Ki Hasan | 1 Feb 23:56 2012
Picon

Situs - Gunung Padang, Cianjur



Pemrov Jabar Kucurkan Anggaran Rp 1,35 M untuk Gunung Padang

RETNO HY/"PRLM"
SITUS Megalitikum di Gunung Padang, Cianjur.*

BANDUNG, (PRLM).- Kepala Sub Bidang Kepariwisataan di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Drs. Agus Saputra M.M., menegaskan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Disparbud Jabar telah melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan Situs Megalitikum Gunung Padang. Sejumlah infrastruktur telah dibangun dengan menggunakan anggaran dari Bantuan Tidak Langsung (BTL) tahun 2011 sebesar Rp. 1,35 milyar.

“Upaya-upaya untuk menyelamatkan situs megalitikum Gunung Padang Cianjur, telah dilakukan Pemrov Jabar melalui Disparbud Jabar sepanjang tahun 2011 lalu. Selain pembebasan lahan yang sebelumnya dikuasai masyarakat, juga dibuat sarana dan prasarana bagi kegiatan wisata budaya,” terang Agus Saputra didampingi pelaksana teknis kegiatan Asep Mulyana, S.Sos.

Anggaran sebesar Rp 1, 35 milyar tersebut menurut Agus, diantaranya dipergunakan untuk perbaikan akses jalan dari dan menuju lokasi objek (Gunung Padang) dan lahan parker. Selain itu, agar wisatawan tidak langsung memasuki area kawasan situs, Disparbud Jabar membuat akses jalan menuju situs dengan jalan memutar dengan bangunan tangga dari balok tembok yang dapat dipindah-pindah, serta menara pantau agar wisatawan dapat menikmati objek wisata.

“Kami membuat semua fasilitas tersebut dimaksudkan untuk menyelamatkan situs yang sebagian batu dan tanahnya sudah mulai hilang. Diharapkan regulasi berupa perda mengenai penyelamatan (situs Gunung Pandang) dalam waktu dekat akan segera dikeluarkan,” ujae Agus. (A-87/das)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/175314



__._,_.___

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Ki Hasan | 2 Feb 00:15 2012
Picon

Re: Situs - Gunung Padang, Cianjur



Aktivitas Wisatawan dan Peneliti Dikhawatirkan Merusak Situs Gunung Padang

BANDUNG, (PRLM).- Pengoperasian kereta wisata Argo Peuyeum jurusan Ciroyom (Bandung)- Lampegan (Cianjur) dikhawatirkan akan semakin meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Situs Megalitikum Gunung Padang, Campaka, Kab. Cianjur. Kegiatan penelitian sejumlah peneliti asing juga dikhawatirkan akan membawa dampak terhadap perubahan kondisi kawasan situs megalitikum terbesar di dunia.

“Kami benar-benar sangat menghawatirkan kondisi situs Gunung Padang kedepan. Karenanya dalam pertemuan rutin dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (8/2) mendatang diharapkan akan ada tindakan nyata penyelamatan,” ujar Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat Pon S. Purajatnika, dalam diskusi Gunung Padang Cianjur Selatan, yang dihadiri sejumlah anggota IAI Jabar dan media, bertempat di Toko Yu, Jalan Hasanudin Bandung, Rabu (2/2) kemarin..

Dikatakan Pon, berdasarkan hasil ekpedisi ketiga akhir pekan lalu, pihaknya mendapat sejumlah bukti baru tentang keberadaan situs megalitikum seluas hamper 175 hektar di Kec. Campaka, Kab. Cianjur. Hasil temuan ekspedisi tersebut diantaranya, keberadaan situs yang diperkirakan dibangun pada 2500 SM atau lebih tua dari piramid Machu Picchu (Peru), adalah aktivitas wisatawan dan peneliti yang bukan hanya menginjak tanah dan bebatuan tetapi juga mengambil.

Aktivitas peneliti luar negeri dikhawatirkan hanya akan menghasilkan publikasi untuk kepentingan pribadi maupun lembaga negaranya, bukan untuk kepentingan Indonesia. “Memang sangat memprihatinkan, sejumlah peneliti luar banyak yang meneliti situs (Gunung Padang) dari berbagai disiplin ilmu, sementara peneliti kita baru sebatas arkeolog maupun geologi, padahal di kawasan situs dapat dipelajari mengenai perbintangan, bentuk bangunan, sistim pengairan dan pertanian serta lainnya,” ujar Pon. (A-87/das)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/175310



__._,_.___

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Ki Hasan | 2 Feb 00:18 2012
Picon

Kuliner - Kulub Tutut, Bogor



Musim Jualan Tutut

KISMI DWI ASTUTI/"PRLM"
SEORANG pedagang tutut yang menggunakan sepeda sebagai lapaknya menunjukkan tutut buatannya yang dijualnya, di Jalan Sholeh Iskandar, Kota Bogor, Rabu (1/2/12). Masakan tutut kembali menjadi tren dan...

PRLM - Sudah beberapa bulan terakhir ini Jalan Sholeh Iskandar hingga Jalan Abdullah bin Nuh, Kota Bogor dipenuhi oleh deretan lapak pedagang tutut. Tampaknya, tutut, menjadi masakan yang kembali ngetren dan digemari di wilayah Bogor. Bahkan, sejumlah pedagang buah, es campur, hingga pedagang cilok pun beralih dagangannya menjadi tutut.

Sejumlah pedagang yang kebanyakan berasal dari Cirebon ini mengaku tertarik untuk beralih ke tutut karena menilai penikmatnya semakin banyak. "Tadinya jualan buah sama es. Tapi ngeliat peminat tutut makin banyak, akhirnya pindah ke tutut," kata salah seorang pedagang, Pantun (39).

Dalam sehari, sedikitnya 10-15 kilogram tutut habis terjual dengan harga Rp 3.000 per porsi. Di beberapa lapak, bahkan dijual tutut dengan berbagai macam bumbu dan rasa dengan harga sekitar Rp 4.000 hingga Rp 6.000 per porsi tergantung bumbu dan rasanya.

Dengan iming-iming kandungan protein yang tinggi serta bisa membantu penyembuhan penyakit liver, kuning, hingga penambah nafsu makan, tutut di kawasan jalan tersebut semakin naik daun dan laris manis. Sejumlah penelitian menyebutkan tutut atau keong sawah mengandung protein yang cukup tinggi tetapi kadar lemak atau kolesterol rendah, yakni 15 persen protein, 2,4 persen lemak, dan sekitar 80 persen air.

Selain itu disebutkan 75 persen lemak di tubuh keong adalah unsaturated fatty acids atau lemak yang baik dan dibutuhkan tubuh. Oleh karena itu, makanan yang sering disebut makanan kampung ini bisa menjadi alternatif sumber protein hewani pengganti daging.

Selain itu, penikmat tutut pun juga diajak bernostalgia ketika menikmati tutut dengan cara dicongkel menggunakan tusuk gigi atau disedot. "Dulu waktu kecil sering banget makan. Sekarang rasanya kayak bernostalgia ketika makan tutut kembali. Soalnya udah jarang banget ada tutut sekarang," kata salah seorang pembeli, Emil (46). (Kismi Dwi Astuti/"PRLM"/A-88)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/175309




__._,_.___

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Ki Hasan | 2 Feb 00:55 2012
Picon

Selingan - "Jeruk Emprak Jeruk"?



Ormas Nasional Demokrat Dukung Partai Nasdem

BANDUNG, (PRLM).- Memasuki usia yang ke dua tahun, tidak membuat surut langkah para petinggi Ormas Nasional Demokrat. Meski banyak tokoh nasional hingga lokal yang hengkang dari organisasi tersebut, namun sejumlah pucuk pimpinan Ormas Nasional Demokrat yang masih bertahan, tetap percaya diri dalam mengibarkan restorasi Indonesia. Rencananya Surya Paloh sebagai bidan Ormas Nasional Demokrat, akan memberikan orasi ilmiah Rabu (1/2) siang ini, di Bandung .

Sekjen Ormas Nasional Demokrat Syamsul Muarif tidak menyalahkan kepada Partai Nasdem, yang oleh sebagian kalangan dianggap pemicu, mudurnya sejumlah tokoh dari Ormas Nasional Demokrat. Bahkan Syamsul Muarif mendukung keberadaan partai yang dipimpin oleh Patrice Rio Capella. “Partai Nasdem menjadi salah satu jalan struktural untuk menyalurkan aspirasi ormas,” jelas Syamsul.

Hal yang tak jauh berbeda juga diungkapkan oleh Ferry Mursidan Baldan. Menurut dia, saat ini Partai Nasdem berkonsentrasi dalam Pemilu 2014, sedangkan untuk pemilihan presiden partai tersebut belum menentukan sikap apa pun. Akan tetapi pengurus maupun anggota ormas Nasional Demokrat diberikan kebebasan untuk menentukan pilihan politiknya terhadap partai apa pun

Selain diisi dengan berbagai bantuan sosial dan hiburan dari angklung Mang Ujo, dalam ulang tahunnya, Ormas Nasional Demokrat juga menggelar Rapat Kordinasi Nasional (Rakornas). Berdasarkan keterangan yang disampaikan Syamsul, hasil rakornas tersebut akan ditindaklanjuti dalam kongres di bulan Mei mendatang. (CA10/A-147)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/175196



__._,_.___

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Ki Hasan | 2 Feb 02:21 2012
Picon

Re: [Urang Sunda] Kuliner - Kulub Tutut, Bogor



Tah ka urang Bandung, keur ningkatkeun daya tarik wisatawan, jigana hade jeung unik mun ngayakeun "Festival Ngecrok Tutut Nasional". Piraku teu pada ngadeugdeug.

2012/2/2 <wirana44 <at> yahoo.com>
 


Halah...jadi emut zaman budak...sok ulin kasawah. balikna sok mawa kangkung jeung tutut da ari lauk mah tara aya nu badag... Kiwari mah mun hayang kana tutut teh osok ka Tegallega atawa ka Punclut...rea nu dagang tutut..

BahPondok

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: Ki Hasan <khs579 <at> gmail.com>
Date: Thu, 2 Feb 2012 07:18:07 +0800
Subject: [Urang Sunda] Kuliner - Kulub Tutut, Bogor

 

Musim Jualan Tutut

Kamis, 02/02/2012 - 03:09
KISMI DWI ASTUTI/"PRLM"
SEORANG pedagang tutut yang menggunakan sepeda sebagai lapaknya menunjukkan tutut buatannya yang dijualnya, di Jalan Sholeh Iskandar, Kota Bogor, Rabu (1/2/12). Masakan tutut kembali menjadi tren dan...

PRLM - Sudah beberapa bulan terakhir ini Jalan Sholeh Iskandar hingga Jalan Abdullah bin Nuh, Kota Bogor dipenuhi oleh deretan lapak pedagang tutut. Tampaknya, tutut, menjadi masakan yang kembali ngetren dan digemari di wilayah Bogor. Bahkan, sejumlah pedagang buah, es campur, hingga pedagang cilok pun beralih dagangannya menjadi tutut.

Sejumlah pedagang yang kebanyakan berasal dari Cirebon ini mengaku tertarik untuk beralih ke tutut karena menilai penikmatnya semakin banyak. "Tadinya jualan buah sama es. Tapi ngeliat peminat tutut makin banyak, akhirnya pindah ke tutut," kata salah seorang pedagang, Pantun (39).

Dalam sehari, sedikitnya 10-15 kilogram tutut habis terjual dengan harga Rp 3.000 per porsi. Di beberapa lapak, bahkan dijual tutut dengan berbagai macam bumbu dan rasa dengan harga sekitar Rp 4.000 hingga Rp 6.000 per porsi tergantung bumbu dan rasanya.

Dengan iming-iming kandungan protein yang tinggi serta bisa membantu penyembuhan penyakit liver, kuning, hingga penambah nafsu makan, tutut di kawasan jalan tersebut semakin naik daun dan laris manis. Sejumlah penelitian menyebutkan tutut atau keong sawah mengandung protein yang cukup tinggi tetapi kadar lemak atau kolesterol rendah, yakni 15 persen protein, 2,4 persen lemak, dan sekitar 80 persen air.

Selain itu disebutkan 75 persen lemak di tubuh keong adalah unsaturated fatty acids atau lemak yang baik dan dibutuhkan tubuh. Oleh karena itu, makanan yang sering disebut makanan kampung ini bisa menjadi alternatif sumber protein hewani pengganti daging.

Selain itu, penikmat tutut pun juga diajak bernostalgia ketika menikmati tutut dengan cara dicongkel menggunakan tusuk gigi atau disedot. "Dulu waktu kecil sering banget makan. Sekarang rasanya kayak bernostalgia ketika makan tutut kembali. Soalnya udah jarang banget ada tutut sekarang," kata salah seorang pembeli, Emil (46). (Kismi Dwi Astuti/"PRLM"/A-88)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/175309





__._,_.___


http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
rsyaifoel | 2 Feb 09:58 2012
Picon

Re: agama vs sains?


Agama dan Otak Manusia
Oleh Luthfi Assyaukanie

Agama bukan hanya akal, tapi merupakan produk akal manusia. Tanpa akal tak ada agama. Hanya makhluk hidup
yang berakal yang beragama. Yang tak berakal tidak menciptakan agama dan tak pernah peduli dengan agama.
Yang membedakan manusia dari hewan-hewan lainnya adalah akal yang dimilikinya. Akal adalah lambang
kemajuan dalam proses evolusi makhluk-hidup yang panjang.

Sebuah pepatah Arab yang diyakini sebagai hadis Nabi mengatakan bahwa "agama adalah akal" (al-dinu huwa
al-aql). Pepatah ini sering dikutip ulama dan sarjana Muslim untuk menegaskan bahwa beragama
membutuhkan akal agar manusia tidak terjatuh ke dalam taklid buta yang bisa menyesatkan mereka. Saya
senang dengan pepatah ini, bukan hanya karena ia menunjukkan aspek rasionalitas dari Islam, tapi juga
karena pepatah itu, jika ditarik lebih jauh lagi, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
temuan para saintis tentang hubungan agama dan akal.

Agama bukan hanya akal, tapi merupakan produk akal manusia. Tanpa akal tak ada agama. Hanya makhluk hidup
yang berakal yang beragama. Yang tak berakal tidak menciptakan agama dan tak pernah peduli dengan agama.
Yang membedakan manusia dari hewan-hewan lainnya adalah akal yang dimilikinya. Akal adalah lambang
kemajuan dalam proses evolusi makhluk-hidup yang panjang.

Akal adalah bentuk non-fisik dari otak. Ia bisa diumpamakan sebagai piranti lunak (software) yang
berjalan di atas otak yang merupakan piranti keras (hardware) pada sebuah komputer. Seluruh hewan
bertulang belakang (vertebrata) memiliki otak dan sebagian besar hewan tak-bertulang belakang
(invertibrata) juga memiliki otak. Ukuran otak manusia lebih besar dibanding rata-rata ukuran otak
hewan lainnya. Akal manusia juga merupakan yang tercanggih dibandingkan akal hewan-hewan lainnya.

Jika menggunakan analogi komputer, manusia memiliki prosesor (otak) terbaru dengan sistem operasi
(akal) tercanggih, sementara hewan-hewan lain memiliki prosesor dan sistem operasi yang jauh
tertinggal. Prosesor dan sistem operasi yang canggih dapat menciptakan banyak hal, seperti memroses
kata, mendesain, merekam suara, memutar lagu, dan mengedit film. Sementara prosesor dan sistem operasi
yang tertinggal hanya bisa melakukan kerja-kerja terbatas. Semakin tertinggal sebuah komputer
semakin terbatas ia melakukan fungsinya, semakin canggih sebuah komputer semakin banyak kemungkinan
yang bisa dilakukan.

Tentu saja, otak manusia jauh lebih kompleks dari komputer. Tapi analogi di atas setidaknya bisa membantu
kita memahami perbandingan antara apa yang telah dilakukan manusia dengan otaknya dan apa yang telah
dicapai hewan-hewan lain. Kita sering melihat dua buah komputer yang tampilan luarnya sangat mirip
namun berbeda dalam kemampuan kerja yang dilakukannya. Komputer dengan "otak" yang lebih maju selalu
memiliki kualitas dan kapasitas yang lebih baik.

Begitu juga manusia dibandingkan hewan-hewan lainnya. Yang membedakan mereka bukan bentuk fisiknya,
tapi otaknya. Secara fisik, manusia dan kera (orangutan, gorila, dan simpanse) tak banyak memiliki
perbedaan. Semua anggota tubuh yang dimiliki manusia juga dimiliki kera, dari kepala, tangan, kaki,
jumlah jemari, bahkan bagian-bagian internal dalam tubuh mereka, seperti jantung, hati, empedu, dan
ginjal. Bahkan, DNA, bagian paling penting yang membentuk tubuh manusia, tak banyak berbeda dari kera.
Menurut penelitian terbaru, kedekatan DNA manusia dengan orangutan sekitar 96%, dengan gorila 97% dan
dengan simpanse 99%. Dengan semua kemiripan ini, pencapaian manusia jauh melampaui semua hewan jenis
kera itu. Mengapa?

Jawabannya adalah otak. Otak juga yang membedakan kera dari hewan-hewan lain. Para ilmuwan sepakat bahwa
kera memiliki inteligensia di atas rata-rata hewan lainnya. Kera adalah satu-satunya jenis primata,
selain manusia, yang memiliki kesadaran diri dan bisa menggunakan alat sederhana, seperti batu dan
kayu. Otak kera memiliki ukuran yang lebih besar dari rata-rata hewan lain dan memiliki jaringan neuron
yang sangat kompleks. Hanya otak manusia yang bisa menandingi otak kera, baik dalam hal volume maupun
kerumitan jaringan.

Agama, seperti juga budaya dan produk-produk lainnya, adalah hasil kerja otak. Otaklah yang menciptakan
bangunan, rumah, kuil, dan candi. Otak juga yang menciptakan konsep-konsep abstrak seperti
kecantikan, keindahan, kekuasaan, kekuatan, kemurkaan, dan sebagainya. Konsep-konsep dalam agama,
seperti tuhan, dewa, malaikat, setan, dan sejenisnya, tidak datang begitu saja. Ia lahir dari otak yang
sudah berkembang, maju, dan memiliki kosakata yang cukup untuk mengungkapkannya.

Berbagai studi terbaru tentang hubungan evolusi otak manusia dan budaya mendukung pandangan di atas.
Kajian mutakhir yang dikumpulkan Voland dan Schiefenhovel (The Biological Evolution of Religious Mind
and Behavior, 2009), misalnya, menegaskan nalar agama (religious mind) sebagai buah dari seleksi alam
dan evolusi manusia yang panjang. Dari puluhan jenis hominid yang pernah hidup di muka Bumi, homo sapiens
(manusia) yang paling unggul dan paling mampu beradaptasi dengan perubahan di sekeliling mereka. Homo
sapiens menemukan agama dan menggunakannya untuk mengatasi kesulitan-kesulitan hidup yang mereka hadapi.

Otak manusia juga yang mengembangkan agama dari bentuknya yang "primitif" hingga menjadi agama-agama
modern yang sistematis seperti sekarang. Tentu saja, ada sebagian ritual primitif yang hilang, tapi ada
sebagian lain yang dipertahankan. Selama otak manusia masih bisa menerima ritual-ritual itu
(seberapapun absurd-nya), dia akan terus hidup, tapi jika otak manusia tak bisa lagi menerimanya,
ritual-ritual itu akan lenyap. Misalnya, penyembelihan anak gadis untuk dipersembahkan kepada Tuhan
(dewa) pernah menjadi ritual suatu agama, tapi ketika otak manusia tak lagi bisa menerimanya, ritual itu ditinggalkan.

Pada akhirnya, seperti kata pepatah Arab yang saya kutip di atas: agama adalah akal. Tidak ada agama bagi
yang tak berakal (la dina liman la aqla lah). Akal adalah pembimbing manusia yang paling alamiah. Tanpa
akal, agama tak punya makna.

------------------------------------

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    Baraya_Sunda-digest <at> yahoogroups.com 
    Baraya_Sunda-fullfeatured <at> yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    Baraya_Sunda-unsubscribe <at> yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Ki Hasan | 3 Feb 02:20 2012
Picon

Carpon - Lalakon Awon



Carpon - LALAKON AWON
Ku Godi Suwarna

AWON. Sakitu-kituna ngaranna téh. Teu kurang teu leuwih. Duka kumaha pipikiran jenatna kolot-kolotna pangna méré ngaran kawas kitu. Disebut goréng patut da henteu manéhna téh. Malah mun ditilik-tilik, nya aya rupaan wé sakitu mah. Pédah teu kasartaan wungkul. Éta wé geura, barang pakéna téh teu weléh rangkedut baé. Kungsi éta gé manehna téh maké pakéan rada pantes. Diberé lungsuran seragam pagawé negri ku Mang Sidik, pesuruh SD. Na da éta mah, guru-guru sadésa ngadon ribut Ngaromongkeun. Teu sarukaeun. Seragam saenya-enya dipapaké ku jelema kitu, ceuk nu karukulutus. Mang Sidikna ogé diseukseukan ku Kepala Sakola. Atuh manéhna téh teu tulus ganti pakéan. Balik deui wé mamaké gidril, saban poé, ka mamana, bari jeung gogodombrangan éta téh.

“Jih, étah, Mang Awon mani saé kitu, eum!”
“Uhun. Mang Awon mah saé baé da!”
“Naha sakitu saé bet di-awon-awon?”
“Ah, sakali Awon mah tetep wé awon!”

Dina hiji mangsa, isuk-isuk, barudak SD mani raéng ngaheureuyan Manéhna ngan ukur imut bari jongjon wé digawé, nyapuan buruan balédésa Kitu biasana, boh ku budak boh ku kolot, manéhna téh teu weléh digareuhgeuykeun. Nya kitu, diheureuyan atawa dicarekan ku saha baé ogé manéhna mah teu weléh imut jeung imut. Imut nu matak deungdeuleueun ceuk Mang Sidik téa mah.

Rengsé sasapu, ger, ngadurukan runtah. Deregdeg ka jero rék nyokot bandéra. Rohangan karosong keneh. Can aya pamong nu ngantor najan geus nyedek ka beurang. Dirigdig deui ka buruan bari mamawa bandera. Bandera dikelat. Manehna mundur tuluy ngahormat kana bandera. Kituna téh bari ngawih lagu Dengkleung, da ngan eta-etana nu apal. Hansip ngadon tingcalengir sabot nyerangkeun nu keur upacara sosoranganan.
“Ka dieu heula sakeudeung, Won,” ceuk Pa Ulis pabeubeurang, tuluy ngoyoyod ka pipir. Awon ngiclik nuturkeun.

“Apal imah Nyi Nenih, Won?” Pa Ulis haharéwosan.
Awon unggeuk.
“Kieu, Won. Panganteurkeun ieu, ka Nyi Nenih,” Pa Ulis ngusiwel, ngaluarkeun amplop dines tina sakuna. “Béjakeun, Won, Bapa keur sibuk kituh. Kadé tong comel, nya!”

Awon imut. Imut nu matak deungdeuleueun tea ceuk Mang Sidik mah. Katenjona rada nyiak Pa Ulis gé. Era jigana. Bangun nu ngarasa rumasa keur boga dosa. Tapi da ngan Si Awon-awonna nu dipercaya. Awon imut bari manggut. Pa Ulis katenjo rampang-reumpeungna.
Rada jauh imah Nyi Nenih téh, nenggang, di tonggoh, di tungtung lembur. Awon ngagedig bari teu weleh umat-imut. Najan ceuk batur kurang saeundan, lamun amis budi mah nu sejen gé tangtu bakal nyaraaheun, dunya bakal jadi lega, kitu ceuk jenatna akina nu teu weleh kapireng baé, najan teu kaharti kabeh.

“Bang Awon, apa masih tetep awon, rojer?” ceuk Jang Dudung nu keur ngariung jeung baturna papada pamuda nganggur.
“Jin, lain gé Kang Awon mun teu awon mah, nyah?” nu sejenna mairan.
Awon ukur imut sabot ngagidig, teu maliré pamuda nu garugupay ban ngaracung-ngacungkeun botol. Sajajalan Awon ngahariring Dengkleung, dibulak-balik. Sanggeus ngesang, Awon anjog ka buruan imah Nyi Nenih nu hieum ku tangkal sawo. Panggung imahna téh. Barala da teu kaurus. Nyi Nenih téh hirup kadua ninina nu geus pikun pisan.

Sanggeus pupuntenan sawatara lila, Nyi Nenih ngulutrak. Didadaster. Ngaléléké. Buukna acak-acakan. Sédowna ngadaragleg keneh. Lipstikna ludang-lading kana pipi jeung gadona. Karek hudang pisan jigana mah.

“Jih, Awon geuning? Aya naon, Won?” Nyi Nenih diuk dina golodog, gigireun Awon.
“Ieu, ti Pa Ulis ...”Awon ngasongkeun amplop.
“Gering puguh uing téh,” Nyi Nenih nyoekeun amplop dines, aya duitan salambar. “Jurig sugan! Cedit-cedit teuing mangkeluk téh! Teu kawas mun keur aya kahayang!! Nyaho aing keur gering!”
“Gering? Nyeri naon, Nyai?” Awon imut mani nganjut.
“Rieut. Sarebel baé deuih,” Nyi Nenih leuleuy sanggeus nenjo imut Awon.
“Jin, atuh. Pencetan, Nyai?”

Nyi Nenih unggeuk tuluy nukang bari rada ngadayagdag. Awon imut. Nyi Nenih didangheuakeun. Tarangna diurut, turun kana beuheungna, kana pundukna nu ngaliglag. Aya kulit mani lemes kieu, ceuk Awon nu mindeng mencetan Hansip. Imut Awon beuki nganjut, beuki leleb. Imut Awon digebah ku nu nyorowok: “Nanaonan ieu téh? Maneh keur naon di dieu?”

Ngarenjag duanana gé. Ret. Singhoreng Pa Kulisi geus ngajega bari ngumis. Awon gancang nangtung. Ajeg. Ngahormat. Kitu biasana mun tepung jeung Pa Kulisi. Nu dihormatna mah ngadon ngabalieur, ngadon meletet kana daster anu nyingkab, ka nu ngaboleklakna.

“Keur naon ari maneh, Awon?”
“Siap, Komandan! Nuju mencetan, Komandan!” Awon daria naker, teu weleh ngahormat nurutan Hansip, ngan ditungtungan ku imut ieu mah.
Nyi Nenih nyikikik.
“Sia mah. Batur digarawé, ieu kalah ngahénén jeung nu dénok!” Pa Kulisi angger meletetan pingping.
“Ari Aa? Badé naon siang-siang ka dieu?” Nyi Nenih ngadilak, ngoyag-ngoyag pingping nu keur dipencrong ku Pa Kulisi.
“Ngon... trol wé atuh. Pajar gering apan.” walon Pa Kulisi. “Indit kaituh. Awon!”
“Siap, Komandan! Dilaksanakan, Komandan!” cenah, ngahormat, tuluy balik kanan.
Nyi Nenih nyeuleukeuteuk.

Nu diseungseurikeunana mah noyod wé. Awon ngahariring Dengkleung, lagu nu ngan sakitu-kituna tea. Ngalieuk deui sotéh pedah Nyi Nenih ngagerewek bangun getek. Barang malik, horeng nu duaan téh geus arasup ka imah. Pantona meundeut. Tapi da kadenge keneh sora Nyi Nenih aduh-aduhan. Parna kitu geringna? Ceuk Awon, tuluy balik deui rurusuhan. Lalaunan manehna muka panto. Kasampak Pa Kulisi jeung Nyi Nenih keur patutumpuk dina korsi panjang, di tepas.

Kadengé sora Nyi Nenih nu hos-hosan sada entog.
“Peryogi nyaur Pa Mantri, Komandan?” Awon hariwangeun pisan.
Puguh wé, Pa Kulisi ngagurubug badis nu direwég kanjut.
“Siah, dasar jelema eusleum! Mantog, Awooon!” Pa Kulisi tibubuncelik, ngangsrodkeun calana dinesna.

Awon ngarenjag, reuwas. Tapi tuluy manehna imut. Imut nu matak deungdeuleueun ceuk Mang Sidik tea mah. Nenjo imut Awon, Pa Kulisi bangun anu rada nyeblak. Bangun teu pararuguh rarasaan. Pa Kulisi ngajeten. Pias. Awon ngahormat, balik kanan tuluy ngagedig deui.
Beu, parna Nyi Nenih téh! Renghapna gé mani hos-hosan kitu! Sada entog! Untung wé aya Pa Komandan! Mun euweuh Komandan mah uing meureun kariripuhan! Bieu gé terus wé geuning dijampe! Karek apal. Komandan téh horeng bisa ngubaran! Omong Awon.

Pasosoré, Awon ngagidig deui ka imah Nyi Nenih. Rek ngalongok. Teu weleh kadengé baé, sora Nyi Nenih nu hos-hosan sada entog basa dijampé ku Pa Kulisi tea. Awon ngeupeul cau tilu siki, sesa Pa Kuwu di kantor. Karunya! Rek saha nu ngurusna! Boga nini geus pikun kitu! Ceuk Awon nu keur ngagedig.

Na atuh. di buruan imah Nyi Nenih. Awon bet pasarandog jeung dununganana, Pa Kuwu. Pa Kuwu keur memener baju jeung calana dinesna. Awon rikat nyumputkeun cau kana saku. Rumasa. Rumasaeun nyokot cau teu bebeja.

Awon kuram-kireum da puguh Pa Kuwu téh jalma nu pangdipikaserabna.
“Kateterasan Nyi Nenih téh, Pa?” Awon alangah-elengeh.
Pa Kuwu ngarenjag da keur malaweung tea.
“Na da Bapa mah ... Bapa mah tas neang sapi...” tembal Pa Kuwu teu pupuguh.
“Oh, teu damang deuih sapina, Pa?”
“Geus aya nu rek nukeuran ku sawah ...” Pa Kuwu beuki teu puguh.
Awon imut. Imut nu matak deungdeuleueun tea. Nenjo imut Awon, Pa Kuwu ngejat tuluy ngabigbrig badis nu tas tepung jeung jurig dempak. Reuwas awon gé, meh lumpat ngudag Pa Kuwu. Bari hemar-hemir, Awon luak-lieuk, tatanggahan kana tangkal sawo. Tapi da sidik taya nanaon.
Ret ka imah Nyi Nenih. Rarat-reret. Sarimpe.

“Saré Nyi Nenihna gé. Dikirim obat ku Pa Kuwu. Heg obatna téh nu marahal tea,” Awon yakin pisan da puguh bageur tea Pa Kuwu mah.
Awon teu wani unggah, bisi ngaganggu. Ngan barang inget kana cau, manehna tuluy ngahuleng. Cau dialak-ilik. Dipikiran kudu kumaha mikeunna. Da piraku ari kudu dibawa balik deui mah. Tungtungna, cau téh ditunda wé dina golodog.

“Jangeun ninina. Lumayan. Nyi Nenih mah geus dikirim apan ku Pa Kuwu! Nu ngeunah wungkul dahareunana oge,” cenah ban ngaleos.
Kakocapkeun, peutingna di baledesa—enya, Awon téh sok ngagojod di dinya wé, matuh, da puguh teu bogaeun imah tea—sarena teu pati tibra. Ngimpi diudag-udag baé ku sapi gering nu hos-hosan sada entog. Ngimpi ngapung jeung Nyi Nenih bari nananggeuy cau tilu siki. Manehna jeung Nyi Nenih murag tina mega malang, ngagebrus kana cubluk. Dina cubluk. Pa Kuwu, Pa Kulisi, Pa Ulis, jeung batur salelembur ngadon silih reweg, silih segag, silih cakar. Parebut cau nu ngan ukur tilu siki. Awon ceurik, ngadingdiut di pangimpianana.
“Ari Awon can hayang rarabi?” Pa Kuwu nalek, hiji mangsa, heuleut tilu bulan sanggeus Nyi Nenih gering tea.

Awon teu nembalan, kalah tatanggahan mencrong Galudra.

“Jen, kalah ngalamun! Kumaga mun dikawinkeun ku Bapa? Daek, Won?”
Kawin. Lebeng pisan. Teu kapikireun. Teu kaciptaeun.
“Ka Nyi Nenih daek, Won?” Pa Kuwu beuki nyedekeun.
“Engké Nyi Nenihna dibaturan ku abdi, kitu?” Awon kalah malik nanya ban ngagaroan sirah.
“Enya kitu. Engké Awon sarena pindah ka imah Nyi Nenih,” Pa Kuwu rada seuri.
“Saha atuh engké nu ngemitan baledesa?” Awon bingung.
“Ah, cuang nitah batur wé. Kumaha? Daek Won?” Pa Kuwu mimiti teu sabar.

Tungtungna mah Awon téh unggeuk najan bingungeun keneh pisan. Bray weh, Pa Kuwu munggah marahmay. Kitu deui Pa Kulisi. Kitu deui Pa Ulis. Beja yen Awon rek kawin ka Nyi Nenih tereh pisan narekabna. Loba lalaki, nu bujangan jeung nu boga pamajikan, ujug-ujug plung-plong haté barang mireng eta beja. Sugan wé baleg ari geus kawin mah, kitu ceuk kaum ibuna.

Mang Sidik nu ngajenghok mah, tuluy ngaheruk meunang sawatara poe.
“Nyaan Awon téh rek kawin?” Mang Sidik ngahaja nepungan Awon.
Awon unggeuk bari imut. Nenjo imut Awon, Mang Sidik kalah ngalimba. Rus-ras ka kulawarga, ka dulurna Awon nu kabeh geus tilar dunya.
“Pikiran heula, Won. Ulah rurusuhan.” Mang Sidik dareuda.
“Ah, uing mah kumaha Pa Kuwu wé, Mang. Bageur Pa Kuwu mah da,” omong Awon. “Karunya cenah Nyi Nenih téh ceuk Pa Kuwu ogé. Jaba ninina geus maot apan. Keueungeun. Kudu dikemitan ceuk Pa Kuwu téh.”
“Nya ari kitu onaman,” tuluyna mah Mang Sidik téh ngabarabat mamatahan nu rek laki-rabi, mamatahan Awon nu ukur imut jeung imut.

Kacaturkeun, ger weh kawin. Ramé sakitu mah. Nu daratangna loba. Nyarambungan. Kasep geuning Awon téh ari dangdan mah, ceuk nu nyaraksian. Ti Pa Ulis supenirna telepisi, urut-urut baé mah. Pa Kulisi meré kongkorong. Jang Dudung mah ngadon heureuy, ngadon mungkus pel anti sepilis. Pa Kuwu ngaharewos ka Awon, ti Bapa mah sawah dua ratus bata, cenah. Tuluy Pa Kuwu ngaharewos ka Nyi Nenih nu beuki gumuleng baé. Nyi Nenih unggeuk mani haget.

Bagja Awon téh. Bungaheun pisan. Imutna teu pegat-pegat. Sapopoé umat-imut. Ras deui kana caritaan akina. Enya we! Batur téh nyaraaheun geuning! Padahal dulur gé lain! Hanjakal kawin téh teu ti bareto! Carek Awon nu terus imut jeung imut.

“Saré di tepas wé. Tipi bisi aya nu maling!” Nyi Nenih nyurungkeun, peutingna, basa Awon nyampeurkeun ka kamar.
“Moal keueung kitu, Nyai?” Awon mundur deui.
“Ah. da lain bolon! Sorangan biasana ge!” Nyi Nenih nyentak tuluy ngagebrugkeun panto kamar.

Awon ngahuleng. Tapi kapan ceuk Mang Sidik ogé kudu silih eledan ari jeung pamajikan mah. Awon imut deui. Kayungyuneun meureun pedah boga pamajikan ludeungan. Sanggeus karalang-kuriling teu puguh cabak, tungtungna mah Awon nyangsaya dina korsi panjang. Dina korsi eta pisan Nyi Nenih téh dijampe ku Pa Kulisi, bareto.

Awon lalajo telepisi nu teu disetel. Ramé geuning, ceuk Awon pedah keur bungah. Dina tipi, katembong manehna keur pangantenan. Jenatna indung bapana tarurun ti langit, tarumpak kuda, diiringkeun ku widadari nu naranggeuy cau sasikat sewang. Awon seuri da geuning beungeut kuda téh bet siga Pa Ulis jeung Pa Kulisi. Dulur-dulurna, nu geus talilar dunya, ngariung di balandongan. Nanggap wayang. Beungeut wayang téh kabeh jiga manehna. Sindenna teu eureun-eureun ngahaleuang lagu Dengkleung.

Barang lilir, kadengé sora nu hos-hosan ti kamar. Sora nu humarurung deuih. Awon ngojengkang, ngadeudeukeutan panto kamar. Kadengé sora nu rereketan. Bangsat kitu? Ceuk Awon sabot noong tina bilik carang. Nu katenjo ukur korsi. Aneh. Bet aya kulit oray nu nyampay dina korsi. Awon gigisik. Noong deui. Jeket. Jeket Pa Kuwu geuning nu nyampay téh. Apal da sok mangnyeuseuhkeun.

Naha aya jeket Pa Kuwu di dinya? Awon bingung.
Nu hos-hosan, nu humarurung, nu rereketan, beuki lila beuki tarik.
“Nyi! Nyi! Ku naon? Gering, Nyai?” Awon ngetrokan panto.
Sora-sora ti kamar ngadadak jempé. Leuh, boa maot, Awon reuwaseun.
“Buka, Nyai! Buka! Buka heula, yeuh!” Awon ngagudrag-gudrag panto.
“Naon ieu téh? Peuting-peuting ngadon riweuh!” sora Nyi Nenih semu haroshos.
“Teu kua kieu, Nyai? Teu gering?” Awon hariwangeun pisan.
“Meugeus gandeng! Teu pupuguh! Ngaganggu nu keur sare!” Nyi Nenih nyentak.
“Nyaan teu ku ...”
“Gandeng! Gandeng! Molor ka dinyah!”

Ngemplong geus kitu mah. Melang tuda, bisi kumaonam, cenah. Da ceuk Mang Sidik ogé kudu tulaten, kudu nyaah ka pamajikan mah. Awon seuri maur Rumasa. Bet ngaganggu nu keur saré, nu keur ngimpi boa, keur ngalindur. Ras kana jeket Pa Kuwu. Ah, tetenjoan wé meureun eta mah, lulungu tuda, cenah bari ngagoledag deui.

Geus kitu mah guher deui baé dina korsi panjang. Geus ngimpi deui baé. Nyambung. Ngimpi kawin. Ratu Entog panganten awewena teh. Badag pisan entogna gé. Badag bujur. Jeung disada baé deuih. Hos-hosan. Imah eundeur basa Ratu Entog ngagarapak da disampeurkeun ku oray sanca nu kaluar tina jaket Pa Kuwu. Oray Sanca beuki lila beuki badag, beuki panjang, beuki buleud. Ratu Entog dibeulitan ku Oray Sanca. Ratu Entog jeung Oray Sanca disarada babarengan. Sorana sarua hos-hosan.
“Pareuman tipina. Awon! Geura sare!” Nyi Nenih gegebes, peuting isukna, basa Awon keur lalajo telepisi nu karek meunang menerkeun.
“Jih, raramena, Nyai! Kagok atuh,” Awon imut.
“Pareuman! Uing rek sare! Rarieut!” Nyi Nenih ngulas-ngulas lipstik, midang keneh najan peuting beuki peuting.
“Meunang Akang saré di kamar, Nyai?” pokna sabot mareuman telepisi. “Rea reungit di dieu mah. Tuh, mani barentol kieu.”
“Ah, di dinya wé, dina korsi. Tungguan tipi!”
“Jih. apan cikeneh gé dina tipi, sararena téh bareng di …”
“Dina tipi sotéh. Imah uing mah lain tipi!”
“Tadi, ceuk Jang Dudung. Akang kudu saré di kamar, cenah!”
“Jelema burung Si Dudung mah! Didenge-dengé teuing! Meugeus di dinya we!”

Sora nu hos-hosan téh peuting harita gé geus kadengé deui baé. Sora nu seuhah deuih. Kitu deui peuting isukna. Peuting isukna deui. Ti peuting ka peuting. Geus tara dipikiran ieuh. Kitu biasana meureun, sarena sok ngimpi baé, sok ngalindur baé, ceuk Awon. Paling ogé sok ras deui kana impianana sorangan, ka Ratu Entog jeung Oray Sanca tea. Awon seuri da geuning beuki dieu Nyi Nenih téh beuki jiga Ratu Entog.

Bujurna beuki badag baé. Beuteungna deuih. Leumpangna ngagetot badis entog nu rek ngendog. Ka dieunakeun mah tara kadengé ngalindur Nyi Nenih téh. Jaba jadi bageur deuih. Paingan ceuk Mang Sidik, bageur cenah engké gé, asal Awonna sabar wé. Ngan edas ogoanana. Kudu digeberan baé. Atoh wé Awon mah. Atoheun pisan. Komo barang mimiti meunang asup ka kamarna mah. Sapeupeuting Awon ngahihidan Nyi Nenih bari ngahariring Dengkleung.

Kacaritakeun, heuleut lima bulan ti tas dikawinkeun tea, Nyi Nenih geus ngalahirkeun. Orokna lalaki Kasep. Mani rabul nu ngalongokna gé. Abring-abringan. Lalaki wungkul. Awon beuki ngarasa dipikanyaah. Ku nu ngarubung, orok téh sok disaridik-sidik, tuluy saleuseurian bari silih tunjuk irung.
“Jiga Pa Ulis, Won!” aya nu pok nyarita kitu.
“Jih, puguh jiga Pa Kulisi!”
“Tarangna! Tingal tarangna! Tarang Pa Kuwu!”

Reueus wé nu aya Awon mah. Reueus pisan. Sugan atuh katuliskeun jadi pamong, cenah. Orok teu weleh diteuteup. Teu weleh geugeut. Teu weleh hayang deukeut baé. Teu weleh hayang nungguan di kamar. Tapi sanggeus Nyi Nenihna jagjag mah Awon téh teu meunang asup ka kamar. Tong boro mangku, teu meunang nyabak-nyabak acan. Bisi katepaan, ceuk Nyi Nenih.

Kakocapkeun hiji mangsa. sanggeus rengsé ngariung nyukuran orok, peutingna téh bulan ngempray kasawang ti tepas jempling. Awon ngabaheuhay dina korsi panjang. Asa jadi lalega tepas téh, buruan deuih ituh, ceuk Awon nu ras deui kana omongan akina.

Awon nyetel tipi. Sorana dileutikan pisan da bisi ngagareuwahan orok nu keur tibra. Sabot lalajo. Awon rut-ret kana panto kamar, ngarep-ngarep Nyi Nenih kaluar bari ngais budak. Kacipta baé, sirah orok nu bolenang karek meunang nyukuran. Kacipta lemesna mun diusapan. Hayang ngais deui. Hayang ngeyong. Hayang ngahariringan. Hayang...

“Hayang daging Oraaay!” Ratu Entog kutap-ketap.
“Hayang daging Entooog!” Oray Sanca kutap-ketap.
“Hayang daging oroook!” Ratu Entog ngacay.
“Hayang daging oroook!” Oray Sanca ngelay.
“Hos! Hos! Hos!” ceuk Ratu Entog.
“Hosss! Hosss! Hosss!” ceuk Oray Sanca.

Awon ngorejat. Hudang. Culang-cileung. Bulan ngempray keneh. Tipi hurung keneh. Dina tipi, aya awewé gegelehean di basisir. Aya lalaki nyampeurkeun. Awewé jeung lalaki tuluy patangkod-tangkod. Ti kamar. geus kadengé deui baé sora nu hos-hosan. Ras deui kana impianana dkeneh, ka Ratu Entog jeung Oray Sanca tea. Awon seuri.

Sora anu hos-hosan téh mimitina lalaunan, laun-laun beuki tarik. Na atuh, orok ujug-ujug ngagoar. Awon curinghak. Jol kacipta orok dibeulitan ku Oray Sanca, dilolodok ku Ratu Entog. Awon ngojengkang, rek ka kamar, rek nulungan budak. Tapi Awon diuk deui. Teu wani da sieun dicarekan. Dina tipi, nu keur patangkod-tangkod aya nu ngintip. Lalaki jabrig nyangking balati gedé. Ceurik orok beuki tarik. Awon ngojengkang deui. Rek lahlahan ngetrok panto. Panto kamar muka manten. Breh. Ratu Entog ulag-ileug. Awon hemar-hemir Disidik-sidik. Nyi Nenih geuning. Nyi Nenih nangtung di lawang, bulucun semu ngesang, mangku orok nu gogoaran.

“Leweh baé budak téh! Pependé, yeuh! Dieyong geura!” Nyi Nenih ngasongkeun orok jeung pangaisna.
“Karasa beuteung deui, Nyai?” Awon ngarawu orok.
Nyi Nenih teu nembalan, kalah gura-giru meundeutkeun panto.
“Dibaju geura, Nyai. Bisi asup angin keh.” Awon ngais budak.

Teu weleh geugeut ka orok téh Teu weleh ditatap. Teu weleh diusap. Orok dieyong-eyong bari diharinngan. Dengkleung. Sora ti kamar mimiti kadengé deui. Dina tipi, nu keur patangkod-tangkod dibongohan. Si Jabrig ngaheumbat. Gabres. Gabres. Getih muncrat maseuhan kikisik. Sora ti kamar beuki tarik. Jol kacipta. Ratu Entog gutat-getot beurat ku bujur. Oray Sancana calawak. Tuluy garulet. Silih lodok. Silih pacok. Silih cokcrok. Dina tipi. Si Jabrig terus ngahanca nu keur kokoloyongan. Gabres deui. Gabres deui. Dicehcer. Terus dicehcer. Getih busrat-basret. Tapi teu direret-reret acan. Si Jabrig terus ngaheumbat. Sakali deui. Gabres deui. Ngaheumbat deui. Gabres. Gancang Awon mareuman telepisi bari terus humariring.

Sora nu hos-hosan, sora nu humarurung, sora nu nyikikik. sora nu ceplak, sora nu rereketan awor jeung hariring Dengkleung.

Jempling tungtungna mah. Jempling pisan.

“Ujang rek jadi naon jaga? Jadi Pamong? Ah, jadi naon wé nya, Jang. Asal bageur,” Awon ngaharewos, nompo kana ceuli budak nu geus tibra deui.

Ti kamar kadengé sora nu batuk, ditungtungan ku cikikik.
“Sing amis budi Ujang mah, nya?! Ngarah rea nu nyaraaheun. Sing amiiis téh nya, Jang?”

Awon imut bari nyium budak. Awon bangun hayang nepakeun imutna nu matak deungdeuleueun tea. Awon seuri barang nenjo orok ngarenyu nu imut. Aya nu nyalangkrung dina juru panon Awon.
Di buruan, caang bulan beuki ngebrak.***
=====
Catetan:
Pinunjul I Pasanggiri Ngarang Fiksi Paguyuban Pasundan/Hadiah Sastra DK Ardiwinata 1997. Dimuat dina Majalah Manglé No. 1628, Oktober 1997


__._,_.___

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Linggarjati Organizer | 3 Feb 08:09 2012
Picon

Jadikan Kab. Kuningan Sebagai Tujuan Wisata Anda



Selamat Pagi
Bersama e-mail ini kami dari Linggarjati Organizer, salah satu Unit Usaha dari Perusahaan Daerah Aneka Usaha yang bergerak dalam bidang usaha Meeting Organizer, Outing, Gathering dan Event Organizer, dengan ini kami sampaikan menawarkan kegiatan Outing jika perusahaan bapak membutuhkan.beberapa jasa yang ditawarkan sebagian kami sampaikan di bawah ini :
Jasa yang dapat kami tawarkan terdiri dari :

  1. Pemesanan Hotel di kabupaten Kuningan dan kota Cirebon
  2. Tour Wisata
  3. Gathering
  4. Meeting
  5. Outbound
  6. Company Training
  7. Event Organizer (Konser Musik, Pameran,dsb)
Kami juga memiliki beberapa referensi Obyek Wisata untuk anda kunjungi antara lain adalah :

1. Balongdalem
Taman wisata ini berlokasi di Jalaksana Kuningan. Sekitar 10 menit dari kawasan hotel linggarjati dan sangkanhurip. Tempet rekreasi keluarga yang cocok untuk gathering maupun outing, dilengkapi dengan beberapa wahana air dan saung-saung untuk beristirahat.

2. Talaga Remis
Taman wisata ini berlokasi di Kaduela Kuningan. Pengunjung dapat berjalan mengitari talaga atau danau di jalur pedestrian yang sudah ditata dengan rapi. Dilengkapi juga dengan wahana air sebagai sarana mengitari talaga. Objek wisata ini sangat terkenal dengan "Talaga Remis, Endah Romantis" karena pemandangannya yang eksotis.

3. Paniis Singkup
Objek wisata ini juga berbasis air. Yang membedakan adalah air sungai jernih untuk bermain air. Selain itu pengunjung dapat bersantai di area Singkup yang dilengkapi dengan bangku-bangku untuk bersantai menikmati pemandangan alam dan hutan pinus.

4. Cibeureum
Objek wisata ini memiliki keunikan tersendiri. Selain pohon pinus yang memenuhi hutan, banyak juga terdapat monyet. Pemandangan inilah yang berbeda dengan beberapa objek wisata lain di Kuningan.

5. Cigugur
Merupakan salah satu objek wisata paling terkenal di Kuningan karena keunikannya dengan kolam terapi ikan alami. Pengunjung dapat menyaksikan ikan dewa (ikan yang dikeramatkan) sambil menikmati sensasi terapi ikan nilem mangut. Objek ini juga merupakan objek wisata favorit wisatawan mancanegara, khususnya Korea Selatan.

6. Cibunar
Berada di kaki Gunung Ciremai, terkenal dengan hutan pinus dan lokasi kemping. Dari lokasi ini, pengunjung dapat melihat kota Cirebon dan pemandangan alam yang menenangkan dan sejuk.

7. Waduk Darma
Berada di selatan Kabupaten kuningan,terletak di kecamatan darma. fasilitas yang ada adalah perahu, kereta naga, koleksi hewan, Kolam terapung, Cottage (7 unit).


Jika perusahaan anda ataupun keluarga anda memerlukan jasa kami, silahkan untuk tidak sungkan menghubungi kami di :
 
 
Linggarjati Organizer
Darma Putra Bld. | Jl. Siliwangi Cirendang Kuningan 45518 | +622 32 920 9340 | +622 32 888 1389
 
Find us also in:
www.visitkuningan.com
http://www.linggarjatiorganizer.com 
http://www.facebook.com/pages/Visit-Kuningan/118761478163853
http://www.facebook.com/linggarjati.organizer
http://twitter.com/dlinggarjati



__._,_.___

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
rsyaifoel | 3 Feb 14:54 2012
Picon

antara nyandung jeung sukses?

The puzzle of monogamous marriage

    Joseph Henrich1,2,*,
    Robert Boyd3 and
    Peter J. Richerson4

+ Author Affiliations

    1Department of Psychology, University of British Columbia, British Columbia, Canada
    2Department of Economics, University of British Columbia, British Columbia, Canada
    3Department of Anthropology, University of California Los Angeles, Los Angeles, CA, USA
    4Department of Environmental Science and Policy, University of California Davis, Davis, CA, USA

    &#8629;*Author for correspondence (joseph.henrich <at> gmail.com).

 
Next Section
Abstract

The anthropological record indicates that approximately 85 per cent of human societies have permitted
men to have more than one wife (polygynous marriage), and both empirical and evolutionary
considerations suggest that large absolute differences in wealth should favour more polygynous
marriages. Yet, monogamous marriage has spread across Europe, and more recently across the globe, even
as absolute wealth differences have expanded. Here, we develop and explore the hypothesis that the norms
and institutions that compose the modern package of monogamous marriage have been favoured by cultural
evolution because of their group-beneficial effects—promoting success in inter-group competition.
In suppressing intrasexual competition and reducing the size of the pool of unmarried men, normative
monogamy reduces crime rates, including rape, murder, assault, robbery and fraud, as well as decreasing
personal abuses. By assuaging the competition for younger brides, normative monogamy decreases (i) the
spousal age gap, (ii) fertility, and (iii) gender inequality. By shifting male efforts from seeking
wives to paternal investment, normative monogamy increases savings, child investment and economic
productivity. By increasing the relatedness within households, normative monogamy reduces
intra-household conflict, leading to lower rates of child neglect, abuse, accidental death and
homicide. These predictions are tested using converging lines of evidence from across the human sciences.

kumplitna toong di:

http://rstb.royalsocietypublishing.org/content/367/1589/657.full?keytype=ref&ijkey=Veh7WiI1F7Thq0E#aff-1

------------------------------------

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    Baraya_Sunda-digest <at> yahoogroups.com 
    Baraya_Sunda-fullfeatured <at> yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    Baraya_Sunda-unsubscribe <at> yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Tubagus Rifki L | 3 Feb 15:48 2012
Picon

Re: antara nyandung jeung sukses?

Di Banten aya contona, Abah Chasan almarhum sukses ngabangun dinasti usaha jasa konstruksi, ngiring
ngabangun infrastruktur di Banten tina APBD atawa APBN jeung nurunkeun katurunan nu kiwari pada jadi
pejabat pamarentahan di Pemrov Banten. Aya nu Gubernur, Wali Kota, Bupati, Anggota DPD, Anggota DPR.
Ajeuna oge ngawayuh (nyandung)

Mangga saha nu bade nurutan..(punten, bi Oti)

Ongkarana Sangtabean Pukulun Sembah Rahayu.
TiRiLik

--- In Baraya_Sunda <at> yahoogroups.com, rsyaifoel <no_reply <at> ...> wrote:
>
> The puzzle of monogamous marriage
> 
>     Joseph Henrich1,2,*,
>     Robert Boyd3 and
>     Peter J. Richerson4
> 
> + Author Affiliations
> 
>     1Department of Psychology, University of British Columbia, British Columbia, Canada
>     2Department of Economics, University of British Columbia, British Columbia, Canada
>     3Department of Anthropology, University of California Los Angeles, Los Angeles, CA, USA
>     4Department of Environmental Science and Policy, University of California Davis, Davis, CA, USA
> 
>     &#8629;*Author for correspondence (joseph.henrich <at> ...).
> 
>  
> Next Section
> Abstract
> 
> The anthropological record indicates that approximately 85 per cent of human societies have permitted
men to have more than one wife (polygynous marriage), and both empirical and evolutionary
considerations suggest that large absolute differences in wealth should favour more polygynous
marriages. Yet, monogamous marriage has spread across Europe, and more recently across the globe, even
as absolute wealth differences have expanded. Here, we develop and explore the hypothesis that the norms
and institutions that compose the modern package of monogamous marriage have been favoured by cultural
evolution because of their group-beneficial effects—promoting success in inter-group competition.
In suppressing intrasexual competition and reducing the size of the pool of unmarried men, normative
monogamy reduces crime rates, including rape, murder, assault, robbery and fraud, as well as decreasing
personal abuses. By assuaging the competition for younger brides, normative monogamy decreases (i) the
spousal age gap, (ii) fertility, and (iii) gender inequality. By shifting male efforts from seeking
wives to paternal investment, normative monogamy increases savings, child investment and economic
productivity. By increasing the relatedness within households, normative monogamy reduces
intra-household conflict, leading to lower rates of child neglect, abuse, accidental death and
homicide. These predictions are tested using converging lines of evidence from across the human sciences.
> 
> 
> kumplitna toong di:
> 
> http://rstb.royalsocietypublishing.org/content/367/1589/657.full?keytype=ref&ijkey=Veh7WiI1F7Thq0E#aff-1
>

------------------------------------

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    Baraya_Sunda-digest <at> yahoogroups.com 
    Baraya_Sunda-fullfeatured <at> yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    Baraya_Sunda-unsubscribe <at> yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/


Gmane