Picon

Guyon Buhun - Perak Sahulu Kuda [1 Attachment]

[Attachment(s) from Ki Hasan included below]






__._,_.___

Attachment(s) from Ki Hasan | View attachments on the web

1 of 1 Photo(s)

Posted by: Ki Hasan <khs579 <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Fw: Sajarah Sukabumi (1)



Sejarah Kota dan Kabupaten Sukabumi hingga 1942: Kisah Kopi, Wisata dan Gerakan Politik Islam

Irvan Sjafari

http://sejarah.kompasiana.com/2012/06/14/sejarah-kota-dan-kabupaten-sukabumi-hingga-1942-kisah-kopi-wisata-dan-gerakan-politik-islam-464664.html

 

 

 

Salah satu sudut kota Sukabumi masa Kolonial (kredit foto kaukus)

Tidak banyak ditemukan literatur mengenai sejarah Sukabumi. Buku yang ditulis Ruyatna Jaya, Sejarah Sukabumi yang diterbitkan Pemkot Sukabumi pada 2003  disebutkan bahwa penguasa pertama kawasan ini seorang Raja bernama Dewawarman (130-168 M). Buktinya adalah altar batu situs Tugu Gede di Cisolok, arca siwa di Jampang Tengah yang tersimpan di Musuem Sri Baduga, Bandung.  Kawasan ini kemudian masuk ke dalam kerajaan Pajajaran.

Awalnya cikal  bakal kota ini adalah beberapa kampung seperti  Cikole dan .  Setelah jatuh ke tangan Mataram daerah ini berada dalam kekuasaan VOC pada 1677 sebagai balas jasa VOC membantu Sunan Amangkurat II menumpas pemberontakan Tarunajaya. Kawasan ini awalnya tidak punya arti ekonomis bagi VOC, sampai ketika kopi jadi komoditi penting.

Mulanya tanaman kopi diperkenalkan di Jawa pada 1696 dikembangkan di sekitar Benteng Batavia oleh Gubernur Jendral Van Out Hoorn (1681-1704).  Pada masa kekuasaan G ubernur berikutnya Van Hoorn (1704-1709)  bibit kopi diserahkan kepada bupati di Priangan dan Cirebon.  Hasilnya pada 1711 Bupati Cianjur Wiratanu Datar memetik panen pertama. Wilayah perkebunan kopi diperluas ke sekitar Bogor, Cianjur dan Sukabumi

Komoditas kopi banyak dibutuhkan VOC, Van Rie Beek dan Zwadecroon berusaha mengembangkan lebih luas tanaman kopi disekitar Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Pada 1709 Gubernur Van Riebek mengadakan inspeksi ke kebun kopi di Cibalagung (Bogor), Cianjur, Jogjogan, Pondok Kopo, dan Gunung Guruh Sukabumi. Pada 1786 VOC membangun jalan setapak yang bisa dilalui kuda dengan rute Batavia-Bogor-S ukabumi-Cianjur-Bandung.

Tiga tahun kemudian seorang pengusaha Belanda  bernama  Pieter Engelhard membuka perkebunan kopi  di lereng Tangkuban Perahu. Lokasi perkebunan itu  tepatnya di tanjakan Jl. Setiabudhi (sekarang Ledeng-UPI).  Hasil yang paling memuaskan baru diperoleh th. 1807, setelah Engelhard mengerahkan ratusan penduduk pribumi.

Jenis kopinya merupakan kopi unggul yang kemudian laku di pasaran Eropa dengan brand JAVA KOFFIE.  kopi ini menggant ikan kopi pahit-buruk dan tidak enak yang banyak dihidangkan le mauvais Cafe de Batavia (kopi buruk di Batavia) di awal abad ke-18. (Haryoto  Kunto,Bandoeng Tempo Doeloe).

Perkembangan paling penting terjadi pada  25 Januari 1813 ketika seorang ahli bedah bernama Dr. Andries de Wilde membeli tanah yang meliputi 5/12  wilayah  yang kini meliputi Kabupaten Sukabumi dengan harga 58 ribu ringgit Spanyol.  Batas tanahnya di Ti mur Sungai Cikupa, selatan Sungai Cimandiri, Utara lereng Gunung Gede angrango dan batas ke barat Batavia dan Bogor.

Pada  8 Januari 1815 Cikole dinamakan Sukabumi. . Kota yang saat ini berluas 48,15 km2 ini asalnya terdiri dari beberapa kampung bernama Cikole dan Paroeng Seah, hingga seorang ahli bedah bernama Dr. Andries de Wilde menamakan Soekaboemi. Awalnya ia mengirim surat kepada kawannnya Pieter Englhard mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk mengganti nama Cikole. Kata Soekaboemi berasal dari bahasa Sunda soeka-boemen yang bermakna udara sejuk dan nyaman, dan mereka yang datang tidak ingin pindah lagi karena suka dengan kon disi alamnya.

Selain kopi, perkebunan the juga mendorong arti ekonomis kawasan Sukabumi.  Penanaman the pertama kali dimulai pada 1824 di sekitar Bogor, Cikajang,Parakan Salak, Ciumbuleuit, Sinagar, Cicurug dan Parakan Salak.  Pada 1844 Gubernur Jendral Van Der Hucht memperluas perkebunan teh di Parakan Salak ini yang mempunyai ketinggian antara  625 hingga 950 meter dan di sekitar Gunung Endut pada ketinggian 1474 meter.

Perkebunan teh di kawasan Parakan Salak ini dibeli oleh ke luarga Holle, sementara perkebunan di Sinagar (Nagrak) dibeli oleh keluarga Hogeven. Priangan kemudian memang jadi wilayah perkebunan the.  Pada 1865 anak sulung de Holle bernama Karel Frederik Holle membuka perkebunan the Waspada pada 1865 di bayongbong, Garut. Pengusaha the bermunculan dari berbagai keluarga, misalnya Keluarga Van Der Huchts, De Kerkhovens, Van Motman,de Boscha’s dan sebagainya. Hingga akhir masa Hindia Belanda terdapat 81 perkebunan teh di wilayah Priangan.

Bertepatan dengan berlakunya Undang-undang agraria  pada 1870, maka pada 10 September 1870 diangkat seorang Patih dan seorang asisten Residen untuk memerintah Sukabumi.  Daerah Sekabumi naik statusnya menjadi afdeeling. Wilayah ini kemudain dibagi menjadi sejumlah distrik seperti Distrik Gunungparang, Distrik Cimahi, Distrik Cicurug, Distrik Ciheulang, Distrik Pelabuhan Ratu, Distrik Jampang Tengah dan Distrik Jampang Kulon.

Para Patih yang memerintah Sukabumi semasa afdeeling antara lain Patih Aria Wangsa Reja yang diangkat berdasarkan Statblad No,121 Tahun 1870 tertanggal 10 September 1870. Selanjutnya yang menjadi patih Sukabumi adalah Aria Kartareja, Patih Aria Kartakusumah, Patih Suryanatalegawa, Patih Suryanapamekas (menjabat pada 8 Oktober 1905), Patih Suryaningrat dan Patih Suryanatabrata 1913-1921.

Pada 1 Juni 1921 status Sukabumi naik lagi menjadi Kabupaten dengan Patih Suryanatabrata menjadi Bupati pertama hingga 1930. Secara hukum tata negara hari jadi Kabupaten Sukabumi pada 1 Juni ini.  Bupati kedua adalah Bupati RTA Surya Danoeningrat yang merupakan Bupati terakhir masa Hindia Belanda hingga 1942. Pada masa pendudukan Jepang RTA Surya Danoeningrat ini tetap menjabat menjadi Bupati sampai masa kemerdekaan.

Perkembangan  Kota dan  Gaya Hidup

Seperti halnya kota-kota lain masa Hindia Belanda pada abad ke 20 surat kabar lokal pun bermunculan. Yang menarik salah satu surat kabar tertua yang terbit di Sukabumi ialah Li Po yang diter bitkan peranakan Tionghoa tetapi berbahasa Melayu.  Surat kabar itu terbit mingguan setiap hari Sabtu dengan redaktur  seperti Tan Giong Tiong da Yoe Tjan Siang. Edisi pertama tertanggal 3 Januari 1903.

Umumnya berita-berita yang disajikan berkaitan dengan agama Katolik dengan dukungan iklan dari perniagaan. Iklan yang ada dalam surat kabar itu sudah mengisyaratkan gaya hidup orang kota masa itu, misalnya pemakaian air wangi untuk menghilangkan bau badan, hingga iklan obat.  Terdapat juga sejumlah  iklan menjual  mesin penggilingan beras hingga pemasangan lotre.

Pada 1921 sebagaiman dilaporkan oleh L. de Steurs (Residen Priangan)  tanggal 2 Januari 1921, di Sukabumi telah berdiri dua buah zendingschool dan sebuah sekolah partikelir yang bernama Hollandsch-Chineescheschool.  Pada masa Hindia Belanda pada 1910-an didirikanlah Sekolah-sekolah rakyat di Kota Sukabumi, diantaranya adalah Sekolah Rakyat Gunungpuyuh, Sekolah Rakyat Benteng,  Yang tertua adalah Sekolah Rakyat Kebon Jati. Sekolah Rakyat ( SR) Gunungpuyuh yang didirikan pada tahun 1914 ini, lama pendidikannya selama 3 tahun,

Kota Sukabumi juga naik statusnya pada 1 April 1914, Sukabumi diangkat statusnya menjadi Gemeente. Dengan semakin banyaknya berdiam orang Belanda dan Eropa pemilik perkebunan (Preanger Planters) di daerah Selatan dan harus mendapatkan kepengurusan dan pelayanan yang istimewa. Pada tanggal yang sama 354 tahun yang lalu, Belanda bangga memenangkan perang melawan Spanyol.

Namun s ecara resmi baru pada  1 Mei 1926 pemerintahan kota dibentuk dan diangkat Mr. GF. Rambonet sebagai burgemeester (wali kota) pertama di Sukabumi seperti yang ditulis dalam blog sukabumi.dagdigdug.com/2009/03/12/sejarah-kota-sukabumi. Hal ini  juga diungkapkan Ruyatna Jaya, Sejarah Sukabumi).  Pada waktu itu Kota Sukabumi sudah dihuni oleh 1520 orang Eropa, sekitar 19 ribu penduduk  dan sekitar 3 ribu penduduk Cina.

Pada masa pemerintahan Rambonet  inilah dibangun sarana dan prasarana penting seperti Stasiun Kereta Api, Mesjid Agung, Gereja, prasarana olahraga dan hiburan  dan Pembangkit Listrik Ubrug. Stasiun Kereta Api, Mesjid Agung, Gereja Kristen, Gereja Katolik, pembangkit listrik Ubrug; Centrale (Gardu Induk) Cipoho, Sekolah Polisi Gubermen yang berdekatan dengan lembaga pendidikan Islam tradisionil Gunung Puyuh.

Salah satu tempat favorit para elite  Eropa ini adalah pacuan kuda yang dilakukan di Cibolong.  Setelah Rambonet &nbsp ;yang menjadi Walikota Sukabumi  adalah WM Ouwekerk,  Ala Van Unen dan WJ PH Van Waning. Pertumbuhan perkebunan juga merangsang pertumbuhan tempat wisata.  Kawasan wisata Danau Lido yang hingga kini juga menajdi tempat wisata khas Sukabumi sebetulnya  juga dibuat pada zaman Belanda. Pada  1898,  saat Belanda membangun Jalan Raya Bogor-Sukabumi, mereka mencari tempat untuk peristirahatan para petinggi pengawas pembangunan jalan dan pemilik perkebunan.

Danau Lido adalah danau alam yang letaknya di lembah Cijeruk dan Cigombong. Jika dilihat dari atas, Danau Lido seperti mangkuk di kaki Gunung Gede-Pangrango. Di dekat danau ini juga terdapat air terjun Curug Cikaweni yang mengalirkan air yang sangat dingin.  Kawasan ini baru dibuka untuk umum pada tahun 1940 setelah Ratu Wilhelmina datang dan beristirahat di Lido pada tahun yang sama. Ketika itu, restoran pertama diresmikan sebagai pelengkap fasilitas kawasan wisata dan juga untuk menjamu Sang Ratu ( blog.cicurug.com)

Tempat wisata lainnya yang  dibangun masa Belanda adalah  Selabintana yang terleta k 7 kilometer dari kota Sukabumi. Wisatawan hingga kini  mendapatkan jejak sejarah peninggalan Belanda yang dipadu dengan panorama Gunung Gede-Pangrango. Hotel yang dibuat pada tahun 1900-an oleh seorang berkebangsaan Belanda tetap bertahan hingga kini dan masih menjadi ikon Selabintana.

Pergerakan Politik dan Keagamaan

Buku Riwayat Perjuangan K.H. Ahmad Sanu si yang ditulis Miftahul Falah, diterbitkan pada 2008 oleh Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat, member kesan paad saya bahwa pergerakan politik lokal kawasan Sukabumi tampaknya didominasi pergerakan Islam. Di antaranya  adalah  Sarekat Islam Sukabumi didirikan pada 1913 bersamaan dengan berdirinya Sarekat Islam di Cianjur, Bandung, dan Cimahi.  Pada tahun itu juga, H. O. S. Tjokroaminoto, Presiden Sarekat Islam Pusat, berkunjung ke  Sukabumi.  Daerah-daerah yang dikunjungi  adalah  basis Sarekat  Islam di Sukabumi yaitu Cicurug, Babakanpari, Kalapanunggal, Palasari Girang, dan Jampang

Pada  1916, masyarakat  Sukabumi yang menjadi anggota Sarekat Islam diperkirakankurang dari 500 orang. Sebagai perbandingan, pada tahun yang sama, Sarekat Islam Cianjur memiliki anggota sekitar 8.000 orang, Sarekat Islam Bandung memiliki anggota  sekitar 1.500 orang, dan Sarekat Islam Tasikmalaya  memiliki anggota sekitar 1.200 orang. Pada waktu itu, yang menjadi pemimpin Sarekat Islam Sukabumi adalah Haji  Sirod.

Tokoh penting Sarekat Islam Sukabumi adalah K.H. Ahmad Sanusi yang bergabung kemudian. Kelahiran &nbs p;Desa Cantayan,  Onderdistrik Cikembar, Distrik Cibadak,kira-kira 1889 ini   adalah salah seorang anak K. H.  Abdurrohim, seorang ajengan dari Cantayan.  Sanusi kemudian menjadi penerus  pesntren Cantayan setelah berguru di sejumlah pesantren dan Mekah. Sejak Juli 1915, ia menjadi penasihat (adviseur) Sarekat Islam Sukabumi.

Pada 1919, K. H. Ahmad Sanusi  mendirikan sebuah pesantren di Kampung Genteng, Distrik Cibadak, Afdeeling Sukabumi.  Bagi K. H. Ahmad Sanusi, Pesantren Genteng merupakan sebuah alat bagi perjuangannya untuk  menegakkan syariat Islam di Sukabum i. Pengaruh kuat Sanusi pada masyarakat Sukabumi menjadikannya target penangkapan pemerintah Kolonial.

Pemberontakan berdarah di Banten 1926 dan pengerusakan dua jaringan kawat telepon yang menghubungkan Sukabumi dengan Bandung dan Bogor  pada Agustus 1927 membuat Pemerintah Kolonial menangkap Sanusi dan membuangnya ke Tanah Tinggi, Batavia. Namun pengasingan itu tidak menyurutkan pengaruh  Sanusi. Para pengikutnya kerap mengunjunginya.

Sekitar 1931, para ulama pengikut K. H. Ahmad&nb sp; Sanusi menggelarkan pertemuan di Pesantren Babakan. Cicurug. Dalam pertemuan yang dipimpin oleh K. H. Muh.Hasan Basri itu, mereka membicarakan berbagai persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Dalam pertemuan inilah, keinginan untuk membentuk sebuah organisasi semakin mengkristal. Pada akhirnya, para kyai yang menghadiri pertemuan itu mencapai kesepakatan untuk membentuk sebuah organisasi yang akan diberi nama Al Ittihadjatoel  Islamijjah.

Pada 1930-an, pemerintah  kolonial menjadikan Sukabumi sebagai daerah pembuangan para para pemimp in pergerakan nasional. Pada masa akhir penjajahan Belanda, tercatat beberapa pejuang nasional yang dibuang di Kota Sukabumi. Tjipto Mangunkusomo, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir merupakan tiga tokoh  pergerakan nasional yang dibuang Pemerintah Hindia Belanda ke Sukabumi. Tjipto Mangunkusomo tidak lama  menjadi tahanan di Sukabumi, tetapi kemudian ia beserta keluarganya memilih untuk menetap di Salabintana.

Irvan Sjafari

 



__._,_.___
Posted by: "Waluya" <waluya2006 <at> yahoo.co.id>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Fw: Bandung Taun 1956 (5): Lobana Pipirakan, Nyandung, Ekonomi Awewe jeung Suara Muslimah



 

Bandung 1956 (5) Marak Perceraian, “Poligami Liar”, Ekonomi Perempuan dan Suara Muslimah

Oleh: Irvan Sjafari

http://sejarah.kompasiana.com/2014/01/13/bandung-1956-5-marak-perceraian-poligami-liar-ekonomi-perempuan-dan-suara-muslimah-624230.html

 

 

 

Ilustrasi Demo Perwari (kredit foto www.sundullangit.wordpress.dom)

Pada Februari 1956 Kantor Urusan Agama Jawa Barat mengumumkan bahwa angka perkawinan di propinsi selama 1955 merosot jika dibandingkan pada 1954.Sebaliknya angka perceraian meningkat. Pada 1955 tercatat 343.237 perkawinan dan jumlah perceraian 225.632. Artinya jumlah perceraian dari segi presentase sebesar 65,6% dari jumlah perkawinan, suatu angka yang besar dibanding dengan ne gara lain sekalipun pada masa itu. Dari jumlah itu yang rujuk 19.587.

Pada 1954 angka pernikahan 316.875 dan talak sebesar 218.879 atau 63% dari jumlah perkawinan dan yang rujuk 18.272. Menurut laporan pada 1956 itu ternyata pernikahan paling banyak pada Agustus 1956 di seluruh Jawa Barat sekitar 51 ribu, begitu juga rujuk 2201. Perceraian paling banyak pada Juni 1955 sebesar 24.393.

Jumlah terbanyak perkawinan pada 1955 itu di Kabupaten Bandung sebenyak 28.016, diikuti Subang 27.945 dan Cirebon 27.830. Sementara jumlah peceraian diduduki Kabupaten Indramayu sebanyak 23.164 peristiwa atau 85% dari perkawinan. Cirebon di tempat berikutnya 23.340 peristiwa perceraian atau 73,9% perceraian. Subang di tempat ke 3 dengan 22.904 atau 82% jumlah perkawinan dan Kabupaten Bandung 17.221 percaraian atau sebanyak 61,5% perkawinan (Pikiran Rakjat, 15 Februari 1956) .

Kabupaten Bogor paling sedikit mencatat paling sedikit perceraiannya 8483 atau 41,5% dibanding jumlah perkawinan 20.441 peristiwa. Pada 1954 jumlah perceraian di Indramayu mencapai 24.837 peristiwa atau 79% dibanding angka perkawinan, sementara Cirebon 22.0 50, Subang 21.686 dan Kabupaten Bandung sebanyak 13.377 peristiwa perceraian.

Yang menarik menurut KUA Propinsi Jawa Barat dari 343.327 peristiwa perkawinan , 20.788 merupakan perkawinan poligami atau 6% dari jumlah perkawinan. Sebanyak 19.169 perkawinan di antaranya merupakan istri kedua, sebanyak 1409 perkawinanuntuk istri ketiga dan 210 perkawinan untuk istri ke 4. Poligami paling banyak terjadi di daerah Bekasi sebanyak 8,8% dan Krawang 6,9%. KUA juga mencatat 726 gadis di bawah umur dinikahkan selama 1955 dan sebanyak 448 di antaranya di Kabupaten Indramayu (Pikiran Rakjat, 25 April 1956).

Sekalipun hanya 6% dari perkawinan tetapi 20.788 kasus ini meningkat hampir lima kali dibanding pada 1953 menurut laporan KUA terjadi 4527 kasus poligami. Di antara kasus poligami ini sebanyak 759 kasus terjadi di Bogor dan hanya 2 20 di kota Besar Bandung. Namun Kabupaten Bandung disebut sebagai daerah terjadinya perkawinan liar (Pikiran Rakjat, 19 Januari 1954).

Tabel I

Penyebab Percaian di Jawa Barat pada 1955

(diolah dari Pikiran Rakjat, 26 April 1956)

able>

Penyebab perceraian terbesar karena tekanan ekonomi paling banyak adalah Kabupaten Bandung sebanyak 13.454 kasus atau 78% penyebab perceraian di wilayah ini. Sementara penyebab perceraian karena krisis ahlak terbesar terjadi di Kabupaten Indramayu sebanyak 10.474 kasus atau 54% seluruh perceraian. Di Kabupaten Indramayu perbedaan haluan politik menjadi penyebab perceraian sebanyak 1608 kasus.

Pada akhir Agustus 1956 karena angka perceraian di Jawa Barat begitu tinggi, sebuah konferensi terkait di selenggarakan di Gedung Yayasan Tambatan Hati , Bandung. Konferensi Badan Penesehat Perkawinan dan Penyelesaian Perceraian (BP4) se-Jawa Barat ini didukung oleh 20 organisasi atau partai. Menurut laporan BP4penyebab perceraian kuran g nafkah, kurang pengertian tentang perkawinan hingga poligami liar. Dalam konferensi itu Ny. Sanusi Hardjadinata (Isteri Gubernur Jawa barat masa itu) dalam kata sambutannya menyatakan bahwa wanita bukan obyek belaka, wanita sederajat dengan pria.

Di akhir konferensi Ketua BP4 Jawa Barat, Arhatha mengumkan bahwa konferensimengeluarkan dua resolusi. Pertama, konferensi mendesak pemerintah agar mengakui BP4 sebagai badan setengah resmi dan memberikan subsidi secukupnya setiap bulan atau per tahun. Kedua, konferensi mendesak pemerintah agar segera mengadakan undang-undang perkawinan/pernikahan dan parlemen hendaknya memberikan prioritas untuk membicarakan undang-undang ini (Pikiran Rakjat, 1 September 1956)

Konferensi juga memutuskan calon penasehat perkawinan dam penyelesaian perceraian di daerah-daerah. Kepada pemerintah diusulkan agar sebelum adanya undang-undang pe rkawinan, hendaknya diadakan undang-undang darurat perkawinan sebelum adanya aturan resmi perkawinan. Dalam konferensi Arhata mengungkapkan adanya” hidup bebas” (tinggal bersama tanpa pernikahan) antara pria dan wanita yang sudah mulai muncul di perkotaan.

Vrij Liefied ini menggantikan perkawinan dan akan memudahkan lenjapnya tanggung djawab antara pria dan wanita. Masing-masing mencari kesempatan yang enak dan nikmat sadja, serta meninggalkan satu samalain dalam pahit legi derita.(Pikiran Rakjat, 29 Agustus 1956).

Aratha panggilan (singkatan) untuk Abdur Rauf Hamidy, Kepala Jawatan Urusan Agama Propinsi Jawa Barat. Dia adalah inisator BP4. Awal pendirian badan ini  pada 3 Oktober 1954 di Bandung itu, ketika dilangsungkan musyawarah yang dihadiri oleh 100 orang terdiri dari wakil-wakil instansi Pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat, para ulama, para pemimpin organisasi-organisasi sosial Islam dan nasional. BP4 kemudianberkembang ke daerah lain di Jawa Barat.1

Tingginya angka perceraian di Jawa Barat pada pertengahan 1950-an disebu tkan dalam berbagai penelitian karena angkanya merupakan termasuk yang tertinggi di dunia, bahkan melebihi Amerika Serikat. Bahkan ada peneliti menyebutkan bahwa di Jawa Barat dan Semenanjung Melayu tingkat perceraian yang lebih tinggi, mencapai 70 persen di beberapa desa, hingga akhir pertengahan abad kedua puluh. Dalam masyarakat ini perceraian adalah bagian dari tradisi, itu sering dan normatif, dan tidak melibatkan stigma yang akan men ghambat pernikahan kembali dari orang-orang yang bercerai.2

Ekonomi Perempuan Meningkat

Di Kota Bandung maraknya pelacuran membuat tekanan besar kepada kepolisian untuk melakukan tindakan-tindakan. Pada Awal April 1956 Reskrim bagian Susila dari Kepolisian Priangan mengumumkan mereka mengadakan tindakan terhadap dua rumah, di Jalan Angkasa Nomor 5 dan Siliwangi Nomor 31 yang dicurigai sebagai rumah bordil. Pihak polisi mengaku mendapatkan banyak surat kaleng namun tidak bisa menghukum mereka yang kena razia kalau tidak ada pengaduan resmi (Pikiran Rakjat, 5 April 1956). Kalangan DPRDS Propinsi Jawa Barat mendapatkan tekanan untuk membasal pelacuran dan perzinahan yang diduga dilakukan di villa-villa . Menurut kalangan DPRDS dalam hal ini KUHP tidak cocok lagi untuk mengatasi masalah itu (Pikiran Rakjat, 1 Juni 1956).

Meskipun kehidupan perkawinan mengalami dekadensi, partisipasi perempuan di lapangan ekonomi mengalami tanda-tanda kemajuan. Halimah Purwana pelopor Bank Koperasi Wanita dalam peringatan Hari Koperasi pada pertengahan Juli 1956 di Gedung Bank Koperasi Wanita Bandung menyebutkan bahwa pada 1956 jumlah anggota koperasi sudah menjadi 14 ribu anggota dengan uang yang dipinjamkan kepada anggota Rp 10 juta. Padahal pada 1953 jumlah anggota koperasi 1075 anggota dan yang yang dipinjamkan kepada anggota sekitar Rp 800 ribu rupiah. “ Itu artinya perempuan tidak hanya mahir bersolek, tetapi juga pandai di dunia koperasi,” ujar Halimah. (Pikiran Rakjat, 19 Juli 1956).

Beberapa Usaha Kecil Menengah yang dikelola perempuan bermunculan di kota Bandung. Di antaranya sebuah Toko Bunga Ratna (Ratna Flowershop) di Jalan Anggrek no 53, Bandung. Pemiliknya adalah Ratna Ruthinah. Segmen pasarnya adalah mereka yang menyelenggarakan pesta perkawinan dan ulang tahun (Aneka No 1/IV, 1 Maret 1953). Ny. R.Imam Muchtarom menawarkan kursus kue-kue dengan bendera Sri Djaja di Jalan Kancra boleh dibilang isyarat sebagai cikal kota ini menjadi kota kuliner karena begitu banyaknya peng usaha kue pada 1950-an (Pikiran Rakjat, 2 November 1955).

Advetersi Toko Bunga Ratna (Repro Majalah Aneka no.1/IV/1 Maret 1953)

Begitu juga munculnya rumah-rumah mode yang sekaligus menawarkan kursus keterampilan juga memberikan dasar kelak kota Bandung juga menjadi kota mode. Pengumuman dan iklan di Harian Pikiran Rakjat pada 1950-an menyebutkan puluhan lulusan di berbagai keahlian. Tak mengherankan UKM-UKM yang begitu dominan di Bandung lebih banyak pada bidang kuliner dan konveksi. Partisipasi kaum perempuan di dua bidang cukup besar hingga saat ini.

Suara Perempuan Muslim

Sejak pertengahan 1956 seorang penulis perempuan bernama Sjamsiah muncul diPikiran Rakjat mengkritisi dunia perempuan sekal igus dunia Islam. Dalam tulisannya “Wanita Ber-Idul Fitri” dalam Pikiran Rakjat, 11 Mei 1956 Sjamsiah menyorot bahwa di satu sisi kaum ibu dan anak bergembira karena menikmati makanan, kue-kue dan pakaian baru, hingga berpiknik ke kebun binatang (Taman Sari) dan Situ Aksan.

Di sisi lain masih ada beribu-ribu kaum perempuan merayakan Idul Fitri dengan suasana tertekan karena keadaan keamanan belum terjamin, suami yang terpaksa tidak kembali dari perantauannya karena malu tidak melakukan apa-apa untuk keluarganya. Sebagian lagi merayakan Idul Fitri denagn rumah tangga yang runtuh karena perceraian. Sementara juga ayah dan ibu yang harus menghadapi permasalahan anak-anaknya.

Sjamsiah meminta segera direalisir Undang-undang Perkawinan Islam yang melindungi rumah tangga muslim. Bila-bila undang-undang ini berlaku p erceraian yang didasarkan kepada nafsu hajawany semata-mata tidak terjadi. Permaduan harus berfungsi kepada azas sosial dan ekonomi, harus dibuatkan tata terib acara hukumnya, sehingga kesewenangan dan kenfasian semata-mata, serta kematakeranjangan akan terhindar sama sekali. Tulisan ini menarik, karena artinya secara tersirat Sjamsiah menginginkan agar poligami tidak dilakukan serampangan dan hanya untuk nafsu kaum lelaki saja.

Dalam tulisan lain “Wanita Utama” dalam Pikiran Rakjat 1 Juni 1956, Sjamsiah menyerukan kaum wanita boleh saja menjadi dokter insinyur, ikut olahraga berenang, bahkan main anggar. Dia juga punya peran pemberantasan buta huruf. Meskipun begitu wanita tetap harus taat pada suaminya sebagai pemimpin ru mah tangga. Dia juga turur meneliti suaminya agar tidak berbuat serong dan tidak mengaturnya. Secara tersirat Sjamsiah mengatakan bahwa laki-laki lebih berpotensi untuk selingkuh dibandingkan dengan wanita.

Sebetulnya Ade Chodidjah Nurulmala, seorang warga Bandung menulis dalam Mimbar Ramai, Pikiran Rakjat 6 Desember 1955 menanggapi keluarnya Peraturan Menter i Agama No. 1 Tahun 1955 tentang Kewajiban Pencatatan Nikah dalam Melaksanakan UU No. 22 tahun 1946. Kementerian Agama lewat peraturan itu sebetulnya melindungi kaum wanita agar tidak dijadikan permainan saja oleh para laki-laki. Dalam peraturan itu disebutkan diberikan waktu 10 hari untuk memutuskan menikah agar bisa hidup rukun dan sekaligus menghindarkan kawin paksa.

Mereka yang mendaftarkan talak juga tidak diterima hari itu dan diberikan waktu satu minggu untuk berpikir. Hal ini menurut Ade agar kaum laki-laki hal yang tepat agar tidak terlalu gampang menjatuhkan talak. Hal lain yang dihindarkan kaum wanita agar tidakserat merta menjadi janda dan kemudian jatuh ke jurang kemismikinan.

Pada Juli 1956 Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Jawa Barat an>mengadakan konferensi di Bandung. Di antara isu yang dibicarakan adalah suara GPII bagian putrid yang mendesak agar pemerintah lebih keras memberantas kemaksiatan. Pemerintah diminta mengadakan undang-undang yang keras terhadap pelanggaran kesusilaan dan mengatur sangsi hukum terhadap pelanggarnya. GPII jawa Barat bagian Putrimenyerukan sensor terhadap masajalah dan buku yang melanggar susila.

Selain itu GPII Putri meminta penambahan anggota badan sensor dengan men gikutsertakan orang-orang dari organisasi Islam. Pernyataan lain ialah meminta pemerintah memperhatikan nasib guru agama, guru honorer dijadikan guru tetap dan pendidikan agama sebagai pelajaran wajib (Pikiran Rakjat, 31 Juli 1956).

Pada Juli 1956 Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari) Jawa Barat juga mengadakan konferensi di Kota Bandung. Konferensi itu mendesak pemerintahkan untuk memberikan akses pendidikan pada gadis untuk tingkat sekolah lanjut.&nbs p;Kalau perlu pemerintah mendirikan SMP Putri. Pasalnya pelajar SKP G waktu itu tidak bisa melanjutkan sekolah ke SGKP karena kalah bersaing oleh anak-anak lulusan SMP. Perwari Jawa Barat juga menyadari ekonomi adalah kelemahan perempuan selain akses pendidikan. Untuk itu Perwari Jawa Barat lebih aktif mendirikan koperasi (Pikiran Rakjat, 30 Juli 1956).

Dalam Juli 1956 Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung mengumumkan bahwa mereka berhasil meluluskan seorang Insinyur Teknik Sipil Perempuan pertama di Indonesia. Namanya Nyonya Dulhamid Sriharti Srimurni. Perempuan kelahiran Yogyakarta 3 Mei 1925 ini menjadi mahasiswa Fakultas teknik pada 1950. Suaminya Dulhamid juga Insinyur alumnus Fakultas Teknik Bandung. Keberhasilan ini menjadi catatan pada masa itu, di tengah masih terpuruknya kaum perempuan di Jawa Barat.

Partisipasi perempuan pada pendidikan tinggi masa itu memang masih kecil ukuran sekarang , tetapi masa itu menunjukkan harapan. Menurut pengumuman Kementerian PPK di Pikiran Rakjat, 9 November 1954 dari 190 calon mahasiswa yang diterima di Perguruan Tinggi Pendidikan Bandung pada 1954 hanya 27 di antaranya perempuan.

Jawa Barat pada 1956 juga punya inspirasi baru setelah Carla Oen3 . Dia adalah Pou Sioe Gouw,waktu itu berusia 21 tahun meraih Juara Anggar Floret Seluruh Indonesia.Warga Jalan Cihampelas No. 57 ini murid dari Instruktur Letnan Suparman yang juga juara anggar. Dia berlatih di School of Self defence dengan lawan kaum pria. Dengan tinggi 160 cm dan berat 52,5 kg, Gouw mengawali karir olahraganya di Voli dan pernah ikut PON II memperkuat regu Jawa Barat (Pikiran Rakjat, 16 Januari 1956).

Irvan Sjafari

1. Rahmat S dan Solihin Yusuf, “Sejarah Perkembangan BP4” dalam http://ihinbp4.wordpress.com/2011/10/05/hello-world/ diakses 11 Januari 2014. Dalam buku H.S.M Nasarudin Latif: Biografi dan Pemikirannya, editor Fuad Nasar, Jakarta: Gema Insani Press, 1996 hal.8 disebutkan sebetulnya pada 4 April 1954 Nasarudin Latif,Kepala Kantor Urusan Agama Kotapraja, Jakarta juga mendirikan SPP (Seksi Penasihat Perkawinan) pada Kantor Urusan Agama di Wilayah Kotapraja Jakarta. Sejak 20 Juli 1954 diadakan apa yang disebut eksperimen Jakarta, yaitu setiap pasangan yang bercerai dipersilahkan lebih dahulu datang ke SPP. Pembentukan SPP ini juga dimaksudkan untuk menekan angka perceraian. Tubagus Chaerul Lailydalam skripsi sarjananya Effektifitas Mediasi Melalui Badan Penasehatan Pelestarian Perkawinan (BP4) dalam Menekan Angka perceraian: Studi pada BP4 Pusat Tahun 2009, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2010 mengungkapkan bahwa pada 1954 di seluruh Indonesia angka perceraian berkisar 60-70% dari angka perkawinan atau sama dengan 1300-1400 kasus perceraian per hari.

2. Yossef Rapoport, Mariage, Money and Divorece in Medieval Islamic Society, Cambridge,UK, 2005). Hal 17. Penelitian juga dilakukan G.W.Jones, Y.Asari dan Tuti Djuartika,”Divorce in west Java” dalam Journal of Comparative Family Studies 25/3 1994.

3. Lihat http://sejarah.kompasiana.com/2012/11/28/inspirasi-jawa-barat-1950-an-1-carla-oen-atlit-renang-kota-bandung-itu-penggemar-tari-sunda–506741.html

 

 



__._,_.___
Posted by: "Waluya" <waluya2006 <at> yahoo.co.id>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___

Penyebab

Jumlah Kasus

Presentase

Ekonomi

95.041

42%

Krisis Ahlak

59.265

26%

Biologis

25.914

11,5%

Dimadu

22.605

10,5%

Meninggalkan Kewajiban

15.361

6,4%

Politik

7381

3,2%

Picon

Guyon Buhun - Baramaen [1 Attachment]

[Attachment(s) from Ki Hasan included below]

Guyon Buhun - Baramaen


__._,_.___

Attachment(s) from Ki Hasan | View attachments on the web

1 of 1 Photo(s)

Posted by: Ki Hasan <khs579 <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Pantun - NJAI SOEMOER BANDOENG (1-3)



Pantun - NJAI SOEMOER BANDOENG

[1]
Tjarita NJAI SOEMOER BANDOENG
anoe kapigarwa ratoe nagri
KOETA WARINGIN GIRANG

Katjarita aja hidji nagara, ngaranna Koeta Waringin girang, bogoh koe palatan nagara: 

Lemboer semoe noetoer ngidoel,
déngdék ngalér tjobor ngoelon,
lemboer karioeng koe goenoeng,
nanjak djalan ka tjaina,
ngaranna Sri Katampian,
bogoh koe tata nagara,
lemah loehoer meunang ngoekoer,
lemah poetih meunang ngoekir,
lemah beureum ngagandonkeun,
diaoeran koe keusik seungit,
diawoeran koe batoe boeleud,
tingkaritjeup tingkarireum,
tanding oraj santja mojan,
njieun sitoe tebéh kidoel,
ranca génggong tebéh koelon,
aloen-aloen séwoe tjengkal,
tina midjina saketi,
djeung Toean Batara Toenggal,
pingitan sawidak lima,
babantjong dalapan poeloeh,
paséban lima ngadjadjar,
sok ngelir koetana beusi,
sok ngembat koetana wadja,

[2] 
rogrog boerang malelana, 
meunang ngahoentoe kalakeun,
nja éta awisan moesoeh,
moesoeh noe ti méga malang.

Ditingali pandjara beusi dalapan poeloeh lobana paragi noe lolongok kapelengok, noe maling kapanggih, noe nagih gé tara balik deui, sok dikekesek didjieun pangarih; tjadoe balik deui.

Ditingal panjara babah baroeangna, warna ngaranna, warna roepana: baroeang leunggeuh, baroeang djoebleg, kidang, mandjangan, samber njawa.

Ditingali parabot perang: lisoeng beusi, kampaan beusi, tjalongtjong beusi.

Oraj welang pasarampaj,
babakaoer tebéh kidoel,
kamarangna tebéh wétan,
sapina tudjuh gantungan,
ngemplang timahna parigi,
ageungna toejoeh pembedel,
paragi njedekeun moesoeh,
ruedjeung keur meudjeuhna hoeroeng,
hoeroeng tatadjuranana,
siang pepelakanana,
melak doekoeh reudjeung manggu,
melak nangka djeung tjampedak,
korma reudjeung mandalika,
melak gedang djeung bangkoeang,
melak ganas djeung rampenas,
djawér kotok djaringao,
antanan djeung gandasoera.

Bisi ratoe pujeng nja mastaka, bisi galigir panas-tiris, mo weléh moepoekan njimboeran, tjarogé meunangkeun ratoe, teroes kana babancong, paséban lima ngadjadjar, terus kana papatihna di nagara Koeta Waringin, bat lalampampitan panakawan kadeuheus noe kasép Koeda-aing-Léngsér, Moending Waringin, Koeda Waringin. Aja deui noe panggagahna dahoean ratoe, noe kasép Kalang Soetra Panandoer Wajang, sakitoe réana papatihna.

Tjatoerkeun di padaleman rogrog ingon-ingon ratoe: Poer poejoeh boentoetan sakembaran, oetjing tjantél tjandra mawa sakembaran, peusing sihoengan sakembaran, ngadangong banténg lilin sakembaran.

Saha djenengan ratoe?

Moending Keling Poespa Mantri, noe kasép bengker Ménak Pakoean, Ménak Pelag Padjadjaran, Satria Mangkoekawasa; sakitoe djenengan ratoe.

Endar loba pawarangna,
daroeh baoerej kénéh,
noe geulis beunang ngeliran,
noe lendjang beunang ngiwatan,
opat poeloeh poendjoel doea.

[3]

noe katjatoer mah ngan doea,
Anoe geulis Nyai ratoe,
Goerit Hadji Wira Mantri,
parandéné aja kénéh,
noe geulis Nimbang Waringin,
sakitoe anoe katjatoer,
dirioeng-rioeng koe geloeng,
dipeuseulan koe pinareup,
bisi ratoe njoenggoeh ngidoel,
bisi radén déngdék ngalér,
bisi béngkok koemaoela,
ratoe béndoe palaj taloe,
alam padang poé pandjang,
lakotoj sangkeloh mando,
rét toengkoel barina imoet,
barabat ménak noe njembah,
ratoe téh bendoe koe naon,
hariring mantri ngalahir,
goemaligoet ratoe njaoer:
Nyi bendoe hojong tataloe,
sapi moending teu sakedik,
koeda domba masih loba,
seug ngoeninga ka paséban,
ka noe kasép Kalang Soetra.

"Goesti, amit koering rék ka paséban," tjék parawang.

"Soemangga Nyai," saoer ratoe, "geura miwarang tataloe rahajat loba, nini-nini, aki-aki, toekang soeling djeung karinding, toengkeb ka hoeloe dajeuh."

Si-Léngsér indit ka hoeloe dajeuh, ngoengkoengan nakolan bendé.

Barang kitoe kadéngé koe oerang pilemboeran rahajatna, goedjroed oerang pilemboeran, pokna: "ieu bendé nahaon?"

Ari tjék noe saoerang: "Bédjana djoeragan oerang tjoetjoerak meres nagara, koempoel ka nagara Koeta Waringin, pinoeh di hoeloe dajeuh. Patih djeung peredjoerit. Toemenggung djeung Saradadoe, Djaksa djeung Goelang-goelang.

Saoer noe kasép Kalang Sutra: "Léngsér, bedil geus dieusian? Geura bawa ka hoeloe dajeuh seungeutan."

Énggalna bedil toeloej dibarawa ka hoeloe dajeuh, sarta koe Si-léngsér toeloey disoendoet bari tjeulina diboentel koe djimpo, bisi katorékan, soet bedil disoendoet:

Pak geletek-geletek goer,
geus tjampoeh anoe tataloe,
tjlung angkloengan doer bedilna,
geleger mariem dalem,
éar soerak kalangtaka,
goong sada toemalawoeng,
ketoek sada oengkoet-oengoet.

[HANCA]


__._,_.___
Posted by: Ki Hasan <khs579 <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Bandung Taun 1956 (3) : Mutasi Male Wiranatakusumah dan Front Pemuda Sunda



Bandung 1956 (3) Mutasi Bupati Bandung Male Wiranatakusumah dan Front Pemuda Sunda

Irvan Sjafari

http://sejarah.kompasiana.com/2013/12/31/bandung-1956-3-mutasi-bupati-bandung-male-wiranatakusumah-dan-front-pemuda-sunda-621138.html

Tahun 1956 merupakan tahun yang penting dari sudut pandang politik di Jawa Barat, baik tingkat propinsi, Kabupaten Bandung, maupun Kota Bandung. Pada tahun itu terjadi pergantian kepempimpian yang tidak semuanya berlangsung mulus. Ada kesan bahwa elite politik d i pusat kerap tidak memahami aspirasi akar rumput di daerah, bukan saja di Jawa Barat, tetapi di sejumlah daerah. Sementara di tingkat nasional antara elite politik sendiri juga tegang yang berujung dengan retaknya dwitunggal Soekarno-Hatta.

Madjalah Merdeka No 33 Tahun ke IX 18 Agustus 1956 menurunkan tulisan yang menjadi bisik-bisik di kalangan rakyat “Ulang Tahun ke 11 RI: Lambaian Bendera Jang Terakhir Menjaksikan Dwi Tunggal”. Dalam artikel itu disebutkan adanya sepucuk surat yang ditandatangani Wakil Presiden Hatta tertanggal 20 Juli 1956 telah disampaikan kepada ketua parlemen yang diterima pada 23 Juli 1956. Isinya pemberitahuan Hatta untuk mengundurkan diri selaku Wakil Presiden RI setelah konstituante terbentuk.

Hatta dalam pidatonya di Cirebon, di depan kepala-kepala jawatan, pejabat sipil, militer, tokoh koperasi wilayah itu pada Senin 23 Juli  1956 menyatakan kekecewaannya pada kondisi republik masa itu. Dia membicarakan soal kemiskinan yang diderita rakyat, korupsi yang makin memuncak dan pemimpin yang hanya pandai bicara saja. “Kemiskinan dan kemelaratan serta korupsi adalah musuh rakyat yang paling besar. Persoalan sekarang bagaimana menegakkan keadilan dan kemakmuran ke seluruh rakyat Indonesia,” kata Hatta ( lihat juga Pikiran Rakjat, 26 Juli 1956).

Pada Juli 1956 sebuah misi parlemen mengadakan kunjungan ke Sumatra Timur dan Sulawesi Utara untuk mengetahui bahwa telah terjadi penyelundupan yang kemungkinan melibatkan anggota angkatan perang dan tokoh-tokoh daerah. Mereka mendapati kekecewaan di daerah bahwa sebagian besar keuangan pemerintah dari daerah, tetapi daerah yang bersangkutan mendapatkan hasil tidak seberapa.Pemerintah harus lebih banyak memberikan perhatian kepada kepentingan daerah, seperti perbaikan jalan, pengadaan alat angkutan, pembukaan obyek ekonomi, memperbanyak s ekolah dan rumah sakit (Madjalah Merdeka No 29, 21 Juli 1956).

Mutasi sejumlah bupati di Jawa Barat tidak semua berlangsung mulus, bahkan di Kabupaten Bandung menjadi isu politik yang cukup panas. Selain mutasi bupati Bandung , pada 1956 juga terjadi pergantian walikota Bandung, Enoch ke tangan Ipik Gandamana kemu dian ke tangan R.Priyatna Kusumah, pergantian Panglima Siliwangi antara Kolonel A.E Kawilarang dengan Kolonel Suprayogi hingga Gubernur Jawa Barat dari Sanusi Hardjadinata ke Ipik Gandamana. Namun dalam tulisan ini saya menyoroti lebih dahulu soal mutasi Male Wiranatakusumah dan persoalan politik lainnya dalam tulisan berikutnya.

Sementara dalam bagian kedua tulisan ini ialah munculnya Front Pemuda Sunda dan segala pro-kon tranya. Pembahasan lebih ditunjukan pada perkembangan yang terjadi pada Maret hingga awal Juli 1956. Perkembangan berikutnya dibahas dalam tulisan lain.

Mutasi Male Wiranatakusumah

Male Wiranatakusumah (kredit foto wikipedia)

 

Sebagai keturunan pendiri kota bandung dan bupati sebelumnya, Male Wiranatakusumah memang berakar di kalangan rakyat Kabupaten Bandung. Kelahiran 14 September 1911 diangkat menjadi Bupati Bandung pada 14 Januari 1948. Malemenamatkan pendidikan MOSVIA pada 1935. Bupati R.Male Wiranatakusumah ikutterlibat mendirikan negara Pasundan. Istilah ini lahir pada 4 Mei 1947. Setelah itu di Bandung diadakan konferensi Jawa Barat yang bertujuan Badan Pemerintahan daerah Sementara. Konfrensi ini dipimpin oleh Hilman Jayadiningrat. Sejarah kemudian mencatat Negara Pasundan (bersama RIS) melebur ke dalam RI.

Pada 17 Maret 1956 serah terima jabatan Bupati Kabupaten Bandung Raden Tumenggung Ma le Wiranatakusumah ke R. Apandi Wiradiputra yang tadinya menjabat Bupati Tangerang. Mutasi jabatan adalah hal yang biasa, tetapi tersiar kabar bahwa Male Wiranatakusumah hanya dipindahkan ke Kantor Gubernur. Pada 5 Maret 1956DPRDS (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara) Kabupaten Bandung sudah menangkap keresahan ini dengan menolak pergantian bupati dan ingin mempertahankan Male.

Namun pemerintah pusat tidak menangkap hal ini. Akibatnya pada waktu pelantikan di pendopo ribuan rakyat dari segala jurusan di Kabupaten Bandung memenuhi halaman pendopo dengan maksud yang sama: Ingin jabatan Male dipertahankan. Upacara yang dilangsungkan pukul 10 pagi itu diliputi suasana haru. Bupati Male keluar dari kamarnya diiringi Wedana Surya Pranata. Rakyat pun memalingkan muka ke arah pemimpin yang mereka cintai itu.

“Saya minta dengan sangat perhatian dan bijaksana saudara residen mengundurkan pemasrahan (timbang terima) sampai saat memungkinkan,” ujar Bupati Male.

Residen Priangan Ipik Gandamana yang ditunjuk mewakili Pemerintah Pusat akhirnya memutuskan menangguhkan timbang terima sampai ada ketentuan dari pusat. Rakyat pun bubar ketika Bupati Male memberikan wejangann ya (Pikiran Rakyat, 19 Maret 1956).

Tantangan terhadap mutasi Male Wiranatakusumah terus berlanjut. Awal April 1956 Persatuan Pamong Desa Indonesia (PPDI) Cabang Bandung mendesak Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri agar meredakan suasana di Kabupaten Bandung. Tuntutan PPDI Cabang Bandung ini juga didukung oleh Partai Nathadul Ulama Cabang Bandung. Dasarnya adalah kepribadian Male yang cukup progresif. Pernyataan atas nama 43 ribu anggota NU di Kabupaten Bandung. Delegasi DPRD/DPD Kabupaten Bandung menemui Menteri Dalam Negeri Sunaryo (Pikiran Rakjat, 5 April 1956).

Gubernur Jawa Barat Sanusi Hardjadinata akhirnya memberikan penjelasan untukmeredakan kemelut ini pada 22 April 1956. Menurut gubernur persoalan yang timbul dipertahankannya Bupati Male oleh DPDS (Dewan Pemerintahan Daerah Sementara)Kabupaten Bandun dan enggan menyerahkan pekerjaan urusan otonomi kepada Bupat i Apandi Wiradiputra. Peristiwa ini sudah dilaporkan kepada Menteri Dalam Negeri di Jakarta dan seluruh persoalannya terserah kebijakan Mendagri.

Menurut Sanusi, bupati yang resmi menjabat kepala daerah di Kabupaten Bandungtetap Apandi Wiradiputra. Male diperbantukan pada Gubernur Jawa Barat. Mutasi tersebut juga dialami bupati-bupati daerah lain. Sanusi memberikan dictum kepada mereka yang tidak setuju bahwa menurut pasal 2 ayat 3&nb sp;UU 22/1948 disebutkan Kepala Daerah menjabat Ketua dan Anggota DPD. Sementara pada pasal 18 ayat 2 dari UU 22/1948 kepala daerag Kabupaten (kota besar) diangkat oleh Menteri Dalam Negeri dari sedikitnya 2 atau sebanyak-banyaknya 4 calon yang diajukan DPD. Pasal 46 ayat 4 pada PP itu untuk sementara waktu pengangkatan kepala daerah dijalankan menyimpang dari ketentuan pasal 18. DPD tidak dinyatakan mempertahankan tapi hanya mengajukan calon.

“Dipindahka nnya Bupati apandi ke Bandung untuk membantu pembangunan di daerah ini karena dia dikenal bupati tercakap di Jawa Barat,” kata Sanusi seperti dikutipPikiran Rakyat, 23 April 1956.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) bersikap tidak mengeluarkan uang kepada pemerintah urusan otonom Kabupaten Bandung. Bagi Sanusi hal itu wajar karena menurut peraturan yang berlaku instansi itu baru bisa mengeluarkan uang setelah ditandatangani oleh yang berhak dalam hal ini Bupati Apandi Wiradiputra. Masalahnya bukan saja BRI yang melakukan , tetapi juga Kantor Pusat Perbendaharaan (KCK) dan kas negeri melakukan hal yang sama. Majalah Merdeka edisi 17 Thn IX pada 28 April 1956 melaporkan bahwa Wakil Ketua DPD Kabupaten Bandung tidak bisa mengambil uang pembayaran uang swatantra (uang otonomi).

Antrean di depan loket kas daerah 1956 (kredit foto Madjalah Merdeka, 28 April 1956)

 

Pernyataan Gubernur mendapatkan reaksi dari DPDS Kabupaten Bandung pada awalMei 1956. DPDS Kabupatan Bandung bersikeras penafsiran atas pasal 2 UU No 22/1948 itu pemerintah daerah terdiri dari DPRD dan DPD. Kepala daerah menjabat Ketua dan anggota DPD adalah kepala daerah yang diangkat mendagri atas usul DPD sebagaimana yang ditentukan pasal 18. DPRD Kabupaten Bandung juga mengirim telegram supaya pemindahan Bupati Male dibatalkan (Pikiran Rakjat, 2 Mei 1956).

Pada pertengahan Mei 1956 tersiar desas-desus bahwa Bupati Apandi Wiradiguna akan dimutasikan lagi menjadi kepala Daerah Kabupaten Tasikmalaya mengganti Bupati Priatna Kusumah. Situasi kian memanas ketika Dewan daerah PNI Jawa Baratpada 9 April lalu mengeluarkan larangan para anggotanya memasuki dan membantu organisasi yang bersifat kesundaan. Akibatnya organisasi seperti Tresna Sunda (Bogor), Daja Nonoman Sunda (Jakarta) dan Nonoman Sunda (Bandung) mengadakan pertemuan memba has instruksi tersebut. Ketiganya menyatakan diri bukan sebagai organisasi yang bersifat partai politik.

Dalam pertemuan itu ketiga organiasi menyatakan bahwa mereka hanya ingin meningkatkan harkat dan derajat bangsa dan negara Indonesia dengan meninggikan kebudayaan daerah. Instruksi PNI disebutkan sebagai fitnahan dan hinaan bagi suku bangsa Sunda dan organisasi-organisasi di atas khususnya. Ketiga organisasi itu menuduh instruksi PNI bersifat memecah-belah persatuan seluruh rakyat Indonesia(Pikiran Rakjat, 17 Mei 1956).

PNI Jawa Barat juga mengadakan konferensi di Bandung pada 19 hingga 21 Mei 1956 yang dihadiri seluruh cabang. Konferensi itu mengambil keputusan antara lain mendesak pemeirntah supaya segera mengelaurkan peraturan tentang pergantian DPRDS dengan pertimbangan hasil Pemilu 1955. Konferensi juga menyebutkan bahwa gerakan kedaerahan sebagai gerakan yang berbahaya (Pikiran Rakjat, 24 Mei 1956).

Pada 12-14 Juni 1956 masalah mutasi bupati di Bandung menjadi perdebatan sengit di DPRDS Jawa Barat. Dalam sidang pleno pada 12 Juni 1956 yang dibuka politisi Masyumi Rusjad Nurdin pada 9.30 di antaranya pemandangan umum babak pertama yang menghasilkan tiga pandangan soal mutasi Male Wiranatakusumah.

1. Pihak yang menuduh DPD bertindak melampaui batas-batas yang ditentukan

2. Masalah mutasi diselesaikan denagn sidang antara DPRDS, Gubernur dan Mendagri

3. Male Wiranatakusumah te tap dipertahankan (Pikiran Rakjat, 13 Juni 1956)

Dalam pandangan hari berikutnya DPRD Jawa Barat memunculkan tiga pandangan lagi.

1. Tetap mempertahankan Male Winaranatakusumah

2. Dibiarkan seperti sekarang dengan dua bupati

3. Menerima keputusan Mendagri (Pikiran Rakjat, 14 Juni 1956)

Dalam sidang itu anggota DPRDS Jawa Barat bernama Suwendi&nb sp;meneybtukan adanya kesalahan penfasiran soal pasal-pasal dalam UU No 22/1948. Anggota Hadi Hasanaudin menyebutkan pekerjaan pemerintah daerah lebih ringan  apabila dikerjakan dua orang. Ketika diadakan pemungutan suara tiga anggota DPRDS Abu Nazir, Oman dan Suwendi meninggalkan sidang.

Apandi Wiradiputra akhirnya mengeluarkan pernyataan mengharapkan DPRDS/DPDSuntuk mempertimbangkan UU No.10 tahun 1956 yang menyebutkan wewenang penunjukkan pejabat ada pada pemerintah pusat. Dia mengakui bahwa soal mengenai otonomi daerah belum diserahkan kepadanya. Di antaranya instruksi dari pusat untuk meninjau obyek otonomi daerah. Kalau instruksi tidak dilaksanakan maka yang disalahkan adalah dirinya. Apandi mengaku sudah mengundang DPDS untuk bersidang tetapi dianggap sepi (Pikiran Rakjat, 14 Juni 1956).

Hingga pertengahan Juli 1956 persoalan mutasi Bupati Male Wiranatakusumah belum terselesaikan. Kalangan DPRDS baik Kabupaten Bandung, Kota Besar Bandung hingga Jawa Barat menghadapi masalah “deadline” 1 Juli 1956 mereka harus bubaratau demisioner atas instruksi Menteri Dalam Negeri karena sudah adanya anggota parlemen hasil pemilu 1955. Namun kalangan DPRDS menghendaki adanya DPRD peralih an agar tidak terjadi kekosongan demokrasi sebelum hal itu terwujud. Ini terjadi karena perbedaan tafsiran soal UU No. 7 dan No 10 1956 (Pikiran Rakjat, 13 Juli, 6 Agustus 1956).

Gerakan Pemuda Sunda

Pada 17-18 Maret 1956 sekitar 50 orang utusan beberapa organisasi Pemuda Sunda, di antaranya Nonoman Sunda Bandung, Mitra Sunda Bandung, Putra Sunda Bogor dan Daja Nonoman Sunda Djakarta, serta perseorangan yang terkait mengadakan pertemuan di Bogor. Dalam pertemuan itu dibicaraan beberapa pokok persoalan mempersatukan usaha semua organisasi pemuda Sunda dan cara mengangkat derajat Suku Sunda (Pikiran Rakjat, 20 Maret 1956).

Putera Sunda didirikan di Bogor oleh Saikin Suriawidaja dan anggota-anggotanya terdiri dari mahasiswa-mahasiswa per tanian Bogor pada 1956. Sementara Nonoman Sunda berdiri pada 13 Oktober 1952 di Bandung dan Mitra Sunda pada 5 Oktober 1952 di kota yang sama.

Pada hari pertama menghasilkan pembentukan Badan Musyawarah Pemuda Sunda dan Front Pemuda Sunda. Organisasi pertama diketuai oleh Alisyahbana Kartapranata. Sementara Front Pemuda Sunda diketuai oleh R.Muh Apit S.K dari Bandung dan wakilnya adalah Adeng R Kusumawidjaja. Sementara Sek retaris jendralnya Adjam S. Syamsupradja dan bendahara Nan Katrina. Badan Musyawarah Pemuda Sunda bersifat kemasyarakatan dan kebudayaan, sementara Front Pemuda Sunda adalah bersifat perseorangan dan membicaraan keadaan Suku Sunda.

Pada hari kedua pertemuan ini mengeluarkan pernyataan dari Front Pemuda Sundayang antara lain berisi mmeperjuangkan struktur ketatanegaraan negara kesatuan menjadi yang bersifat ferderasi. Dengan alasan bahwa skeitar 18 juta Suku sunda memp unyai bahasa dan kebudayaan sendiri. Front Pemuda Sunda juga menuntut istilah Jawa Barat diganti dengan nama Pasundan. Namun Mitra Sunda Bandung kemudian menarik diri, hingga pernyataan itu atas tiga organisasi saja.

Pernyataan tiga organisasi ini mengundang pro kontra di Pikiran Rakjat. Makmun Atmasawita beralamat di Jakarta menyatakan kenyataan politik pemerintah dan golongan tertentu kurang bijaksana dan sering menimbulkan prasangka di daerah,ter masuk golongan pemudanya. Front Pemuda Sunda tidak menghendaki kalau dahulu diinjak oleh sepatu kolonial, sekarang diinjak oleh bakiak nasional.

Sementara Enoh Sukedja dari Bandung menyatakan ketidaksetujuannya terhadap negara federasi. Sejarah telah membuktikan bahwa negara-negara kesatuan yang rakyatnya merasa berbangsa tunggal ika itu kuat. “Kita djangan menjokong atau membantu usaha mereka jang memperjuangkan pemisahan daerah.” ( Pikiran Rakjat, 23 April 1956).

Gatot Mangkupradja dalam sebuah pernyataan dalam harian Pikiran Rakjat edisi 13 Juni 1956 menyebutkan bahwa Badan Musyawarah Sunda bukan gerakan yang bersifat provinsialis. Menurut tokoh pergerakan itu pergantian nama Jawa Barat jadiPasundan sama halnya dengan menyebut Kalimantan untuk Borneo. Selain itu nama Pasundan bukan hasrat untuk lepas dari Republik Indonesia.

Gatot Mangkupradja menyatakan kekecewaannya terhadap partai yang tergesa-gesa melarang anggotanya memasuki gerakan sunda. Gerakan-gerakan ini hanya orang Indoensia yang ebrsuku Sunda dan anggotanya orang Sunda. Negara Indonesia dibangun bangsa Indonesia bermacam-macam suku bangsa dan adat, serta kebudayaan beragam. Negara tidak boleh menindas perkembangan budaya daera h.

Pada 23 Juni 1956 Pikiran Rakjat memuat surat pembaca bernama Moeljono wargaJalan Aceh berjudul “Tidak Betjus” isinya menimbulkan reaksi keras. Surat itu berisi bahwa sebagian besar para dokter di Bandung orang an>Jawa dan Tionghoa, serta sebagian suku bangsa dari Sumatra. Begitu juga mahasiswa Fakultas Teknik bukan didominasi dari Suku Sunda. Surat ini melengkapi surat lain yang ditulis seorang bernama Purnomo yang intinya mengkritisi Nonoman Sunda. Akibatnya dalam tiga hariPikiran Rakjat mendapatkan 90 surat yang mengecam surat-surat itu.

Di antaranya surat yang ditulis oleh Atje Sukarman, warga Jalan Cikawao, bertajuk “Nonoman Sunda dalam Struktur Masjarakat Djawa Barat” dalam Pikiran Rakjat 26 Juni 1956. Ada lima pernyataan yang dilontarkan Atje.

1.Nonoman Sunda tidak bersifat proviansialis

2. Nonoman Sunda tidak berhaluan separatism

3. Nonoman Sunda tidak chauvinism

4. Nonoman tidak anti kalangan O (maksudnya penuturan akhiran O, orang Jawa)

5. Nonoman sunda tidak iri hati terhadap saudara-saudara O.

Menurut Atje Sukarman Nonoman Sunda berdaya upaya merubah struktur masyarakat di Jawa Barat seperti saat itu tempat mereka lahir dan didewasajab. Mereka khawatir akan keh ilangan lebensraum (ruang hidup). Memperjuangkan lebensraum adalah hak setiap manusia, hak setiap suku bangsa dan hak setiap bangsa. Justru dengan menghindarkan kenyataan ini memberikan stimultan bagi perpecahan bangsa yang tidak dikehendaki. Pemuda Sunda hanya ingin membangun dan mengolah negara Indonesia sehingga tercapai negara yang d icita-citakan. Gerakan Sunda tidak punya dasar politik merusak dan tidak menghendaki perpecahan dalam persatuan bangsa.

Sekalipun perdebatan mengenai gerakan kedaerahan marak dan hangat hingga akhir Juni 1956 belum ada reaksi serius dari kalangan pemerintah maupun militer, terutama di Jawa Barat. Kalangan militer lebih memperhatikan ancaman gangguang keamanan dari Darul Islam Sekal ipun sebetulnya suasana politik di tingkat pusat cukup panas dan rasa tidak puas di berbagai daerah menjalar.

Irvan Sjafari

Sumber Lain:

http://www.bandungkab.go.id/arsip/2404/bupati-rtmwiranatakusumah-viaom-maleperiode-1947-1956. Diakses pada 28 Desember dan 31 Desember 2013).

Lubis, Nina Herlina Sejarah Tatar Sunda 2, Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran, 2003

Tags:

 

 



__._,_.___
Posted by: "Waluya" <waluya2006 <at> yahoo.co.id>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Fw : Bandung Taun 1956 (1)



Kumaha kaayaan Kota Bandung jeung umumna Jawa Barat di taun 1956? Nyanggakeun artikel Irvan Sjafari nu sok nulis artikel sajarah di Kompasiana (aya sababraha hiji artikel):

1>

 

 

 

Bandung 1956 (1) Masalah Keamanan dan Tekanan Ekonomi di Awal Tahun

 

Irvan Sjafari

 

http://sejarah.kompasiana.com/2013/09/25/bandung-1956-1-masalah-keamanan-dan-tekanan-ekonomi-di-awal-tahun--592911.html

 

Gubernur Jawa Barat Sanusi Hardjadinata dalam sambutan menjelang tahun baru 1956 mengakui bahwa masalah keamanan di wilayahnya masih sulit dan membutuhkan kesabaran, serta ketabahan. Sekalipun dari sudut militer banyak kemajuan.1 Apa yang diungkapkan gubernur memang apa adanya. Tingkat kematian pada 1955 masih tinggi sekalipun jumlahnya turun dibanding 1954. Sel ama 1954-1955tercatat rata-rata 144 orang dibunuh dalam setiap bulannya. Gubernur menyebutkan bahwa penyelesaian tidak dalam jangka pendek.

Tabel I2

Kasus

Januari-November 1955

1954

Pembunuhan

1583 orang

2292 orang

Penganiayaan

561 orang

1051 orang

Penculikan

132 orang

304 orang

Pembakaran

14.292 rumah

16.498 rumah

Garong

41.292 rumah

31.005 rumah

Kerugian

Rp 68.819.600,55

Rp.45.466.255,16

Kualitas kriminalitas di dalam kota juga tidak turun. Misalnya saja pada 3 Januari 1956 De Court, pemilik Toko Radio Cine di Jalan Braga 36 ditemukan tewas. Mayatnya ditemukan babunya di tokonya dengan tanda-tanda penganiayaan yang cukup kejam.Bukti-bukti menunjukkan bahwa De Court diseret dari beberapa ruangan untuk ditikam dengan senjata tajam beberapa kali. Kasus ini menggemparkan karena terjadi di tengah kota Bandung, di kawasan prestesius pula dan o rang-orang di sekitar tempat itu tak mendengar apa pun.3

Penanganan masalah gangguan keamanan menjadi semakin rumit khususnya kalau sudah menyangkut Darul Islam. Aparat kerap dituding salah sasaran. Contohnya pada November 1955 dua pemuka Masyumi terbunuh karena disangka bagian dari gerombolan. Mualami Umar Husin di Cisalengka diambil dari rumahnya di Jalan Sindangwangi, dini hari jam 4.30 dan ditembak di tempat oleh orang berpakaian seragam. Tokoh Masyumi lainnya Kyai Furqon ditembak di depan Kantor Masyumi Cabang Rancaekek juga dini hari 3.30. 4

Pihak militer melalui Perwira Pers Teriotorial III menyebutkan Kyai Furqon sewaktu digerebek di rumahnya ditemukan dua dokumen yang berisi hubungan dengan gerombolan. Sewaktu dinaikkan ke truk ia melarikan diri sehingga ditembak mati. Sementara Mualim Umar Husin diangkut dari rumahnya dan menyanggupi menunjukkan teman-temannya di Cikopo. Guna menjaga kecurigaan lampu jeep dimatikan, namun Mualim Umar melarikan diri ke jurang. Waktu itu dilepaskan tiga tembakan.4

Peristiwa itu menimbulkan protes keras. Sekitar 100 orang rakyat Rancaekek dan Cisalengka termasuk keluarga M. Furqon dan Umar Husin pada 17 November 1955 mendatangi Gubenur Jawa Barat Sanusi Hardjadinata. Ikut menyaksikan Komisaris Polisi Sutardji dan Ketua DPRDS Propinsi J awa Barat Djaja Rachmat. Mereka mengajukan permintaan kepada gubernur untuk jaminan kesalamatan. Mereka menyebutkan M.Furqon dan Umar Husin dalam revolusi ikut berjuang. Sanusi Hardjadinata akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa dia pribadi tidak akan membenarkan tindakan alat negara berada di luar hukum. 5

Sekalipun begitu dua pemilihan umum untuk DPR pada September 1955 dan Konstituante pada Desember 1955 berl angsung aman. Pada Desember 1955 sejumlah kegiatan di dalam Kota Bandung tetap berlangsung aman. Pada 7 Desember 1955 Persib Bandung bertanding melawan Klub SAFA dari Singapura di Lapangan Sidolig. Pada awal Desember 1955 Bandung menyelenggarakan kejuaraan renang antar sekolah lanjutan di Pemandian Centrum.7

Krisis politik di pusat mendapatkan reaksi di daerah Jawa Barat. Krisis pada Kabinet Burhanuddin Harahap berpangkal dari diplomasi soal Irian Barat men imbulkan spekulasi bahwa Perdana Menteri didesak untuk menyerahkan mandatnya pada Presiden. Masyumi Jawa Barat segera mengeluarkan pernyataan yang menudingpihak oposisi terutama PKI tak mau melihat pemerintah Burhanuddin Harahap mendapat kemajuan dalam usaha menyelamatkan rakyat dan negara.

Masyumi Jawa Barat mengklaim bahwa kabinet selain berhasil menyelenggarakan pemilu untuk DPR dan konstituante, juga berhasil menjaga keutuhan Angkatan darat.Selain itu keuangan negara yang dalam kabinet Ali Sastroamidjojo bermasalah menjadi kuat kembali dalam tempo empat bulan defisit negara dikurangi sampai Rp 1,2 milyar. Sementara tidak turunnya harga beras karena keteledoran Kabinet Ali. 8

Masalah-masalah Ekonomi di Propinsi dan di Kota

Di bidang ekonomi harga beras masih tetap tinggi. Pada awal 1956 harga beras tumbuk kualitas I mencapai Rp 4,80 di kota Bandung dan itu berarti tidak turun.Kualitas II dan III masing-masing Rp 4,60. Harga bahan makanan lainnya kentang kualitas I berkisar Rp 3 dan kualitas II berkisar Rp 2,5. Gula pasir dijual Rp 3,30 per kilo, tomat antara Rp 5-6 per kg-nya, buncis Rp 4 hingga Rp 5 per kg dan ikan mas dijual Ro 10-15 per k g.9

Meskipun begitu Sanusi Hardjadinata mengungkapkan bahwa pada 1955 modernisasi industri rakyat maju pesat. Pada 1950-1954 tercatat 80 perusahaan dimodernisir dengan biaya Rp 7 juta. Sedang 1955 ada 195 buah perusahaan yang dimodernisir dengan biaya Rp 37 juta. Itu artinya peningkatan lebih dari dua kalilipat hanya dalam setahun. Pada 1955 Jawa Barat membentuk lagi dua induk perusahaan, yaitu Pandai Besi di Ciwidey dan Tekstil di Majalaya dengan biaya Rp 7 juta. Ini menambah dua induk sebelumnya yaitu pandai besi di Cisaat, Sukabumi dan Keramik di Plered Purwarkarta.10

Gubernur juga mengungkapkan kemampuan pemerintah Jawa Barat untuk menampung murid-murid SR hanya sekitar 750 ribu orang. Padahal yang harus ditampung 1,5 juta. Namun ternyata atas usaha rakyat sendiri bisa ditampung sebanyak 750 ribu jiwa. Hal ini meru pakan prestasi yang dapat dibanggakan rakyat Jawa Barat masa itu. 11

Perumahaan rakyat menjadi isu besar untuk Kota Bandung pada akhir 1955 hingga awal 1956. Pada November 1955 Sidang DPRDS Kota Besar menuding DPD menyerahkan pembikinan rumah pada aanemer (kontraktor) yang mahal. Dalam sidang yang dipimpin E.Z Muttaqien dan dihadiri 20 orang itu, salah seorang anggota dewan bernama Judawinata dari Parindra menyebutkan pemborongan rumah di Cipaganti. Hal yang sama juga diungkapkan Hadidjah Salim (muslimat) yang menyesalkan kota besar melakukan pemborongan kepada kontraktor dari Jakarta. 12

Pada Januari 1956 Kantor urusan Perumahan di Bandung dituding lebih banyak mengurus rumah-rumah untuk keperluan warga asing yang berani mengeluarkan uang lebih banyak. Namun Kota Besar Bandung mengklaim bahwa perumahan rakyat mengalami kemajuan besar, terutama untuk Plan Cipaganti dan Plan Dangdeur. Itu karena Kota Besar sudah mendirikan Yayasan Kas Pembangunan untuk melayani warga Bandung yang membutuhkan rumah. Yayasan ini dipimpin sendiri oleh Walikota Bandung, Enoch, dengan anggota seperti Thio Peng Koen, Muhammad fadel Dasuki, Lamria, Syamsuri. Plan Cipaganti misalnya diklaim sbeanyak 67 rumah hampir selesai.13

Partisipasi swasta juga menolong kota Bandung. Sampai akhir 1955 Kota Bandung mempunyai balai pengobatan, namun hanya 4 yang dikelola pemerintah. Jumlah itu masih kurang karena seharusnya Bandung pada 1956 mempunyai 24 balai pengobatan. Tenaga dokter pemerintah harus bergilir 2-3 seminggu agar bisa mengunjungi balai pengobatan. Namun kekurangan ini bisa diatasi dengan peran serta dokter swasta.&nbsp ;14

Praktek bergiliran itu dibicarakan dalam Rapat Ikatan Dokter Indonesia di Kota Bandung pada awal Januari 1956. Hingga 1955 jumlah dokter di Bandung yang bisa praktek pada hari besar dan Minggu hanya 16 dokter dan setelah rapat itu diputuskan sekitar 80 orang. Kota Bandung pada masa itu sudah memiliki sejumlah dokter kondang seperti dr. Djundjunan (Djoendjoenan) yang berpraktek di Jalan Padjajaran No.6 8 dan dr. Hasan Sadikin yang berpraktek di Jalan Dago.15

Memasuki 1956 berbagai masalah sosial masih menunggu Kota Bandung. Angka perceraian di Kota Bandung pada 1955 masih tinggi dibanding dengan angka perkawinan. Menurut register Masjid Bandung selama1955 di Kota Bandung telah terjadi 4942 perceraian sementara pernikaha n 9837 dan ruju 377. Itu artinya angka perceraian secara presentase mencapai lebih dari 50 persen.16

Pengangguran menghantui Kota Bandung. Sejumlah solusi dilakukan oleh pemerintah kota. Pada pertengahan Januari 1956 Walikota Bandung Enoch dan anggota DPRDS Kota Besar Bandung meninjau obyek-obyek perburuhan. Yang dikunjungi antara lain pusat latihan kerja di Jalan Pa pandayan. Hingga Januari 1956 sebanyak 28 orang sudah lulus dan masih menempuh pendidikan 56 orang.

Di Citere, Pengalengan rombongan menyaksikan perkebunan kol dan kentang yang luasnya 3 Ha menampung 44 orang pengangguran. Mereka adalah buruh-buruh bekas perkebunan negara dan diberikan modal pada mereka sebesar Rp 34.000. Tempat lain adalah Bunikasih juga di Pengalengan. Di sana terdapat perkebunankol seluas 5 Ha dan menam pung 48 orang penganggur sebagai dampak akibat penutupan perkebunan kina Bunikasih pada 1952.

Para penganggur juga diusahakan bekerja di perusahaan bengkel sepeda, perusahaan kue, serta perusahaan kerajinan lainnya. Untuk kebutuhan-kebutuhan ini Jawatan Tenaga Kerja pada 1955 sudah mengeluarkan biaya Rp 10.247,50. Selain itu Jawatan juga mengeluarkan biaya untuk menggaji para penganggur diberi lapangan kerja darurat juga pada 1955 untuk 57 orang dengan biaya Rp 18.918 . 17 Pembukaan lahan pertanian untuk para pengangguran ini kontras juga dengan laporan bahwa selama 1955 pertanian di Jawa Barat mengalami masa kelegalapan. Produksi padi merosot sebesar 200 ribu ton yang berarti 5 persen kurang dari produksi yang dicapai pada 1954.18

Irvan Sjafari

Catatan Kaki:

1. Pikiran Rakjat, 2 Januari 1956

2. Pikiran Rakjat, 3 Januari 1956. Dalam bulan Januari 1956 terjadi serangkaian penggarongan dan pembakaran di Kabupaten Garut. Di Kampung Haur Panggunggerombolan menggarong 21 rumah penduduk dengan kerugian Rp 3.335, sementara Kampung Ciakar dan Pasir Tereup 67 rumah dengan kerugian Rp 8298,30. Kampung Darmayu (Pamengpeuk, Garut) 3 rumah digarong dan 11 rumah dibakar. Kampung Cipurat, Desa Cilumpayan juga mengalami kerugian 7 rumah. Kontak senjata terjadiantara pasukan RSP dari Pos Suaksari dengan gerombolan bersenjata d i berapa tempat. Di antaranya di Kampung Narunggul, Desa Cipelah, Cisurupan dua gerombolan ditembak. Penggarongan juga terjadi dalam wilayah Kabupaten Bandung menimpa 60 rumah dan Kabupaten Ciamis menimpa 10 rumah dengan krugian Rp 6947,25 (lihat Pikiran Rakjat, 11 Januari 1956).

3. Berita tentang pembunuhan De Court bisa dilihat di Pikiran Rakjat, 4 Januari 1956. Sekitar seminggu kemudian polisi sudah menahan 35 pemuda yang diduga melakukan perbuatan asusila dengan De Court. Dari sejumlah orang itu terdapat beberapa warganegara Belanda. Penangkapan warganegara Belanda terus belanjut dengan ditahannya 4 orang Belanda lainnya menimbulkan protes Komisaris Tinggi Belanda yang kemudian menemui Kepala Reskrim Hasan Machbul. Namun polisi masih kesulitan menangkap pembunuh sebenarnya. (lihat Pikiran Rakjat, 11 Jan uari 1956).Beberapa laporan kriminalitas di dalam kota menonjol terutama pada pertengahan Januari 1956, seperti pencurian di Firma Puncak raya di Jalan Raya Barat dengan kerugian Rp 24 ribu, Rumah Wie Swa Tik di Jalan Raden Patah dengan kerugian Rp 27.000, Tan Lie how di Gang Tingkil dengan kerugian uang dan perhiasan, rumah seorang Tionghoa bernama Bhoe Boen Kang yang kehilangan dua ban truk (Pikiran Rakjat, 17 Januari 1956).

4.  span>Pikiran Rakjat, 11November 1955 membuat berita yang disebutkan kejadian Rabu malam(dini hari) 9 November 1955.

5. Pikiran Rakjat, 12 November 1955.

6. Pikiran Rakjat, 18 November 1955.

7. Pikiran Rakjat, 8 Desember 1955 memberitakan Kesebelasan SAFA dikalahkan Persib 4-0. Gol diciptakan Omo dan Ade. Disebut kan Persib mendapatkan keuntungan karena hujan turun dan membuat lapangan tergenang air. Kejuaraan renang lihat Pikiran Rakjat 6 Desember 1955.

8. Pikiran Rakjat 9 Januari 1956.

9. Pikiran Rakjat 4 Januari 1956.

10. Pikiran Rakjat, 2 Januari 1956.

11. Ibid.

12. Pikiran Rakjat, 19 November 1955.

13. Pikiran Rakjat 4 dan 5 Januari 1956.

14. Pikiran Rakjat, 14 Januari 1956.

15. Pikiran Rakjat, 5 januari 1956

16. Pikiran Rakjat, 17 Januari 1956.

17. Pikiran Rakjat, 19 Januari 1956.

18. Pikiran Rakjat, 11 Januari 1956

Tags:



__._,_.___
Posted by: "Waluya" <waluya2006 <at> yahoo.co.id>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Fw: Cijulang dan Cisewu 1956 : Pasca Pendudukan Darul Islam

Saha urang Cijulang atawa Cisewu? Kuring manggihan artikel di Kompasiana
perkara sajarah tempat ieu di taun 1950'an. Artikel ieu cukup hade, sabab
salah sahiji sumberna tina media jaman harita (Pikiran Rakjat). Jawa Barat
Kidul mangrupakeun daerah nu katinggaleun, malah tepi ka ayeuna.  Nu
nyababkeunana, keur mah kaayaan geografina ditambah deuih (lamun nempo
artikel ieu) daerah ieu kungsi teu aman pisan.

Nyanggakeun artikelna:

http://sejarah.kompasiana.com/2014/06/07/-cijulang-dan-cisewu-1956-pasca-pen
dudukan-darul-islam--664164.html

Cijulang dan Cisewu 1956 : Pasca Pendudukan Darul Islam
Oleh : Irvan Sjafari

Cijulang adalah salah satu kecamatan dalam wilayah dalam Kabupaten
Pangandaran (yang merupakan daerah pemekaran). Sebelumnya Cijulang termasuk
wilayah Kabupaten Ciamis. Pada 1950-an Cijulang merupakan salah satu daerah
yang berada dalam kekuasaan Darul Islam. Cijulang merupakan nama kewedanaan
yang mempunyai tiga buah kecamatan, yaitu kecamatan Cijulang, Cigugur dan
Langkaplancar dengan 22 desa. Penduduknya menurut laporan Pikiran Rakjat 14
April 1956 sekitar 60 ribu jiwa. Dari jumlah itu dua pertiganya menjadi
pengungsi.

Wedana Cijulang waktu itu Amas Sutamihardja merupakan wedana yang baru
ditugaskan di Kecamatan Cijulang yang sebelumnya wedana yang diberbantukan
di Bogor. Sementara dari kalangan militer adalah Komandan Batalyon 608 Resor
20 TT VI Mayor Surjo Sumpeno. Di seluruh kewedanaan itu pada 1956 terdiri
delapan desa yang dijadikan beku atau wilayah vakum. Penyelidikan ke
desa-desa pada April 1956 masih dilakukan berhubung dengan pemerintahan
Republik Indonesia masih dalam proses penyusunan delapan bulan setelah
penempatan Batalyon 604 pada Agustus 1955 di Kewedanaan Cijulang. Sebelum
ini rakyat Cijulang belum pernah merasakan Pemerintahan RI sama sekali.

Desa-desa vakum yang terdata ialah Desa Kartahardja, Ciparanti, Sindangsari
didiami sekitar seribu kepala keluarga. Sementara di Kecamatan Cigugur
terdapat dua desa vakum, yaitu Desa Pagarbumi dan Desa Jadimulya dengan
jumlah penghuni sekitar 1500 kepala keluarga. Kecamatan Langkaplancar
mempunyai tiga desa vakum di mana tinggal sekitar 2000 kepala keluarga.
Ketiga desa itu adalah Desa Pangkalan, Desa Bojongkondang, Desa Cimanggu
yang merupakan daerah surplus.

Secara keseluruhan wilayah Cijulang daerah minus. Rakyatnya menderita
kekurangan makanan akibat pengacauan yang dilakukan gerombolan. Kawasan ini
sangat terpencil dan jarang didatangi tentara. Itu sebabnya pengaruh
gerombolan bersenjata di daerah ini sangat besar. Menurut Amas Sutamihardja
bukan hanya rakyatnya yang tidak bisa dipercaya, tetapi juga lurahnya. Kalau
wedana itu mengadakan inspeksi ke desa-desanya, ia harus dikawal dan itu pun
terbatas pada beberapa desa yang berdekatan saja.

Perhubungan antara Kecamatan Cijulang dan Kecamatan Langkaplancar terputus.
Jalan-jalan ayng menghubungkan Banjarsari-Padaherang-Pangandaran dan
Cijulang tidak bisa ditempuh kendaraan umum karena sangat rusak. Gerombolan
mengusai dua kecamatan yang merupakan daerah terkaya dalam wilayah itu.
Administrasi Pemerintahan RI berantakan tidak saja di desa-desa tetapi juga
kewedanaan. Bahkan sebelum Amas ditugaskan pemerintahan RI tidak berjalan di
tempat itu. Seorang camat di wilayah ini ditipu selama lima tahun oleh
lurahnya yang ternyata paling setia membantu DI.

Salah satu faktor yang membuat pengaruh Darul Islam di sekitar kewedanaan
ini karena pemimpin-pemimpin DI sekitar kewedanaan tersebut berasal dari
Cijulang. Di antaranya Dede Kartamihardja yang mnejabat sebagai Residen DI
untuk Priangan Timur. Bupati DI bernama Affandi berasal dari Desa Cigugur.
Keduanya dikenal rakyatnya sebagai pemimpin yang membela kepentingan rakyat.
Kedua pejabat itu juga punya hubungan keluarga dengan rakyat daerah
tersebut.

Di daerah istilah yang disebut KONG dan RES untuk julukan mereka yang
bermuka dua. Kalau ada dari pihak menanyakan sesuatu pada rakyat desa, maka
mereka bilang beres. Tetapi kalau gerombolan yang datang mereka menyokong.
Kawasan Cijulang juga merupakan daerah yang sangat baik dipergunakan untuk
bergeriliya. Kekuatan gerombolan di daerah ini sukar dilumpuhkan.

Kisah Cisewu Pesta Wayang Golek

Selain Cijulang, Cisewu juga merupakan salah satu kasus yang menarik dalam
sejarah pendudukan Darul Islam. Pada 13 hingga 17 Oktober 1956 Pikiran
Rakjat menurunkan laporan wartawannya mengenai kunjungan Gubernur Jawa Barat
Sanusi Hardjadinata dan Panglima Siliwangi Letkol Dadang Suprayogi ke
kawasan Cisewu. Rombongan ini ingin meresmikan kembali kampung yang sudah
dibangun kembali-sekaligus sebetulnya menyembuhkan kondisi psikis penduduk
setempat.

Diceritakan Cisewu diserang secara besar-besaran oleh gerombolan bersenjata
lengkap pada 16 Oktober 1953 pukul 20.00. TNI memukul kembali gerombolan ini
cukup telak pada 17 Januari 1956. Tentara dari Kompi III/301 dipimpin Letnan
Satu Mochamad Ma'um melakukan operasi sekitar Salawi, Cibuluh, Cikarang,
Cidaun. Empat bulan setelah operasi, pada 14 April 1956 rakyat membangun
kembali tempatnya. Di setiap desa berdiri Sekolah Rakyat 6 Tahun sebanyak 14
buah yang mempunyai sekitar 4000 murid dan 75 guru. Setiap desa rata-rata
mempunyai 2400 ha sawah.

Dalam meresmikan pulihnya Cisewu rombongan gubernur dikisahkan menggunakan
beberapa jeep yang bergerak lamban karena harus mendaki tanah berlumpur
membuat satu demi satu jeep terbenam. Mereka sudah bergerak sejak pagi namun
baru pada pukul 13.00 tiba di Kampung Mancagahar, lerang pegunungan Kencana.

Kampung ini baru dibangun dari kehancuran dan masih tetap dalam ancaman
gerombolan. Fasilitas umum masih minim dan disebutkan antara lain sebuah
Sekolah Rakyat 6 Tahun yang mempunyai 300 murid dan 8 orang guru. Gubernur
Sanusi berpidato di bawah gerimis hujan bersama sekitar 250 orang. Dalam
pidatonya Sanusi antara lain mengatakan:

" Gerombolan-gerombolan adalah bangsa kita djuga. Tapi ia tidak mau diajak
membangun bersama-sama..." (Pikiran Rakjat 13 Oktober 1956).

Dari Mancagahar, rombongan Gubernur melakukan long march ke Cisewu yang
berjarak 17 km. Gubenur dan Panglima menunggang kuda, sementara yang lain
jalan kaki melalui celah batu dan krikil tajam, serta tanah yang berlumpur.
Rombongan tiba di Kota Cisewu sekitar pukul 7 malam. Sanusi disebutkan
menggunting pita di gerbang, meresmikan Kota Cisewu. Selanjutnya rakyat
menyambut rombongan dengan kegembiraan.

Dalam kegiatan ini rakyat menyaksikan pertunjukkan wayang golek yang
diselenggarakan oleh Jawatan Kebudayaan Garut pimpinan Kosasih Djajakusumah.
Ada yang datang dari tempat yang jauhnya belasan kilometer. Kebanyakan
mereka tidak pernah menikmati hiburan wayang golek sejak zaman normal
(Pikiran Rakjat 15 Oktober 1956). Rombongan menginap semalam di Kota Cisewu.
Rumah-rumah sudah dibangin teratur dan berderet-deret dan begitu juga kantor
pemerintah, termasuk kantor pos komando Cisewu dengan asrama tentara.

Keesokan paginya rakyat yang datang bertambah banyak. Pikiran Rakjat 17
Oktober 1956 melukiskan antara lain:

Pagi hari terdengar gemuruh gendang ditabuh bertalu-talu untuk sedejenak
berbondong-bondong rombongan rakjat dalam pakaian jang bertata warna masuk
ke kota. Serombongan demi serombongan mengalir dari berbagai penjuru. Ada
jang datang dari Desa Cikarang sejauh 20 Km. Djumlahnja tak kurang dari 5000
pendatang wanita dan pria, besar, ketjil, tua-muda berkumpul di alun-alun di
mana gubernur dan panglima memberi wejangan.

Gubernur meletakkan batu pertama tugu kota Cisewu yang disiapkan sersan
Mayor R Sumardihiono. Hari terakhir gubernur dan rombongan dimeriahkan
dengan lomba panjat pinjang. Dalam kesmepatan itu Panglima TNI Siliwangi
Dadang Suprayogi menyapa rakyat dengan ramah dalam Bahasa Sunda kira-kira
seperti ini: "Para mitra sadajana sim kuring ngaraos bingah pisan
kulantaran."

Cijulang dan Cisewu merupakan dua daerah yang menyimpan tragedi sejarah
negeri ini. Sekaligus memberikan pelajaran betapa pahitnya perang saudara
itu.

Irvan Sjafari

------------------------------------
Posted by: "Waluya" <waluya2006 <at> yahoo.co.id>
------------------------------------

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]Yahoo Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    Baraya_Sunda-digest <at> yahoogroups.com 
    Baraya_Sunda-fullfeatured <at> yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    Baraya_Sunda-unsubscribe <at> yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo Groups is subject to:
    https://info.yahoo.com/legal/us/yahoo/utos/terms/

Picon

Mungguhing Sambel [1 Attachment]

[Attachment(s) from Ki Hasan included below]

Mungguhing Sambel

Ceuk beja, sambel keur urang Sunda, jadi kuliner penting. Taya dahar tanpa sambel. Nepi ka kaparigelan nyambel teh, jadi bahan seleksi calon minantu. Mun sambelna medok, ngeunah, bari seuhah, karek bisa lolos jadi calon piminantueun. 

Tah lantaran kitu, cing cuang kumpulkeun resep sambel nu aya di lembur sewang-sewang. Sambel naon wae nu: ngeunah bari seuhah teh.   
===

Apalagi hal membuat sambal, mendjadi perhatian jang besar, sebab sambal itu buat di dusun didjadikan makanan nomor satu, biarpun tidak ada lauk pauk, asal ada sambal sadja tentu nikmat makan itu, sebaliknja biarpun banjak lauk pauk jang lezat kalau tak ada sambal, lengang rasanja, seperti orang tak berkawan keadaannja.

Karena sambal itu mendjadi makanan jang dipentingkan, di samping nasi, sampai ada peribahasa Sunda: Awewe goreng gogog, heuras tagog, badag sambel heuras tjokor, artinja: perampuan jang kasar tingkah lakunja, tak énak sambalnja. Peribahasa ini dikatakan kepada perampuan jang tidak bersopan santun.

Ada lagi peribahasa jang mengenai pekerdjaan, bunjinja: „Djanganlah meniru ilmu menjajur, tetapi harus seperti ilmu menjambal", sebab membuat sambal itu harus sekali djadi, tidak ditjoba dahulu, biar énak atau tidak énak djuga. Maksudnja: kalau kita mengerdjakan satu pekerdjaan, djanganlah ragu-ragu, kalau mau kerdjakanlah sampai selesai, kalau ragu-ragu lebih baik djangan sama sekali.

Oléh karena sambal itu sangat diutamakan, maka perihal membuatnja dipeladjari betul-betul supaja lezat rasanja, sampai ada pertjakapan demikian: „Djikalau seorang gadis énak sambalnja, tentu dirinja djuga nikmat". Berhubung dengan kepertjajaan itu, agar supaja sambalnja énak, maka gadis-gadis di dusun, jang masih kuat sekali kepada adat nénék-mojangnja, banjak jang beladjar menteranja kepada orang tua-tua jang pandai.

(Prawirasuganda, "Adat Perkawinan Di Tanah Pasundan")


__._,_.___

Attachment(s) from Ki Hasan | View attachments on the web

1 of 1 Photo(s)

Posted by: Ki Hasan <khs579 <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Re: Usai Bertemu Mensos, Risma: Insya Allah 18 Juni ini Dolly Ditutup



Manstaaap nih Bu Risma... Kalo mentransformasi Mamang setujuuuh dalam artian mengalih profesikan Mamang setujuuuuh 1000% wkkk.

Tapi kalau sekedar menutup lalu hanya sekedar memberi ganti rugi... Ngak menyelesaikan masalah dan justru akan menimbulkan masalah. Kenapa demikian logika sederhananya adalah dolly itu adalah sumber mata pencaharian, mereka banyak yg menggantungkan hidup dari sana, kalau kita hentikan/ tutup mata pencaharian mereka maka kemungkinan ada dua... Mereka buka ditempat lain atau mereka melakukannya secara sembunyi-2 dan justru dilakukan secara sporadis. Mereka akan melakukan gerilya hehehe.

Nah kalau dialih profesikan mereka punya penghasilan baru yang tentunya lebih punya dignity / harkat martabat yg lebih baik sedemikian sehingga semestinya tanpa dipaksapun mereka akan mau/ sukarela melakukannya. Nah program alih profesinya bukan sekedar asal-2an tapi harus bener-2 nyata dan terasa ya. Kalau kata Prinsip Kabuyutan mah tolak ukurnya gampang Kahartos, Karaos, Buktos ~ Dapat Dimengerti, Dapat Dirasakan, dan Dapat Dibuktikan :).

Contoh sederhana ini cerita nyata ya ditentangga Kampung dkt tempat tinggal Mamang ada seorang penyanyi dangdut yang cantik jelita, dia terkenal seorang perempuan yang ikhlas dan menjadi mata pencaharian menjadi seorang istri muda. Sudah berkali-2 nikah sampailah beberapa waktu lalu dia nikah yg terakhir kalinya menjadi istri ke dua dari seorang Bapak-2 yg sudah berumur namun cukup memiliki materi yang berlimpah :). Nikahnya secara syah walopun secara Agama/ RT RW saja dan syarat si Bapak ini ternyata baik sekali dilarang lagi menyanyi dangdut lagi dan disuruh membuka salon kecantikan :), secara kebutuhan semuanya dipenuhi uang bulanannya sekitar 5jt/ bulan dan uang maharnya 50jt utk modal bikin salon kecil-2an. Tidak terlalu lama setelah menikah si perempuan tsb langsung berhijab dan sekarang punya kesibukan baru dengan salon kecantikannya :). Salon beneran lho ya bukan salon abal-2 :).

Subhanalloh, KHUSNUL KHOTIMAH ini mah :), menurut Mamang inilah prinsip poligami sesungguhnya ya... Bisa Turns Carbons Into Diamonds :). Jadi bisa mengangkat harkat dan martabat seorang perempuan dari yang tadinya di cap "nista" oleh masyarakat menjadi lebih bermartabat (y).

Oleh karenanya barangkali perlu diberdayakan program Bapak-2 asuh ini ya. Anggaplah ini program Amal Gairah ya ;). Agar para wanita pekerja sex itu bisa mentranspormasikan dirinya menjadi Wanita Entrepreneur yang juara :).

Jadi untuk Bapak-2 yang sudah mapan... Punya rezeki lebih silahkan bantu mengangkat harkat dan martabat para pekerja sek komersil dengan cara menikahinya secara resmi atau Agama, lalu berikan mahar untuk modal usaha, lalu berikan uang saku bulanan dan mulailah rubah perilakunya ke kegiatan yg lebih positif dan menghentikan kegiatannya menjadi Pekerja Sex Komersil :).

Menurut Mamang harapan setiap manusia termasuk perempuan untuk memiliki harkat dan martabat yang tinggi :). Tidak ada satupun perempuan yang mau dan rela menjadi Pekerja Seks Komersil kalau semua kebutuhan mereka telah terpenuhi :).

Jadi yuuu mari kita hayuuu xixixi... Oh iya dalam islam tidak ada kewajiban minta izin dari istri pertama sebenernya xixixi... Jadi kalau tidak mau menyakiti hati istri lakukan lah secara tersembunyi sesuai prinsip ketika berbuat baik contoh pada saat memberikan sodakoh oleh tangan kanan maka tangan kiri tidak perlu tahu xixixi. Seperti kata Pak Ustad adakalanya untuk urusan Amal Gairah ini lebih baik minta maaf dari pada minta izin wkkk.

Nah agar kegiatan tersebut benar-2 menjadi amal kebaikan kita maka lakukan dengan ikhlas dan niatkan secara positif karena segala sesuatu perbuatan yg kita lakukan tergantung niatnya :).

Mangga sekali lagi yang punya rezeki berlebih dari pada melakukan hal-2 yg negatif atau daripada menyimpan uangnya di bank, lebih baik melakukan amal gairah dan menolong mengangkat martabat kaum perempuan :). Namun awaaaas lho yaaa jangan sampai Istri pertama ditinggalkan, harus tetap disayangi dan dicintai sepenuh hati :). Nah mengenai warisan dlsb... Harus diatur dan dibuat kesepakatan bahwa harta kekayaan yang dimiliki adalah milik istri pertama beserta keturunan darinya. Sedangkan istri-2 muda mendapatkan harta yang hanya diberikan oleh suaminya dan harus ada hitam di atas putih agar tidak terjadi sengketa dikemudian hari. Istri muda tidak berhak menuntut harta yang menjadi warisan dan milik keluarga dari istri utama/ pertama. Dalam hal ini sang suami harus membuat wasiat yang lengkap dan detail, mungkin bernotaris ya xixixi.

Mohon imel ini jangan di print dan di kasi ke istri Mamang ya hahaha... Siapa tahu nanti Mamang ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa utk diberikan keikhlasan membantu "men-turns carbons into diamonds tsb" xixixi. Kalo ada yg membocorkan imel ini ke istri Mamang yg ada bukannya poligami tapi malah masuk poliklinik wakakakakak.

Aaah si Mamang mah... ada gajah makan teri... Aaaah teori wkkk.
nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com
From: "Aslan acoinggo <at> gmail.com [ALUMNI-IPB]" <ALUMNI-IPB <at> yahoogroups.com>
Sender: ALUMNI-IPB <at> yahoogroups.com
Date: Tue, 3 Jun 2014 08:56:14 -0400
To: ALUMNI-IPB <at> yahoogroups.com<alumni-ipb <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: ALUMNI-IPB <at> yahoogroups.com
Subject: [ALUMNI-IPB] Usai Bertemu Mensos, Risma: Insya Allah 18 Juni ini Dolly Ditutup

 

Alhamdulillah...dua umara yg amanah..


=aco=


Usai Bertemu Mensos, Risma: Insya Allah 18 Juni ini Dolly Ditutup

Selasa, 03 Juni 2014


JAKARTA –Niat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk menutup lokalisasi Dolly dan Jarak sudah bulat. Senin (2/6), Risma menemui Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf Al Jufri untuk membicarakan hal tersebut.

Risma yang mengenakan setelan batik cokelat yang dipadu dengan sedikit warna merah tiba di kantor Kemensos sekitar pukul 13.00 WIB. Kedatangan rombongan dari Surabaya itu disambut Direktur Rehabilitasi Sosial Tunasusila Kemensos Sonny W. Manalu dan Kabirohumas Benny Setya Nugraha yang langsung mengantarnya ke lantai 2 untuk menggelar pertemuan tertutup dengan Mensos.

Setelah beraudiensi, wali kota mengatakan, rencana penutupan Dolly yang dilakukan secara bertahap sejak 2010 tersebut dipastikan berlangsung pada 18 Juni 2014. Jadwal tersebut lebih cepat sehari daripada rencana awal, yakni 19 Juni 2014.

”Enggak bakal mundur. Malah dimajukan (insya Allah) tanggal 18 Juni karena Pak Menteri mau ikut hadir,” kata Risma sesudah mengadakan audiensi dengan Mensos.

Risma menjelaskan, rencana tersebut telah diperhitungkan dengan matang. Tidak hanya menyangkut jadwal penutupan, pemkot dan pemerintah pusat juga mempertimbangkan kelangsungan hidup penghuni lokalisasi seusai Dolly ditutup. Sebab, para penghuni Dolly juga butuh makan dan penghidupan.

”Bukan penutupan Dolly sebenarnya, tetapi pengalihprofesian warga Dolly dengan kegiatan produktif. Misalnya, memberikan keterampilan membuat kue, telur asin, membatik, dan sebagainya,” ujar Risma.

Menurut Risma, ribuan perempuan penyandang disabilitas sosial di Dolly dan Jarak tersebut termasuk kelompok tertindas. Selain berpenghasilan tak seberapa, mereka terlilit utang yang sangat memberatkan.

”Saya sebagai umara (pemerintah) harus bekerja untuk menyejahterakan warga tanpa terkecuali, termasuk warga Dolly,” tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Mensos Salim Segaf mengutarakan bahwa penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di Indonesia membutuhkan sinergisitas, termasuk dari pemerintah daerah (pemda). ”Kemensos tidak bisa bekerja sendirian, tetapi membutuhkan sinergisitas lintas sektor dalam penanganan PMKS,” tutur Salim.

Salah satu masalah PMKS, menurut dia, adalah penanganan perempuan penyandang disabilitas sosial. Mereka adalah kelompok rentan dan rawan dari segi ekonomi dan sosial. Karena itu, mereka butuh dientaskan dengan program-program pemberdayaan agar mandiri.

Dia lalu memaparkan data populasi orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) hingga Desember 2013 yang angkanya mencapai 107.660 orang. Paling tinggi DKI Jakarta dengan 25.016 orang, Jatim 14.548 orang, dan Papua 11.534 orang. (dod/c10/nw)

*sumber: http://www.jawapos.com/baca/artikel/1998/Tutup-Dolly-Sehari-Lebih-Cepat


__._,_.___
Posted by: "Mang AsKa" <dkabayan <at> gmail.com>


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




__,_._,___
Picon

Re: Wajah lain orang sunda

Nuhuuuuns MJ parantos ngirim imel anu sangat mencerahkan ieu.

Sebenernya ada Tokoh Sunda yang ajiiiib surajiiiib selain Pak Syafrudin yaitu Pak Ir. Djuanda, perdana
menteri yang berhasil mengguncang dunia dengan Zona Ekonomi Ekslusifnya sedemikian sehingga laut dan
perairan Indonesia menjadi bertambah luas dan seluruh kepulauan Indonesia menjadi menyatu dalam satu
wilayah negara republik Indonesia. Jasa Ir. Djuanda luar biasa sehingga namanya pun diabadikan menjadi
nama jalan dan bahkan nama bandara di Jawa Timur :).

Seperti yang disampaikan Prof Jakob Sumardjo tentang Paham Kekuasaan Sunda yang ditulis di Article
Pikiran Rakyat memang Urang Sunda itu lebih feminim/ lebih matternal daripada Patternal, lebih
mengasuh rohani :). 

Kita tunggulah generasi Muda Sunda kedepan mudah-2an muncul Ir Juanda dan Syafrudin yang baru yg bisa
memberikan kontribusi positif untuk Nusa dan Bangsa juga dunia :).

Lemah Sagandu Diganggu Balai Sadunya, Kabuyutan Dirusak Bencana Bagi Dunia :). MERS, Badai Tiongkok,
Krisis Keuangan Indonesia, dll adalah dampak apa yg telah manusia di bumi ini berbuat. Natural law n'
order mah simple, apa yg ditanam itu yg dituai hehehe.

Pemimpin yang tidak bisa menjaga Kabuyutannya maka lebih hina dari kulit musang yang dibuang ke tempat
sampah. Kabuyutan adalah Ancient Education System yang lebih mengedepankan Etika, Moral, Budaya, dan
Spiritual utk membentuk pribadi-2 yang Nyantri, Nyunda, Nyakola ~ Beagama, Berbudaya, dan
Berpendidikan. Cageur Bageur Bener Singer dan Pinter.

Salah satu iklan Jokowi yang menarik perhatian Mamang adalah... "Kita Ingin Pemimpin Yang Jujur, Bersih,
dan Sederhana Tapi Siapkah Kita Dipimpin Oleh Pemimpin yang Jujur, Bersih, dan Sederhana untuk menjadi
Indonesia Sebenernya?". Mungkin iklan itu pencitraan namanya juga pulitik ya semuanya panggung
sandiwara hehehe... Nah akan tetapi menurut Mamang isi kalimatnya sangat baik yah dan memang itu yang
dibutuhkan Indonesia saat ini. Bukan pemimpin yang ber IQ tinggi saja tetapi yang lebih penting justru
pemimpin yang bisa dipercaya dan diteladani oleh masyarakat luas. Orang Pintar banyak di Indonesia tapi
Orang Jujur LANGKA! Mau bukti silahkan cek Score Corruption Perception Index Indonesia hehehe. 

Ditengah hiruk pikuk pilpres yang semakin panas dimana kadang kelucuan pun terjadi sampai-2 rame di FB
atau media lainnya saling ejek, saling cela, dukung-mendukung salah satu calon hehehe. Namun juga ada yg
berlebihan sampai Unfriend-2an xixixi. Jadinya kayak anak kecil ya kata urang sunda mah belikan/
pundungan hehehe. Padahal mah mari kita Enjoy aja ini peristiwa 5 tahun sekali dan kita meriahkan hehehe.
Dukung mendukung Capres adalah hal yang wajar karena masing-2 punya selera dan kesukaan yang berbeda,
sama lah dengan selera makanan ada yg suka pete ada yg suka jengkol hehehe. Nah yang penting kalaupun mau
cela-mencela silahkan saja asalkan sesama teman dan tetap berteman xixixi. Sama seperti kita sedang
bercanda saling ejek saling cela hal biasa yg penting dilingkupi Spirit Bodorhud dan Braderhud ajah
xixixi. Sama seperti kita sedang bersenda gurau sesama teman lama, tidak perlu lah sampai
unfriend-unfriend-an xixixi... Kita nantikan tgl 9 Juli semoga Yang Maha Kuasa memberikan yang terbaik
dan yang bisa membawa perubahan kearah yg lebih baik untuk Indonesia kedepan. Nah yang sudah terlanjur
unfriend-unfriend-an jangan lupa tgl 9 Juli balik friend-2an lagi ya xixixi... Udah masuk bulan puasa
lhooo. Ato minimal sampe pas lebaran lah wkkkk. Kalo lebaran masih unfriend juga seperti kata Bang Roma
mah teeeerlaaaaluuuu xixixi.

Okeh masing-2 sudah punya pilihan kan?... Kalo belum ingat kata Pak Ustad... Silaturahim itu No. 1...
Naaah kalo Presiden itu baru No. 2 bwahahahaha.

Salam Peace, Love, & Gaul... Keep Pilpres Bodorhud n' Braderhud Alive wkkkk.

nuhuuuns,
mang asep kabayan
www.dkabayan.com


-----Original Message-----
From: "'mang jamal' jamal <at> itenas.ac.id [urangsunda]" <urangsunda <at> yahoogroups.com>
Sender: urangsunda <at> yahoogroups.com
Date: Tue, 3 Jun 2014 10:36:51 
To: <mangjamal <at> gmail.com>; <kisunda <at> yahoogroups.com>; <urangsunda <at> yahoogroups.com>
Reply-To: urangsunda <at> yahoogroups.com
Subject: [Urang Sunda] Wajah lain orang sunda


Wajah Lain Orang Sunda

Oleh Jamaludin Wiartakusumah

Tulisan Sdr. Encep Dulwahab (Kompas, Sabtu 25 November 2006) senada dengan sebagian orang Sunda lainnya
yang gelisah dengan minimnya eksistensi orang Sunda di kancah nasional dan –apalagi- internasional.
Kegelisahan yang wajar mengingat berhubungan dengan masalah kebanggaan atas partisipasi orang Sunda
membangun negeri dan dunia.

Ketika Presiden SBY melakukan perombakan kabinet dengan mengganti beberapa menteri yang kebetulan
orang Sunda, ada pihak, perorangan maupun lembaga kesundaan, yang menyesalkannya. Sikap yang wajar
karena peristiwa itu melenyapkan kebanggaan orang Sunda. Meskipun dimata sebagian orang Sunda
sendiri, sikap itu tampak naif mengingat perombakan kabinet semata urusan politik yang dibungkus hak
prerogatif presiden. Orang Sunda yang menjadi menteri –di luar urusan politik- menjadi kebanggaan
semata karena dianggap mewakili keberadaan Sunda di puncak manajemen negara. Meskipun menteri itu
belum tentu peduli pada nasib orang dan kebudayaan Sunda.

Jarang yang tahu bahwa sesungguhnya ada orang Sunda pernah memegang posisi setara Presiden RI. Adalah
Syafruddin Prawiranegara yang ketika Bung Karno dan Bung Hatta ditawan Belanda, mendirikan dan menjadi
ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera. Ia seorang ahli hukum kelahiran Serang
28 Februari 1911, putra R. Arsyad Prawiraatmaja.

Eagles fly alone

Berbagai latar belakang kurang eksisnya orang Sunda di pentas nasional telah banyak ditelaah, termasuk
yang menjadi latar orang Sunda tidak mudah bersatu biladibanding suku bangsa lain. Salah satunya konon
tradisi karuhun yang ngahuma (peladang). Kondisi peladang yang masing-masing berjauhan membuat
bentuk guyubnya berbeda dengan misalnya orang Jawa yang lebih komunal karena tradisi pertanian yang
telah lebih lama dibanding orang Sunda yang ngahuma itu.

Tradisi karuhun ngahuma, selain memiliki sisi negatif, juga sisi positif yang pada gilirannya membuat
orang Sunda muncul sesuai karakter ngahuma yaitu individual alias usaha keras yang diperjuangkan
sendiri-sendiri tanpa dukungan komunitasnya.

Beberapa solusi yang dikemukakan Sdr. Encep sesungguhnya telah lama terjadi. Arus mobilitas manusia di
seluruh dunia juga diikuti sebagian orang Sunda sehingga selain ‘beredar’ di seluruh wilayah Tanah
Air juga telah ‘mengorbit’ di planet bumi. Mereka tersebar di berbagai benua hingga di tempat
terpencil seperti Kaledonia Baru Pasifik Selatan dan berbicara dalam bahasa Perancis. Selain mereka
yang mendapat label tenaga kerja Indonesia dan kita apresiasi sebagai pahlawan devisa dengan pekerjaan
menjadi pembantu atau buruh pabrik, masih ada, meski mungkin masih dapat dihitung dengan jari
empat-lima orang, mereka yang tinggal dan bekerja di luar negeri karena nyali, keahlian dan pendidikan tinggi.

Keberadaan mereka di luar sana, barangkali hanya diketahui oleh pihak keluarga, kolega, instansi
terkait dan kenalan. Sekedar contoh, salah seorang peneliti dan dosen di tingkat master serta doktor di
Universitas Yonsei, kampus swasta tertua di Seoul, adalah Yaya Rukayadi PhD, orang Situraja Sumedang
kelahiran 1964 yang meraih gelar doktor bidang bio-engineering di Amerika. Kemampuannya yang relatif
langka pernah membuat proposalnya diterima NASA untuk diujicoba di antariksa. Akan tetapi, kemudian
dengan alasan pribadi, ia menolak bekerja di lembaga paling canggih di Amerika itu. Beberapa hasil
penelitiannya berbasis potensi Tanah Air seperti penelitian terhadap kandungan koneng gede
(temulawak) telah diproduksi industri Korea Selatan.

Salah satu badan PBB yang belakangan sering muncul di media karena aktivitas Korea Utara dalam uji-coba
rudal nuklir adalah Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Salah seorang staf di Safeguard Department
badan itu, yang tugasnya antara lain mengawasi keamanan instalasi nuklir terutama radiasi, berasal
dari sebuah desa di Kecamatan Talaga Majalengka bernama Suhermanto Duliman. Setelah lulus dari Fisika
UI, ia bekerja di Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), kemudian mengambil S-2 Fisika Kuantum di
Universitas Tokyo lalu ditawari bekerja di markas IAEA, Wina Austria, dengan wilayah kerja Asia
Pasifik. Barangkali karena meningkatnya aktivitas Korea Utara di atas, beberapa bulan lalu Herman
dipindahkan ke kantor cabang IAEA Tokyo.

Yang lebih senior, Dr. Willy R. Wirantaprawira (lihat wirantaprawira.net), orang Tasikmalaya
kelahiran 22 Februari 1939 yang baru tiga-empat tahun lalu pensiun dari posisinya sebagai anggota
peneliti utama di Max Planck Institute for Comparative Public Law and International Law di Heidelberg
Jerman. Max Planck adalah lembaga riset bergengsi di dunia-beberapa penelitinya banyak mendapatkan
hadiah Nobel. Di sana, Pak Willy adalah satu-satunya orang non-Jerman yang menjadi peneliti tetap.
Biasanya orang luar Jerman hanya menjadi peneliti tamu yang bekerja paling lama delapan bulan. Putra
seorang tukang jahit di Tasik yang beristrikan orang Jerman itu adalah lulusan Fakultas Hukum dan
Hubungan Internasional Universitas Negeri Kiev, Ukraina (1963-1971). Sekarang Pak Willy membantu
pemerintah Tasikmalaya diantaranya pengembangan ekspor industri kriya ke Eropa.

Di Big Apple alias New York City, ada Abah Joe Raggan alias Singgih Nata (69) kelahiran Cicalengka yang
puluhan tahun tinggal dan berwiraswasta di sana, malah sudah berpaspor sama dengan Oprah. Meskipun
demikian, mimpinya masih sering tentang sawah dan pohon randu di pematang sawah. Masih di New York City,
ada Tharyana Sastranegara, orang Bandung yang mendirikan Silat PD USA School (lihat
http://www.silatpdusa.com). Di bidang militer, ada nama Sandy Latif, seorang serdadu marinir asal
kota tahu Sumedang yang mendapat tugas di Sierra Leone Afrika Tengah, bergabung dengan pasukan PBB untuk
menghentikan perang saudara di sana.

Kampung Halaman Imajiner

Seperti umumnya perantau yang butuh media untuk melepaskan rindu pada kampung halaman, orang Sunda yang
ngumbara dimana-mana itu banyak yang mencarinya di internet. Selain membaca situs berita Tanah Air,
banyak dari mereka bergabung dalam milis yang menggunakan bahasa Sunda sebagai salah satu cara
mengekpresikan kerinduan. Dari milis itulah mereka saya temukan dan kenal.

Semoga eksistensi mereka di ‘antah berantah’ itu memberi semangat dan memacu orang Sunda lainnya
untuk berprestasi setinggi mungkin di bidang masing-masing, untuk Tanah Air dan dunia yang lebih baik.
Nyanggakeun juragan!

Jamaludin Wiartakusumah

moderator milis urangsunda <at> yahoogroups.com
————-
Dimuat Kompas Jawa Barat 2 Februari 2007


Powered by du'a indung bapa

------------------------------------

------------------------------------

ngala dollar >> http://profitclickers.info/buburuh-ngeklik.php?urang=sundaYahoo Groups Links

------------------------------------

------------------------------------

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]Yahoo Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    Baraya_Sunda-digest <at> yahoogroups.com 
    Baraya_Sunda-fullfeatured <at> yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    Baraya_Sunda-unsubscribe <at> yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo Groups is subject to:
    https://info.yahoo.com/legal/us/yahoo/utos/terms/


Gmane