Picon

Pola Tanam dan Teknik Irigasi Modern - Re: HAL: Bls: HAL: Re: HAL: Re: HAL: Re: [Senyum-ITB] PLTA Kedung Ombo Seluas6800HaHanya Berfungsi 6 Bulan [1 Attachment]

[Attachment(s) from Mang Aska included below]

xixixi iya Pak dua musim juga ya... musim kebanjiran dan musim kekeringan ;)... musim hujan dihiasi berita banjir dimana2 juga longsor, jembatan ambrol, dlsb... baru saja tadi lihat di Berita TV satu sekolah harus gelayutan anak2 SD nyebrang pakai tambang karena jembatan putus.

Musim kering beritanya kekeringan, gagal panen, kebakaran hutan, dll... nah baca di internet ini banyak yg gagal panen ini karena di awal supply air lumayan baik tapi ditengah2 padi kekurangan supply air sehingga padi nya puso... hampa alias kosong isinya karena kurang air. Nah ini yg kemudian seolah2 petani ini dijebak gitu... dan salah satu penyebabnya dari bendungan ini. Diawal2 supply dari bendungan irigasinya bagus tapi tidak lama kemudian bendungan ada diambang batas minimum sehingga air tidak bisa dialirkan akhirnya ya petani gagal panen, semakin terpuruk saja petani ini.

Nah yg Mamang bingung ini kok Dinas Pertanian ngak bisa mengatur pola tanam ya? Maksudnya kok mereka ngak bisa menghimbau dan mengatur petani... misal ya... musim tanam pertama pasti bisa karena hujan kenceng nah tanamlah padi... musim tanam kedua ya di cek dulu daerahnya kalau supply air atau irigasi bagus bisa menanam lagi... kalau tidak kenapa ngak berganti misal ke tanaman hortikultura misalnya nanam Waluh gitu? Musim tanam ketiga sama dengan kedua... kalau irigasi bagus lanjut tanam kalau enggak ya ganti apa menanam kacang, boled/ umbi, dll.

Nah di Kabuyutan Cipaku mah udah bisa mengatur sendiri sehingga jarang sekali gagal panen padahal ngak pakai bendungan... yg bisa 3x tanam ya terus menanam padi... kalai yang 2x tanam... agak jauh ke saluran irigasi ya mereka biasanya pas musim tanam ke-3 ya nanam kacang, atau nanam mentimun, nanam waluh, dll... kemudian dijadwal pengaturan airnya... karena sungai di Kabuyutan Cipaku mah mengalir tiada henti ada aja airnya... tinggal patungan pompa aja saweran uang bensinnya toh kalau tanaman seperti kacang mah ngak butuh banyak2 air... sesekali saja nyiramnya.

Malah kalau menurut Kang Ahmad Dimyati Doktor Hortikultura dari S1 Unpad, S2 IPB, dan S3 Univ Nebraska... di Enrekang Sulawesi musim kemarau nanam Bawang Merah pakai Irigasi Tetes malah berhasil :). Pompa nya pakai pompa cucian motor aja katanya xixixi. Terlampir info dari Kang Ahmad Dimyati tentang irigasi tetes. Konon kabarnya di Israel juga melakukan teknik irigasi seperti ini.

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com

On Mar 8, 2015 7:10 PM, "spjanto_atmodjo spjanto_atmodjo <at> yahoo.co.id [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:
 

Climate change ...dampaknya adalah anomali2 cuaca....dulu ada keteraturan 6 bulan kemarau 6 bulan hujan....iklim indonesia jadi ada 2 iklim kemarau dan penghujan....sekarang juga ada dua tapi musim kering dan musim banjir.....extrapolasi data level air, curah hujan di  hulu sungai jadi kacau




Terkirim dari tablet Samsung

"Joshjosman joshjosman <at> gmail.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> menulis:
 


Apakah rekan2 ada yang punya arsip data jam atau harian tinggi permukaan air (water level) di bendungan Jatiluhur sejak bendungan ini dibangun?

Bila ada, apakah pengukurannya otomatis (telemetri) atau masih manual?

Da‎ta water level ini salah satu rekaman penting history perilaku sungai masa lalu, kini dan proyeksi mendatang. 

Semoga data ini tersimpan  dan digunakan dg baik. Trims

Salam
Luhut

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Indosat network.
Dari: Djoko Purwanto purwantodj <at> gmail.com [Senyum-ITB]
Terkirim: Sabtu, 7 Maret 2015 18.13
Perihal: RE: HAL: Re: HAL: Re: HAL: Re: [Senyum-ITB] PLTA Kedung Ombo Seluas6800HaHanya Berfungsi 6 Bulan

 

Mas Kar, punten,

Kalo PLTA Jatiluhur didesign dgn benar..mestinya gak perlu terjadi kondisi...kalo pengaturan (debitnya) digenjot maka permukaan air akan turun...

Apa berarti selama ini pengoperasian PLTA Jatiluhur selalu under capacity yg bukan krn pendangkalan waduk???

Salam,
Djoko Pur, M76

On Mar 7, 2015 4:08 PM, "Kartono~G kartono.ms75 <at> gmail.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:
This message is eligible for Automatic Cleanup! (Senyum-ITB <at> yahoogroups.com) Add cleanup rule | More info

 

Kalau kita baca info dari PLTA Jatiluhur, fungsi utama bendungan adalah sbb,
1. Keperluan air irigasi tarum barat
2. Keperluan air irigasi tarum timur
3. Penyedia air baku PAM DKI
4. Tempat rekreasi
5. Budidaya ikan
6. Pengendali banjir
7. Pembangkit listrik 

Pembangkit listrik dihidupkan ketika air digelontorkan untuk irigasi dan air buat pam jaya. Disitu terdapat turbin air utama yg berada di dam utama dan ada plta kecil namanya Ubrug. Jika pengaturannya terlalu digenjot maka permukaan air akan turun yg bisa berdampak pada budidaya ikan tea. 

Kalau damnya jebol, ya namanya itu nasib dah. Akibatnya? Purwakarta bisa tersapuh bersih. Makanya, plta jatiluhur didesign dg benar oleh ahlinya. Jadi, jika tidak ingin tersandung, ya jangan mencoba berjalanlah. Ular cobra itu sangat berbisa dan saya sangat takut sekali. Lain dg si pawang ular, lha wong tidur bersama ular cobra 100 ekor saja masih slamet koq. 

Salam
Kar m75



Sent from Samsung Note 8


-------- Original message --------
From "spjanto_atmodjo spjanto_atmodjo <at> yahoo.co.id [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com>
Date: 07/03/2015 14:38 (GMT+07:00)
To Senyum-ITB <at> yahoogroups.com
Subject HAL: Re: HAL: Re: HAL: Re: [Senyum-ITB] PLTA Kedung Ombo Seluas 6800HaHanya Berfungsi 6 Bulan


 

Kan semua itu tergantung jumlah ketersediaan air terhadap jumlah kebutuhan air untuk keperluan pertanian,pump storage dll sejauh cukup sesuai waktu kebutuhan....why not....kalau tidak cukup
Boro2 utk pump storage...untuk pertanian saja rebutan dan hanya cukup sebulan




Terkirim dari tablet Samsung

"Mang Aska dkabayan <at> gmail.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> menulis:
 

Beda kondisi Pak Kar... kalau air bendungan dipompa kembali ke Bendungan masalahnya Pak Kar nanti bisa dikejar2 petani bawa golok wkkk.

Belum tahu ya masalah air bagi petani mah kritis.... itu di saluran irigasi mereka punya pengaturan sendiri... tiap hari ada jadwalnya... kalau di setop ya urusannya sama golok xixixi.

Nah terus kalau di Swiss bisa beli listrik murah... di Indonesia mau beli listrik murah dari mana hehehe.

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com

On Mar 7, 2015 7:51 AM, "Kartono~G kartono.ms75 <at> gmail.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:
 

Rekans ysh,

Punten nih hanya cerita saja apa yg lihat di Swiss sono tentang operasi PLTA sbb,
1. Ketika siang hari rakyat & industri butuh listrik maka air dari bendungan Alpen digelontorkan ke danau untuk muter turbin air dan sekaligus muter generator yg menghasilkan listrik
2. Ketika malam hari, PLTA tsb membeli listrik murah dari Jerman & Perancis untuk memutar motor yg sekaligus memompa air dari danau ke bendung alpen
3. Secara konversi energi memang betul bahwa tindakan ini sungguh bodoh ya karena banyak kerugian ketika konversi berlangsung. Namun, secara bisnis justru menguntungkan karena harga jual dan harga beli listrik sangat jauh berbeda
4. Ide PLTA Cisokan nampaknya sama yg dikenal dg nama "pump storage" yg menggelontorkan air jika diperlukan listrik. Pemompa air jika ada kelebihan listrik di sistim JAMALI. Harap diingat bahwa kondisi beban antara siang dan malam cukup besar yg bisa merepotkan operasi PLTU yg di-design sebagai based load. Kadang plta spt ini dikenal dg nama pembangkit "peaker" lah. 
5. Pak JK kali ini benar adanya ....alumni itebe eleh eh ....maklum kan dari jurusan kimia murni. 

Salam
Kar m75

Kalo kembali ke topik pembahasan awal...diatas,

Maka tugas kita (paling tdk) adalah membantu "meluruskan" pemikiran Bpk Wapres kita..."bagaimana caranya spy air yg sdh (dikonversi energynya menjadi listrik) sampe dibawah dipompa lagi ke atas" spy plta nya bisa beroperasi terus"..

Kita hrs berani sampaikan ke Pak JK bhw mhn maaf pak JK.. Seandainya seluruh energy listrik yg dihasilkan plta dipergunakan ntk menghidupkan pompanya, bahkan TDK akan cukup untuk memompa seluruh air kembali ke atas.

Punten,
Djoko Pur, M76


Sent from Samsung Note 8





__._,_.___

Attachment(s) from Mang Aska | View attachments on the web

1 of 1 Photo(s)

Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Berpikir Rasional & Kepentingan Bangsa Dalam Pembangunan Pelabuhan Cilamaya - Berita Trans



http://beritatrans.com/2015/03/08/berpikir-rasional-kepentingan-bangsa-dalam-pembangunan-pelabuhan-cilamaya/



__._,_.___
Posted by: aliyudinsofyan <at> yahoo.com


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Constructing dams vs. global warming



Tulisan Teh Lim Mei Ming di Jakarta Post tentang Dams Vs Global Warming... banyak yang berfikir Bendungan itu paling Ramah Lingkungan padahal tidak, semoga pemerintah tidak terjebak dengan pemikiran-2 bahwa Bendungan adalah solusi untuk mengatasi berbagai masalah padahal kenyataannya Bendungan Besar malah menimbulkan masalah baru.

Constructing dams vs. global warming

Lim Mei Ming, Bandung | May 03 2008 | 11:14 AM

The Public Works Ministry has announced a government plan to construct 17 large dams, including the Nipah and Bajulmati, East Java; Ponreponre in South Sulawesi; Peusangan 1, 2 and Keuliling in Nanggroe Aceh Darussalam; Lebak Karian in Banten; Asahan 3, 4 and 5 in North Sumatra; Lore Rindu and Sulewana in Central Sulawesi; Mamberamo in West Papua, and the 45-year-old plan for the Jatigede dam in West Java.

At the end of a six-day trip to Beijing last year, Vice President Jusuf Kalla confirmed the Jatigede project (to be the second largest dam in Indonesia after Jatiluhur) would soon be built by China's largest dam building company, Sinohydro Corp.

Our vice president mentioned that large dams built during Soeharto's presidency were successful achievements.

But we must not forget the negative impacts of such large dams on many aspects of human lives. These large dam projects go against the commitments our goverment made to fight global warming at the UNFCCC meeting in Bali last December.

Large dams are large greenhouse gas (GHG) contributors. The World Commission on Dams findings have shown that dam water inundates large tracts of land (including forests, stones of historical sites, housing materials and fields), whose anaerobic reactions from decaying organic material emits greenhouse gases -- which at present contributes up to 28 percent of the world's total emissions.

The International Rivers Network assessed that power dams in the Amazon basin produced up to 45 times more GHG (including methane and carbon dioxide) than by naturally powered plants. As dam turbines churn up the dam water, these GHG's are released into the atmosphere.

The most relevant of domino-effects our government needs to anticipate are the socio-economic impacts of building large dams. Dam construction often creates social conflicts especially between upstream societies who do not need to move, and downstream societies who would receive irrigation benefits.

One of the most controversial issues is compensation for farmers. During Soeharto's time, with 'the national interest' as a pretext, people were often forced into abandoning their land with very little compensation. Kedung Ombo dam is one of the most controversial cases, which involved the World Bank as its main financier.

The people of Tanjung Pauh village who were displaced by the Kotopanjang dam in Riau, were promised rubber trees ready to harvest in several years. It turned out there were no rubber trees. Villagers were cheated for the sake of the Japanese funded dam.

Instead of its predicted lifespan of 100 years, Kedungombo is now not expected to hold water for more than 10 years. Jatigede would in fact be built to cover up the failures of the Jatiluhur dam to irrigate Karawang and Indramayu, as Citarum water catchment area has only been 9 percent left. These all depict that the national history of large dams is worthy to reappraise the worthiness of the government to initiate or continue building other 17 large dams.

The international world has moved forward to the dam decommissioning, de-activation or dismantling policies, especially in Europe and the United States.

In 2000, decommissioning negotiation was made between the Colombian dam builder company and the victimized communities, Embera-Katio people. Out of 2000 large dams built before 1950 in British Columbia, almost two dozens have been dismantled, while proposals have piled up to destroy others, as not functioning as expected, instead endanger water ecosystems.

International Rivers Network believes the trend of river revival as dam decommissioning is likely to go worldwide, as climate change makes the safety of dams and the high cost of retrofitting them a serious argument for decommissioning. (www.internationalrivers.org)

Public Works and Infrastructure and Housing Ministries have actually worked on much more secure and environmental friendly alternative projects to secure irrigation and power, that is micro hydropower.

So, why don't we keep moving forward to reappraise all the large dam projects, turning to undestructive water and power projects?

The writer is a freelance journalist. She can be reached at mariamaei <at> yahoo.com

Post Your Say

Selected comments will be published in the Readers' Forum page of our print newspaper

0 Comments
1 person listening
 
- See more at: http://m.thejakartapost.com/news/2008/05/03/constructing-dams-vs-global-warming.html#sthash.kY7eHrGV.dpuf



__._,_.___
Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Amerika menghancurkan 850 Bendungan Lama Utk Konservasi Sungai - Re: Foto Cihanyir Titik Lemah Potensi Jebol Jatigede - Re: HAL: Re: HAL: Re: [Senyum-ITB] PLTA Kedung Ombo Seluas 6800Ha Hanya Berfungsi 6 Bulan



Yup betul Pak Lukman ternyata mengejutkan informasi dari Pak Irsal di Amerika bendungan lama urugan batu dipugar lalu diganti bendungan beton pre stress.

Bahkan info dari temen di Amrik beberapa bendungan malah dibongkar saja gitu karena menghalangi migrasi Ikan Salmon, ada yg bisa mengkonfirmasi? Menuut info dari National Geographic mah 850 bendungan di Amerika sudah dihancurkan dan dikembalikan kembali kondisi sungainya.

Lucu nya di Indonesia dan Asia ketika Amerika mulai menghancurkan Bendungan lama malah tetap membangun bendungan udah gitu pakai teknologi jadul ya xixixi.... makanya kakek Mamang saja yg tukang nyangkul di sawah... ngetawain... Ini mah yang bikin bendungan Lalawora... (bahasa sunda artinya ngasal/ asal-asalan)... kalau cuman disusun batu udah gitu tanah cuman dibalur2 semen.... lebih kuat bikinan Ki Emun yg ngabalai sisi walungan/ sungai katanya... (ngabalai itu bahasa sunda artinya menyusun batu utk menahan longsor tanah dipinggir sungai atau selokan.

Dari National Geographic:

American Rivers reports that in the United States, nearly 850 dams have been removed in the last 20 years, with more than a hundred removed in 2012 and 2013 alone. "We're at the end of the large dam-building era in this country and the beginning of the river restoration era," says Irvin.

The Glines Canyon Dam, however, is the largest dam to be demolished so far and will likely remain so for some time. The Elwha's location in a national park fueled unusually broad support—and federal funding—for its restoration and simplified the logistics of dam removal. With climate change rendering much of the American West increasingly vulnerable to drought, the region cannot easily give up large dams that provide not only electricity but also water storage.

Meanwhile, hundreds of large dams are planned or under construction in developing countries. Demand for electrical power in urban Thailand, for example, is driving the construction of two large dams on the mainstem of the Mekong River, and nine more large dams are proposed—a cascade that threatens the productivity of the largest freshwater fishery in the world. A recent op-ed in the New York Times calls such large dams "brute-force, Industrial Age artifacts,"  arguing that they not only are environmentally and socially costly but also place huge financial burdens on the countries that build them.

Sumber: http://news.nationalgeographic.com/news/2014/08/140826-elwha-river-dam-removal-salmon-science-olympic/

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com

On Mar 7, 2015 2:17 PM, "Lukman lukeharahap <at> yahoo.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:
 

Jadi kesimpulannya:

Rupanya Bendungan Di Indonesia TIDAK pakai Geotextile dan Prestressed beton.

Hasil diskusi alumni2 SIPIL yg Di Indonesia dan US.

Lukman Harahap

Sent from my iPhone

Begin forwarded message:

From: "Mang Aska dkabayan <at> gmail.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com>
Date: March 6, 2015, 8:29:12 PM MST
To: Senyum-ITB <senyum-itb <at> yahoogroups.com>,  "alumni-ipb <at> yahoogroups.com" <alumni-ipb <at> yahoogroups.com>,  "kabuyutan <at> yahoogroups.com" <kabuyutan <at> yahoogroups.com>
Subject: Foto Cihanyir Titik Lemah Potensi Jebol Jatigede - Re: HAL: Re: HAL: Re: [Senyum-ITB] PLTA Kedung Ombo Seluas 6800Ha Hanya Berfungsi 6 Bulan [3 Attachments]
Reply-To: Senyum-ITB <at> yahoogroups.com

[Attachment(s) from Mang Aska included below]

Sudah pasti ngak pakai Plastik itu dinamakan geotextile yang menurut Pak Irsal sangat Flexible tapi juga sangat kuat buat ngelapisi bawah Danau buatan sehingga tidak bocor ke bawah. Silahkan blusukan langsung berkunjung ke Jatigede dan mengecek langsung kondisi bendungannya. Waktu kunjungan ke Jatigede bareng rekan EL ITB yang peduli Mas Eko Budhi Suprasetiawan, Alumni Indo Sing Jak juga bareng Kang Rahman dari Arsitek Untar. Kami sempet bertanya2, ini aneh nih bendungan kok yg dibendung hanya pas depan muka air sungai Cimanuknya saja dan hanya pakai urugan batu + tipis pula kelihatan pula beberapa lapisan sudah ngelotok apa tahan menahan 1 Milyar m3 air? Kenapa tidak di cor pakai beton semua biar kuat, sudah gitu dinding- dinding bukit disekelilingnya juga seharusnya diperkuat dengan cor beton apalagi pakai pre-stress pasti kuat. 


​Coran Semen Sudah Ambrol Sebelum Digenangi

Nah kondisinya beberapa malah cuman tanah dilapis semen alakadarnya saja terlampir foto semen sudah ngelopas ambrol sebelum diairi :( Lebih parah dinding2 yg disampingnya malah dibiarkan bukit tanah saja tanpa diperkuat apalagi dilapisi tidak dilapisi beton atau penguat.  Nama daerahnya Kampung Cihanyir nah lokasinya dibawah bukit sebelah kanan yang disangkanya kuat nahan bendungan padahal menurut Uga Jatigede air akan mengalir melalui Cihanyir lalu mengarah ke Kadipaten. Lokasi Kadipaten ini memang disebrangnya Cihanyir, jadi kalau dinding Cihanyir ini Jebol air akan mengarah ke Kadipaten, lalu ada juga yang ke Tomo juga dan terus ke Cirebon dan Indramayu.

Berikut berapa kalimat dalam Uga Jatigede, orang non Sunda yg tidak tahu arti Uga boleh menertawakan, tapi bagi kami Urang Sunda Asli Uga itu Sakral,  "Cipelang Cikamayangan, Kadipaten Kapapatenan, Cirebon Kabongbodosan, Tomo Totolomoan, Ujung Jaya Ujung Kajayaan, Warung Peti Tempat Mayit". Nah Cipelang itu sungai Cipelang di Ujung Jaya disana akan kebanjiran kena limpasan air jebolan, Kadipaten ini di Majalengka akan kapapatenan (mendapatkan musibah), terus Cirebon kabongbodosan atau kena getahnya, Tomo akan kena musibah juga dan Ujung Jaya Ujung Kajayaan, Ujung jaya agak tinggi disana nanti kira2 ujung Tsunaminya alias yg sedikit kecipratan air makanya Cipelang Cikamayangan jadi akan sedikit tergenang saja ngayambang kalau bahasa sunda. Nanti orang Ujung Jaya akan melihat prosesi Tsunami Jatigede ini, nah Warung Peti disinilah nanti tempat mayat-2 itu dikumpulkan.

Berikut ini foto rangkaian foto dinding tebing tanah yg tidak diperkuat dibiarkan alami. Diambil fotonya dari dalam bendungan yg akan tergenangi, dinding tanah itu berada disebelah kanan bendungan dan tidak diperkuat serem banget kalau Jebol maka devastating karena Majalengka, Cirebon, Indramayu daerah yg padat penduduk dan banyak Industri Strategis. Mitigasi bencananya harus dipikirkan karena sudah teramalkan dalam Uga. Resiko nya jebol dan harus dipersiapkan agar jangan sampai banyak korban jiwa kalau pemerintah memaksa ingin tetap mencoba-coba iseng seperti si Cepot yang suka bercandaan menggenangi Bendungan Jatigede. 


​Foto panorama bukit tanah titik terlemah bendungan yang berpotensi Jebol

Nah Uga yg sudah terbukti adalah Uga Cinambo, Cinambo adalah nama anak sungai yg mengalir ke Cimanuk, jadi leluhur sudah menamakan nama- nama tempat itu sesuai Uga yang akan terjadi. Mengapa diberi nama Tomo, lalu Kadipaten, lalu Warung Peti, Cipelang, Ujung Jaya, dll semuanya ada maknanya tidak sekedar diberi nama. Leluhur sudah meramalkan dalam Uga Cinambo bahwa Cina Bodo atau China kabobodo, bahwa yg akan membangun bendungan ini adalah Orang China dan terbukti Uangnya LOAN dari China dan kontraktor utamanya Sinohydro, China berfikir gampang membendung Jatigede tahunya sulit dan sampai sekarang belum berhasil lalu kalau jadi digenangi pun ternyata Gagal karena Jebol. World Bank, ADB, Jepang, Perancis, dan Belanda tidak mau membangun Jatigede namun China cuek aja berani karena China Bodo, Uga Cinambo.

Solusi ilmiah Jokowi harus melakukan Audit dengan mengundang ahli dari Teknik Sipil yg Independent, Ahli Bendungan yg Independent, Ahli Geologi, Ahli Tanah, dll utk mengevaluasi kembali Bendungan Jatigede ini. Pastikan para ahlinya adalah orang-2 yang kompeten dan bukan orang-2 yang bisa dibayar oleh Proyek. Seperti kita ketahui di Indonesia mah pan Score Corruption Perception Index nya jeblok, 32 dari 100 yang terbersih artinya masih tergolong negara korup dan apapun bisa dibayar pakai uang :(. DPKLTS Pak Ir Sobirin Ahli Geologi sudah menyampaikan di Kompas bahwa Jatigede Rawan Ambrol.


​Jatigede Rentan Ambrol

Jangan sampai Jokowi salah melangkah malah membiarkan Bendungan Jatigede Jebol walaupun yg memulai adalah Era SBY JK dan konon JK yg waktu itu memulai kembali selayaknya dikaji ulang lagi. SBY pun bahkan tidak mau menandatangani Perpres Jatigede sampai akhir masa jabatannya karena SBY tidak mau kena getahnya dan secara Spiritual SBY tahu UGA JATIGEDE bukan main- main. Nah info dari Teh Lim Mei Ming kontributor Jakarta Post yg selalu membahas Jatigede dulu JK dan TW melihat Threegorgeous Dams di China dan langsung menawarkan China membangun Bendungan Jatigede dan tentusaja mau karena China dapat bunga bank + duit balik ke China karena kontraktornya dari China pula yaitu Sinohydro. BUMN Indonesia termasuk Bukaka adalah kecipratan sebagai Sub Kontraktor.

Setelah tertunda 40 tahun, akhirnya pada Juni 2007 wakil presiden Indoensia, Moh. Jusuf Kalla (PT BUKAKA pemeran penting dalam infrastruktur termasuk PLTA), berkunjung ke China dengan agenda utama ‘meningkatkan pertanian, dan irigasi’. Selain mempelajari cara bertani ala China bersama Tommy Winata yang menyusul dengan helicopter pribadinya, JK melakukan kunjungan ke Bendungan Tiga Ngarai, bendungan terbesar di dunia, dibangun oleh pembangun 80% PLTA di China, Sinohydro Corp., yang membelah S. Yangtze. 

Sumber: http://jatigededamwatch.blogspot.com/2010/09/soekarno-dan-pesona-bendungan-besar-di.html

Konsultan yg mendesign ternyata bukan dari luar negeri ternyata konsultannya lokal dari PT. Indra Karya, BUMN juga yg lagi kena kasus dengan KPK sempat digeledah karena urusan dugaan Mark Up Design PLTA di Papua.

Sumbernya: http://m.tempo.co/read/news/2014/10/28/078617554/KPK-Sita-Lima-Kardus-Dokumen-PT-Indra-Karya

Barnabas Suebu ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pengadaan detailing, engineering, design, Pembangkit Listrik Tenaga Air Sungai Mamberamo Papua tahun anggaran 2009-2010. PT Indra Karya merupakan konsultan proyek itu. General Manager Indra Karya Prasetijo Adi sudah dicegah ke luar negeri. (Baca: Rumah Barnabas Digeledah).

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com

On Mar 6, 2015 11:10 PM, "Irsal Imran irsal2015 <at> gmail.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:
 

Yah, mas Lukman. Plastik itu dinamakan geotextile, sangat
Flexible tapi juga sangat kuat buat ngelapisi bawah
Danau buatan sehingga tidak bocor ke bawah.
Jangan2 bendungan di Indonesia bisa kering pas
Kemarau krn nggak pakai geotextile itu.

Salam,

-irsal, si'83 

Sent from my iPhone

On Mar 5, 2015, at 8:54 PM, Lukman lukeharahap <at> yahoo.com [Senyum-ITB] <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:

 

Bung Irsal LEBIH berenang Dalam soal ini lebih berwenang KARENA dia SIPIL.

Tapi sebagai orang awan, Lukman lihat bendungan2 Di Arizona DASARNYA dan pinggir annya selalu pakai Plastik Besar supaya airnya TIDAK langsung masuk kedalam TANAH atau ENGGA tahu utk APA?

Central Arizona Projek yg PANJANGNYA RATUSAN KM juga Di beton dasar & Pinggirannya.

Tolong koreksi kalau Lukman salah bung Irsal?

Lukman Harahap


Sent from my iPhone

On Mar 5, 2015, at 5:47 PM, "Mang Aska dkabayan <at> gmail.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:

 

Danau buatan namanya kan Bendungan / Dam. Kalau alami namanya Situ atau Danau atau Embung saja. Situ dan Embung biasanya ditempat yg memang secara alami ada mata air alami yg mensupply air ke situ atau embung dan kebetulan secara alami juga berbentuk cekungan. Kalau di Amrik sumber nya tentu tidak hanya mata air tapi juga mencairnya salju juga bisa menjadi sumber air.

Nah kalau bendungan di Indonesia atau Asia yg Tropis... terutama bendungan besar dilakukan dengan cara membendung sungai yg besar kemudian menenggelamkan ribuan Hektar Sawah Subur karena biasanya daerah yg berupa lembah atau cekungan disana justru merupakan daerah subur tempat mengendapnya lapisan2 tanah humpus akibat dari letusan gunung merapi yg membawa material / mineral yg menyuburkan tanah.

Nah menjadi kendala juga ketika sungai yg seharusnya mengalirkan lumpur bercampur mineral ke sawah2 itu ditahan oleh bendungan sehingga justru mineral2 yg dibutuhkan oleh tanah itu malah mengendap di bendungan. Itu yang terjadi dan salah satu yg menjadi masalah walaupun sungai berhasil dibendung namun kondisi tanah dihilir bendungan juga tidak subur.

Selain itu juga merelokasi penduduk dalam jumlah besar contohnya Bendungan Koto Panjang ada 5000an KK yg direlokasi dari tempat subur pindah ke lokasi baru yg tidak subur dan pada akhirnya malah memiskinkan warga masyarakatnya. Jatigede saat ini ada 11.000 KK artinya ada 55.000an orang yg akan kehilangan rumah dan sawahnya yg subur... pindahnya ke hilir bendungan biasanya di lokasi yg tidak subur sehingga akhirnya ya masyarakat semakin miskin. Cara2 yg dilakukan juga ya model Orde Baru dan kemungkinan Jokowi juga akan menggunakan cara2 Orba dengan mengusir penduduk.

Masalahnya kan tidan selesai disana... katakanlah bendungan jadi dibangun... lalu bagaimana nasib 11.000 KK itu apakah akan dibiarkan terlantar nasibnya. Yang ada akan menambah kemiskinan, kriminalitas, dll.

Terlampir publikasi ilmiah yg mengulas beberapa kegagalan bendungan di Asia yg didanai oleh Pemerintah Jepang... Salah satunya Bendungan Koto Panjang.

Kalau di Amerika salah satu masalah bendungan adalah bendungan yg membendung sungai telah menghalangi migrasi ikan salmon.

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com

 

Sebetulnya bukan itu mas. Di setiap bendungan besar
Amerika mereka bikin danau buatan yg besar dan
Bisa dipakai sebagai tempat rekreasi sambil duduk2
Di tepi danau menggoyang-goyangkan kaki dan menangkap ikan. Dg begitu mereka Bisa memanej air sehingga tidak pernah kering. 

Salam,

-irsal, si'83 

Sent from my iPhone

On Mar 5, 2015, at 3:45 PM, Iwan Gunawan iwg459 <at> yahoo.com [Senyum-ITB] <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:

 

Bendung di perbatasan Arizona-Nevada terletak di sungai Colorado. Banyak bendung di sungai ini. Sungai Colorado membentang mulai dari Rocky Mountains di utara dan bermuara di Gulf California di selatan. Membentang sejauh lebih dari 2,300 km, dua kali panjang pulau Jawa.

Sumber air sungai ini hampir 90% berasal dari : snowmelt !

Pantes aja hujan yang cuma 5 hari setahun tidak banyak mempengaruhi debit sungai Colorado.

Sumber data : wikipedia.


Salam,
IWG

On 5 Mar 2015, at 12:53, "Lukman lukeharahap <at> yahoo.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:

 

Saya setuju dgn statement bung Irsal dan sama2 tinggal Di Arizona.

Apakah Ada alumni2 yg AHLI bendungan bisa JAWAB?

Lukman Harahap


Sent from my iPhone

On Mar 4, 2015, at 6:07 PM, "Irsal Imran

Sent from my iPhone

On Mar 6, 2015, at 8:29 PM, "Mang Aska dkabayan <at> gmail.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:

 

Sudah pasti ngak pakai Plastik itu dinamakan geotextile yang menurut Pak Irsal sangat Flexible tapi juga sangat kuat buat ngelapisi bawah Danau buatan sehingga tidak bocor ke bawah. Silahkan blusukan langsung berkunjung ke Jatigede dan mengecek langsung kondisi bendungannya. Waktu kunjungan ke Jatigede bareng rekan EL ITB yang peduli Mas Eko Budhi Suprasetiawan, Alumni Indo Sing Jak juga bareng Kang Rahman dari Arsitek Untar. Kami sempet bertanya2, ini aneh nih bendungan kok yg dibendung hanya pas depan muka air sungai Cimanuknya saja dan hanya pakai urugan batu + tipis pula kelihatan pula beberapa lapisan sudah ngelotok apa tahan menahan 1 Milyar m3 air? Kenapa tidak di cor pakai beton semua biar kuat, sudah gitu dinding- dinding bukit disekelilingnya juga seharusnya diperkuat dengan cor beton apalagi pakai pre-stress pasti kuat. 

<SemenSudahMulaiAmbrolBelumDiairi.jpg>

​Coran Semen Sudah Ambrol Sebelum Digenangi

Nah kondisinya beberapa malah cuman tanah dilapis semen alakadarnya saja terlampir foto semen sudah ngelopas ambrol sebelum diairi :( Lebih parah dinding2 yg disampingnya malah dibiarkan bukit tanah saja tanpa diperkuat apalagi dilapisi tidak dilapisi beton atau penguat.  Nama daerahnya Kampung Cihanyir nah lokasinya dibawah bukit sebelah kanan yang disangkanya kuat nahan bendungan padahal menurut Uga Jatigede air akan mengalir melalui Cihanyir lalu mengarah ke Kadipaten. Lokasi Kadipaten ini memang disebrangnya Cihanyir, jadi kalau dinding Cihanyir ini Jebol air akan mengarah ke Kadipaten, lalu ada juga yang ke Tomo juga dan terus ke Cirebon dan Indramayu.

Berikut berapa kalimat dalam Uga Jatigede, orang non Sunda yg tidak tahu arti Uga boleh menertawakan, tapi bagi kami Urang Sunda Asli Uga itu Sakral,  "Cipelang Cikamayangan, Kadipaten Kapapatenan, Cirebon Kabongbodosan, Tomo Totolomoan, Ujung Jaya Ujung Kajayaan, Warung Peti Tempat Mayit". Nah Cipelang itu sungai Cipelang di Ujung Jaya disana akan kebanjiran kena limpasan air jebolan, Kadipaten ini di Majalengka akan kapapatenan (mendapatkan musibah), terus Cirebon kabongbodosan atau kena getahnya, Tomo akan kena musibah juga dan Ujung Jaya Ujung Kajayaan, Ujung jaya agak tinggi disana nanti kira2 ujung Tsunaminya alias yg sedikit kecipratan air makanya Cipelang Cikamayangan jadi akan sedikit tergenang saja ngayambang kalau bahasa sunda. Nanti orang Ujung Jaya akan melihat prosesi Tsunami Jatigede ini, nah Warung Peti disinilah nanti tempat mayat-2 itu dikumpulkan.

Berikut ini foto rangkaian foto dinding tebing tanah yg tidak diperkuat dibiarkan alami. Diambil fotonya dari dalam bendungan yg akan tergenangi, dinding tanah itu berada disebelah kanan bendungan dan tidak diperkuat serem banget kalau Jebol maka devastating karena Majalengka, Cirebon, Indramayu daerah yg padat penduduk dan banyak Industri Strategis. Mitigasi bencananya harus dipikirkan karena sudah teramalkan dalam Uga. Resiko nya jebol dan harus dipersiapkan agar jangan sampai banyak korban jiwa kalau pemerintah memaksa ingin tetap mencoba-coba iseng seperti si Cepot yang suka bercandaan menggenangi Bendungan Jatigede. 

<CihanyirTitikLemahBendunganJatigede.jpg>

​Foto panorama bukit tanah titik terlemah bendungan yang berpotensi Jebol

Nah Uga yg sudah terbukti adalah Uga Cinambo, Cinambo adalah nama anak sungai yg mengalir ke Cimanuk, jadi leluhur sudah menamakan nama- nama tempat itu sesuai Uga yang akan terjadi. Mengapa diberi nama Tomo, lalu Kadipaten, lalu Warung Peti, Cipelang, Ujung Jaya, dll semuanya ada maknanya tidak sekedar diberi nama. Leluhur sudah meramalkan dalam Uga Cinambo bahwa Cina Bodo atau China kabobodo, bahwa yg akan membangun bendungan ini adalah Orang China dan terbukti Uangnya LOAN dari China dan kontraktor utamanya Sinohydro, China berfikir gampang membendung Jatigede tahunya sulit dan sampai sekarang belum berhasil lalu kalau jadi digenangi pun ternyata Gagal karena Jebol. World Bank, ADB, Jepang, Perancis, dan Belanda tidak mau membangun Jatigede namun China cuek aja berani karena China Bodo, Uga Cinambo.

Solusi ilmiah Jokowi harus melakukan Audit dengan mengundang ahli dari Teknik Sipil yg Independent, Ahli Bendungan yg Independent, Ahli Geologi, Ahli Tanah, dll utk mengevaluasi kembali Bendungan Jatigede ini. Pastikan para ahlinya adalah orang-2 yang kompeten dan bukan orang-2 yang bisa dibayar oleh Proyek. Seperti kita ketahui di Indonesia mah pan Score Corruption Perception Index nya jeblok, 32 dari 100 yang terbersih artinya masih tergolong negara korup dan apapun bisa dibayar pakai uang :(. DPKLTS Pak Ir Sobirin Ahli Geologi sudah menyampaikan di Kompas bahwa Jatigede Rawan Ambrol.

<JatigedeRawanAmbrol.jpg>

​Jatigede Rentan Ambrol

Jangan sampai Jokowi salah melangkah malah membiarkan Bendungan Jatigede Jebol walaupun yg memulai adalah Era SBY JK dan konon JK yg waktu itu memulai kembali selayaknya dikaji ulang lagi. SBY pun bahkan tidak mau menandatangani Perpres Jatigede sampai akhir masa jabatannya karena SBY tidak mau kena getahnya dan secara Spiritual SBY tahu UGA JATIGEDE bukan main- main. Nah info dari Teh Lim Mei Ming kontributor Jakarta Post yg selalu membahas Jatigede dulu JK dan TW melihat Threegorgeous Dams di China dan langsung menawarkan China membangun Bendungan Jatigede dan tentusaja mau karena China dapat bunga bank + duit balik ke China karena kontraktornya dari China pula yaitu Sinohydro. BUMN Indonesia termasuk Bukaka adalah kecipratan sebagai Sub Kontraktor.

Setelah tertunda 40 tahun, akhirnya pada Juni 2007 wakil presiden Indoensia, Moh. Jusuf Kalla (PT BUKAKA pemeran penting dalam infrastruktur termasuk PLTA), berkunjung ke China dengan agenda utama ‘meningkatkan pertanian, dan irigasi’. Selain mempelajari cara bertani ala China bersama Tommy Winata yang menyusul dengan helicopter pribadinya, JK melakukan kunjungan ke Bendungan Tiga Ngarai, bendungan terbesar di dunia, dibangun oleh pembangun 80% PLTA di China, Sinohydro Corp., yang membelah S. Yangtze.

Sumber: http://jatigededamwatch.blogspot.com/2010/09/soekarno-dan-pesona-bendungan-besar-di.html

Konsultan yg mendesign ternyata bukan dari luar negeri ternyata konsultannya lokal dari PT. Indra Karya, BUMN juga yg lagi kena kasus dengan KPK sempat digeledah karena urusan dugaan Mark Up Design PLTA di Papua.

Sumbernya: http://m.tempo.co/read/news/2014/10/28/078617554/KPK-Sita-Lima-Kardus-Dokumen-PT-Indra-Karya

Barnabas Suebu ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pengadaan detailing, engineering, design, Pembangkit Listrik Tenaga Air Sungai Mamberamo Papua tahun anggaran 2009-2010. PT Indra Karya merupakan konsultan proyek itu. General Manager Indra Karya Prasetijo Adi sudah dicegah ke luar negeri. (Baca: Rumah Barnabas Digeledah).

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com

On Mar 6, 2015 11:10 PM, "Irsal Imran irsal2015 <at> gmail.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:
 

Yah, mas Lukman. Plastik itu dinamakan geotextile, sangat
Flexible tapi juga sangat kuat buat ngelapisi bawah
Danau buatan sehingga tidak bocor ke bawah.
Jangan2 bendungan di Indonesia bisa kering pas
Kemarau krn nggak pakai geotextile itu.

Salam,

-irsal, si'83 

Sent from my iPhone

On Mar 5, 2015, at 8:54 PM, Lukman lukeharahap <at> yahoo.com [Senyum-ITB] <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:

 

Bung Irsal LEBIH berenang Dalam soal ini lebih berwenang KARENA dia SIPIL.

Tapi sebagai orang awan, Lukman lihat bendungan2 Di Arizona DASARNYA dan pinggir annya selalu pakai Plastik Besar supaya airnya TIDAK langsung masuk kedalam TANAH atau ENGGA tahu utk APA?

Central Arizona Projek yg PANJANGNYA RATUSAN KM juga Di beton dasar & Pinggirannya.

Tolong koreksi kalau Lukman salah bung Irsal?

Lukman Harahap


Sent from my iPhone

On Mar 5, 2015, at 5:47 PM, "Mang Aska dkabayan <at> gmail.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:

 

Danau buatan namanya kan Bendungan / Dam. Kalau alami namanya Situ atau Danau atau Embung saja. Situ dan Embung biasanya ditempat yg memang secara alami ada mata air alami yg mensupply air ke situ atau embung dan kebetulan secara alami juga berbentuk cekungan. Kalau di Amrik sumber nya tentu tidak hanya mata air tapi juga mencairnya salju juga bisa menjadi sumber air.

Nah kalau bendungan di Indonesia atau Asia yg Tropis... terutama bendungan besar dilakukan dengan cara membendung sungai yg besar kemudian menenggelamkan ribuan Hektar Sawah Subur karena biasanya daerah yg berupa lembah atau cekungan disana justru merupakan daerah subur tempat mengendapnya lapisan2 tanah humpus akibat dari letusan gunung merapi yg membawa material / mineral yg menyuburkan tanah.

Nah menjadi kendala juga ketika sungai yg seharusnya mengalirkan lumpur bercampur mineral ke sawah2 itu ditahan oleh bendungan sehingga justru mineral2 yg dibutuhkan oleh tanah itu malah mengendap di bendungan. Itu yang terjadi dan salah satu yg menjadi masalah walaupun sungai berhasil dibendung namun kondisi tanah dihilir bendungan juga tidak subur.

Selain itu juga merelokasi penduduk dalam jumlah besar contohnya Bendungan Koto Panjang ada 5000an KK yg direlokasi dari tempat subur pindah ke lokasi baru yg tidak subur dan pada akhirnya malah memiskinkan warga masyarakatnya. Jatigede saat ini ada 11.000 KK artinya ada 55.000an orang yg akan kehilangan rumah dan sawahnya yg subur... pindahnya ke hilir bendungan biasanya di lokasi yg tidak subur sehingga akhirnya ya masyarakat semakin miskin. Cara2 yg dilakukan juga ya model Orde Baru dan kemungkinan Jokowi juga akan menggunakan cara2 Orba dengan mengusir penduduk.

Masalahnya kan tidan selesai disana... katakanlah bendungan jadi dibangun... lalu bagaimana nasib 11.000 KK itu apakah akan dibiarkan terlantar nasibnya. Yang ada akan menambah kemiskinan, kriminalitas, dll.

Terlampir publikasi ilmiah yg mengulas beberapa kegagalan bendungan di Asia yg didanai oleh Pemerintah Jepang... Salah satunya Bendungan Koto Panjang.

Kalau di Amerika salah satu masalah bendungan adalah bendungan yg membendung sungai telah menghalangi migrasi ikan salmon.

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com

 

Sebetulnya bukan itu mas. Di setiap bendungan besar
Amerika mereka bikin danau buatan yg besar dan
Bisa dipakai sebagai tempat rekreasi sambil duduk2
Di tepi danau menggoyang-goyangkan kaki dan menangkap ikan. Dg begitu mereka Bisa memanej air sehingga tidak pernah kering. 

Salam,

-irsal, si'83 

Sent from my iPhone

On Mar 5, 2015, at 3:45 PM, Iwan Gunawan iwg459 <at> yahoo.com [Senyum-ITB] <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:

 

Bendung di perbatasan Arizona-Nevada terletak di sungai Colorado. Banyak bendung di sungai ini. Sungai Colorado membentang mulai dari Rocky Mountains di utara dan bermuara di Gulf California di selatan. Membentang sejauh lebih dari 2,300 km, dua kali panjang pulau Jawa.

Sumber air sungai ini hampir 90% berasal dari : snowmelt !

Pantes aja hujan yang cuma 5 hari setahun tidak banyak mempengaruhi debit sungai Colorado.

Sumber data : wikipedia.


Salam,
IWG

On 5 Mar 2015, at 12:53, "Lukman lukeharahap <at> yahoo.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:

 

Saya setuju dgn statement bung Irsal dan sama2 tinggal Di Arizona.

Apakah Ada alumni2 yg AHLI bendungan bisa JAWAB?

Lukman Harahap


Sent from my iPhone

On Mar 4, 2015, at 6:07 PM, "Irsal Imran irsal2015 <at> gmail.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:

 

Di Arizona atau Nevada yg hujan cuman 5 hari setahun,
Bendungannya tidak pernah kering dan selalu menghasilkan
Listrik yg stabil jumlahnya. Kalau bendungan di indonesia yg
Hujan nya bejibun bisa kering, pasti ada yang salah dalam
Mengelolanya, bukan kesalahan bendungan, tapi orangnya<emoji_u1f604.png><emoji_u1f61c.png><emoji_u1f600.png>.

Salam,

-irsal, si'83 

Sent from my iPhone

On Mar 4, 2015, at 4:49 PM, spjanto_atmodjo spjanto_atmodjo <at> yahoo.co.id [Senyum-ITB] <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:

 

Rakyat berkorban pasti, tujuan pembangunan....manfaat harus lebih besar dari harga pengorbanan.Kerusakan lingkungan di hulu...itu yg mengurangi azas manfaat...itu yg harus di kupas...yg serakah merusak lingkungan di hulu siapa.
Sangat tdk sederhana




Terkirim dari tablet Samsung

"Mang Aska dkabayan <at> gmail.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> menulis:
 

Udah ada jawabannya di bawah... musim kemarau bendungan kering... tidak sebanding dengan pengorbanan masyarakat yg dimiskinkan dengan adanya bendungan.

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com

On Mar 3, 2015 10:06 AM, "spjanto_atmodjo spjanto_atmodjo <at> yahoo.co.id [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:
 

Coba cek...sebagai pengendali luapan bengawan solo saat musim hujan
Dan sbg sumber air utk irigasi dan kebutuhan masyarakat saat musim kemarau
Kalau kedua jawabannya yes
Maka waduk kedung ombo masih sesuai tujuan dan masih bermanfaat
Plta itu hanya komplementer saja




Terkirim dari tablet Samsung

"'KPP.H Murdowinoto Bambang SSM' murdowinoto <at> gmail.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> menulis:
 

Mang Aska .... jajanan Jawa diatas masih ada semua sd hari ini .... silahkan ke Jogja Sala Semarang mudah didapatkan.

Murdokusumo/MAB94

On Feb 17, 2015 12:04 PM, "Mang Aska dkabayan <at> gmail.com [Senyum-ITB]" <Senyum-ITB <at> yahoogroups.com> wrote:
 

Jatigede untuk siapa?

PLTA Kedung Ombo hanya berfungsi 6 bulan dalam setahun karena musim hujan Bendungan sedang mengisi air akibat kekeringan sebelumnya, setelah musim hujan hampir berakhir air bendungan penuh dan setelah mencapai ketinggian yang diharapkan oleh PLTA mulai dialirkan dan bisa memutarkan turbin.

Ide memompa kembali ke bendungan apakah masuk akal? Artinya air tidak bisa mengaliri saluran irigasi yang diharapkan oleh masyarakat? Pompa air akan hanya menambah tambahan proyek pengadaan pompa air pada akhirnya frown emoticon.

http://jusufkalla.info/archives/2014/12/07/wapres-carikan-solusi-plta-kedung-ombo/

Wapres mengatakan, dari hasil tinjauannya, PLTA hanya dapat beroperasi selama enam bulan yaitu saat musim panas (kering). Hal ini karena saat musim penghujan, waduk tidak dialirkan ke bawah, namun hanya menampung air. Sementara para petani menjadikan air hujan sebagai pengairannya. Hal ini menurutnya tentu kurang optimal bagi penyediaan listrik, sebab selama enam bulan harus berhenti.

“Kedung Ombo, saya mengetahui, hanya bisa dipakai saat musim kering. Itu berarti enam bulan diam. Kenapa tidak dipompa ke atas lagi? Sekarang tutup kalau musim hujan. Justru musim hujan PLTA ini tidak berfungsi,” ungkap Wapres.

Menurut Wapres, kondisi ini sebenarnya dapat dicarikan solusinya, dengan membuat pompa di penampungan air bawah. Sehingga dengan demikian, air dari waduk terus mengalir dan PLTA pun berfungsi sepanjang tahun. Makanya, Wapres dalam kesempatan itu juga berpesan kepada jajaran proyek PLTA Karangkates untuk dapat memikirkannya, agar PLTA tersebut dapat bekerja lebih optimal.
Akan kah Tragedi Kedung Ombo terulang di Jatigede?



__._,_.___
Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Oh KPK, Disitu sy merasa sedih :(



Satu hal yg tidak bisa dipungkiri dan disitu sy merasa sedih itu karena sangat telak adalah Jokowi membiarkan KPK terombang-ambing dihajar sedemikian sehingga PLT Ketua KPK pun berteriak "disitu sy merasa kalah"... rasanya kok kurang etis ya... sebagai seorang leader tidak sepantasnya menurunkan semangat juang yg di lead nya.

Mamang jadi inget filem Cleopatra ketika dia berperang dgn pasukan Romawi... dan tahu pasukannya akan kalah karena memang kalah jumlah dlsb...tapi satu hal dia tetap berdiri tegak dan selalu tegar dan memberikan semangat bahwa kita akan terus berjuang dan berusaha memenangkan peperangan ini. Tidak ada opsi ataupun ada raut muka atau mimik yg mengungkapkan disitu Cleopatra merasa kalah... yg ada tetap tidak "komeok memeh dipacok" hehehe. Pada akhirnya Cleopatra lah yg bisa menaklukan Cesar Romawi dengan kecantikannya xixixi.

Tidak terbayangkan bagaimana kondisi internal KPK ketika leadernya membuat statement "disitu sy merasa kalah" beuuuuuuuh kalau ente sudah merasa kalah... mundur aja lah... ganti yg punya WINING Spirit biar semua tim bersemangat untuk menang!

Jokowi secara politis kalah telak dari SBY.... yang walaupun SBY dihina sebagai Jendral yg galau dan lemah... namun dalam beberapa Hal SBY berani membela KPK!

Abraham Samad dan Bambang Wijayanto mungkin bukan malaikat tapi dalam masa kepemimpinan mereka KPK telah mengguncang... they rock!

Cek aja kasus2 yg mereka  berhasil ungkap dari mulai Hambalang, Sapi, Migas, Haji, Al Quran, Dinasti Banten, Pajak, Polisi, dll... banyak success story-nya...

Dalam sekejap harapan Masyarakat Indonesia yg menginginkan negara yg bersih itu kemudian pudar dihancurkan oleh Presiden sendiri yg membiarkan KPK dihajar babak belur sampe PLT yang diangkat Presiden pun mengibarkan bendera putih.... "Disitu sy merasa kalah".... disitu pula Mamang pada akhirnya merasa sedih.

Teeeerlaaaaluuu... SBY pun saat ini berani berkicau...." Penakh Jaman Ku Tho".

Terima kasih SBY walaupun diejek Jendral Galau tapi ternyata banyak yg lebih galau hehehe.

Jokowi semakin kelelep sejalan dengan Perpres No. 1 Jatigede tahun 2015 yg ngalelepkeun Kabuyutan!

Sesuai Amanah Galunggung... apalagi yang akan ditenggelamkan adalah Kabuyutannya Ki Balangantrang Abad ke-7 M yang merupakan Patih Galuh Purba... Galunggung ~ Galuh Hyang Agung... Amanah Galunggung Resi Darmasiksa Abad ke-12 M yg nenurunkan termasuk Raja2 Majapahit menyampaikan.... "Pemimpin yg tidak bisa menjaga kabuyutannya lebih hina dari kulit musang yg dibuang ke tempat sampah"!

Jokowi sekarang nasibnya sudah mulai TERHINA... banyak dicemooh oleh masyarakat yg dipimpinnya!

Jokowi a new hope....less!

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com



__._,_.___
Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Yuddy Chrisnandi Bukan Urang Sunda!



Aneh- aneh aja nih MENPAN kok ngurusin Waduk xixixi... Menteri PU apakah sudah tidak mampu ya? Menteri PU PERA konon produk gagal karena gosipnya PIMPRO SEJUTA LAHAN GAMBUT yang gagal itu hehehe... Sebelumnya Andrinof Cingoggo juga sama koar-2 Juni Siap Digenangi.... Sok atuh lah jangan banyak cingcong kalau bisa dan mampu mah pemerintah segera tenggelamin Jatigede biar buru-2 Jebol Bendungannya trus Jokowi didemo dan diturunkan dari Presidennya. Hatta Rajasa aja yang koar-2 mau mempercepat Jatigede udah kalah pilpres... kalah juga dipemilihan Ketum PAN hehehe. Jokowi sekarang mukanya aja udah asem... ngak bisa lagi cengengesan di TV xixixi. Diolok- olok tidak hanya lawan politiknya tapi juga musuh-2 politiknya.

Yuddy Chrisnandi juga tolong ya jangan ngaku- ngaku Orang Sunda ya... karena Yuddy Chrisnandi bukan Urang Sunda karena kalau Urang Sunda beneran mah bukan yang abal-abal dan ngaku- ngaku Sunda tidak akan menenggelamkan Situs Cagar Budaya dan Kabuyutan Peninggalan Leluhur Sunda! Yuddy Chrisnandi mah ngaku Orang JAWA BARAT saja sama seperti AHER hehehe... Jangan pernah ngaku Urang Sunda ya... Malu sama Leluhur lah!

Ganti Rugi Waduk Jatigede Bisa dari Penghematan Rapat di Hotel


Liputan6.com, Jakarta - Program penyediaan irigasi di daerah Jawa Barat melalui proyek pembangunan [Waduk Jatigede](Waduk Jatigede ""), Sumedang, Jawa Barat, hingga saat ini belum juga bisa berjalan karena masalah ganti rugi lahan dan pemindahan penduduk sekitar. Padahal proyek ini sudah berjalan puluhan tahun lalu.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Refomasi Birokrasi (PAN-RB) Yuddy Chrisnandi menyatakan bahwa penolakan masyarakat sekitar terhadap proyek ini lantaran kurangnya sosiasasi dampak lingkungan.

"Jatigede ditolak karena analisis dampak lingkungannya yang belum tersoasialisasikan," ujarnya dalam acara Golf Gathering IKA MM FEB Unpad, di Jakarta, Minggu (1/3/2015).

Selain itu, mandeknya pengoperasian waduk ini karena masalah ganti rugi lahan masyarakat sekitar yang selama ini sulit mencapai titik temu. "Juga adanya keinginan masyarakat untuk mendapatkan uang kompensasi yang lebih. Jadi anggaran yang disediakan Rp 680 miliar. Sedangkan permintaan masyarakat terus naik hampir Rp 1 triliun," lanjutnya.

Namun, menurut Yuddy masalah anggaran ini seharusnya sudah tidak lagi menjadi masalah. Hal ini karena pemerintah telah mempunyai anggaran lebih akibat dari penghematan yang dilakukan seperti penghematan dari larangan menggelar rapat di luar kantor.

"Untuk bangun bendungan Jati gede sudah 25 tahun lebih saja Rp 1,2 triliun. Dengan tidak rapat di hotel ada uang penghematan Rp 5,1 triliun, kita kasihkan jadi itu waduk. Ini saja berarti bisa buat empat bendungan (waduk) dan berapa ribu saluran irigasi, manfaatnya besar," tandasnya.

Sebenarnya proses pembangunan fisik Waduk Jatigede sebenarnya sudah mencapai 90 persen. Namun waduk ini belum bisa difungsikan karena masih terkendala pembebasan lahan dan pemindahan penduduk sekitar.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) menargetkan pengairan atau penggenangan Waduk Jatigede, akan terlaksana pada Juli 2015. Target ini molor dari perkiraan pemerintah pusat yang menyatakan di Desember 2014.

Gubernur Jabar Ahmad Heriawan, setelah ganti rugi selesai pada Januari 2015, proses selanjutnya adalah memindahkan situs bersejarah, gardu-gardu PLN, pembongkaran rumah dan memindahkan hutan seluas 1.300 hektare (ha) dengan 860 ribu pohon perlu ditebang.

Pemerintah telah mencarikan lahan pengganti untuk hutan seluas 1.300 ha milik Perhutani. "Sebagian sudah tersedia di kawasan Sumedang, dan sebagian lagi kita masih carikan," ujar Ahmad Heriawan.

Pemerintah menyediakan rumah sebanyak 664 unit tipe 36 untuk menampung warga. Pemerintah Provinsi mendapatkan hibah rumah itu dari pemerintah pusat. Sayang, katanya, rata-rata warga enggan menempatinya. (Dny/Gdn)

Sumber: http://bisnis.liputan6.com/read/2183742/ganti-rugi-waduk-jatigede-bisa-dari-penghematan-rapat-di-hotel


__._,_.___
Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Dollar 13rb, Beras 11rb, BBM naek 200, Hutang?



http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/03/02/163300126/Pengamat.Rupiah.Terus.Melorot.Kita.Bisa.Jadi.Negara.Kere.Lagi

Tahun 96 pasca Suharto tanda tangan pepres Jatigede dollar mulai merangkak naek dari 2000 naik terus dampe nyentuh 16.000 dan 1998 Krismon dan Suharto Tumbang.

Tahun 2015 Jokowi tanda tangan Perpres Jatigede mulai deh:
- KPK Vs Polri rame terus negara riweuh Jokowi dicemooh oleh pendukungnya.
- Dollar tembus 13.000
- Freeport diperpanjang
- BBM turun naik membingungkan rakyat... mulai naek lagi 200
- Harga Beras 11.000
- Gas Elpiji Langka
- Banjir tembus ke Istana
- Urusan Ahok DPRD bikin riweuh karena ahok membongkar kasus UPS di APBD 2014 yg justru pada masa Jokowi sama membongkar bobrok sendiri.
- Jokowi infonya mau nambah hutang baru?

Riweuuuuh.... SBY dan Demokrat makin berkibar... JK makin berharap Jokowi segera tumbang biar JK bisa jadi Presiden.

Kalau berkaca dari kasus Tumbangnya Suharto... apakah 2 tahun dari sekarang Jokowi akan tumbang juga?

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com



__._,_.___
Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Menanam Pohon di DAS Cimanuk, Jatigede Hijau [15 Attachments]

[Attachment(s) from Mang Aska included below]

Dear All,
Alhamdulillah pada tanggal 21 - 22 Februari 2015 tidak kurang 40 orang dari berbagai penjuru Indonesia ada dari Riau, Padang, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan lainnya datang ke Kabuyutan Cipaku mengikuti kegiatan Tour Jatigede dan menanam bibit pohon sumbangan dari Sahabat Pohon. Mereka datang dan berbaur dengan warga masyarakat Kabuyutan Cipaku dan juga anak2 SDN Cipaku Darmaraja Sumedang ikut menanam pohon di DAS Cimanuk Sungai Cibayawak dekat dengan Hutan Larangan Cipeueut Aji Putih yang merupakan Situs Cagar Budaya yg terancam akan ditenggelamkan oleh bendungan yang takabur.

Alhamdulillah anak2 sangat antusias mengikuti kegiatan menanam ini dan mudah2an mereka dapat tercerahkan/ terinspirasi menjaga kelestarian Hutan sebagai sumber mata air. Anak2 adalah calon generasi penerus yang kelak akan menggantikan pemerintah yang mana saat ini yang sedang Dzalim mulai membabat 1389Ha Hutan Jatigede demi membangun bendungan penampung air.

Apabila Air yang dibutuhkan oleh pemerintah seharusnya tidak membangun bendungan dan membabat ribuan Ha Hutan seharusnya justru menghijaukan hutan2 dan gunung2 yg berada di huli sungai baik sungai cimanuk maupun sungai yang lainnya. Hutan hijau pasokan sumber air bersih terjamin karena mata air terus mengalir tiada henti. No Forest, No Water, No Future!

Berikut ini foto2 nya... semoga kelestarian Situs2 Cagar Budaya Kabuyutan Cipaku tetap terjaga.

Alhamdulillah Save Jatigede minggu ini sudah lebih dari 1000 orang yg LIKE dan terus bertambah, semoga Jokowi terketuk hatinya untuk berkunjung dan melihat langsung Kabuyutan Cipaku yg merupakan Baduynya Sumedang.

Save Kabuyutan, Save The World, SaveJatigede!

www.facebook.com/savejatigede/

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com



__._,_.___

Attachment(s) from Mang Aska | View attachments on the web

10 of 15 Photo(s) (View all Photos)

Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Pagar Istana Bogor Batal Digeser karena Jokowi Minta Perhatikan Nilai "Heritage"



Membaca article di bawah ini merupakan angin segar untuk Save Jatigede, mudah-2an Jokowi juga tidak melupakan nilai HERITAGE/ Sejarah Kabuyutan Cipaku dan 25 Situs Cagar Budaya yang terancam ditenggelamkan oleh Bendungan Jatigede, Situs Cagar Budaya melekat pada tempatnya tidak bisa dipindahkan. Bendungan bisa dirubah fungsi dan intensitasnya tanpa harus menenggelamkan Situs-2 Cagar Budaya yang ada disana.

Jokowi a NEW HOPE? amiiiin.


Sumber: http://regional.kompas.com/read/2015/02/19/22030001/Pagar.Istana.Bogor.Batal.Digeser.karena.Jokowi.Minta.Perhatikan.Nilai.Heritage

BOGOR, KOMPAS.com - Penggeseran pagar Istana Kepresidenan Bogor hingga saat ini masih gagal dilakukan. Alasannya, karena Presiden Joko Widodo meminta agar dalam melakukan penataan harus memperhatikan nilai sejarahnya.

"Dalam pertemuan dengan Pak Presiden tidak membicarakan soal penggeseran pagar istana. Karena beliau (Jokowi) menitikberatkan bahwa penataan harus menjaga heritage dan nilai sejarahnya," ucap Walikota Bogor, Bima Arya Sugiarto, Kamis (19/02/2015).

Bima mengaku, pertemuannya dengan Jokowi di Istana Bogor kemarin membahas berbagai hal. Pembahasan itu mulai dari penataan transportasi dan kesiapan berbagai sarana dan prasarana untuk melakukan penataan kota.

"Pak Jokowi sangat peduli dengan Kota Bogor sebagai kota pusaka. Kepada Presiden, saya sampaikan beberapa hal yang perlu diselesaikan, seperti kemacetan, pengadaan bus transpakuan, perbaikan pedestrian, dan revitalisasi pasar. Itu semua dicatat oleh presiden dan akan dikoordinasikan dengan pemerintah pusat," kata Bima.

Seperti diketahui, Pemerintah Kota Bogor berencana akan menggeser pagar Istana Bogor sebagai langkah untuk mengurangi kemacetan. Bima juga berencana untuk melebarkan pedestrian yang berada di sekeliling Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor agar banyak warga yang memilih berjalan kaki dan menggunakan sepeda.

Memang, sebelum bertemu dengan Presiden, orang nomor satu di kota Bogor itu telah lebih dulu bertemu dengan para tokoh budaya Kota Bogor untuk membahas masalah rencana penggeseran pagar Istana. Anggarannya pun sudah disetujui oleh DPRD Kota Bogor sebesar Rp. 6,7 miliar.

Namun saat disampaikan ke Presiden, rencana itu tidak disetujui. Alasan Jokowi, karena dirinya tidak ingin menghilangkan nilai sejarah.




__._,_.___
Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Overnight at Kabuyutan Cipaku



http://wibowowibisono.com/blog/54-kabuyutan-cipaku

Kabuyutan Cipaku
posted under Blog pada : 31/01/2015 23:37:47

“The idea of staying at a house of someone living in a village has always thrilled me. Ever since I did that for the first time in Pangalengan, West Java, four years ago, I have always looked forward to get such opportunity.

Lucky for me, good news came from Ramala, a friend of mine from college. She told me about a traditional old village named Kabuyutan Cipaku, located somewhere in the regency of Sumedang, West Java Province, and came up with an idea of home staying for a couple of days in that place.

There is nothing really outstanding about the village except the fact that the people still preserve some of their traditional houses, and we still can find some ancient archeological sites and artifacts dating back to the time when the teaching of Islam hadn’t penetrated West Java.

Over the last few decades, the village has been threatened of losing its existence due to the Indonesia’s government plan of building a dam to generate power for electricity and also to irrigate the rice fields in the region. I was curious to find out how the people managed to survive, even until lately, when the issue of the demolition came out after disappeared for a few years. Together with Ramala and Gilang, also a friend from college, I visited this village early this year”

Sincere was the first word coming to my head when Teh Awang, a thirty six year old woman, gave us a warm welcome in the morning we arrived at her house. She was so friendly we soon felt like at home. We were going to stay at her house overnight.

Like any other typical traditional house in South East Asia, the house was built on stilts, only lower. All the floors and walls were dominated with timber planks and bamboo, and that allowed the air to circulate very well inside the house. It didn’t take long for us to fall asleep as we lay back on the floor made of bamboo blade.

Today, we still could see some traditional architecture rooted to the time when the only materials they recognized were woods, bamboos, and big chunk of volcanic stones. Originally, their traditional architecture doesn’t use glass and roof tiles. The houses I saw that day had been modified according to the current taste.

Basically, these were typical Sundanese houses. The same style could be also found in some traditional villages spread all over West Java Province. The most authentic ones I had seen were in Inner Baduy, an isolated village located deep in the tropical forest of Banten Province.

The only traditional architecture that remained original was the barns. I had no idea how many cows they had inside the barns, but I was pretty sure there were more than enough numbers of cows to meet the demand of beef in that village. It was ironic however that, according to Teh Awang, beef could hardly be found on their dining tables. They only ate it like once in a year.

Self Sufficient

We had our first brunch just a few hours after we arrived at Teh Awang’s house. Nearly everything served on the floor (they didn’t have dining table) were picked up from their farm; the chicken, vegetables, and even the dessert which was made of fresh mango. As for the rice, they picked up from the field right at the back of the house. Self-sufficient might be the right word to describe this.

While we had the brunch, Teh Awang asked us whether we wanted to have duck for the following day. I asked her where she could get the duck. She simply replied, from the back of her house. I later found that the stilt house was built in the middle of the farm. At the front yard, they grew mango tree, rambutan, and jackfruit. At the backyard, they grew vegetables, herbs, chilies, cassava, and they also kept their livestock there.

With the fact that nearly everything could be picked up from the farm, Teh Awang hardly ever went to market for shopping. Most the time she took care of the house and her seven year old son who was in the second grade of primary school. As for her eldest son, she sent him to Islamic boarding school in Malangbong, Garut, a few hours ride out of Sumedang.

Today, Teh Awang lives with her parents and her youngest son. Her husband worked in Karawang, and only returns couple of times every year. Many men in that village have to cope with choices whether they have to work as farmers or leave the village for another better job.

Ancient Sites

After finishing the brunch, we were ready to go around the village. Teh Awang was about to guide us to see the archeological sites. To reach those places, we had to walk through the vast rice fields. It was rather challenging for me to walk on a narrow muddy path. I could slip anytime and fell to the mud. I was glad when I finally reach the first archeological site.

We found a small monolith which was believed to be the tomb of Ratu Inten Dewi Nawang Wulan. I am not going to write or describe this woman because there has been much information about her that we can find in many blogs. I am not really sure who she is, but I think she was a noble woman that played a significant role in the history of Sumedang as a former small kingdom in West Java.

Leaving the tomb of Ratu Inten, we entered the forest which was obviously conserved by the village people due to its being sacred. Looking at the size of the trees, I could say that this forest was as old as the civilization in Sumedang or might be even older.

The next monolith we came to was the tomb of Prabu Guru Aji Putih. It turned out that this man was the husband of Ratu Inten Dewi Nawang Wulan. What I read about him in many blogs was he founded the kingdom of Tembong Agung, which later became the kingdom of Sumedanglarang. So, practically, we were visiting the king’s tomb.

Not far from the tomb, there was a sacred well. It was said that the water used to be clean and drinkable. Constructing the concrete wall around the well seemed to be a mistake as it caused the water to be murky.

Another sacred tomb we found in the forest belonged to Sang Hyang Resi Agung. According to Teh Awang, this tomb was just discovered a few months before. I was rather surprised to hear that. By discovered, did she mean that all these years, no one was unaware of its existence?

It was kind of interesting to find out how the people “discovered” the sacred tombs. Those tombs we had seen were probably not the real place where those people were buried. Those were more like monuments to honor or to keep them alive in people’s memory. As for how to discover them, it was through revelation.

The biggest monolith we found was located on top of a hill at Dayeuh Luhur, almost a one hour drive from Kabuyutan Cipaku. It marked the tomb of Taji Malela, a man who changed the Kingdom of Tembong Agung into Sumedanglarang. To reach this monolith, we had to walk through a thick forest, climbing up hundreds of stone stairs. 

Along the way to the top, we passed by people coming with different intentions. Most of them came to say prayers in front of the monolith. They brought along fresh flowers and joss sticks as offerings. I even saw women coming with their beauty case and put it in front of the monolith. I was not sure what they were doing, but I could see they came with a shaman who led them to pray.

I must say that despite the fact that I enjoyed the cool mountainous air in that place, I didn’t really like spending time in there amidst those people. Soon after we took enough pictures, we decided to return to Kabuyutan Cipaku. 

An Overnight Homestay

At night, the whole family of Teh Awang was gathered at home. I met Pak Embun Sobari, whom I later called Abah, a Sundanese for father. For someone at his age, he looked a bit too old. Perhaps, it was because he worked everyday in the rice field.

We had a short conversation before dinner. Most the time, he told us about the resistance of the village people to the government’s plan to build a dam which will drown the entire village of Kabuyutan Cipaku. He said that the project was not feasible due to geological matters. Even the World Bank refused to fund it.

It was not easy of course for the people of Kabuyutan Cipaku to let go their properties. The fertile centuries old rice fields and also the sacred monoliths became priceless treasures they wouldn’t let go.

The plan was firstly initiated somewhere in the early 1960s by the government. Under Soeharto’s New Order Regime, a repressive method was used to push the village people to let go their properties. They were not allowed to build houses, roads, and any other infrastructures. They couldn’t renovate the houses, and electricity was forbidden.

The conversation was over as dinner was served on the mat. That night, we had Sayur Lodeh, - a vegetable soup with coconut milk -, fried duck egg, and fried chicken.

In the morning, I came to the kitchen at the back of the house. I wanted to see how Teh Awang prepared the breakfast. It was always interesting to check out someone’s kitchen in the village as they used traditional apparatus that I could hardly find in the city. However, nearly all households today used the 3 kilograms liquid gas as the conversion of kerosene. At Teh Awang’s kitchen, firewood was still used to cook rice.

The dining room was located before the kitchen. The family had a dining table in it, but they never used it. They thought eating the meal on the mat was more intimate for the family. As for the breakfast in that morning, we had bean sprouts, chicken with soy sauce, and chili sauce which was irresistible.

As for the dessert, we had Dodol, a sweet snack basically made from flour and sugar. The family made two kinds of dodol, the one made from mango, and green beans. They occasionally took order from relatives to make this snack, usually for festive occasion such as wedding.

After breakfast, I moved to the TV room at the centre of the house to have another light conversation with Abah who ironically smoked right next to his grandson. That morning, once again, Abah asserted his commitment to fight against the government’s plan to build the dam which would drown the village. I was astonished when he said that no single officer could make the plan into reality as there was the curse.

Well, there was a myth among the village people that all those sacred monoliths we had seen on the other day would reveal curses for those who tried to remove their existence. I was not convinced with the story for sure, but it was still interesting to hear.

I didn’t want to take any side in this issue. I knew that the dam was perhaps going to be built for a reason like providing electrical power for the island of Java and Bali, and also irrigating the surrounding rice fields. But with the fact that most area would be drowned by the dam were the hundreds of acre of fertile rice fields at Kabuyutan Cipaku, which rice fields would be irrigated?

Before leaving for Bandung, I kindly asked the family to pose in front of their house. It was a lovely and warm traditional house. I really hope to see that traditional house again some other time, and not just in a picture

Save Kabuyutan, Save The World!
http://www.facebook.com/savejatigede

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com



__._,_.___
Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

PLTA Kedung Ombo Seluas 6800Ha Hanya Berfungsi 6 Bulan



Jatigede untuk siapa?

PLTA Kedung Ombo hanya berfungsi 6 bulan dalam setahun karena musim hujan Bendungan sedang mengisi air akibat kekeringan sebelumnya, setelah musim hujan hampir berakhir air bendungan penuh dan setelah mencapai ketinggian yang diharapkan oleh PLTA mulai dialirkan dan bisa memutarkan turbin.

Ide memompa kembali ke bendungan apakah masuk akal? Artinya air tidak bisa mengaliri saluran irigasi yang diharapkan oleh masyarakat? Pompa air akan hanya menambah tambahan proyek pengadaan pompa air pada akhirnya frown emoticon.

http://jusufkalla.info/archives/2014/12/07/wapres-carikan-solusi-plta-kedung-ombo/

Wapres mengatakan, dari hasil tinjauannya, PLTA hanya dapat beroperasi selama enam bulan yaitu saat musim panas (kering). Hal ini karena saat musim penghujan, waduk tidak dialirkan ke bawah, namun hanya menampung air. Sementara para petani menjadikan air hujan sebagai pengairannya. Hal ini menurutnya tentu kurang optimal bagi penyediaan listrik, sebab selama enam bulan harus berhenti.

“Kedung Ombo, saya mengetahui, hanya bisa dipakai saat musim kering. Itu berarti enam bulan diam. Kenapa tidak dipompa ke atas lagi? Sekarang tutup kalau musim hujan. Justru musim hujan PLTA ini tidak berfungsi,” ungkap Wapres.

Menurut Wapres, kondisi ini sebenarnya dapat dicarikan solusinya, dengan membuat pompa di penampungan air bawah. Sehingga dengan demikian, air dari waduk terus mengalir dan PLTA pun berfungsi sepanjang tahun. Makanya, Wapres dalam kesempatan itu juga berpesan kepada jajaran proyek PLTA Karangkates untuk dapat memikirkannya, agar PLTA tersebut dapat bekerja lebih optimal.
Menurut Prof Isril Berd, PLTA tersebut kini dalam bahaya. PLTA itu bisa tutup 2028 atau sekitar 14 tahun lagi. Sebab, debit air waduk PLTA itu tak lagi memenuhi kebutuhan ideal 384 m3/detik sehingga tak cukup memutar turbin berkekuatan 114 ... See More



__._,_.___
Posted by: Mang Aska <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___

Gmane