Picon

Oh KPK, Disitu sy merasa sedih :(



Satu hal yg tidak bisa dipungkiri dan disitu sy merasa sedih itu karena sangat telak adalah Jokowi membiarkan KPK terombang-ambing dihajar sedemikian sehingga PLT Ketua KPK pun berteriak "disitu sy merasa kalah"... rasanya kok kurang etis ya... sebagai seorang leader tidak sepantasnya menurunkan semangat juang yg di lead nya.

Mamang jadi inget filem Cleopatra ketika dia berperang dgn pasukan Romawi... dan tahu pasukannya akan kalah karena memang kalah jumlah dlsb...tapi satu hal dia tetap berdiri tegak dan selalu tegar dan memberikan semangat bahwa kita akan terus berjuang dan berusaha memenangkan peperangan ini. Tidak ada opsi ataupun ada raut muka atau mimik yg mengungkapkan disitu Cleopatra merasa kalah... yg ada tetap tidak "komeok memeh dipacok" hehehe. Pada akhirnya Cleopatra lah yg bisa menaklukan Cesar Romawi dengan kecantikannya xixixi.

Tidak terbayangkan bagaimana kondisi internal KPK ketika leadernya membuat statement "disitu sy merasa kalah" beuuuuuuuh kalau ente sudah merasa kalah... mundur aja lah... ganti yg punya WINING Spirit biar semua tim bersemangat untuk menang!

Jokowi secara politis kalah telak dari SBY.... yang walaupun SBY dihina sebagai Jendral yg galau dan lemah... namun dalam beberapa Hal SBY berani membela KPK!

Abraham Samad dan Bambang Wijayanto mungkin bukan malaikat tapi dalam masa kepemimpinan mereka KPK telah mengguncang... they rock!

Cek aja kasus2 yg mereka  berhasil ungkap dari mulai Hambalang, Sapi, Migas, Haji, Al Quran, Dinasti Banten, Pajak, Polisi, dll... banyak success story-nya...

Dalam sekejap harapan Masyarakat Indonesia yg menginginkan negara yg bersih itu kemudian pudar dihancurkan oleh Presiden sendiri yg membiarkan KPK dihajar babak belur sampe PLT yang diangkat Presiden pun mengibarkan bendera putih.... "Disitu sy merasa kalah".... disitu pula Mamang pada akhirnya merasa sedih.

Teeeerlaaaaluuu... SBY pun saat ini berani berkicau...." Penakh Jaman Ku Tho".

Terima kasih SBY walaupun diejek Jendral Galau tapi ternyata banyak yg lebih galau hehehe.

Jokowi semakin kelelep sejalan dengan Perpres No. 1 Jatigede tahun 2015 yg ngalelepkeun Kabuyutan!

Sesuai Amanah Galunggung... apalagi yang akan ditenggelamkan adalah Kabuyutannya Ki Balangantrang Abad ke-7 M yang merupakan Patih Galuh Purba... Galunggung ~ Galuh Hyang Agung... Amanah Galunggung Resi Darmasiksa Abad ke-12 M yg nenurunkan termasuk Raja2 Majapahit menyampaikan.... "Pemimpin yg tidak bisa menjaga kabuyutannya lebih hina dari kulit musang yg dibuang ke tempat sampah"!

Jokowi sekarang nasibnya sudah mulai TERHINA... banyak dicemooh oleh masyarakat yg dipimpinnya!

Jokowi a new hope....less!

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com



__._,_.___
Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Yuddy Chrisnandi Bukan Urang Sunda!



Aneh- aneh aja nih MENPAN kok ngurusin Waduk xixixi... Menteri PU apakah sudah tidak mampu ya? Menteri PU PERA konon produk gagal karena gosipnya PIMPRO SEJUTA LAHAN GAMBUT yang gagal itu hehehe... Sebelumnya Andrinof Cingoggo juga sama koar-2 Juni Siap Digenangi.... Sok atuh lah jangan banyak cingcong kalau bisa dan mampu mah pemerintah segera tenggelamin Jatigede biar buru-2 Jebol Bendungannya trus Jokowi didemo dan diturunkan dari Presidennya. Hatta Rajasa aja yang koar-2 mau mempercepat Jatigede udah kalah pilpres... kalah juga dipemilihan Ketum PAN hehehe. Jokowi sekarang mukanya aja udah asem... ngak bisa lagi cengengesan di TV xixixi. Diolok- olok tidak hanya lawan politiknya tapi juga musuh-2 politiknya.

Yuddy Chrisnandi juga tolong ya jangan ngaku- ngaku Orang Sunda ya... karena Yuddy Chrisnandi bukan Urang Sunda karena kalau Urang Sunda beneran mah bukan yang abal-abal dan ngaku- ngaku Sunda tidak akan menenggelamkan Situs Cagar Budaya dan Kabuyutan Peninggalan Leluhur Sunda! Yuddy Chrisnandi mah ngaku Orang JAWA BARAT saja sama seperti AHER hehehe... Jangan pernah ngaku Urang Sunda ya... Malu sama Leluhur lah!

Ganti Rugi Waduk Jatigede Bisa dari Penghematan Rapat di Hotel


Liputan6.com, Jakarta - Program penyediaan irigasi di daerah Jawa Barat melalui proyek pembangunan [Waduk Jatigede](Waduk Jatigede ""), Sumedang, Jawa Barat, hingga saat ini belum juga bisa berjalan karena masalah ganti rugi lahan dan pemindahan penduduk sekitar. Padahal proyek ini sudah berjalan puluhan tahun lalu.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Refomasi Birokrasi (PAN-RB) Yuddy Chrisnandi menyatakan bahwa penolakan masyarakat sekitar terhadap proyek ini lantaran kurangnya sosiasasi dampak lingkungan.

"Jatigede ditolak karena analisis dampak lingkungannya yang belum tersoasialisasikan," ujarnya dalam acara Golf Gathering IKA MM FEB Unpad, di Jakarta, Minggu (1/3/2015).

Selain itu, mandeknya pengoperasian waduk ini karena masalah ganti rugi lahan masyarakat sekitar yang selama ini sulit mencapai titik temu. "Juga adanya keinginan masyarakat untuk mendapatkan uang kompensasi yang lebih. Jadi anggaran yang disediakan Rp 680 miliar. Sedangkan permintaan masyarakat terus naik hampir Rp 1 triliun," lanjutnya.

Namun, menurut Yuddy masalah anggaran ini seharusnya sudah tidak lagi menjadi masalah. Hal ini karena pemerintah telah mempunyai anggaran lebih akibat dari penghematan yang dilakukan seperti penghematan dari larangan menggelar rapat di luar kantor.

"Untuk bangun bendungan Jati gede sudah 25 tahun lebih saja Rp 1,2 triliun. Dengan tidak rapat di hotel ada uang penghematan Rp 5,1 triliun, kita kasihkan jadi itu waduk. Ini saja berarti bisa buat empat bendungan (waduk) dan berapa ribu saluran irigasi, manfaatnya besar," tandasnya.

Sebenarnya proses pembangunan fisik Waduk Jatigede sebenarnya sudah mencapai 90 persen. Namun waduk ini belum bisa difungsikan karena masih terkendala pembebasan lahan dan pemindahan penduduk sekitar.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) menargetkan pengairan atau penggenangan Waduk Jatigede, akan terlaksana pada Juli 2015. Target ini molor dari perkiraan pemerintah pusat yang menyatakan di Desember 2014.

Gubernur Jabar Ahmad Heriawan, setelah ganti rugi selesai pada Januari 2015, proses selanjutnya adalah memindahkan situs bersejarah, gardu-gardu PLN, pembongkaran rumah dan memindahkan hutan seluas 1.300 hektare (ha) dengan 860 ribu pohon perlu ditebang.

Pemerintah telah mencarikan lahan pengganti untuk hutan seluas 1.300 ha milik Perhutani. "Sebagian sudah tersedia di kawasan Sumedang, dan sebagian lagi kita masih carikan," ujar Ahmad Heriawan.

Pemerintah menyediakan rumah sebanyak 664 unit tipe 36 untuk menampung warga. Pemerintah Provinsi mendapatkan hibah rumah itu dari pemerintah pusat. Sayang, katanya, rata-rata warga enggan menempatinya. (Dny/Gdn)

Sumber: http://bisnis.liputan6.com/read/2183742/ganti-rugi-waduk-jatigede-bisa-dari-penghematan-rapat-di-hotel


__._,_.___
Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Dollar 13rb, Beras 11rb, BBM naek 200, Hutang?



http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/03/02/163300126/Pengamat.Rupiah.Terus.Melorot.Kita.Bisa.Jadi.Negara.Kere.Lagi

Tahun 96 pasca Suharto tanda tangan pepres Jatigede dollar mulai merangkak naek dari 2000 naik terus dampe nyentuh 16.000 dan 1998 Krismon dan Suharto Tumbang.

Tahun 2015 Jokowi tanda tangan Perpres Jatigede mulai deh:
- KPK Vs Polri rame terus negara riweuh Jokowi dicemooh oleh pendukungnya.
- Dollar tembus 13.000
- Freeport diperpanjang
- BBM turun naik membingungkan rakyat... mulai naek lagi 200
- Harga Beras 11.000
- Gas Elpiji Langka
- Banjir tembus ke Istana
- Urusan Ahok DPRD bikin riweuh karena ahok membongkar kasus UPS di APBD 2014 yg justru pada masa Jokowi sama membongkar bobrok sendiri.
- Jokowi infonya mau nambah hutang baru?

Riweuuuuh.... SBY dan Demokrat makin berkibar... JK makin berharap Jokowi segera tumbang biar JK bisa jadi Presiden.

Kalau berkaca dari kasus Tumbangnya Suharto... apakah 2 tahun dari sekarang Jokowi akan tumbang juga?

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com



__._,_.___
Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Menanam Pohon di DAS Cimanuk, Jatigede Hijau [15 Attachments]

[Attachment(s) from Mang Aska included below]

Dear All,
Alhamdulillah pada tanggal 21 - 22 Februari 2015 tidak kurang 40 orang dari berbagai penjuru Indonesia ada dari Riau, Padang, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan lainnya datang ke Kabuyutan Cipaku mengikuti kegiatan Tour Jatigede dan menanam bibit pohon sumbangan dari Sahabat Pohon. Mereka datang dan berbaur dengan warga masyarakat Kabuyutan Cipaku dan juga anak2 SDN Cipaku Darmaraja Sumedang ikut menanam pohon di DAS Cimanuk Sungai Cibayawak dekat dengan Hutan Larangan Cipeueut Aji Putih yang merupakan Situs Cagar Budaya yg terancam akan ditenggelamkan oleh bendungan yang takabur.

Alhamdulillah anak2 sangat antusias mengikuti kegiatan menanam ini dan mudah2an mereka dapat tercerahkan/ terinspirasi menjaga kelestarian Hutan sebagai sumber mata air. Anak2 adalah calon generasi penerus yang kelak akan menggantikan pemerintah yang mana saat ini yang sedang Dzalim mulai membabat 1389Ha Hutan Jatigede demi membangun bendungan penampung air.

Apabila Air yang dibutuhkan oleh pemerintah seharusnya tidak membangun bendungan dan membabat ribuan Ha Hutan seharusnya justru menghijaukan hutan2 dan gunung2 yg berada di huli sungai baik sungai cimanuk maupun sungai yang lainnya. Hutan hijau pasokan sumber air bersih terjamin karena mata air terus mengalir tiada henti. No Forest, No Water, No Future!

Berikut ini foto2 nya... semoga kelestarian Situs2 Cagar Budaya Kabuyutan Cipaku tetap terjaga.

Alhamdulillah Save Jatigede minggu ini sudah lebih dari 1000 orang yg LIKE dan terus bertambah, semoga Jokowi terketuk hatinya untuk berkunjung dan melihat langsung Kabuyutan Cipaku yg merupakan Baduynya Sumedang.

Save Kabuyutan, Save The World, SaveJatigede!

www.facebook.com/savejatigede/

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com



__._,_.___

Attachment(s) from Mang Aska | View attachments on the web

10 of 15 Photo(s) (View all Photos)

Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Pagar Istana Bogor Batal Digeser karena Jokowi Minta Perhatikan Nilai "Heritage"



Membaca article di bawah ini merupakan angin segar untuk Save Jatigede, mudah-2an Jokowi juga tidak melupakan nilai HERITAGE/ Sejarah Kabuyutan Cipaku dan 25 Situs Cagar Budaya yang terancam ditenggelamkan oleh Bendungan Jatigede, Situs Cagar Budaya melekat pada tempatnya tidak bisa dipindahkan. Bendungan bisa dirubah fungsi dan intensitasnya tanpa harus menenggelamkan Situs-2 Cagar Budaya yang ada disana.

Jokowi a NEW HOPE? amiiiin.


Sumber: http://regional.kompas.com/read/2015/02/19/22030001/Pagar.Istana.Bogor.Batal.Digeser.karena.Jokowi.Minta.Perhatikan.Nilai.Heritage

BOGOR, KOMPAS.com - Penggeseran pagar Istana Kepresidenan Bogor hingga saat ini masih gagal dilakukan. Alasannya, karena Presiden Joko Widodo meminta agar dalam melakukan penataan harus memperhatikan nilai sejarahnya.

"Dalam pertemuan dengan Pak Presiden tidak membicarakan soal penggeseran pagar istana. Karena beliau (Jokowi) menitikberatkan bahwa penataan harus menjaga heritage dan nilai sejarahnya," ucap Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto, Kamis (19/02/2015).

Bima mengaku, pertemuannya dengan Jokowi di Istana Bogor kemarin membahas berbagai hal. Pembahasan itu mulai dari penataan transportasi dan kesiapan berbagai sarana dan prasarana untuk melakukan penataan kota.

"Pak Jokowi sangat peduli dengan Kota Bogor sebagai kota pusaka. Kepada Presiden, saya sampaikan beberapa hal yang perlu diselesaikan, seperti kemacetan, pengadaan bus transpakuan, perbaikan pedestrian, dan revitalisasi pasar. Itu semua dicatat oleh presiden dan akan dikoordinasikan dengan pemerintah pusat," kata Bima.

Seperti diketahui, Pemerintah Kota Bogor berencana akan menggeser pagar Istana Bogor sebagai langkah untuk mengurangi kemacetan. Bima juga berencana untuk melebarkan pedestrian yang berada di sekeliling Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor agar banyak warga yang memilih berjalan kaki dan menggunakan sepeda.

Memang, sebelum bertemu dengan Presiden, orang nomor satu di kota Bogor itu telah lebih dulu bertemu dengan para tokoh budaya Kota Bogor untuk membahas masalah rencana penggeseran pagar Istana. Anggarannya pun sudah disetujui oleh DPRD Kota Bogor sebesar Rp. 6,7 miliar.

Namun saat disampaikan ke Presiden, rencana itu tidak disetujui. Alasan Jokowi, karena dirinya tidak ingin menghilangkan nilai sejarah.




__._,_.___
Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Overnight at Kabuyutan Cipaku



http://wibowowibisono.com/blog/54-kabuyutan-cipaku

Kabuyutan Cipaku
posted under Blog pada : 31/01/2015 23:37:47

“The idea of staying at a house of someone living in a village has always thrilled me. Ever since I did that for the first time in Pangalengan, West Java, four years ago, I have always looked forward to get such opportunity.

Lucky for me, good news came from Ramala, a friend of mine from college. She told me about a traditional old village named Kabuyutan Cipaku, located somewhere in the regency of Sumedang, West Java Province, and came up with an idea of home staying for a couple of days in that place.

There is nothing really outstanding about the village except the fact that the people still preserve some of their traditional houses, and we still can find some ancient archeological sites and artifacts dating back to the time when the teaching of Islam hadn’t penetrated West Java.

Over the last few decades, the village has been threatened of losing its existence due to the Indonesia’s government plan of building a dam to generate power for electricity and also to irrigate the rice fields in the region. I was curious to find out how the people managed to survive, even until lately, when the issue of the demolition came out after disappeared for a few years. Together with Ramala and Gilang, also a friend from college, I visited this village early this year”

Sincere was the first word coming to my head when Teh Awang, a thirty six year old woman, gave us a warm welcome in the morning we arrived at her house. She was so friendly we soon felt like at home. We were going to stay at her house overnight.

Like any other typical traditional house in South East Asia, the house was built on stilts, only lower. All the floors and walls were dominated with timber planks and bamboo, and that allowed the air to circulate very well inside the house. It didn’t take long for us to fall asleep as we lay back on the floor made of bamboo blade.

Today, we still could see some traditional architecture rooted to the time when the only materials they recognized were woods, bamboos, and big chunk of volcanic stones. Originally, their traditional architecture doesn’t use glass and roof tiles. The houses I saw that day had been modified according to the current taste.

Basically, these were typical Sundanese houses. The same style could be also found in some traditional villages spread all over West Java Province. The most authentic ones I had seen were in Inner Baduy, an isolated village located deep in the tropical forest of Banten Province.

The only traditional architecture that remained original was the barns. I had no idea how many cows they had inside the barns, but I was pretty sure there were more than enough numbers of cows to meet the demand of beef in that village. It was ironic however that, according to Teh Awang, beef could hardly be found on their dining tables. They only ate it like once in a year.

Self Sufficient

We had our first brunch just a few hours after we arrived at Teh Awang’s house. Nearly everything served on the floor (they didn’t have dining table) were picked up from their farm; the chicken, vegetables, and even the dessert which was made of fresh mango. As for the rice, they picked up from the field right at the back of the house. Self-sufficient might be the right word to describe this.

While we had the brunch, Teh Awang asked us whether we wanted to have duck for the following day. I asked her where she could get the duck. She simply replied, from the back of her house. I later found that the stilt house was built in the middle of the farm. At the front yard, they grew mango tree, rambutan, and jackfruit. At the backyard, they grew vegetables, herbs, chilies, cassava, and they also kept their livestock there.

With the fact that nearly everything could be picked up from the farm, Teh Awang hardly ever went to market for shopping. Most the time she took care of the house and her seven year old son who was in the second grade of primary school. As for her eldest son, she sent him to Islamic boarding school in Malangbong, Garut, a few hours ride out of Sumedang.

Today, Teh Awang lives with her parents and her youngest son. Her husband worked in Karawang, and only returns couple of times every year. Many men in that village have to cope with choices whether they have to work as farmers or leave the village for another better job.

Ancient Sites

After finishing the brunch, we were ready to go around the village. Teh Awang was about to guide us to see the archeological sites. To reach those places, we had to walk through the vast rice fields. It was rather challenging for me to walk on a narrow muddy path. I could slip anytime and fell to the mud. I was glad when I finally reach the first archeological site.

We found a small monolith which was believed to be the tomb of Ratu Inten Dewi Nawang Wulan. I am not going to write or describe this woman because there has been much information about her that we can find in many blogs. I am not really sure who she is, but I think she was a noble woman that played a significant role in the history of Sumedang as a former small kingdom in West Java.

Leaving the tomb of Ratu Inten, we entered the forest which was obviously conserved by the village people due to its being sacred. Looking at the size of the trees, I could say that this forest was as old as the civilization in Sumedang or might be even older.

The next monolith we came to was the tomb of Prabu Guru Aji Putih. It turned out that this man was the husband of Ratu Inten Dewi Nawang Wulan. What I read about him in many blogs was he founded the kingdom of Tembong Agung, which later became the kingdom of Sumedanglarang. So, practically, we were visiting the king’s tomb.

Not far from the tomb, there was a sacred well. It was said that the water used to be clean and drinkable. Constructing the concrete wall around the well seemed to be a mistake as it caused the water to be murky.

Another sacred tomb we found in the forest belonged to Sang Hyang Resi Agung. According to Teh Awang, this tomb was just discovered a few months before. I was rather surprised to hear that. By discovered, did she mean that all these years, no one was unaware of its existence?

It was kind of interesting to find out how the people “discovered” the sacred tombs. Those tombs we had seen were probably not the real place where those people were buried. Those were more like monuments to honor or to keep them alive in people’s memory. As for how to discover them, it was through revelation.

The biggest monolith we found was located on top of a hill at Dayeuh Luhur, almost a one hour drive from Kabuyutan Cipaku. It marked the tomb of Taji Malela, a man who changed the Kingdom of Tembong Agung into Sumedanglarang. To reach this monolith, we had to walk through a thick forest, climbing up hundreds of stone stairs. 

Along the way to the top, we passed by people coming with different intentions. Most of them came to say prayers in front of the monolith. They brought along fresh flowers and joss sticks as offerings. I even saw women coming with their beauty case and put it in front of the monolith. I was not sure what they were doing, but I could see they came with a shaman who led them to pray.

I must say that despite the fact that I enjoyed the cool mountainous air in that place, I didn’t really like spending time in there amidst those people. Soon after we took enough pictures, we decided to return to Kabuyutan Cipaku. 

An Overnight Homestay

At night, the whole family of Teh Awang was gathered at home. I met Pak Embun Sobari, whom I later called Abah, a Sundanese for father. For someone at his age, he looked a bit too old. Perhaps, it was because he worked everyday in the rice field.

We had a short conversation before dinner. Most the time, he told us about the resistance of the village people to the government’s plan to build a dam which will drown the entire village of Kabuyutan Cipaku. He said that the project was not feasible due to geological matters. Even the World Bank refused to fund it.

It was not easy of course for the people of Kabuyutan Cipaku to let go their properties. The fertile centuries old rice fields and also the sacred monoliths became priceless treasures they wouldn’t let go.

The plan was firstly initiated somewhere in the early 1960s by the government. Under Soeharto’s New Order Regime, a repressive method was used to push the village people to let go their properties. They were not allowed to build houses, roads, and any other infrastructures. They couldn’t renovate the houses, and electricity was forbidden.

The conversation was over as dinner was served on the mat. That night, we had Sayur Lodeh, - a vegetable soup with coconut milk -, fried duck egg, and fried chicken.

In the morning, I came to the kitchen at the back of the house. I wanted to see how Teh Awang prepared the breakfast. It was always interesting to check out someone’s kitchen in the village as they used traditional apparatus that I could hardly find in the city. However, nearly all households today used the 3 kilograms liquid gas as the conversion of kerosene. At Teh Awang’s kitchen, firewood was still used to cook rice.

The dining room was located before the kitchen. The family had a dining table in it, but they never used it. They thought eating the meal on the mat was more intimate for the family. As for the breakfast in that morning, we had bean sprouts, chicken with soy sauce, and chili sauce which was irresistible.

As for the dessert, we had Dodol, a sweet snack basically made from flour and sugar. The family made two kinds of dodol, the one made from mango, and green beans. They occasionally took order from relatives to make this snack, usually for festive occasion such as wedding.

After breakfast, I moved to the TV room at the centre of the house to have another light conversation with Abah who ironically smoked right next to his grandson. That morning, once again, Abah asserted his commitment to fight against the government’s plan to build the dam which would drown the village. I was astonished when he said that no single officer could make the plan into reality as there was the curse.

Well, there was a myth among the village people that all those sacred monoliths we had seen on the other day would reveal curses for those who tried to remove their existence. I was not convinced with the story for sure, but it was still interesting to hear.

I didn’t want to take any side in this issue. I knew that the dam was perhaps going to be built for a reason like providing electrical power for the island of Java and Bali, and also irrigating the surrounding rice fields. But with the fact that most area would be drowned by the dam were the hundreds of acre of fertile rice fields at Kabuyutan Cipaku, which rice fields would be irrigated?

Before leaving for Bandung, I kindly asked the family to pose in front of their house. It was a lovely and warm traditional house. I really hope to see that traditional house again some other time, and not just in a picture

Save Kabuyutan, Save The World!
http://www.facebook.com/savejatigede

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com



__._,_.___
Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

PLTA Kedung Ombo Seluas 6800Ha Hanya Berfungsi 6 Bulan



Jatigede untuk siapa?

PLTA Kedung Ombo hanya berfungsi 6 bulan dalam setahun karena musim hujan Bendungan sedang mengisi air akibat kekeringan sebelumnya, setelah musim hujan hampir berakhir air bendungan penuh dan setelah mencapai ketinggian yang diharapkan oleh PLTA mulai dialirkan dan bisa memutarkan turbin.

Ide memompa kembali ke bendungan apakah masuk akal? Artinya air tidak bisa mengaliri saluran irigasi yang diharapkan oleh masyarakat? Pompa air akan hanya menambah tambahan proyek pengadaan pompa air pada akhirnya frown emoticon.

http://jusufkalla.info/archives/2014/12/07/wapres-carikan-solusi-plta-kedung-ombo/

Wapres mengatakan, dari hasil tinjauannya, PLTA hanya dapat beroperasi selama enam bulan yaitu saat musim panas (kering). Hal ini karena saat musim penghujan, waduk tidak dialirkan ke bawah, namun hanya menampung air. Sementara para petani menjadikan air hujan sebagai pengairannya. Hal ini menurutnya tentu kurang optimal bagi penyediaan listrik, sebab selama enam bulan harus berhenti.

“Kedung Ombo, saya mengetahui, hanya bisa dipakai saat musim kering. Itu berarti enam bulan diam. Kenapa tidak dipompa ke atas lagi? Sekarang tutup kalau musim hujan. Justru musim hujan PLTA ini tidak berfungsi,” ungkap Wapres.

Menurut Wapres, kondisi ini sebenarnya dapat dicarikan solusinya, dengan membuat pompa di penampungan air bawah. Sehingga dengan demikian, air dari waduk terus mengalir dan PLTA pun berfungsi sepanjang tahun. Makanya, Wapres dalam kesempatan itu juga berpesan kepada jajaran proyek PLTA Karangkates untuk dapat memikirkannya, agar PLTA tersebut dapat bekerja lebih optimal.
Menurut Prof Isril Berd, PLTA tersebut kini dalam bahaya. PLTA itu bisa tutup 2028 atau sekitar 14 tahun lagi. Sebab, debit air waduk PLTA itu tak lagi memenuhi kebutuhan ideal 384 m3/detik sehingga tak cukup memutar turbin berkekuatan 114 ... See More



__._,_.___
Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

JK Presiden Penyelamat Jatigede? [3 Attachments]

[Attachment(s) from Mang Aska included below]

Wooow memperhatikan informasi dari Kompas di bawah ini bahwa Wapres Jusuf Kala punya kepedulian dan kekhawatiran akan penurunan usia Waduk Kedung Ombo dari 100 tahun ternyata hanya 49 tahun.

Kalau JK tercerahkan dan tidak mau mengulangi kesalahan yang sama di Bendungan Jatigede, JK harusnya menghentikan penggenangan Jatigede dan menyelamatkan Kabuyutan sepertinya JK berpeluang untuk menjadi Presiden menggantikan Jokowi yang sudah KWALAT menandatangani Perpres Jatigede No. 1 Tahun 2015.

Ayoooo JK... Jusuf KALLA.... KALA boga Seuseureud/ Sengat Jokowi tah... Presiden Borokokok yang tidak memperdulikan Rakyatnya dan Kabuyutan yang akan ditenggelamkan! GORONG-GORONG DI JAKARTA AJA DILIATIN BLUSUKAN!!!... ini 11.000 Kepala Keluarga yang akan kehilangan Kabuyutannya dilihat saja enggak... udah gituh Sok jago bikin Perpres Jatigede...No.1 lagi...  Suharto aja yang bikin Perpres Jatigede langsung TUMBANG diturunin rakyatnya.

Kabuyutan Cipaku baru mau digenangi... itu Jakarta kemarin udah mau tenggelam duluan! Bahkan Istana Jokowi aja udah mau kebanjiran wkkk.

LEMAH SAGANDU DIGANGGU BALAI SADUNYA!

http://regional.kompas.com/read/2014/12/05/0936024/Wapres.Khawatir.dengan.Waduk.Kedung.Ombo

Wakil Presiden Jusuf Kalla khawatir dengan penurunan usia Waduk Kedung Ombo di Desa Rambat, Kecamatan Gunduh, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, dari sebelumnya 100 tahun saat dibangun menjadi 49 tahun pada pengukuran dua tahun lalu.

Alasannya, waduk yang dibangun pada tahun 1989 silam dengan biaya besar dan pengorbanan masyarakat yang juga besar itu bisa menjadi tidak optimal. "Oleh sebab itu, harus dilakukan berbagai upaya penurunan laju sedimentasi. Memang belum terlalu mengkhawatirkan, tetapi jangan dibiarkan," ujar Wapres saat meninjau Waduk Kedung Ombo, Jumat (5/12/2014), di Grobogan, Jawa Tengah.

Dalam peninjauan ini, Wapres didampingi Menteri PU dan Perumahan Rakyat M Basuki Pudjomuljono, Mendag Rachmat Gobel, dan Bupati Grobogan Bambang Pudjiono.

Sebelumnya, Kepala Balai Besar Wilayah Pamali Juwana Kementerian PU Bobby Prabowo mengatakan, laju sedimentasi Waduk Kedung Ombo per tahun 2,74 meter per kubik dan volume sedimentasi kini mencapai 14,59 juta meter per kubik.

"Akibatnya, dengan volume yang semula 723,16 juta meter per kubik pada tahun 1989 dan usia diperkirakan 100 tahun, kini turun volume 688,41 juta pada 2012 dan usianya turun menjadi 49 tahun," ujar Bobby.

Namun, kata Bobby, hal itu masih belum membahayakan. "Memang bahaya jika kita diamkan. Tetapi, kita kan akan hentikan laju sedimentasinya, di antaranya dengan pengurangan keramba apung dan pengambilan air," tutur Bobby.


__._,_.___

Attachment(s) from Mang Aska | View attachments on the web

3 of 3 Photo(s)


__,_._,___
Picon

Romo Mangun Pembela Kedung Ombo?



Dalam bidang arsitektur, ia juga kerap dijuluki sebagai bapak arsitektur modern Indonesia. Salah satu penghargaan yang pernah diterimanya adalah Penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur[2], yang merupakan penghargaan tertinggi karya arsitektural di dunia berkembang, untuk rancangan pemukiman di tepi Kali Code, Yogyakarta. Ia juga menerima The Ruth and Ralph Erskine Fellowship pada tahun 1995, sebagai bukti dari dedikasinya terhadap wong cilik.[3] Hasil jerih payahnya untuk mengubah perumahan miskin di sepanjang tepi Kali Code mengangkatnya sebagai salah satu arsitek terbaik di Indonesia.[4] Menurut Erwinthon P. Napitupulu, penulis buku tentang Romo Mangun yang akan diluncurkan pada akhir tahun 2011, Romo Mangun termasuk dalam daftar 10 arsitek Indonesia terbaik.[4]


Kekecewaan Romo terhadap sistem pendidikan di Indonesia menimbulkan gagasan-gagasan di benaknya. Dia lalu membangun Yayasan Dinamika Edukasi Dasar.[5] Sebelumnya, Romo membangun gagasan SD yang eksploratif pada penduduk korban proyek pembangunan waduk Kedung Ombo, Jawa Tengah, serta penduduk miskin di pinggiran Kali Code, Yogyakarta.


Perjuangannya dalam membela kaum miskin, tertindas dan terpinggirkan oleh politik dan kepentingan para pejabat dengan "jeritan suara hati nurani" menjadikan dirinya beroposisi selama masa pemerintahan Presiden Soeharto.[6]


Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Y.B._Mangunwijaya


Y.B. Mangunwijaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pastor Yusuf Bilyarta Mangunwijaya Pr

Gereja

Gereja Katolik Roma

Keuskupan

Semarang

Penugasan

Penahbisan

8 September 1959
oleh Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ

Data diri

Nama lahir

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya

Lahir

6 Mei 1929
Ambarawa, Jawa Tengah

Meninggal dunia

10 Februari 1999 (umur 69)
Jakarta, Indonesia

Kewarganegaraan

 Indonesia

Denominasi

Katolik Roma

Kediaman

Keuskupan Agung Semarang

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr. (lahir di Ambarawa, Kabupaten Semarang, 6 Mei 1929 – meninggal di Jakarta, 10 Februari 1999 pada umur 69 tahun), dikenal sebagai rohaniwan, budayawan, arsitek, penulis, aktivis dan pembela wong cilik (bahasa Jawa untuk "rakyat kecil"). Ia juga dikenal dengan panggilan populernya, Rama Mangun (atau dibaca "Romo Mangun" dalam bahasa Jawa). Romo Mangun adalah anak sulung dari 12 bersaudara pasangan suami istri Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah.[1]

Sastra

Romo Mangun dikenal melalui novelnya yang berjudul Burung-Burung Manyar. Mendapatkan penghargaan sastra se-Asia Tenggara Ramon Magsaysay pada tahun 1996.[1] Ia banyak melahirkan kumpulan novel seperti di antaranya: Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa, Roro Mendut, Durga/Umayi, Burung-Burung Manyar dan esai-esainya tersebar di berbagai surat kabar di Indonesia. Buku Sastra dan Religiositas yang ditulisnya mendapat penghargaan buku non-fiksi terbaik tahun 1982.

Arsitektur

Dalam bidang arsitektur, ia juga kerap dijuluki sebagai bapak arsitektur modern Indonesia. Salah satu penghargaan yang pernah diterimanya adalah Penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur[2], yang merupakan penghargaan tertinggi karya arsitektural di dunia berkembang, untuk rancangan pemukiman di tepi Kali Code, Yogyakarta. Ia juga menerima The Ruth and Ralph Erskine Fellowship pada tahun 1995, sebagai bukti dari dedikasinya terhadap wong cilik.[3] Hasil jerih payahnya untuk mengubah perumahan miskin di sepanjang tepi Kali Code mengangkatnya sebagai salah satu arsitek terbaik di Indonesia.[4] Menurut Erwinthon P. Napitupulu, penulis buku tentang Romo Mangun yang akan diluncurkan pada akhir tahun 2011, Romo Mangun termasuk dalam daftar 10 arsitek Indonesia terbaik.[4]

Politik

Kekecewaan Romo terhadap sistem pendidikan di Indonesia menimbulkan gagasan-gagasan di benaknya. Dia lalu membangun Yayasan Dinamika Edukasi Dasar.[5] Sebelumnya, Romo membangun gagasan SD yang eksploratif pada penduduk korban proyek pembangunan waduk Kedung Ombo, Jawa Tengah, serta penduduk miskin di pinggiran Kali Code, Yogyakarta.

Perjuangannya dalam membela kaum miskin, tertindas dan terpinggirkan oleh politik dan kepentingan para pejabat dengan "jeritan suara hati nurani" menjadikan dirinya beroposisi selama masa pemerintahan Presiden Soeharto.[6]

Kematian

Rama Mangun meninggal pada hari Rabu, 10 Februari 1999 pukul 14:10 WIB di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta, setelah terkena serangan jantung saat berbicara di Hotel Le Meridien, Jakarta. Ia dimakamkan di makam biara komunitasnya di Kentungan, Yogyakarta.[7]

Pendidikan

  • HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan, Magelang (1936-1943)
  • STM Jetis, Yogyakarta (1943-1947)
  • SMU-B Santo Albertus, Malang (1948-1951)
  • Seminari Menengah Kotabaru, Yogyakarta (1951)
  • Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyudan, Magelang (1952)
  • Filsafat Teologi Sancti Pauli, Kotabaru, Yogyakarta (1953-1959)
  • Teknik Arsitektur, ITB, Bandung (1959)
  • Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman (1960-1966)
  • Fellow Aspen Institute for Humanistic Studies, Colorado, AS (1978)

Biografi

Pada tahun 1936, Y. B. Mangunwijaya masuk HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan, Magelang. Setelah tamat di tahu 1943, dia meneruskan ke ke STM Jetis, Yogyakarta, di mana dia mulai tertarik pada Sejarah Dunia dan Filsafat. Sebelum sekolah tersebut dibubarkan setahun kemudian, dia aktif mengikuti kingrohosi yang diadakan tentara Jepang di lapangan Balapan, Yogyakarta. Pada tahun 1945, Y. B. Mangunwijaya bergabung sebagai prajurit TKR Batalyon X divisi III dan bertugas di asrama militer di Vrederburg, lalu di asrama militer di Kotabaru, Yogyakarta. Dia sempat ikut dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang, dan Mranggen. Setahun kemudia, dia kembali melanjutkan sekolahnya di STM Jetis dan bergabung menjadi prajurit Tentara Pelajar.

Setelah lulus pada 1947, Agresi Militer Belanda I melanda Indonesia sehingga Y. B. Mangunwijaya kembali bergabung dalam TP Brigade XVII sebagai komandan TP Kompi Kedu.

  • 1948: Masuk SMU-B Santo Albertus, Malang
  • 1950: Sebagai perwakilan dari Pemuda Katolik menghadiri perayaan kemenangan RI di alun-alun kota Malang. Di sini Mangun mendengar pidato Mayor Isman yang kemudian sangat berpengaruh bagi masa depannya.
  • 1951: Lulus SMU-B Santo Albertus, melanjutkan ke Seminari Menengah Kotabaru, Yogyakarta.
  • 1952: Pindah ke Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyudan, Magelang.
  • 1953: Melanjutkan ke Seminari Tinggi. Sekolah di Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus di Kotabaru. Salah satu pengajarnya adalah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ.
  • 1959: 8 September ditahbiskan menjadi Imam oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. dan Melanjutkan pendidikan di Teknik Arsitektur ITB.
  • 1960: Melanjutkan pendidikan arsitektur di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman.
  • 1963: Menemani saat Uskup Agung Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ meninggal dunia di Biara Suster Pusat Penyelenggaraan Ilahi di Harleen, Belanda
  • 1966: Lulus pendidikan arsitektur dan kembali ke Indonesia.
  • 1967-1980: Menjadi Pastor Paroki di Gereja Santa Theresia, Desa Salam, Magelang, mulai berhubungan dengan pemuka agama lain, seperti Gus Dur dan Ibu Gedong Bagoes Oka, menjadi Dosen Luar Biasa jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UGM, mulai menulis artikel untuk koran Indonesia Raya dan Kompas, tulisan-tulisannya kebanyakan bertema: agama, kebudayaan, dan teknologi. Juga menulis cerpen dan novel.
  • 1975: Memenangkan Piala Kincir Emas, dalam cerpen yang diselenggarakan Radio Nederland.
  • 1978: Atas dorongan Dr. Soedjatmoko, Romo Mangun mengikuti kuliah singkat tentang masalah kemanusiaan sebagai Fellow of Aspen Institute for Humanistic Studies, Aspen, Colorado, AS.
  • 1980-1986: Mendampingi warga tepi Kali Code yang terancam penggusuran. Melakukan mogok makan menolak rencana penggusuran.
  • 1986-1994: Mendampingi warga Kedung Ombo yang menjadi korban proyek pembangunan waduk.
  • 1992: Mendapat The Aga Khan Award untuk arsitektur Kali Code.
  • 1994: Mendirikan laboratorium Dinamika Edukasi Dasar. Model pendidikan DED ini diterapkan di SD Kanisius Mangunan, di Kalasan, Sleman, Yogyakarta.
  • 1998 26 Mei: Menjadi salah satu pembicara utama dalam aksi demonstrasi peringatan terbunuhnya Moses Gatutkaca di Yogyakarta.
  • 10 Februari 1999: Wafat karena serangan jantung, setelah memberikan ceramah dalam seminar Meningkatkan Peran Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Indonesia Baru di Hotel Le Meridien, Jakarta.

Karya Arsitektur

  • Pemukiman warga tepi Kali Code, Yogyakarta
  • Kompleks Religi Sendangsono, Yogyakarta
  • Gedung Keuskupan Agung Semarang
  • Gedung Bentara Budaya, Jakarta
  • Gereja Katolik Jetis, Yogyakarta
  • Gereja Katolik Cilincing, Jakarta
  • Markas Kowihan II
  • Biara Trappist Gedono, Salatiga, Semarang
  • Gereja Maria Assumpta, Klaten
  • Gereja Katolik Santa Perawan Maria di Fatima Sragen
  • Gereja Maria Sapta Duka, Mendut
  • Gereja Katolik St. Pius X, Blora
  • Wisma Salam, Magelang

Penghargaan

  • Penghargaan Kincir Emas untuk penulisan cerpen dari Radio Nederland
  • Aga Khan Award for Architecture untuk permukiman warga pinggiran Kali Code, Yogyakarta [www.akdn.org/agency/akaa/fifthcycle/indonesia.html]
  • Penghargaan arsitektur dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) untuk tempat peziarahan Sendangsono.
  • Pernghargaan sastra se-Asia Tenggara Ramon Magsaysay pada tahun 1996

Buku dan tulisan

  • Balada Becak, novel, 1985
  • Balada dara-dara Mendut, novel, 1993
  • Burung-Burung Rantau, novel, 1992
  • Burung-Burung Manyar, novel, 1981
  • Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa, 1987
  • Durga Umayi, novel, 1985
  • Esei-esei orang Republik, 1987
  • Fisika Bangunan, buku Arsitektur, 1980
  • Gereja Diaspora, 1999
  • Gerundelan Orang Republik, 1995
  • Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa, novel, 1983
  • Impian Dari Yogyakarta, 2003
  • Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta, 2000
  • Manusia Pascamodern, Semesta, dan Tuhan: renungan filsafat hidup, manusia modern, 1999
  • Memuliakan Allah, Mengangkat Manusia, 1999
  • Menjadi generasi pasca-Indonesia: kegelisahan Y.B. Mangunwijaya, 1999
  • Menuju Indonesia Serba Baru, 1998
  • Menuju Republik Indonesia Serikat, 1998
  • Merintis RI Yang Manusiawi: Republik yang adil dan beradab, 1999
  • Pasca-Indonesia, Pasca-Einstein, 1999
  • Pemasyarakatan susastra dipandang dari sudut budaya, 1986
  • Pohon-Pohon Sesawi, novel, 1999
  • Politik Hati Nurani
  • Puntung-Puntung Roro Mendut, 1978
  • Putri duyung yang mendamba: renungan filsafat hidup manusia modern
  • Ragawidya, 1986
  • Romo Rahadi, novel, 1981 (terbit dengan nama samaran Y. Wastu Wijaya)
  • Rara Mendut, Genduk Duku, Lusi Lindri, novel trilogi, dimuat 1982-1987 di harian Kompas, dibukukan 2008
  • Rumah Bambu, kumpulan cerpen, 2000
  • Sastra dan Religiositas, kumpulan esai, 1982
  • Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat, 1999
  • Soeharto dalam Cerpen Indonesia, 2001
  • Spiritualitas Baru
  • Tentara dan Kaum Bersenjata, 1999
  • Tumbal: kumpulan tulisan tentang kebudayaan, perikemanusiaan dan kemasyarakatan, 1994
  • Wastu Citra, buku Arsitektur, 1988

Buku tentang Romo Mangun

  • Sumartana, dkk. Mendidik Manusia Merdeka Romo Y.B. Mangunwijaya 65 Tahun. Institut Dian/Interfedei dan Pustaka Pelajar, 1995. ISBN 979-8726-01-4.
  • Wahid, Abdurrahman. Romo Mangun Di Mata Para Sahabat. Kanisius, 1999. ISBN 979-672-431-6.
  • Priyanahadi, dkk. Y.B. Mangunwijaya, Pejuang Kemanusiaan. Kanisius, 1999. ISBN 979-672-435-9.
  • Prawoto, Eko A. Tektonika Arsitektur Y.B. Mangunwijaya. Cemeti Art House Yogyakarta, 1999.
  • Mengenang Y.B. Mangunwijaya, Pergulatan Intelektual dalam Era Kegelisahan. Kanisius, 1999. ISBN 979-672-433-2.
  • Sindhunata. Menjadi Generasi Pasca-Indonesia, Kegelisahan Y.B. Mangunwijaya. Kanisius, 1999. ISBN 979-672-432-4.
  • Purwatma. Romo Mangun Imam bagi Kaum Kecil. Kanisius, 2001. ISBN 979-672-959-8.
  • Rahmanto, B. Y.B. Mangunwijaya: Karya dan Dunianya. Grasindo, 2001. ISBN 978-979-96526-1-4.
  • Yahya, Iip D. dan Shakuntala, I.B. Romo Mangun Sahabat Kaum Duafa. Kanisius, 2005. ISBN 978-979-21-0563-6.
  • Murtianto, B. Kata-Kata Terakhir: Romo Mangun. Kompas, 2014. ISBN 978-979-708-795-0

Referensi

1.      ^ a b "Romo Mangun Dianugerahi Bintang Budaya". Kompas.com. 11 November 2010. Diakses 13 January 2012.

2.      ^ (Inggris)[www.akdn.org/architecture/pdf/1117_Ind.pdf].

3.      ^ "Perkampungan Code: Memperingati 12 Tahun Kepergian Romo Mangun, Seorang Tokoh Multi Talenta". Kompasiana. 23 February 2011. Diakses 13 January 2012.

4.      ^ a b (Inggris)[www.tempointeractive.com/majalah/free/arc-1.html "An Architectural Culture for the People"] Check |url= scheme (help). Tempo Interaktif. 17 August 2011. Diakses 13 January 2012.

5.      ^ "Dinamika Edukasi Dasar". Dinamika Edukasi Dasar. Diakses 13 January 2012.

6.      ^ (Inggris)Biodata Pengarang Lontar. Jakarta: Lontar. hlm. 31.

7.      ^ Mangunwijaya, Y.B. 2008. "Rara Mendut: Sebuah Trilogi". Penerbit Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-979-22-3583-8.

 



__._,_.___
Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Kyai Hamam Dja'far Pembela Kedung Ombo?



MEMAKNAI FENOMENA KYAI HAMAM DJA’FAR DAN PONDOK PABELAN : SEBUAH REFLEKSI PRIBADI

Oleh

M. Habib Chirzin

 

1-      Pilihan Hidup dan Medan Ibadah.

Kyai Hamam Dja’far dengan Pondok Pabelan-nya adalah sebuah fenomena. Terpadu di dalamnya fenomena sosio kultural dan religius. Makna keberadaannya (existence) di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang sedang membangun dan umat Islam yang sedang bangkit di abad ke 15 Hijriyah, sangatlah kaya dan dalam. Di sana ada berbagai pertanyaan yang harus dijawab dengan mendasar. Tetapi juga permasalahan umat dan bangsa yang harus segera diselesaikan. Karena berpacu dengan waktu. Sementara kesadaran kritis (critical awareness) masyarakat, khususnya umat Islam tidaklah merata.  Beban sosial, kutural, ekonomi dan politis umat Islam pada tahun 1960-an sangatlah berat. Ditambah dengan kondisi kemiskinan, keterbelakangan dan keterbatasan pendidikan umat Islam sangatlah memprihatinkan.

Ketika seorang Hamam muda yang baru kembali dari nyantri di Pondok Modern Darussalam, Gontor, mendirikan, atau membangun kembali, pondok warisan leluhurnya di desa Pabelan, Magelang, maka baginya itu adalah sebuah pilihan. Dan pilihan itu dilakukannya dengan penuh keyakinan, kesungguhan dan dasar pertimbangan yang sangat mendasar. Dasar pertimbangannya yang terdalam, bahwa pemuda Hamam Dja’far bertekad menjadikan pondok pesantern sebagai medan beribadah. Dalam istilah Kyai Hamam pribadi, “Pondok ini adalah kancane sholat, ngaji, poso dll “. Kemudian dilanjutkannya dengan menyebut landasan dasar kehidupannya:  “Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa maati lillahi rabbil ‘alamien…”

Mendirikan, atau membangun kembali, dan mengabdikan kehidupannya di dunia pendidikan adalah amanat dari Kyainya yang dipegangnya dengan teguh. Amanat ini diberikan oleh  Syaikhul Azhar, Syaikh Mahmud Syalthut dari Kairo, kepada dua kakak beradik pendiri Pondok Modern Gontor, KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi, ketika  berkunjung ke Indonesia ( salah seorang pendiri lainnya KH Zainuddin Fanani, berdiam di Jakarta).  Ketika Kyai Sahal menyampaikan amanat tersebut kepada para santeri di Gontor, di gedung BPPM (Balai Pertemuan Pondok Moern), seorang santeri maju ke depan dan menyatakan sanggup menerima amanat tersebut; sambil menjabat erat tangan sang Kyai. Dan santeri itu adalah Hamam Dja’far, di usianya menjelang 20 tahun. Dan amanat itu menjadi tekad yang membara di dalam hatinya.

Pilihan untuk hidup, menghidupi dan  menghidupkan Pondok Pabelan adalah hasil dari bacaannya yang mendalam terhadap  sejarah umat Islam dan bangsa Indonesia; kondisi riel umat Islam dan Bangsa Indonesia pada tahun 1960-an. Termasuk kondisi riel masyakat desa Pabelan yang sangat dikenalnya dengan baik – dan diprihatinkannya secara mendalam -; juga hasil interaksinya dengan berbagai tokoh agama, sosial dan politik pada masa itu. Kyai Hamam telah hidup dengan penuh (fullness of life) dengan Pesantren Pabelan dan menghidupinya dengan memberikan ruh (spirit of life ) dan daya hidup ( vitality). Sehingga Pondok Pabelan bergerak secara kreatif, memberikan makna hidup (meaning of life)  dan manfaat bagi masyarakat sekitar, umat, bangsa dan kemanusiaan. Ibarat magnit, Kyai Hamam mempunyai kekuatan untuk menarik berbagai energi positif, potensi dan keahlian dari berbagai bidang dan sumber yang berasal dari berbagai penjuru tanah air, bahkan dunia.

Dalam konteks waktu dan kondisi sosial, ekonomi dan politis pada tahun 1965 – Pondok Pabelan didirikan pada tanggal 28 Agustus 1965- pilihan untuk mendirikan Pondok benar-benar merupakan sebuah kewaskitaan dalam memandang persoalan masyarakat, umat, bangsa dan kemanusiaan. Sebuah kemauan yang keras (sesuai dengan namanya, Hamam) yang berpadu dengan ketajaman menatap masa depan umat dan dunia yang sedang berada di dalam jurang krisis yang teramat dalam. Dan krisis itu juga dialami desanya sendiri, Pabelan. Pilihan itu juga sekaligus merupakan pertaruhan yang tidak mudah. Oleh karena Hamam Dja’far adalah pemuda yang memiliki berbagai bakat, dan terutama kepemimpinan. Bahkan sebelum memutuskan untuk kembali ke desanya di Pabelan, Hamam muda sempat bermukim di Ibu Kota, Jakarta dan berinterkasi secara intens dengan tokoh-tokoh nasional di bidang agama, sosial dan politik. Dan tentu saja “mengaji” dari kepiawaian mereka. Namun demikian, Hamam muda tetap memilih dengan sepenuh hati untuk kembali ke desanya, membangun Pondok Pabelan.

Hamam muda telah membuat pilihan. Dan dalam perjalanan waktu pilihannya itu menjadi fenomenal. Baik di dunia pendidikan, pondok pesantren, pembangunan masyarakat, persatuan umat, kerukunan antar umat beragama dan antar budaya, jejaring aktivis muda kampus dan masjid, pembangun perdamaian dan kelestarian lingkungan hidup dsb. Pondok Pabelan menjadi sebuah harapan bagi masyarakat luas di tengah-tengah kebuntuan budaya yang sangat otoritarian dan repressif. Ibarat “kandil gemerlap, pelita jendela di malam gelap” , meminjam istilahnya punjangga Amir Hamzah; yang “memanggil pulang perlahan, sabar setia selalu”. Bahkan menjadi magnit sosial yang menarik simpati dan minat berbagai kelompok masyarakat.   Membangun Pondok Pabelan adalah sebuah pilihan budaya yang sangat cerdas. Suatu pilihan yang didasarkan kepada iman yang kemudian digelutinya dengan sungguh-sungguh, sebagaimana pesan Rasulullah kepada seorang sahabat : “Qul, amantu billah. Tsummastaqim” (Katakan, aku beriman kepada Allah. Kemudian laksanakan dengan lurus).

Dari sebuah desa miskin dengan kondisi pendidikan dan kesehatan yang menyedihkan, dengan sumber-sumber daya yang sangat terbatas; dalam jangka 15 tahun, telah tumbuh menjadi sebuah harapan, alternatif, model pendidikan dan dakwah pembangunan masyarakat yang dikunjungi, dikaji dan diperbincangkan masyarakat dunia . Di bidang pendidikan misalnya, Pondok Pabelan telah menarik perhatian tokoh pendidikan legendaris dunia Ivan Illich, yang terkenal dengan bukunya, yang menjadi bacaan setiap aktivis dan pendidik, “De Schooling Society”. Yang kemudian datang berkunjung pada tahun 1978. Ivan Illich, seorang tokoh pendidikan yang mencerahkan dan membebaskan ( tokoh-tokoh lainnya Paulo Friere, Everet Reimer, Horton Miles, Rajesh Tandon dll) melihat Pondok Pabelan sebagai bentuk kongkrit dari “De Schooling Society”, yang telah membebaskan masyarakat dari ritualisme pendidikan, formalism dan institutionalisme pendidikan. Sehingga pendidikan benar-benar menjadi proses pemanusiaan (humanisasi) dan suatu budaya untuk pembebasan manusiawi (cultural action for freedom). Sebenarnya Ivan Illich berjanji untuk datang kembali ke Pabelan untuk dapat lebih dalam menghayati kehidupan di dalamnya. Namun keinginan tersebut belum kesampaian.

Dalam pendidikan agama, dakwah  dan kepemimpinan sosial, Pondok Pabelan memperoleh perhatian besar dari seorang Mufti Besar dari Kuwait, Sheikh Abdullah Annuri; yang kemudian sangat mencintai Kyai Hamam dan beberapa kali melakukan kunjungan ke Pabelan. Sewaktu saya diundang berbicara di Baituzzakat wal Auqaf di Kuwait pada tahun 1997, sempat dipertemukan dengan keluarganya di dalam “Diwaniyah”. Ruang publik dalam rumah pribadi, di mana setiap orang dapat datang dan bersillaturrahmi. Pada kesempatan tersebut putra-putra Syeikh Abdullah An Nuri datang berkumpul dan menceritakan tentang kesan yang mendalam dan kecintaan Syeikh kepada Kyai Hamam dan Pondok Pabelan. Bagaimana sebuah Pesantren yang jauh di Jawa, melestarikan warisan peradaban Islam (al Turats Al Islamy) yang sangat kaya.  Demikian pula kecintaan Ki DR. Sarino Mangunpranoto, seorang tokoh pendidikan nasional, pimpinan Majelis Luhur Taman Siswa, mantan Menteri Pendidikan pada masa Presiden Sukarno, yang berkali-kali berkunjung ke Pondok Pabelan. Bahkan telah merasa menjadi bagian dari keluarga besar Pondok Pabelan. Karena merasa prinsip-prinsip pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara, pendiri Perguruan Taman Siswa, terus hidup, dipraktekkan dan terpelihara di Pondok Pabelan. Termasuk sistem amongnya, yang tercermin pada hubungan Kyai dengan santeri. Tri Pusat pendidikan (Keluarga, Sekolah dan Masyarakat) yang dapat menyatu di dalam praktek pendidikan di Pondok Pabelan.

Pondok Pabelan juga menarik para pakar dan tokoh di bidang pembangunan dan advokasi sosial budaya. Di dalam bidang Kesehatan Masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak; seorang Dir Jen UNICEF yang sangat dikenal kepiawaiannya di dalam sejarah PBB, DR. James Grant (alm) telah jauh-jauh datang dari kantor Pusat PBB di New York, mengunjungi program Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM) di desa  Pabelan dan memberikan pujian dan dukungannya. Terutama dalam bidang kelangsungan hidup anak “Children survival”. Antara lain pencegahan dan penyembuhan diare dengan mensosialisasikan garam oralit. James Grant sendiri selalu membawa sebungkus garam oralit di sakunya, sebagai tanda dari komitmennya yang tinggi terhadap kesehatan anak. Di bidang pembangunan masyarakat, seorang tokoh dunia yang juga pendiri sebuah gerakan pembangunan masyarakat, SARVODAYA, di Sri Langka, DR. AT Arya Ratna,   penerima berbagai penghargaan yang prestigious, datang ke Pabelan dan memberikan ucapan selamat atas model pengembangan masyarakat oleh Pondok Pesantren. DR. Arya Ratna menghargai Pondok Pabelan karena melakukan  upaya pembangunan dari dalam (development from within). Dengan merevitalisasi nilai-nilai sosial budaya yang ada di dalam masyarakat. Dan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya local (to maximize local resources). Dengan tanpa merusak lingkungan, bahkan melestarikannya.

Di bidang pengembangan dan advokasi sosial dan budaya, beberapa tokoh budaya dan HAM kelas dunia, Ajarn Sulak Sivaraksa, salah seorang pendiri ACFOD (Asian Cultural Forum on Development), penerima Ramon Magsaysay Award dan Rightlifelihood Award, bersama Prof. DR. Saneh Chamarik (pada saat itu PR I Thammasat University dan sekarang menjadi Ketua Komnas HAM Thailand) dan DR. Gothom Arya, pimpinan Forum Asia (Asia Forum on Human Rights and Development) yang kemudian menjadi ketua KPU di Thailand, bahkan menginap di Pondok Pabelan pada tahun 1979. Ajarn Sulak memandang Pondok Pabelan sebagai contoh yang berhasil dalam membangun masyarakat dengan mengembangkan integritas cultural (cultural integrity) makna hidup dan kualitas hidup. Sehingga tidak terjebak oleh arus konsumerisme dan pragmatisme dangkal. Demikian pula memelihara dan melestarikan sumber-sumber daya hayati lokal, termasuk benih-benih tanaman pangan maupun buah-buahan di lingkungan Pondok maupun masyarakat sekitar. Oleh karena kebijakan revolusi hijau (green revolution) di bidang pertanian, yang dilancarkan oleh pemerintah pada tahun 1970-an, telah merusak lingkungan, memusnahkan keaneka ragaman hayati (bio diversity) dan menurunkan swa sembada pangan. Bahkan menghancurkan kedaulatan pangan (food sovereignty) masyarakat. Dan model pembangunan inilah yang dalam perkembangannya disebut sebagai strategi pembangunan yang berparadigma GNH (Gross National Happiness) sebagai alternative model pembangunan konvensional  yang berorientasi GNP (Gross National Product). Beberapa tokoh ACFOD lainnya yang pernah berkujung ke Pondok Pabelan antara lain Noel Mondejar, Edgardo Valenzuella, Jun Atienza (Philippines), Prof. LG Hewage (Sri Langka), Kamla Bhasin (India), Rita Baua (Philippines), Muto Ichiyo (Jepang), Kaiser Zaman (Bangladesh), Father Stanislaus Fernando (Sri Langka), Surendra Chakrapani (India), M. Abdus Sabur (Bangladesh) dll.

Daya tarik Kyai Hamam dengan Pondok Pabelannya juga memasuki wilayah seni, budaya, dan bahkan arsitektur. Seorang novelis kelas dunia, penerima hadiah Nobel di bidang sastra yang berasal dari Trinidad Tobago, VS Naipaul, penulis novel “ Among The Believers : an Islamic Journey” pada tahun 1980, menyempatkan diri berkunjung dan berdialog di Pondok Pabelan. Meskipun tidak sepenuhnya menangkap jiwa pondok dan tradisinya, namun pengalamannya tersebut sempat dimasukkan di dalam bukunya tersebut, yang diterbitkan oleh Vintage Books, New York, 1982. Beberapa seniman dan budayawan yang tergabung dalam PETA (Philippines Educational Teater Education)  dan Pop Com SEARICE (Popular Communication of South East Asian Regional Institute for Community Education) dengan beberapa aktivisnya, John Nosenas, Carmila Micado dan Johan Tan, sangat tertarik dengan bagaimana Kyai Hamam mengapresiasi seni dan budaya lokal dalam upaya pemberdayaan dan penyadaran masyarakat, di tengah-tengah deraan globaliasisasi.

Pada tahun 1980 Pondok Pabelan memperoleh penghargaan dunia di bidang arsitektur, “The International Aga Khan Award for Architecture”, yang diterima langsung oleh KH Hamam Dja’far dari HRH Aga Khan, dengan disaksikan oleh Presiden Pakistan, Jendral Ziaul Haq. Dalam sebuah upacara di Shalimar Garden di Lahore, Pakistan, yang sangat indah. Convenor award ini adalah DR. Hasanuddin Khan yang berkedudukan di Philadelphia, USA. Dewan Juri “The International Aga Khan Award for Architecture” ini terdiri dari para pakar kelas dunia di bidang arsitektur, sejarah, budaya dan sosiologi kelas dunia, seperti Prof. DR. Hassan Fathy, arsitek dari Mesir; DR. Mahbub ul-Haq, Penasehat Sek Jen PBB dari Pakistan; DR. Soedjatmoko, mantan Dubes RI di USA dan Rektor UNU (United Nations University) di Tokyo, dari Indonesia;  Pof. Titus Burckhardt; Prof. Sherban Cantacuzino; Prof.  Giancarlo de Carlo; dan   Porf. Kenzo Tange; yang berkantor dan melakukan pertemuan-pertemuannya di Jenewa, Swiss. Sebelum penilaian oleh dewan yuri, panitia Aga Khan Award mengirim seorang Doktor arsitektur dari MIT (Massachussets Instistute of Technology), DR. Farukh Afshar, untuk menyusun laporan arsitekturalnya. Semula, memang bangunan semacam kampus Pondok Pabelan tidak termasuk dalam katagori arsitektur yang dimaksud oleh Aga Khan Award. Namun akhirnya dimasukkan oleh karena dianggap sebuah model settlement dengan cara pembangunan dan  pemanfatannya secara sosial yang menarik. Kepada DR. Afshar, pada waktu itu Kyai Hamam dan saya menjelaskan bahwa Pondok Pabelan harus dilihat dalam konteks filsafat Islam, di mana penciptaan kehidupan ini bermula dari air “wa ja’alna minal maa’i kulla syai’in hayyin” (Dan kami ciptakan semua  kehidupan ini dari air”, yaitu sungai Pabelan yang berada di ujung timur desa Pabelan. Kemudian di sebelah sungai ada sawah-sawah yang ditumbuhkan dari air tadi “wa anbata fieha nabaatan” ( Dan kami tumbuhkan padanya tanam-tanaman). Selanjutnya memasuki desa Pabelan di mana perumahan masyarakat sedang dibangun untuk memakmurkan bumi ini “lita’muru fieha” (Agar engkau sekalian memakmurkan di atasnya). Setelah itu ada bangunan perpustakaan, yang menyimbulkan bahwa ayat pertama yang diturunkan di dalam Al Qur’an adalah “Iqra” (Bacalah ). Kemudian ada bangunan asrama santeri yang di depannya ada lapangan badminton yang bermakna bahwa dalam kehidupannya, manusia selalu berusaha menjadi yang terbaik sesuai dengan bakat dan minatnya “wa likulli wijhatin huwa muwallieha. Fastabiqul khoiraat” ( Pada semua arah itu ada yang berpaling kepadanya – keahlian dsb-. Maka berloma-lombalah dalam kebajikan).  Di seberang lapangan badminton ada masjid, yang berarti bahwa semua kegiatan tersebut merupakan bagian dan bertujuan untuk beribadah “wama kholaqtul jinna wal insa, illa liya’buduni” ( Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembah kepadaKu). Filsafat landskap dan model bangunan yang tidak merusak lingkungan dengan memaksimalkan sumber daya lokal, sangat mendapat penghargaan dari Dewan Juri the International Aga Khan Award for Architecture tersebut : “the promise of attaining a fuller architectural expression, discernible in the organisation of spaces and levels in the landscape……….”.  

Dua tahun setelah itu, Pondok Pabelan menerima penghargaan dari Menteri KLH RI, dalam pelestarian lingkungan hidup, KALPATARU, atas prestasinya di dalam pelestarian lingkungan hidup dan sumber daya air. Kegiatan pengembangan masyarakat yang lestari (sustainable community development) ini sebelumnya telah menarik perhatian seorang tokoh lingkungan hidup internasional, Prof. DR. Emil Salim, yang turut merumuskan “Earth Charter” yang kemudian dideklarasikan oleh PBB dalam konperensi dunianya di Rio de Janeiro 1992. Demikian pula tokoh-tokoh dari IFOAM (International Federation of Organic Farming), seperti sepasang suami isteri Samuel Smith dan Elizabeth Smith, dari Massachussets; Rene Salazar, Eline Mondejar, Chanet Kumthong, Net Pha, Lot Miranda, Aurea Teves, Miyoko Oshima dan Adonis Callanta yang juga dari SEARICE (South East Asia regional Institute for Community Education), yang berpusat Manila. Pada tahun-tahun berikutnya Pondok Pabelan memperoleh perhatian dan kunjungan dari berbagai tokoh dan masyarakat luas lainnya. Dalam perjalanan waktu tersebut, Pondok Pabelan telah pula berhasil menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga pemerintah, maupun lembaga swadaya masyarakat seperti LP3ES, Yayasan Mandiri, LSP, Bina Desa, ACFOD, FNS, PKBI, P3M, LPTP, WALHI, YLKI, INSIST  dan juga para ilmuwan, budayawan, tokoh-tokoh agama dan masyarakat.

 

2-      Sillaturrahmi, Tawadlu’ dan Rekonsiliasi

Perkenalan saya dengan kepemimpinan Ustadz Hamam, untuk pertama kali, pada saat menjadi Ketua Panitia Pendirian Institut Pendidikan Darussalam (IPD), di Pondok Modern Gontor pada tahun 1963. Pada saat itu saya masih duduk di kelas II KMI, yang kebetulan aktif di bidang teater dan pernah menjuarai lomba deklamasi. Saya sangat terkesan oleh karena Pak Hamam mendukung grup teater kami, TERISDA (Teater Islam Darussalam), untuk melakukan pentas pada salah satu acaranya. Namun akhirnya batal, karena tidak mendapat izin dari Pimpinan Pondok. Pada waktu itu, pementasan drama berbahasa Indonesia, dan di luar Khutbatul Arsy, belum diizinkan. Dan baru diizinkan ketika saya menjadi guru pratek di KMI, pada tahun 1968 (jadi perlu waktu 5 tahun). Tetapi hati kami terobati, oleh karena salah seorang kawan kami, memenangkan lomba pembuatan logo IPD, yaitu sdr Noorhady Syahid dari Semarang, yang sekarang bermukim di Tawau, Malaysia Timur.

Setelah IPD berdiri, saya sering melihat Ustadz Hamam sibuk di Sekretariat Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern (YPPWPM) dan kerap mondar-madir ke Jakarta bersama Ust. Abdullah Mahmud (alm), yang dibantu oleh sekretarisnya Amin Alhady, MA, yang sekarang bermukim di Sydney, Australia. Pada waktu itu suhu politik nasional sedang memanas, yang turut mempengaruhi kondisi organisasi alumni Pondok Modern, IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern) yang berpusat di Jakarta, yang bahkan sempat dibekukan oleh pimpinan Pondok. Seingat saya, ketika IKPM akan didirikan kembali, saya sempat dipanggil oleh Ust. KH Imam Zarkasyi untuk diajak bicara tentang masalah tersebut, sekitar tahun 1969 – 1971. Dan saya mengusulkan, seandainya IKPM akan didirkan kembali, maka benar-benar harus berprinsip bahwa “IKPM untuk Pondok dan bukan Pondok untuk IKPM”. Dan ada usulan praktis saya, seyogyanya Pimpinan Pusat IKPM berkedudukan di Pondok Modern. Salah satu alasan saya, agar mengikuti perkembangan pondok dan dapat bekerjasama dengan baik.

Setelah orde baru lahir, pada tahun 1966, saya mendengar Ustadz Hamam mendirikan Pondok di Pabelan. Kebetulan pada bulan Syawal tahun 1968, saya yang menjadi guru praktek KMI Gontor, mendapat tugas dari Pimpinan Pondok Modern Gontor untuk mendampingi Ust KH Imam Badri menghadiri Halal bi Halal Alumni Pondok Modern Gontor di Gedung Kresno, Magelang, bersama Ustadz Marwan dari Jetis. Pada malam harinya, kami menginap di Pondok Pabelan yang baru didirikan 3 tahun. Kesan saya pada waktu itu, Pak Hamam yang masih muda, gagah, memakai  jas putih, dengan “trengginas” (cekatan), tapi sangat sopan dan hormat mempersilahkan Ust. Imam Badri, untuk memasuki mobil yang akan mengantarkannya ke Pondok Pabelan. Demikian pu;a sikap trengginas tapi sopan dan penuh hormat kepada utusan Pimpinan Pondok Modern ini saya saksikan selama kami berada di Pondok Pabelan. Dan ketika kami akan meninggalkan Pondok Pabelan, nampak Pak Hamam dengan sangat hidmad meminta do’a restu kepada Pimpinan Pondok Modern Gontor melalui Ust Imam Badri.

Sikap hormat (Tawadlu’) Ustadz Hamam, kepada Kyai Gontor ( KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani dan KH Imam Zarkasyi) adalah merupakan sikap dasar dan juga sumber semangat yang sangat mendalam dan kuat. Dalam setiap menghadapi permasalahan, Ustadz Hamam selalu mengambil referensi kepada ketiga gurunya tersebut. Demikian juga pada setiap saat akan melangkah maupun mengambil keputusan penting, selalu mengaca kepada Gontor. Bahkan Ustadz Hamam selalu mengatakan bahwa sebenarnya dirinya sedang berpraktek mengajar di Pondok Pabelan. Sehingga selalu mengharap dan siap untuk dikoreksi, sebagaimana seorang santri yang mengerjakan pelajaran  imla’ atau tamrinul lughah (Arabic Exercises), yang setiap kali melakukan al ishlah. Tidak jarang Pak Hamam, mengatakan kepada saya, bahwa sebenarnya kita baru memahami mengapa Pak Sahal (KH Ahmad Sahal) dan Pak Zar (KH Imam Zarkasyi) dulu melakukan itu atau membuat kebijakan begini dsb, setelah kita sendiri praktek di Pondok Pabelan. Dan itu saya alami sendiri, ketika Ustadz KH Imam Zarkasyi hadir ke Pondok Pabelan, pada suatu siang, tahun 1980-an. Begitu saya sambut beliau dan saya persilahkan untuk “lenggah” (duduk) di ruang tamu dalem Mbah Dja’far, beliau mengatakan “Habib, guru-guru yang mengerjakan tamrinaat di sini, supaya betul-betul dikoreksi”. Seolah-olah kami tidak pernah berpisah dan tetap menjadi guru praktek di Gontor, meskipun saya sudah meninggalkan Gontor selama 8 tahun.

Sikap tawadlu’ dan ketaatan Ustadz Hamam kepada Pondok Modern Gontor nampak dari tekad bulatnya mengambil semua jiwa, cita-cita, cara mengatur, kurikulum dan metode pengajarannya, bahkan semua buku-buku ajarnya diambil dari Gontor sepenuhnya. Ustadz Hamam dengan Pondok Pabelannya berusaha dengan penuh dan sungguh-sungguh untuk menerapkan semua metode, sunnah dan disiplin Gontor. Istilah saya waktu itu, mengambil metode Gontor sepenuhnya  “tanpa tapi”.

Meskipun Ustadz Hamam memilih model pendidikan Pondok Gontor, tetapi tetap menghormati dan memelihara hubungan serta kerjasama dengan para Kyai dan Ulama serta Pondok Pesantren di sekitar Magelang maupun di Jawa Tengah pada umumnya. Karena sebenarnya para Kyai dan Ulama di Jawa ini secara genealogis, masih saling berhubungan. Kyai Hamam sendiri, masih keturunan Kyai Kertotaruna yang menyambung dengan Kyai Modjo, penglima perang Pangeran Diponegoro, yang apabila dirunut akan sampai kepada Sunan Giri. Maka pada waktu mempersiapkan Pelatihan Tenaga Pengembangan Masyarakat (LTPM) oleh Pondok Pesantren, pada tahun 1976, kami diajak oleh Kyai Hamam, bersama dengan Gus Dur (KH Abdurrahman Wachid), mas Dawam Rahardjo dan Mang Utomo Danandjaja dan Nashihin Hassan, untuk berkeliling bersillaturrahmi kepada para Kyai di Magelang; seperti Kyai Chudlori, Tegalrejo; Kyai Luqman, Jetis; Kyai Fadhil, Saragan; Kyai Asrori di daerah Menoreh dll. Bahkan karena Gus Dur tidak sempat ke Pondok Watucongol di  Muntilan, maka Kyai Hamam mengajak saya bersillaturrahmi kepada Kyai Ahmad Abdul Haq (Mbah Mad) , untuk meminta do’a restu dan menyampaikan rencana pelatihan Pondok-Pondok Pesantren di Pabelan.

 

3-      Kyai yang Membuka Dialog dan Ruang Publik.

Sebenarnya keterlibatan saya secara langsung membantu mengajar di Pondok Pabelan baru pada tahun 1974.  Setelah  Ulang Tahun Pondok Pabelan, yang diselenggarakan dengan sangat meriah, termasuk mendatangkan berbagai kesenian rakyat, seperti Kubro Siswo, Kuntulan, Ndolalak, Selawatan dsb. Pada waktu itu, kebetulan, Bapak Muhtadi Asy’ari (kakak Drs. Muhammad Yusuf Asy’ari, Menteri Perumahan Rakyat RI 2004 – 2009) yang menikah dengan Bu Lik saya, Dra. Wardanah, baru saja wafat dan dimakamkan di desa Pabelan. Pada malam itu saya bersama Emha Ainun Najib, yang juga alumni Gontor, berbincang tentang berbagai hal dengan Ustadz Hamam sampai pagi. Dari masalah pendidikan, sampai dengan kebudayaan, sejarah, filsafat, politik dan visinya tentang ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Setelah Shubuh saya istirahat, tetapi Ustadz Hamam bersama Ainun masih meneruskan perbicangan tanpa istirahat sampai waktu ‘Ashr. Saya sempat bergabung lagi setelah Dzuhur. Dari dialog semalam suntuk ditambah setengah hari  itu, saya menangkap semangat, idealisme dan juga kebijakan praktis seorang Kyai muda serta pemikiran-pemikirannya yang menurut saya mempunyai dasar-dasar Qur’ani, Syar’i maupun keilmuan yang kuat. Termasuk dalam pandangan kependidikannya yang bermazhab Gontor. Setelah itu saya mulai bergabung mengajar di Pondok Pabelan, sambil kuliah di Fakultas Filsafat UGM dan menjadi asisten dosen Ustadz Ahmad Azhar Basyir, MA di FIAD (Fakultas Ilmu Agama dan Dakwah) di Kauman Yogyakarta.

Dialog dan sillaturrahmi merupakan kekuatan kepribadian Kyai Hamam dalam membangun Pondok Pabelan dan masyarakat. Sehingga menjadikan Pondok Pabelan sebuah ruang public (public sphere) yang terbuka dari berbagai kalangan untuk bertemu dan berdialog tentang berbagai masalah yang terjadi di desa dan tanah air. Ketika pada awl tahun 1970-an masyarakat Islam Indonesia mengalami perbedaan pendapat yang sangat tajam, yang bahkan menjurus kepada perpecahan; termasuk antara generasi muda dan cendekiawannya; Kyai Hamam dengan Pondok Pabelannya membuka ruang dialog dalam proses sillaturrahmi dan kerjasama. Tokoh-tokoh semisal Endang Saifuddin Anshari, Ahmad Sadzali, Ahmad Noekman, Ajip Rasidi, Yosef CMB, Noercholish Madjid, Kyai Yusuf Hasyim, Abdurrahman Wachid (Gus Dur), Zamroni, Fahmi Dja’far Saifuddin, M. Dawam Rahardjo, Dochak Latief, Utomo Danandjaja, Usep Fatchuddin, Adi Sasono, Ismid Haddad, Abdullah Syarwani, Nashihin Hassan dll dapat dengan akrab berbincang di Pondok Pabelan. Bahkan sempat menyelenggarakan “Leadership Training” bersama pada tahun 1974, yang kemudian melahirkan kegiatan seperti peningkatan minat baca dan perpustakaan, peningkatan metode belajar dan mengajar,  pengadaan air bersih,  pengembangan teknologi tepat guna, usaha kesehatan masyarakat (UKM), sampai dengan  gerakan pengembangan masyarakat oleh Pondok Pesantren.

Setelah berbincang bersama Ustadz Hamam semalam suntuk di tahun 1974, pada pagi harinya Cak Noer (Noercholish Madjid) mengatakan kepada saya : “Pak Hamam ini pendidikannya tidak tinggi, tetapi cara berpikirnya sangat sistematis. Bahkan berpikir  spekulatifnya sangat kuat sekali”. Namun jika terjadi perbedaan pendapat, Ustadz Hamam terus bertahan dengan argumentasinya, meskipun kadang-kadang memakan waktu yang panjang. Hal ini pernah terjadi ketika mempersiapkan Latihan Tenaga Pengembangan Masyarakat (LTPM) oleh Pondok Pesantren, pada tahun 1976, Ustadz Hamam berdialog dengan Mas Dawam (M Dawam Rahardjo) sampai jam 03.00 pagi. Setelah Shubuh, kami bertiga duduk di depan masjid, dan Mas Dawam menyampaikan kepada saya bahwa dia lelah sekali. “Pak Hamam benar, tetapi saya lelah sekali”, katanya. Dan Mas Dawam melanjutkan dengan mengutip ayat Al Qur’an “Inna ma’al ‘usri yusra”, ( setelah (bersama) dengan kesulitan itu ada kemudahan ). Mas Dawam adalah sahabat dekat yang sangat mencintai  Ustadz Hamam dan Pondok Pabelan sampai sekarang. Kesungguhannya di dalam mengembangkan kegiatan pesantren dan masyarakat menunjukkan kepedulian dan kecintaannya tersebut.

Pengembangan Masyarakat merupakan bentuk kepedulian sosial Pondok Pabelan yang sekaligus merupakan ruang partisipasi masyarakat desa dalam membangun diri sendiri (self development) . Pondok Pabelan kemudian berkembang menjadi pusat belajar masyarakat (learning society), lembaga partisipasi sosial, dengan berbagai kegiatannya; sumber informasi pembangunan; pusat alat-alat pembangunan (tools center) bagi masyarakat. Sebuah “ijtihad” dalam perluasan fungsi dan peran sosial, ekonomi dan budaya Pondok Pesantren, sesuai dengan perkembangan zaman. Sebenarnya merupakan revitalisasi dari peran dan fungsi yang pernah disandangnya pada awal kelahiran sistem Pondok Pesantren sendiri, pada sekitar abad ke 14 Masehi, sehingga dapat lestari (sustain) selama berabad-abad. Bahkan mengakar secara mendalam (deeply rooted) di masyarakat Indonesia, terus berkembang dan berperan sampai saat ini. Secara pribadi saya mencintai dan mempercayai keunggulan sistem Pondok Pesantren ini. Suatu kecintaan dan kepercayaan yang saya pelajari dan warisi dari ayah saya, Muhammad Chirzin, yang alumni Pondok Wonokromo, Yogyakarta dan  Pondok Termas, Pacitan, sehingga semua putra putrinya dididik di lingkungan Pondok Pesantren. Dari kakak saya yang tertua, Muhammad Nizar Chirzin yang alumni Gontor dan sekarang menjadi pengusaha peralatan kedokteran, bahan-bahan kimia  dan optic; sampai dengan adik bungsu saya, Siti Syamsiyatun, yang alumni Pondok Pabelan, kemudian menyelesaikan program Doktor dalam ilmu politik dari Monash University, Australia.

 

4-      Pondok Pabelan sebagai Reservoir Spiritual dan Kultural

Ketika dunia kampus mengalami kelesuan dan kebuntuan ekspresi dan  aktualissasi budaya, sosial dan politik mahasiswa, maka Pondok Pabelan dengan Kyai Hamamnya menjadi pilihan beberapa aktivis kampus untuk berdiskusi, melakukan eksperimen dan sekaligus aksi sosial. Interaksi antara para aktivis kampus dengan Kyai Hamam di Pondok Pabelan mempunyai berbagai fungsi. Bagi para aktivis yang karena kegiatan praktisnya yang  cenderung menjadi “aktivisme”, maka dialog dan mukim mereka di Pabelan menjadi semacam pengkayaan kultural (cultural enrichment), bahkan bagi beberapa orang menjadi suatu proses pencerahan spiritual (spiritual enlightenment) dan menjadikan Pondok Pabelan sebuah “kedung” atau reservoir budaya dan spiritual. Sehingga menumbuhkan kesadaran transenden yang lebih luas dan mendalam di dalam pengabdian kepada masyarakat.  Memang yang paling intens hadir dan berdiskusi serta melakukan partisipasi sosial di Pabelan adalah kawan-kawan mahasiswa ITB. Bahkan kemudian melahirkan Yayasan MANDIRI, yang berkantor di rumah mantan Rektor ITB, Ir Koentoaji, yang kemudian menjadi salah seorang Direktur IDB (Islamic Development Bank) di Jeddah. Mereka sempat membuat pelatihan teknologi tepat guna untuk para santeri dan masyarakat desa, termasuk Ir. Yusman S D, yang pada waktu itu menjadi acting Ketua Dewan Mahasiswa ITB; oleh karena Dewan Mahasiswa di seluruh Indonesia dibubarkan (sekarang Yusman Syafii Djamal menjadi Menteri Perhubungan RI – 2007 -2009). Sementara kampus ITB sempat diduduki oleh tentara. Beberapa aktivis mahasiswa Bandung yang kemudian sempat menjadi santeri Pabelan, melakukan kegiatan pengembangan masyarakat , antara lain,  Mochtar Abbas, Tony Pangcu, Sugeng Setyadi, Iskandar, Indra, Faletehan dll. Bahkan Mochtar Abbas, yang berasal dari Aceh, kemudian terpilih menjadi kepala desa Pabelan. Tetapi sebenarnya para mahasiswa UGM, IAIN Sunan Kalijaga, IKIP Negeri Yogyakarta dan para mahasiswa dari Semarang pun tidak kurang aktifnya melakukan dialog budaya dan spiritual yang sama di Pondok Pabelan. Saya sendiri yang pada waktu itu mulai sering menulis dan aktif dalam gerakan mahasiswa di Asia Tenggara,  beberapa kali diundang diskusi di kampus ITB, Masjid Salman Bandung, Masjid Al Azhar Jakarta, Masjid Sunda Kelapa Jakarta, Kampus UGM dan Jamaah Shalahuddin, Kampus UNDIP Semarang, IAIN Yogyakarta, IAIN Salatiga, UII Yogyakarta, UPN Yogyakarta dll. Interaksi antara aktivis kampus dengan pesantren ini kemudian membangun saling pengertian dan kerjasama antara budaya kampus dan pesantren.

Kehadiran maestro pelukis Afandy bersama sahabat-sahabatnya, pelukis Wahdi, Amri Yahya dll; kemudian budayawan Umar Khayam, Misbach Yusa Biran, Ashadi Siregar, Emha Ainun Najib dll menyuburkan warna kultural yang memang sudah berakar kuat di desa Pabelan. Dialog budaya antara para pelaku dan budayawan kampus dengan Kyai dengan budaya pesantrennya telah turut memperkaya khazanah kultural pesantren dan masyaraka. Demikian pula ketika si penyair kesohor, si Burung Merak, WS Rendra, bermain film bersama Kyai Hamam di dalam AL KAUTSAR yang disutradarai oleh Choirul Umam, pada tahun 1978, Kyai Hamam-pun kemudian dikenal sebagai Kyai Bintang Film. Kebetulan Film Al KAUTSAR ini memenangkan Festival Film Asia di Bangkok pada tahun 1980.

Peran kultural Kyai Hamam ini ditengarai oleh Prof. DR. Wolfgang Karcher, dari Berlin Technische Hogeschulle, Berlin, sebagai “Cultural Broker”, mengutip istilahnya Cliffort Geertz, penulis buku legendaris “Santri, Priyayi and Abangan” dan “The Religion of Java” . Karena Kyai Hamam telah memerankan dengan baik sebagai perantara budaya masyarakat desa Pabelan dengan kebijakan pemerintah; perantara antara budaya santeri dengan budaya ilmuwan yang berbasis di kota; perantara antara budaya Pesantren dengan Kampus dan juga perantara antara budaya santeri dengan budaya-budaya komunitas agama dan kepercayaan lain di Indonesia. Dalam ungkapan yang lain, Kyai Hamam telah berperan sebagai katalisator yang mempercepat proses perubahan sosial budaya, dengan tanpa menimbulkan benturan maupun gegar budaya. (Setelah Kyai Hamam wafat, Prof. Cliffort Geertz, yang menjadi Professor Emiritus di Princeton University, USA pernah datang ke Pondok Pabelan, bersama Alm Prof. DR. Koentjoroningrat dan Prof. DR. Sedijono Tjondronegoro dll).

Kebersamaan multi etnik, multi kultural dan multi religius telah tumbuh dan berkembang secara alami lewat dialog dan sillaturrahmi (yang intinya menjalin kasih sayang) yang terjadi sehari-hari di lingkungan Pondok Pabelan dan masyarakat sekitarnya. Beberapa pastur Jesuit dari Federation of Asian Bishop Conference (FABC) seperti Father Prof. DR. Tom Michel, yang sekarang berkedudukan di Vatikan dan para Uskup dari Philippines dan India sering berkunjung ke Pabelan, untuk bersilaturrahmi dan berdiskusi tentang Dialog dalam Aksi (Dialog in Action) , Dialog untuk Hidup dan Dialog untuk Pemanusiaan (Dialog for Humanization). Demikian juga para Pendeta dari lingkungan Persekutuan Gereja-gereja Asia (Christian Conference of Asia) bahkan dari Persekutuan Gereja-gereja Sedunia (World Council of Churches) yang didampingi oleh DR. Yudo Poerwowidagdo, Rektor Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta,  beberapa kali membawa rombongan untuk berkunjung dan berdialog tentang pendidikan dan pembangunan yang berkeadilan, damai dan keutuhan ciptaan (Integrity of Creation)  di Pondok Pabelan. Pada mulanya masyarakat memandang aneh, bagaimana seorang Romo Mangun Widjaya yang memakai kain sarung dan peci hitam dibonceng dengan sepeda motor YAMAHA Bebek berwarna merah anggur, oleh Kyai Hamam yang mengenakan pakaian jubah putih; pada suatu sore hari melintasi desa Pabelan. Romo Mangun adalah seorang budayawan, rohaniwan dan pendidik yang sangat dekat, memahami dan mengapresiasi sistem Pondok Pesantren. Sehingga sering bersilaturahmi ke Pondok Pabelan dengan mengajak sejawatnya pastur dari Indonesia, maupun dari Philippines, India, Sri Langka dan Amerika Latin. Bahkan pada suatu ketika ada beberapa orang suster Katolik dari Philippines yang menginap di Pondok Pabelan. Ketika berpisah dengan Kyai Hamam, dengan perasaan yang tulus dan mendalam, salah seorang di antaranya mengatakan “Ternyata Santo itu ada di mana-mana”. Kami sendiri tidak mengerti arti sebenarnya dari ungkapan tersebut.

Semangat sillaturrahmi, perdamaian dan rekonsiliasi yang mendalam dari Kyai Hamam sangat mengesankan tamu dari South East Quaker International Representative (SEAQIAR), sepasang suami isteri, Paul dan Sophie Quin Judge yang membawa rombongan tamu pemuka agama dan pekerja sosial dari Moro, Philippnes Selatan. Setelah melalai kunjungan lapangan dan dialog di ruang tamu utara, Kyai Hamam memahami dan menyadari bahwa proses konflik berkepanjangan yang terjadi di Philippnes Selatan, yang telah memakan ribuan korban dari semua pihak, sebeanrnya disebabkan oleh proses ketidak adilan sosial ekonomi, diskriminasi sosial dan kultural dan kesenjangan dalam pembangunan maupun dalam partisipasi politik. Dan bukan semata-mata konflik antar agama. Maka Kyai Hamam menyarankan agar ditempuh proses perdamaian yang dilanjutkan dengan pembangunan yang merata dan partisipasi politik tanpa diskriminasi. Kerjasama dengan SEAQIAR ini sebenarnya telah dirintis sejak tahun 1976, oleh David dan Marry yang didahului dengan hadirnya Jeffery Sng, yang saat ini bekerjasama dengan Ajarn Sulak Sivaraksa di Bangkok. Sampai saat ini, pimpinan SEAQIAR yang telah pindah kedudukannya di Laos, sangat menghargai sikap damai dan konsiliatif dari Kyai Hamam tersebut.

 

5-      Cakrawala dan Jendela Pondok Pabelan

Ketika Kyai Hamam menyatakan bahwa Pondok Pabelan adalah medan ibadah, yang dimaksud adalah bahwa  berbagai kegiatan yang muncul dan berkembang kemudian, termasuk kegiatan pengembangan masyarakat adalah bentuk medan ibadah berjamaah, bersama santeri, masyarakat desa, kampus, LSM dan dunia luas. Maka panggilan “hayya ‘alas Shalah” dan “hayya ‘alal Falaah” (“mari mendirikan shalat” dan “mari menuju kebahagiaan/kemenangan”); maka panggilan Adzan tersebut ditanggapinya bahwa Shalat itu harus membawa dan menghasilkan kemenangan dan kebahagiaan ( al falah). Maka kalau Shalat tidak membuahkan kemenangan dan kebahagiaan maka pasti ada yang salah dalam pemahaman, praktek dan penghayatan terhadap panggilan Shalat tersebut. Maka dalam dalam dialog pribadi, Kyai Hamam sering mempertanyakan, bagaimana sebenarnya pengertian “Inna shalata tanha ‘anil fakhsyaai wal munkar” ( Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan kemungkaran). Di antara kesimpulannya adalah bahwa shalat itu tidak terlepas dari keseluruhan penghayatan hubungan kemanusiaan kita sesama, alam semesta dan Yang Ilahi dan tanggung jawabnya. Sehingga amaliyah shalat akan mencegah fakhsyaai wal munkar sosial, budaya maupun lingkungan hidup. Demikian sebaliknya intensitas penghayatan kehidupan dan tanggung jawab sosial budaya dan ekologis dalam praktek kehidupan sehari-hari akan membawa kepada Shalat yang khusyu’. Karena tidak ada kekhusyukan yang datang tiba-tiba, tanpa tanggung jawab dan kerja keras mencintai dan peduli terhadap kehidupan dan lingkungan.

Keaneka ragaman kegiatan pendidikan dan pembangunan manusia yang berkembang di Pondok Pabelan, dari jauh, nampak bagaikan pelangi yang berwarna warni. Padahal menurut Kyai Hamam, isinya tidak lain adalah kegiatan “Ngibadah dan Ngaji”. Kalaupun ada kawan-kawan dari kampus ataupun Lembaga Swadaya Masyarakat, Pesantren lain (termasuk Pesantren LP3ES)  maupun lembaga pengkajian dan pendidikan lain yang kemudian memberikan perhatian dan kerjasamanya; maka semuanya itu dalam rangka berjama’ah dalam shalat dan “ngaji bareng” di medan ibadah yang namanya Pondok Pabelan. Tetapi masing-masing menghadap dan bertanggung jawab kepada Tuhan secara sendiri-sendiri. Akan akan mendapatkan ridla, rahmat dan hidayah Allah sesuai dengan nawaitu masing-masing.

Sebagai suatu komunitas yang berada di pedesaan Jawa Tengah, Pondok Pabelanpun merasa berkepentingan untuk membuka “jendela” untuk melihat “dunia luar” untuk memperluas cakrawala sosial, budaya dan religius. Dalam kesempatan tertentu Kyai Hamam menghadiri undangan untuk konperensi, menjadi pemakalah maupun nara sumber dalam berbagai seminar dan loka karya. Bahkan pernah diundang oleh Pemerintah Amerika untuk menjadi tamu dalam program “International Visitor” untuk melihat lembaga-lembaga pendidikan dan keagamaan di berbagai Negara Bagian di Amerika. Inilah “jendela” yang dibangun untuk melihat dunia sekitar dan memperluas cakrawala tersebut. Karena kesibukannya, kadang-kadang Kyai Hamam meminta saya untuk mewakilinya, seperti dalam Consultation on Land, sebuah konperensi Asia – Pasific tentang pembangunan masyarakat dan masalah pertanahan, di Colombo, Sri Langka, 1976; “Young Theologian Meeting” di Hong Kong, 1977; Development Workers Program of Asian Cultural Forum on Development (ACFOD) di Bangkok, Manila, Kuala Lumpur, Colombo, Dacca, Kathmandu, 1978; International Studies for Society Overcoming Domination (ISD) di Paris dan Rio de Janeiro, Brazil 1979; SEARICE (South East Asia Regional Institute for Community Development) di Bangkok dan Manila, 1980 – 1982 dll. Dan setelah kembali ke Pondok, kami berdiskusi dan berbagi pandangan untuk pengembangan Pondok selanjutnya.

Oleh karena saya mewakili Kyai Hamam, maka pada konperensi ISD di Paris dan Rio de Janeiro, Brazil, yang dilanjutkan dengan kunjungan ke Reciffe, tempat kediaman Arch Bishop Dom Helder Camara tersebut, saya terpilih menjadi anggota sekretariat ISD yang berpusat di Paris untuk periode  3 (tiga) tahun, dari th 1979 sd 1982. Dan pada akhir periode, pada bulan April 1982, koordanitaor ISD tersebut, DR. Francisco “Chico” Whitaker bersama isterinya DR. Stella Ferrera dan sekretaris Joanne sempat berkunjung ke Pondok Pabelan. Chico Whitaker, sang koordinator ISD akhirnya dikenal dunia sebagai penggagas gerakan World Social Forum (WSF) yang pernah digelar di Porto Allegre, Brazil, kemudian di Mumbai, India dan Nairobi, Kenya dll, sebagai alternative dari World Economic Forum di Davos di Swiss. Di SEARICE saya tercatat sebagai anggota Dewan Pendiri pada tahun 1982 di Manila, kemudian terpilih menjadi Presidennnya sampai dengan 1996 yang berkedudukan di Manila. Para pendiri SEARICE, seperti Noel Mondejar, Jun Atienza, Memong Patayan dan Chanet Khumtong pernah berkunjung ke Pabelan. Bahkan tokoh-tokoh seperti Noel dan Memong sangat terkesan di hati Kyai Hamam karena pemahaman dan penghargaann mereka kepada dunia Pesantren. Dan merekalah yang memberikan dukungan moral dan teoritis tentang significannya peran sosial dan budaya Pondok Pabelan pada awal pengembangan masyarakat tahun 1976. Mereka kemudian mengkomunikasikannya kepada para pemikir dan pekerja pembangunan di Asia dan Pasifik. Sehingga Pondok Pabelan sekaligus menjadi jendela Pondok Pesantern maupun komunitas santri Indonesia ke pada dunia luas.

Fungsi jendela maupun komunikasi dengan dunia luar, juga diperankan dengan sangat strategis oleh para pimpinan Pondok lainnya, seperta Ustadz Drs. Wasit Abu Ali, Ustadz Drs. Ahmad Musthofa, Ustadz Muhammad Balya, maupun putra Kyai Hamam, Ustadz Ahmad Najib Amin. Bahkan dalam arti tertentu Bu Nyai, Ibu Djuhanah Hamam pun melakukan fungsi “jendela’ dan komunikasi sosial ini dengan efektif. Oleh karena Ibu Nyai pernah mengenyam pendidikan di Yogyakarta dan tinggal di keluarga Bapak Hilal di Gerjen, di sebelah Kauman Yogyakarta; maka komunikasi sosial dengan keluarga dan komunitas Kauman, Karangkajen, Kotagede, Njejeran dan lain-lain menjadi akrab. Diperkuat lagi dengan Mbah Kyai Dja’far, ayahnda Ustadz Hamam,  yang memang berasal dari Ndongkelan, sebelan selatan Pojok Benteng Kulon, Yogyakarta, yang pada masa Sultan Hamengku Buwono VIII dikenal sebagai patok negoro, yang mempunyai jalinan erat dengan pusat-pusat santeri di Mlangi, Krapak, Wonokromo dll. Peran-peran dan jejaring sosial budaya ini dirajut dengan rapih oleh Kyai Hamam.

 

6-      Amanah dan Teladan yang Hidup.

Sebagai seorang Kyai muda (pada waktu itu) yang baru membangun kembali Pondok Pabelan, dan kebetulan dalam posisi keluarga yang lebih muda dari para Kyai dan Ulama di Karesidenan Kedu, pada mulanya tidak mudah untuk menempatkan diri seacara pas di tengah-tengah peta ke-Kyaian dan Kepondok Pesantrenan. Tetapi karena sikap tawadlu’ dan rajin untuk bersillaturrahmi serta kepemimpinannya yang menonjol, akhirnya Kyai Hamam mendapat kepercayaan untuk memimpin Ikatan Pondok Pesantren Sekaresidenan Kedu dan Sekitarnya. Instink kekyaian yang diasah dan ditimbanya dari Kyai Sahal, Kyai Fanani dan Kyai Zarkasyi di Gontor dan ditambah dengan sillaturrahminya yang luas, maka Kyai Hamam menjadikan dirinya sebagai seorang Kyai yang dapat diterima oleh berbagai golongan. Dengan sangat sadar dan berhati-hati Kyai Hamam menjaga keseimbangan “ekologi kekyaian” ini.  Karena ini adalah suatu modal sosial dan kultural yang sangat berharga baginya. Namun Kyai Hamam tetap memegang prinsip di dalam membangun dan mengembangkan lembaga pendidikannya. Secara pribadi saya belajar banyak dari Kyai Hamam tentang dunia persilatan Pondok Pesantren dan budayanya. Serta budaya dan tatakrama komunikasi di lingkungan Kyai.

Kepekaan ekologi sosial dan budayanya juga nampak di dalam mengelola kerjasama dan keseimbangan hubungan-hubungan antar, baik di dalam Pondok maupun dengan masyarakat. Kepengurusan Pondok Pabelan yang berintikan Kyai Hamam sebagai Pengasuh, KH Drs. Wasit Abu Ali sebagai Direktur KMI; KH Drs. Ahmad Mustofa, sebagai Ketua Majelis Guru, dan Ustadz Muhammad Balya sebagai Sekretaris Pondok, merupakan tim kerja yang selalu dipelihara kekompakkannya. Begitu juga hubungannya dengan para sesepuh yang di “lenggahkan”/ dudukkan sebagai Badan Wakaf, termasuk di dalamnya, Kyai Dja’far, Ayahndanya; Kyai Masduki; KH Asy’ari, Kepala Desa Pabelan; Kyai Daldiri dan para sesepuh lainnya. Sedangkan para pemuda yang merupakan pendukung dan tenaga andalan Pondok Pabelan diwadahi dalam organisasi yang dikenal dengan PPP (Persatuan Pemuda Pabelan). Dari pembentukan lembaga-lembaga ini tercermin kesadaran Kyai Hamam yang tinggi tentang pentingnya pelembagaan (institusionalisasi) dari kegiatan-kegiatan dan para pendukungnya. Suatu tradisi yang relatif baru di lingkungan Pondok Pesantren.

Berkomunikasi dan juga bekerja dengan Kyai Hamam merupakan pengalaman yang sangat mencerahkan dan mengesankan. Pribadinya yang hangat dan ikhlas, sangat mudah dan menyenangkan. Karena mempunyai prinsip dan berdisiplin. Sehingga mudah dibaca, dipahami dan diikuti, dan tidak perlu menebak-nebak. Karena semuanya jelas. Pengalaman pribadi saya, yang sering saya sampaikan kepada keluarga saya dan banyak orang, bahwa selama lebih kurang lebih  9 (Sembilan) tahun saya membantu Kyai Hamam di Pondok Pabelan, saya belum pernah disuruh maupun dilarang. Karena saya tahu apa yang harus saya kerjakan dan apa yang dimaui oleh Kyai Hamam, dalam kaitannya dengan pendidikan, keilmuan dan kemasyarakatan. Saya pribadi merasa, karena intensitas interaksi dan kesamaan referensi, kami mempunyai banyak kecocokkan pendapat, pemikiran atau pandangan. Termasuk bacaan terhadap kondisi yang berkembang di masyarakat. Bahkan ketika kami lama tidak bertemu, kemudian  kami mencocokkan beberapa hal yang telah masing-masing kami lakukan atau pikirkan; ternyata frekwensi kami tetap sama.

Pernah pada suatu malam, di tengah kami berbincang berdua dengan Kyai Hamam, hujan deras turun dan tiba-tiba listrik padam. Namun perbincangan tetap kami lanjutkan sampai menjelang Shubuh, meskipun tanpa lampu dan kami tidak dapat saling melihat satu sama lain. Karena adanya kesamaan pikiran, perasaan, semangat dan cita-cita, maka pembicaraan di ruang tamu yang gelap gulita tersebut terasa sangat reflektif dan mendalam. Pada saat-saat menghadapi persoalan yang agak rumit, Kyai Hamam tidak jarang menyatakan : “ Akhirnya, yang nyata ada adalah kita dan Allah”. Perasaan kedekatan yang sangat kepada Allah dan hanya dengan Allah semata, sering hadir di dalam situasi di mana Pondok menghadapi masalah yang tidak mudah diselesaikan. Pengalaman-pengalaman intensitas “kepasrahan” yang di dalam bahasa Jawa sering disebut sebagai “dedepe” kepada Allah yang Maha Pengasih ini kadang-kadang membawa Kyai Hamam kepada angan-angan, barangkali dulu Tri Murti (KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani dan KH Imam Zarkasyi) juga sering mengalami hal yang seperti ini. Dalam situasi seperti itu, sangat terasa bahwa benar-benar Pondok Pabelan adalah medan ibadah.

Sudah barang tentu peran orang-orang yang sangat dekat dengan Kyai Hamam sangatlah besar. Terutama pada saat-saat perintisan. Ketika Pondok Pabelan belum banyak dikenal orang. Dan masih dalam kondisi “babad alas”. Ibu Nyai Djuhanah, yang dengan tekun dan setia mendampingi Kyai Hamam, sambil mengasuh dua putranya tercinta Ahmad Najib Amin (sekarang KH Ahmad Najib Amin) dan Ahmad Faiz Amin (sekarang Kepala Desa Pabelan). Di mana Kyai Hamam tidak jarang memuji kecerdasan dan bakat-bakat yang dimiliki kedua putranya tersebut.  Ibu Djuhanah sempat mencatat berbagai perkembangan yang terjadi di Pondok Pabelan, sejak perintisannya. Hal ini diceritakan kepada saya beberapa bulan sebelum beliau wafat. Nampak sekali keikhlasannya di dalam menceritakan semua perkembangan tersebut. Alhamdulillah, sampai dengan hari-hari menjelang wafatnya Ibu Nyai, saya masih sempat berkomunikasi lewat telpon. Setiap berbicara, Ibu Nyai tidak lepas dari permintaan do’a untuk beliau, kedua putranya dan Pondok Pabelan, serta pernyataan rasa syukur. Ada rasa syukur yang mendalam di hatinya, karena sudah dapat mengantar dan mendampingi dua putranya sampai usia dewasa. Dan memegang amanah kepemimpinan di Pondok dan desa Pabelan.

Sejak awal Kyai Hamam menghayati bahwa pilihannya untuk membangun Pondok Pabelan adalah juga sebuah amanat. Baik amanat kekhalifahannya, amanat kesaksiannya (syahadah) bagi kemanusiaan dan sejarah, juga amanat Tri Murti yang diterimanya dari Syeikhul Azhar Mahmud Syaltut, demikian juga amanah umat yang harus ditunaikan dan dijaganya dengan sungguh-sungguh. Kesungguhannya di dalam memahami, memaknai, menghayati dan menghidupi amanah ini membuat Kyai Hamam tidak pernah setengah-setengah di dalam melakukan sesuatu. Semua pekerjaannya dilakukan dengan penuh totalitas penghayatan dan kesungguhan. Dalam bahasa Jawanya “tenanan”. Atau di dalam ungkapan KH Ahmad Sahal “Yen waniyo ing gampang, wedi ing pakewuh tan ono barang kang bakal karakyan. Kang rawe-rawe rantas, kang malang-malang putung. Iki dadaku, endi dadamu……” ( Kalau hanya berani menghadapi yang mudah dan takut menghadapi kesulitan, maka tidak ada satu pekerjaanpun yang dapat dihasilkan. Semua yang menghalangi akan hancur dan yang malang melintang akan putus. Ini dadaku, mana dadamu…….”). Semangat inilah yang diteladankan kepada para santeri dan masyarakat desa Pabelan.

Karena Pondok Pabelan adalah amanah, maka Kyai Hamam bersungguh-sungguh dalam menjaga dan mengembangkannya. Bahkan pada tahun-tahun terakhir sebelum wafatnya telah  memulai proses penyerahan wakaf dan penyusunan dan pembentukan kelembagaan Badan Wakaf yang akan menjadi lembaga tertinggi bagi pemeliharaan dan pengembangan Pondok Pabelan dalam jangka panjang. Beberpa perangkat bahkan AD dan ART Badan Wakaf-pun telah mulai disusun rencananya. Sehingga benar-benar Pondok Pabelan menjadi medan ibadah untuk menjunjung tinggi agama Islam, memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi agama dan umat manusia. Saya menyaksikan kesungguhan Kyai Hamam dan keikhlasannya di dalam menunaikan amanah tersebut. Meskipun ketika saya sudah menikah dan sudah tidak tinggal lagi di Pondok, Kyai Hamam masih sering memanggil saya, dan bahkan pernah datang ke tempat tinggal saya di sebelah timur Plengkung Wijilan, di dalam Benteng Kraton, Yogyakarta. Tempat tinggal yang juga sering dikunjungi oleh Mas Dawam Rahardjo yang selalu datang dengan mengendarai sepeda dari rumah mertuanya di Karang Kajen. Kyai Hamam memang sangat teliti dan hati-hati di dalam melangkah, terutama yang mempunyai dampak sosial dan budaya jangka panjang.

Ketika Kyai Hamam wafat, pada tanggal 17 Maret 1993, kebetulan saya sedang berada di kantor ACFOD (Asian Cultural Forum on Development), Bangkok, Thailand untuk sebuah pertemuan. Siang itu sebenarnya saya merencanakan bertemu kawan di kantor Coalition for Peace and Development di Phyayatai Road, di dekat Komnas HAM Thailand sekarang. Berita wafatnya Kyai Hamam saya terima dari Sri Hindun Fauziah, isteri saya, yang juga alumni Pondok Pabelan, lewat telegram yang dikirimkan ke Bangkok. Wafatnya Kyai Hamam saya rasakan sangat tiba-tiba. Oleh karena sebelum berangkat ke Bangkok, saya sempat bertemu di Pabelan. Dan tidak ada pesan apa-apa, ataupun tanda-tanda bahwa akan segera kembali kehadiratNya yang Maha Pengasih. Ketika saya kembali ke Jakarta, anak saya yang nomor dua, Farhan Navis mengatakan kepada Arief, kakaknya, dan kami sekeluarga : “Saya yang paling merasa kehilangan, ketika Pak Hamam meninggal. Saya mau menemani Pak Hamam di kuburannya. Karena Pak Hamam sayang sama anak-anak. Kasihan kalau sendirian. Supaya ada yang menemani”. Pada waktu itu Navis masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Dia nampak sedih sekali, karena dulu sering diajak bermain dan memancing ikan. Saya katakan kepadanya, bahwa kita akan selalu mendoakan Kyai Hamam agar semua amal ibadahnya diterima dan diridloi Allah SWT. Dan memang kami sekeluarga selalu mendoakannya. Kyai Hamam memang menyayangi semua anak manusia, bahkan semua binatang,  tumbuh-tumbuhan dan segala ciptaan Allah.

Kini Kyai Hamam telah meninggalkan kita semua. Tetapi warisan spiritual, sosial dan budayanya masih terus hidup dan menjadi sumber inspirasi. Para alumni dan  santerinya tersebar di seluruh penjuru tanah air dan dunia. Jejak-jejak langkahnya yang fenomenal, sebagaimana langkahnya yang tegap, pasti dan meyakinkan; memberikan semangat dan inspirasi kepada semua santeri dan sahabat-sahabatnya. Kyai Hamam telah menjadi tauladan yang hidup (living example) dalam integritas, ketulusan dan kesungguhan. Kecerdasan spiritualnya yang tumbuh karena keikhlasan untuk mencari kesejatian yang abadi, telah menjadikannya tokoh yang dapat bersilaturrahmi, berdialog dan bekerjasama untuk kebajikan (ta’awun alal birri wat taqwa ) dengan siapapun. Karena menganggap semua orang adalah saudara. Persaudaraan kemanusiaan dalam limpahan rahmat Ilahi. Cakrawala etik dan spiritualitasnya melintasi batas-batas etnisitas, budaya, afiliasi politik dan ideologi, keyakinan dan keagamaan. Kyai Hamam telah mengajarkan “mahfudzat” dan “Tarbiyah” di kelas KMI, tetapi juga telah mengajarkan tentang kehidupan dengan mengakrabi, mencintai, memaknai dan bersungguh-sungguh dengan kehidupan; lewat Pondok Pabelannya. Karena kehidupan adalah anugerah dan amanah dari Yang Maha Hidup. Kyai Hamam adalah guru kehidupan dan sahabat semua orang.


Jakarta, 10 Dzulhijjah 1428H/ 20 Desember 2007


Sumber: https://habibch.wordpress.com/2008/11/24/kh-hamam-djafar-dan-pesantren-pabelan-sebuah-refleksi/



__._,_.___
Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Adakah Romo Mangun & K.H. Hammam Ja'far Masakini? [1 Attachment]

[Attachment(s) from Mang Aska included below]

Saat ini adakah Pemimpin Agama di Sumedang atau Jawa Barat atau Indonesia yang memiliki keberanian membantu Masyarakat Kabuyutan Cipaku yang akan tetap bertahan walaupun Jatigede digenangi seperti Romo Mangun bersama Romo Sandyawan dan K.H. Hammam Ja'far, pengasuh pondok pesantren Pebelan Magelang mendampingi para warga Kedung Ombo yang masih bertahan di lokasi?

Tidak hanya Kedung Ombo yang mendapatkan intimidasi dan pemaksaan Masyarakat Kabuyutan Cipaku juga pada saat pembebasan tanah tahun 1982 - 1986 telah terjadi hal yang sama bahkan lebih parah karena Masyarakat Kabuyutan Cipaku adalah Baduy-nya Sumedang, Kampung Buhun, Kampung Tri Tangtu yang diakui oleh Budayawan Sunda sekelas Prof. Jakob Sumardjo Guru Besar STSI, terdapat lebih dari 25 Situs Cagar Budaya lengkap dengan Hutan Larangannya, dan juga Ribuan Hektar Sawah Subur serta bangunan-2 Adat dan Tatanan Kehidupan masyarakat yang harmonis dan agamis.

Masyarakat Kabuyutan Cipaku akan mempertahankan Kabuyutannnya Situs-2 Punden Berundak Kabuyutan Cipaku yang merupakan Simbol Monotheismeu Nusantara Purba dimana disana ada Batu Tunggal agar jangan sampai digenangi... Alhamdulillah MESTAKUNG... Semesta Mendukung sampai saat ini Alloh SWT masih menjaga Tanda-tanda keberadaaan-Nya sama seperti hal nya Alloh SWT menjaga Ka'bah dimana disana ada Hajar Aswad Batu Tunggal Hitam/ Lingga Hitam simbol Ketauhidan juga dengan mengirimkan Burung Ababil yang melemparkan Batu dari Tanah Terbakar untuk menghalau Pasukan Gajah yang akan menghancurkan Ka'bah seperti yang tertera dalam Surat Al Fil!

"Apakah kami tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara Bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong- bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)."

Alfatihah untuk Romo Mangun & K. H. Hammam Ja'far.

http://id.wikipedia.org/wiki/Kasus_Kedung_Ombo

Ketika sebagian besar warga sudah meninggalkan desanya, masih tersisa 600 keluarga yang masih bertahan karena ganti rugi yang mereka terima sangat kecil. Mendagri Soeparjo Rustam menyatakan ganti rugi Rp 3.000,-/m², sementara warga dipaksa menerima Rp 250,-/m². Warga yang bertahan juga mengalami teror, intimidasi dan kekerasan fisik akibat perlawanan mereka terhadap proyek tersebut. Pemerintah memaksa warga pindah dengan tetap mengairi lokasi tersebut, akibatnya warga yang bertahan kemudian terpaksa tinggal di tengah-tengah genangan air.

Romo Mangun bersama Romo Sandyawan dan K.H. Hammam Ja'far, pengasuh pondok pesantren Pebelan Magelang mendampingi para warga yang masih bertahan di lokasi, dan membangun sekolah darurat untuk sekitar 3500 anak-anak, serta membangun sarana seperti rakit untuk transportasi warga yang sebagian desanya sudah menjadi danau.



__._,_.___

Attachment(s) from Mang Aska | View attachments on the web

1 of 1 Photo(s)

Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___

Gmane