasa: dibalik Pemimpin (laki-laki) yang besar ada seorang perempuan yang besar (berkualitas).
Saya pikir sudah banyak kaum Adam masa sekarang yang menerima 'berkat' dan 'nikmat' yang diperolehnya ketika memiliki seorang Perempuan yang 'sepadan' dan menjadi pasangan hidupnya.. Kisah Ainun dan Habibi dapat dijadikan contoh..
Namun memang tidak dapat disangkal belum banyak kaum Adam yang mengakuinya di muka umum ketika peran perempuan pasangannya membantu kehidupan, karir bahkan nilai kehidupannya.. Bahkan ironisnya banyak juga kaum laki-laki yang menceraikan isterinya hanya karena ybs memiliki usaha yang maju dan mendapatkan penghasilan lebih dari sang suami... Tragis.. Budaya patriarki 'mencengkeram' masyarakat tanpa disadari dan merugikan banyak kehidupan...
Tidak dapat disangkal pula, ada kaum perempuan yang 'kurang memahami perannya' sebagai 'perempuan pasangan laki-laki' dalam kehidupan nyata...
Saya baru saja menyaksikan di TV kemarin malam, perempuan yang tadinya miskin, biasa2 saja rajin mengurus keluarga dan rumahtangga; ketika suaminya menjadi kaya malah merasa 'bebas' melakukan apa saja dan mengabaikan perannya sebagai ibu dan istri walau sudah ada pembantu rumah tangga. Padahal apapun status ekonominya, perempuan dan laki-laki 'berpasangan' saling menghormati pada hak masing-masing untuk mencapai kemajuan keluarga/bersama (Konsep Gender Harmony (GH))
Saya kuatir tidak banyak yg memiliki pemahaman gender sebagai 'pasangan hidup' yang seyogyanya bersinergi, saling berempati, ber-transformasi dan ber 'harmonisasi' atas respek pada pasangan (bebas KDRT) untuk kemajuan bersama di dalam keluarga, bangsa dan negara.
Terkadang, pemahaman agama yang bias menjadikan posisi dan relasi perempuan menjadi terpuruk; apalagi apabila negara tidak memiliki 'alat'/tool dalam 'meredam' prilaku 'buruk/buas' kaum laki-laki yang tidak menghormati kaum perempuan...
Rasanya Allah tidak pernah ingkar janji; barangsiapa yang mengikuti FirmanNYa kepadanya akan diberikan mahkota kehidupan sekarang dan selamanya...
Pilihan ada di tangan masing-masing...
Ketika lonceng kematian memanggil dan pintu akhirat terbuka, tiada ada lagi kesempatan memilih...
Janganlhaa salah memilih...
Have a blessed day!
Salam harmony,
es
2013/6/7 Tommy Tamtomo
ttamtomo <at> gmail.com>
---------- Forwarded message ----------
From: ilham d. sannang
ilhamre <at> yahoo.de>
Date: 2013/6/7
Subject: [Aliz-Forum] diperkosa massal, lalu membangun sekolah
To:
|
Category: Siapa Dia
Published on Tuesday, 09 April 2013 09:09
Hits: 492
Seorang korban
pemerkosaan massal atas nama adat, membalas apa yang dialaminya dengan
pembangunan sekolah yang mengajarkan anak laki-laki untuk lebih
menghormati mahluk yang melahirkan mereka.
Pemandangan yang terjadi di Desa Mirwali
(termasuk dalam kawasan Punjab Pakistan) 7 tahun lalu itu, lebih laik
disebut kebiadaban dibanding sebuah pengadilan adat. Sejumlah lelaki
kekar dengan diiringi sorak sorai ratusan orang, memerkosa seorang gadis
berusia 30 tahun. Muchtar Mai, nama gadis itu, menjerit, mengiba dan
memberontak. Namun alih-alih terbebaskan, tenaganya malah terkuras dan
dia menjadi bulan-bulanan nafsu iblis para pemerkosanya.
Awalnya, Mai meminta maaf kepada
pengadilan adat dan memohon mereka untuk membebaskan adik laki-lakinya.
Saudara Mai yang baru berusia 12 tahun itu, telah dituduh melakukan
pelecehan seks terhadap seorang gadis dari klan Mastoi, sebuah klan
terpandang di Desa Mirwali. Bukannya pengampunan yang dia dapat, malah
seorang laki-laki meneriakinya, " Kesalahan adikmu harus ditebus dengan
cara memerkosamu," Maka terjadilah peristiwa di atas.
Usai diperkosa beramai-ramai, bagai
sampah Mai dicampakan begitu saja di lapangan desa. Dengan kondisi
setengah telanjang dan diiringi cemohan orang-orang desa, Mai
tertatih-tatih meninggalkan arena pengadilan tersebut. Hanya satu hal
yang dipikirkannya kala itu,"Aku harus mengakhiri hidupku,"ujarnya.
Penderitaan Mai semakin tak tertahankan,
saat beberapa hari kemudian sebagian orang di desa Mirwali menyatakan
adik laki-laki Mai sesungguhnya tak memiliki dosa apapun. Sebaliknya dia
malah menjadi korban penculikan dan pelcehan seks --dengan cara
disodomi-tiga laki-laki klan Mastoi. Digelarnya pengadilan itu ternyata
tak lebih sebagai upaya kalangan klan Mastoi untuk mengaburkan masalah.
Bebeberapa bulan kemudian, berita itu
sampai ke telinga kalangan kelompok pembela perempuan di Pakistan, dan
dilambungkan oleh mereka sebagai kasus pelanggaran HAM internasional.
Berkat dorongan dunia pula, pemerintah Pakistan memproses secara cepat
14 laki-laki yang terlibat pemerkosaan massal itu. Hasilnya enam
laki-laki dijatuhi hukuman mati, dan sisanya dibebaskan karena minim
bukti. Sedangkan Mai berhak menerima uang ganti rugi sebesar $9400.
Mai kemudian menggunakan uang tersebut
untuk mendirikan dua sekolah., satu untuk anak laki-laki dan satunya
lagi untuk anak perempuan. Mengapa dia tidak menggunakan uang tersebut
untuk pergi dari Desa Mirwali dan memulai hidup baru di tempat lain?
Ternyata nurani Mai tidak sampai hati untuk menggunakan uang itu demi
kepentingannya pribadi,"Bila saya menggunakan uang itu untuk diri saya,
bagaimana nasib anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan di desa
ini?"katanya. Dengan didirikannya dua sekolah tersebut, Mai bermimpi
indah: pendidikan bisa merngubah prilaku laki-laki di Desa Mirwali
menjadi lebih menghormati perempuan.
Dua sekolah yang didirikan Mai memang
terhitung masih sangat sederhana. Di sana sama sekali tak ditemukan
meja, bangku terlebih penerangan listrik. Kendati demikian, anak-anak
Desa Mirwali sangat senang bersekolah di tempat itu. Hingga kini jumlah
murid yang belajar di sekolah Muchtar Mai berjumlah ratusan.
Kini Mai belajar banyak dari peristiwa
pahit yang menimpa dirinya. Walau harus bergulat dengan trauma masa lalu
yang sangat kelam, Muchtar menyatakan tidak akan pernah menyerah pada
adat setempat yang selalu merugikan posisi perempuan. Apalagi menurut
Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan pada 2004 saja sudah 176 perempuan
Pakistan yang diperkosa secara massal. Sebanyak 151 orang bunuh diri
karena menanggung malu. Dan tak satu pun pelakunya
diadili.(hendijo/Islam Indonesia) foto:istimewa
http://www.islamindonesia.co.id/index.php/feature/siapa-dia/1056-mimpi-indah-perempuan-mirwali
__________________________________________________
|