Sunny | 1 Jul 08:31 2012
Picon

KPK GELEDAH KANTOR POLITIKUS GOLKAR

 
 
KPK GELEDAH KANTOR POLITIKUS GOLKAR
JAKARTA

Petugas keamanan DPR ikut menggedor ruang kerja Zulkarnaen.

Komisi Pemberantasan Korupsi kemarin menggeledah sejumlah tempat terkait dengan kasus korupsi pengadaan Al-Quran.
Sebanyak delapan tempat didatangi tim KPK dalam waktu yang hampir bersamaan, salah satunya ruang kerja Zulkarnaen Djabar, politikus Partai Golkar yang menjadi tersangka perkara ini.

Ruang Zulkarnaen yang digeledah itu berada di kompleks Dewan Perwakilan Rakyat lantai 13 Gedung Nusantara. Penyidik mengangkut sejumlah barang bukti, seperti dua unit komputer, satu komputer tablet, serta dokumen yang dikemas dalam beberapa kardus.

Proses penggeledahan berjalan lancar meski pintu ruang kerja Zulkarnaen sempat digedorgedor oleh petugas keamanan gedung parlemen.
Ini terjadi karena staf Zulkarnaen yang berada di dalam ruangan tak bersedia membukakan pintu. Penggeledahan berikutnya berlangsung di rumah Zulkarnaen di Jalan Cenderawasih 9 Nomor 158, Jati Cempaka, Bekasi.

Menurut Ketua KPK Abraham Samad, penyidik mencari bukti-bukti lain yang menguatkan keterlibatan Zulkarnaen dalam perkara korupsi pengadaan kitab suci umat Islam tersebut.
Pencarian dilakukan di beberapa tempat. “Ya, memang benar itu,“ katanya.

Selain gedung DPR dan rumah Zulkarnaen, tim KPK lainnya mendatangi kantor Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Penyidik juga menggeledah kantor PT Adhi Aksara Abadi Indonesia di Lapangan Kobra, Pekopen, Tambun, Bekasi.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham mengaku akan segera meminta penjelasan Zulkarnaen. “Kami akan minta penjelasan kepada yang bersangkutan,“ ujarnya.
Jika diperlukan, kata dia, partainya secepatnya menyiapkan pengacara.

SUBKHAN | RUSMAN PARAQBOEQ | ELLIZA HAMZAH | IRA GUSLINA | AGUSSUP



__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Sunny | 1 Jul 10:11 2012
Picon

KPK Periksa Setya Novanto

Ref: Semoga tidak ada yang bosan membaca tentang korupsi, karena korupsi sudah merambat ke sumsum masyarakat NKRI, khususnya kaum berkekuasaan.
 
 
 
 
KPK Periksa Setya Novanto
JAKARTA

Bersama koleganya, Kahar Muzakir, Setya dicecar seputar anggaran PON Riau.

Komisi Pem be rantasan Korupsi memeriksa dua anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Golkar kemarin. Mereka adalah Setya Novanto dan Kahar Muzakir. Selama delapan jam, keduanya dicecar de ngan pertanyaan seputar pro yek Pekan Olahraga Nasional XVIII Riau, yang diduga dikorupsi.

“Saya sudah tegaskan bahwa saya sama sekali tidak ada hubungannya dengan PON Riau,” ujar Setya, yang juga Bendahara Umum Partai Golkar, kepada wartawan.

Akan halnya dengan Ka har, dia memilih bungkam saat keluar dari ruang pe nyidik.

Anggota Komisi Olah raga DPR itu mengatakan dengan singkat bahwa dia hanya dimintai klarifikasi.

Ketua KPK Abraham Sa mad menegaskan bahwa kedua politikus itu diperiksa

sebagai saksi atas dugaan kasus korupsi PON untuk tersangka Lukman Abbas.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Riau ini ditetapkan sebagai tersangka pada 8 Mei lalu.

Anggota staf ahli Gu ber nur Riau Rusli Zainal ini dijerat dengan Pasal 5 dan 13 Undang-Undang Pem berantasan Korupsi. Dia diduga memberi suap kepada anggota DPRD Riau terkait dengan pembahasan penambahan venue PON.

Kasus ini terbongkar setelah KPK mencokok tujuh anggota DPRD Riau pada 3 April lalu. Mereka adalah Adrian Ali dan Ramli Sanur dari Partai Amanat Nasional, M. Faizal Aswan dari Partai Golkar, Indra Isnaini dari Partai Keadilan Sejahtera, Moh. Dunir dari Partai Kebangkitan Bangsa, Tengku Muhazza dari Partai Demokrat, dan Turoechan Asyary dari PDI Perjuangan.

KPK juga menangkap Kepala Seksi Pengembangan Sarana Prasarana Dinas Pemuda dan Olahraga Riau Eka Darma Putra serta anggota staf PT Pembangunan Perumahan Tbk, Rahmad Syaputra. Dari tangan mereka, KPK menyita uang suap senilai Rp 900 juta. Suap ini terkait dengan pembahasan revisi Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2012 tentang Penambahan Dana Pembangunan Lapangan Rp 19 miliar.

Empat di antara orangorang yang dicokok itu, yakni Faizal, Dunir, Eka, dan Rahmad, langsung ditetapkan sebagai tersangka. Sedangkan yang lainnya sebagai saksi.

KPK kemudian menetapkan Lukman Abbas dan Taufan Andoso Yakin, Wakil Ketua DPRD Riau, sebagai tersangka dalam kasus yang sama.

Persidangan terhadap Eka dan Rahmad digelar pada 27 Juni lalu di Pengadilan Tindak Korupsi Pekanbaru.

Keduanya diancam hukuman 20 tahun penjara. Di dalam dakwaan jaksa penuntut umum, terungkap soal keterlibatan Gubernur Rusli Zainal. Bentuk keterlibatan dia, yaitu, pada 3 April 2012 Rusli menelepon Lukman untuk memenuhi perminta

an uang dari anggota DPRD Riau terkait dengan perubahan rancangan peraturan daerah. Lukman kemudian menyampaikan pesan Rusli kepada Eka. Rusli sudah pernah membantah tudingan itu.

Kasus PON Riau menyeret sejumlah politikus Senayan karena DPR berencana mengucurkan dana tambahan. Separuh dari Rp 500 miliar dana APBN 2012

untuk proyek Hambalang, Bogor, hendak dialokasikan ke proyek ini. Setya Novanto membantah anggapan bahwa DPR maupun Fraksi Golkar terlibat persoalan tersebut.

RUSMAN PARAQBUEQ | EFRI R



__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Daniel H.T. | 1 Jul 05:24 2012
Picon

"The Flowers of War", Kekelaman, Kekejaman, Kehancuran, Keindahan, dan Kemanusiaan


Zhang Yimou, nama sutradara besar asal Tiongkok ini saja sudah cukup membuat orang merasa wajib menonton filmnya. Apalagi ditambah dengan nama besar aktor papan atas Hollywood, Christian Bale.
 
Zhang Yimou adalah sutradara Tiongkok yang karya-karyanya banyak menuai pujian dari para kritikus film dunia, di antaranya Hero (2002), House of the Flying Daggers (2004), dan Curse of the Golden Flower (2006).
 
Sedangkan Christian Bale, siapakah penggemar film Hollywood yang tidak tahu namanya? Saat ini Bale seolah-olah sudah diidentikkan dengan tokoh super hero dari DC Comics, Batman, yang sequel terbarunya, The Dark Knight Rises akan ditayangkan di bioskop-bioskop di seluruh dunia pada 20 Juli 2012 ini. Christian Bale juga sukses meraih Piala Oscar 2011, sebagai aktor pendukung terbaik dalam film The Fighter (2010).
 
Ketika dua tokoh besar dari dunia film barat dan dunia film timur itu bertemu dalam satu film tentu akan ada yang menarik. Itulah  terjadi pada film terbaru Zhang Yimou, The Flowers of War (2011). Sebuah film yang diadaptasi dari sebuah novel karya novelis Tiongkok terkenal, Yan Geling, yang berjudul 13 Flowers of Nanjing. Meskipun fiksi, insipirasi novel tersebut dikabarkan berasal dari kejadian nyata. Yakni, ketika itu di Nanking, ada sejumlah perempuan penghibur (PSK) yang rela mengorbankan diri menggantikan sejumlah mahasiswi yang hendak diperkosa tentara-tentara Jepang.
 
Latar belakang kisahnya adalah masa pembantaian yang dilakukan oleh bala tentara Kekaisaran Jepang terhadap warga kota Nanjing (Nanking), Tiongkok, ketika mereka berhasil memasuki kota tersebut pada 13 Desember 1937, dan berhasil menduduki ibu kota Tiongkok pada masa itu selama enam minggu. Di dalam massa itulah sejarah mencatat terjadi pembantaian besar-besaran terhadap warga sipil kota Nanjing oleh bala tentara Kekaisaran Jepang. Mulai dari anak-anak, sampai orang tua, baik laki-laki, maupun perempuan. Diperkirakan 250.000 – 300.000 warga sipil yang tewas dibantai tentara Jepang. Di antaranya sekitar 20.000 – 30.000 perempuan yang terdiri dari anak-anak, remaja sampai dewasa dijadikan korban pelampian nafsu seks tentara Jepang. Mereka menjadi korban penyiksaan, diperkosa, dan kemudian dibunuh. Sejarah gelap Tiongkok ini biasanya disebut juga dengan sebutan “The Nanking Massacre”, atau The Rape of Nanking”.
 
Pada masa itulah kisah dalam film  The Flowers of War yang berdurasi 146 menit itu terjadi.
 
Meskipun penuh dengan kekelaman, kekerasan, kehancuran kota, darah, dan kekejaman yang luar biasa, Zhang Yimou tetap tak meninggalkan ciri khas dalam film-filmnya, yang selalu menggambarkan keindahan sebuah karya seni. Seperti pada karya-karyanya yang lain, Hero, House of Flying Dagger, dan Curse of the Golden Flower, kali ini Zhang Yimou juga bekerja sama dengan Zhao Xiading, untuk menampilkan keindahan-keindahan lewat kecantikan dan pakaian tradisional Tiongkok yang dikenakan 15 perempuan penghibur (PSK) dan lagu-lagu yang mengiringinya dalam The Flowers of War..
 
 
 
John Miller (Christian Bale) adalah seorang warganegara Amerika, pekerja perias jenazah. Dia dikirim ke Nanking merias jenazah seorang pendeta yang baru saja meninggal dunia. Sial bagi Miller, baru beberapa hari di Nanking, bala tentara Jepang menyerbu kota Nanjing. Miller pun terjebak, dalam kepungan bala tentara Jepang yang telah menguasai Nanjing. Dalam upayanya untuk menyelamatkan diri, dia bertemu dengan dua orang remaja perempuan yang sedang bersembunyi dari kejaran tentara Jepang. Dua remaja perempuan itu adalah bagian dari 14 temannya dari sekolah Kristen perempuan dari Gereja Winchester,  ditambah dengan seorang remaja laki-laki bernama George (Huang Tianyuan), yang adalah asisten pendeta yang bertugas menjaga 14 remaja perempuan dari sekolah Kristen itu. John Miller pun mengikuti dua remaja perempuan itu untuk bersembunyi bersama-sama dengan teman-temannya itu di dalam sebuah gereja yang sudah kosong.
 
Gereja dianggap sebagai tempat persembunyian yang paling aman, karena menurut informasi yang mereka dapat, tentara Jepang dilarang masuk ke dalam gereja. Apalagi di dalam gereja terdapat makanan dan minuman yang cukup. Tetapi, sampai seberapa lamakah? Maka itu, mereka harus tetap berupaya untuk keluar dari Nanjing demi keselamatan nyawanya.
 
Tak berapa lama kemudian gereja itu pun didatangi oleh 15 orang PSK dari lokalisasi terkenal di Nanking, “Jade Pradise”, dipimpin oleh Yu Mo (Ni Ni), dengan maksud untuk mencari tempat perlindungan pula di situ. Awalnya, kedatangan para perempuan penghibur itu ditolak mentah-mentah oleh George dan 14 remaja perempuan itu. Salah satu yang menonjol dari 14 remaja perempuan itu adalah Shu (Zhang Xinyi). Mereka menganggap para perempuan penghibur itu hanya mengotori gereja yang suci. Namun Yu Mo dan kawan-kawannya itu akhirnya berhasil masuk secara paksa ke dalam gereja dan berlindung di sana.
 
Shu sebenarnya bisa saja keluar dari Nanjing dengan bantuan ayahnya yang berkolaborasi dengan pihak Jepang, tetapi dia menolak ajakan ayahnya itu. Karena selain muak dengan sikap ayahnya yang mengkhianati negaranya, Shu juga tidak mau meninggalkan teman-temannya. Dia baru mau keluar dari Nanjing bila semua temannya itu bisa ikut. Tapi, tentu saja hal itu bukan sesuatu yang mudah. Bahkan lebih tepat dikatakan mustahil. Apalagi kini ditambah dengan kedatangan 15 PSK itu.
 
Ketika mengetahui ada orang Amerika (John Miller) bersama mereka, Yu Mo dan kawan-kawannya menaruh harapan bahwa dengan perantara Miller, yang adalah orang Amerika/barat yang tidak bakal diganggu tentara Jepang, mereka semua bisa keluar dari Nanjing. Yu Mo menjanjikan sesuatu yang “istimewa” dan “luar biasa” dari mereka kalau Miller bersedia dan berhasil membawa mereka semua keluar dari kota itu.
 
Namun, belum lagi menemukan cara untuk bisa keluar dari Nanjing, tiba-tiba  mereka semua yang sedang bersembunyi di dalam gereja itu dikejutkan dengan suara gaduh di pintu masuk gereja. Ternyata, sejumlah tentara Jepang menerobos masuk. Tentu saja mereka semua sangat ketakutan dan panik. Serta-merta berusaha secepatnya untuk mencari tempat persembunyian. Karena kalau sampai terlihat dan ditangkap tentara Jepang, pasti akan menjadi korban perkosaan massal, sebelum dibunuh.
 
Para PSK terlebih dahulu berhasil masuk ke sebuah lubang persembunyian rahasia, yang sebenarnya adalah tempat sembunyi para remaja perempuan itu. Mereka ini, juga sebetulnya sudah diperbolehkan ikut bersembunyi di tempat itu oleh Yu Mo. Tetapi, belum sempat mereka masuk, tentara Jepang sudah sangat terlalu dekat. Sejenak Shu dan kawan-kawannya bimbang, tetapi kemudian mereka memutuskan berlari ke arah lain, ke perpustakaan gereja. Karena kalau mereka bersikeras masuk ke lubang persembunyian itu, tidak sempat lagi, tentu tentara Jepang akan menemukan mereka semua. Maka, selamatlah para PSK itu dari incaran tentara Jepang, yang tidak mengetahui adanya tempat persembunyian rahasia itu. Perhatian mereka teralihkan ke para remaja perempuan yang sedang lari ketakutan itu. Para remaja perempuan yang sudah terlihat oleh tentara Jepang itu terus dikejar sampai ke dalam perpustakaan, dan satu per satu berhasil ditangkap, dan langsung hendak diperkosa. Para remaja perempuan itu tentu saja berontak sekuat tenaga sambil berteriak-teriak ketakutan minta tolong.
 
John Miller yang ada di kamar pendeta tadinya hendak bersembunyi, tetapi kemudian nuraninya terusik mendengar teriakan-teriakan pilu para remaja itu. Berbekal jubah pendeta, Miller memberanikan diri keluar dari tempat persembunyiannya, menyaru sebagai pendeta. Dia berteriak kepada tentara-tentara Jepang itu agar menghentikan aksinya, “Ini Rumah Tuhan! Kalian tidak boleh ada di sini! Ini Rumah Tuhan, jangan dikotori dengan perbuatan-perbuatan jahat kalian! Lepaskan mereka! Mereka masih anak-anak!”  Teriak Miller sambil membuka selembar kain putih besar berlogo Palang Merah. “Anak-anakku, berdiri di belakangku!” Teriak Miller lagi.
 
Tetapi tentara-tentara Jepang itu hanya sejenak terkejut dengan aksi Miller itu, bukannya menghentikan aksi keji mereka, salah satu dari mereka malah menghunus samurainya dan menebas ke arah John Miller .... memotong kain Palang Merah yang dipegang Miller sampai putus. Kemudian mereka kembali mengejar anak-anak remaja perempuan itu untuk diperkosa.
 
Pada saat kritis itulah muncul seorang tentara Tiongkok yang tersisa dari pembantaian militer Jepang sebelumnya, Mayor Li (Tong Dawei, salah satu pemain dalam film Red Cliff). Dengan taktik gerilyanya dia berhasil menghabisi semua tentara Jepang yang menyerbu masuk gereja itu, sebelum dia sendiri akhirnya tewas.
 
Setelah kejadian itu datanglah sepasukan tentara Jepang lainnya yang  dipimpin oleh seorang perwira militer berpangkat Kolonel, Hasegawa (Atsuro Watabe). Dia menemui John Miller yang terus menyamar sebagai seorang pendeta itu. Kolonel Hasegawa minta maaf atas ulah para anak buahnya itu, dan memberi makanan berupa beberapa karung kentang. Kemudian dia meminta anak-anak gereja itu bernyanyi untuknya, karena dia suka musik dan lagu.
 
Setelah mendengar anak-anak remaja perempuan itu bernyanyi, Kolonel Hasegawa  mengundang mereka untuk datang, ke markas tentara Jepang di Nanjing untuk bernyanyi di sebuah acara perayaan kemenangan tentara Jepang. John Miller spontan merasa sangat khawatir dengan keselamatan anak-anak remaja yang sudah terjalin ikatan bathin kasih sayang dan ingin melindungi mereka itu. Mengingat reputasi tentara Jepang yang sangat doyan memperkosa perempuan-perempuan muda. Miller mencoba menolaknya secara halus dengan mengatakan anak-anak tersebut masih kecil, tetapi Hasegawa tetap bersikeras bahwa itu adalah perintah atasannya. Tidak bisa ditolak. Hasegawa pun memerintah beberapa anak buahnya untuk menjaga di sekitar gereja agar tidak ada satu orang pun yang diperbolehkan keluar.
 
Putus asa dan ketakutan, para remaja perempuan dipimpin oleh Shu memanjat menara gereja dengan maksud bersama-sama meloncat bunuh diri dari menara tersebut. Upaya mereka itu sekuat tenaga dicegah oleh John Miller bersama dengan Yu Mo dan kawan-kawannya. Yu Mo mengatakan kepada anak-anak itu bahwa dia dan teman-temannya telah sepakat,  menyamar untuk mengganti posisi mereka. Jadi, nanti yang ke markas Jepang untuk bernyanyi itu adalah para PSK itu, bukan anak-anak tersebut. Hal yang semula diucapkan hanya supaya anak-anak itu mengurung niatnya bunuh diri, berubah menjadi sesuatu yang sungguh-sungguh dilakukan para PSK itu. Dengan keahliannya sebagai perias jenazah, Miller pun membantu penyamaran tersebut.
 
Tentu saja keputusan para PSK untuk mengganti posisi para remaja putri itu sangat tinggi risikonya. Terbongkarnya penyamaran tersebut dengan segala risiko yang sangat mengerikan bisa dikatakan hanya tinggal waktunya saja.
 
Demikian juga dengan upaya yang dilakukan oleh John Miller yang mencoba membawa keluar para remaja perempuan itu dari gereja tersebut menembus blokade militer tentara Jepang di kota Nanjing.
 
Nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang terkandung dalam The Flowers of War ini adalah bahwa betapa kejamnya perang itu, terutama bagi warga sipil anak-anak dan perempuan. Kekejaman perang, dalam hal ini tentara Jepang juga telah menyentuh hati seorang laki-laki bernama John Miller, yang awalnya hanyalah berprofesi sebagai seorang perias jenazah, yang urakan, suka menggoda perempuan, dan pemabuk, berubah menjadi seorang yang penuh welas kasih terhadap anak-anak perempuan korban kekejaman perang itu. Dia pun dengan sukarela dengan taruhan nyawanya sendiri berupaya membebaskan mereka semua dari ancaman pemerkosaan dan pembunuhan tentara Jepang.
 
Perang juga telah mempersatukan para remaja perempuan anak-anak sekolah yang dididik secara Kristen dan para PSK, dua kelompok yang bertolak belakang secara moral itu. Selama berlindung  di dalam gereja, mereka sama-sama mengalami berbagai pengalaman yang menegangkan dan mengerikan, yang kemudian mempersatukan mereka, serta tumbuh sikap dari saling bermusuhan menjadi saling menghargai.
 
Pengorbanan duabelas orang PSK demi keselamatan para remaja perempuan dari risiko menjadi korban kekejaman tentara Jepang adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Profesi PSK oleh kebanyakan orang dipandang hina. Tetapi ternyata di balik apa yang dipandang hina oleh kebanyakan orang itu tersembunyi pula jiwa yang mulia. Setelah sekian lama tinggal bersama, timbul pula respek dan rasa kasihan Yu Mo dan kawan-kawan terhadap para remaja anak-anak sekolah Kristen itu. Sehingga mereka rela untuk melakukan penyamaran mengganti posisi para remaja yang dikirim ke markas tentara Jepang di Nanjing itu. 
 
Sekejam-kejamnya tentara Jepang, mereka masih menghormati juga profesi seorang pendeta. Padahal mereka pasti bukan Kristen. Karena menyamar sebagai pendeta ditambah dengan dirinya sebagai seorang Amerika, maka pihak tentara Jepang pun enggan untuk mengusiknya. Halmana berperan banyak bagi John Miller untuk menolong para remaja malang itu untuk keluar dari kota Nanjing. Tetapi, apakah memang mereka berhasil?
 
The Flowers of War (Jin li’ng shi’ san chai’) telah diputar di Tiongkok pada Desember 2011, yang juga dijadikan momen memperingati 74 tahun pembantaian bala tentara Jepang di Nanjing. Film yang berbiaya terbesar di Tiongkok sampai saat ini, 94 juta dollar AS, sukses menduduki urutan keenam film terlaris sepanjang masa di sana. Berhasil meraup pendapatan sebesar 89 juta dollar AS, atau sekitar Rp 747 miliar, selama 3 minggu pemutarannya di bioskop-bioskop.
 
Film ini juga sudah dirilis DVD dan Blu-ray-nya di Tiongkok, Hongkong, Korea Selatan, Singapura, dan beberapa negara Asia lainnya. Entah kenapa di Indonesia baru diputar pada pertengahan Juni 2012 ini. Namun demikian tidak ada kata terlambat untuk menontonnya di bioskop. ***
 
 


__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Lisman Manurung | 1 Jul 05:08 2012
Picon

Re: Fw: Gumilar Unjuk Kuasa

Situasi ini memang unik. Dari semua elemen yang paling geram dan aktif berkecimpung dalam 'keramaian' di UI ini adalah unsur FISIP sendiri. Lupa, bahwa suatu hari kita akan ada  kampung yang sama: FISIP UI.
 
Rekan-rekanku itu lupa barulah dalam sejarah  kali ini pertama sekali UI dipimpin oleh FISIP. Mestinya kita tidak lebih arif, dan menanti sampai putaran-putaran kepemimpinan UI bergulir dan berakhir. Dan secara statistik kesempatan FISIP UI adalah pada putaran ke 8 (ada 8 fakultas yang belum pernah menjadi rektor UI) atau 64 tahun lagi jika masing-masing rektor menjabat 8 tahun!
 
Soal proses hukum sejatinya harus kita letakkan sebagai proses lembaga hukum sebagaimana dari sananya. Proses hukum itu tidak bisa didorong-dorong. Sehingga mestinya kita bersikap arif dan adil saja. 
 
Sebagai contoh, saya tidak pernah ikut menambah beban batin seorang dosen senior FE UI yang kini menjadi tahanan KPK. Saya ikut prihatin, karena hal yang samapun bisa kita alami. Rekan-rekan di Save UI tentu lebih prihatin karena beliau juga amat sering berada di lingkungan itu.
 
Tetapi kemudian, masak untuk hal-hal yang dialami oleh Prof GRS kita tidak bersikap sama?
 
Lagi pula rekan-rekanku lupa bahwa hanya pada putaran ke 8 kali 8 tahun mendatang ada peluang FISIP menjadi rektor lagi, atau tahun 208-an. Kenapa?  Mosok FE, FMIPA, FT engga ingin ada di puncak UI sih?
 
Lupa juga jika kemudian leadership UI kembali di  tangan FK, maka  business will be as usual, dan FISIP et al tidak lebih dari elemen periferal belaka....
 
 
 
 
 
 


--- On Fri, 6/29/12, Ade Armando <im_armando-/E1597aS9LQ@public.gmane.orgm> wrote:

From: Ade Armando <im_armando-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@public.gmane.org>
Subject: [mediacare] Fw: Gumilar Unjuk Kuasa
To: "sau1213-1X+7qY9jXQVwjIcJ3tiraA@public.gmane.orgid" <sau1213-1X+7qY9jXQWcfxXDmR9Uiw@public.gmane.org>, "Senat Akademik FISIP UI" <senatakademik.fisip-Re5JQEeQqe8AvxtiuMwx3w@public.gmane.org>, "suara mahasiswa" <suaramahasiswa <at> yahoogroups.com>, "depkomui-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@public.gmane.org" <depkomui-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@public.gmane.org>, "iluni_fisip_ui-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@public.gmane.org" <iluni_fisip_ui-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@public.gmane.org>, "Iluni Ui Chandra motik" <chandra.motik-Re5JQEeQqe8AvxtiuMwx3w@public.gmane.org>, "depkomui <at> yahoogroups.com" <depkomui-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@public.gmane.org>, "angkatan80fisipui-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@public.gmane.org" <angkatan80fisipui-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@public.gmane.org>, "jurnalisme" <jurnalisme <at> yahoogroups.com>, "mediacare-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@public.gmane.org" <mediacare-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@public.gmane.org>, "li_channel-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@public.gmane.org" <li_channel-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@public.gmane.org>, "devie UI rahmawati" <devie.indonesia-Re5JQEeQqe8AvxtiuMwx3w@public.gmane.org>, "Fi SIP Prof Imam Prasodjo Ph D" <ibprasodjo-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@public.gmane.org>
Date: Friday, June 29, 2012, 10:12 AM

 

Pemberhentian Dekan FK UI: Gumilar Unjuk Kuasa dalam Kepanikan
 http://uibersih.org/?p=157
UI Bersih (29 Juni 2012)
Dalam langkah unjuk kuasa yang menunjukkan kepanikan menghadapi ancaman atas kursinya, Rektor UI Gumilar Somantri mengeluarkan keputusan agar Dekan Fakultas Kedokteran UI, Dr. Ratna Sitompul. segera diganti.
Dalam surat tertanggal 26 Juni 2012, Rektor menyatakan bahwa  FK harus mengajukan tiga nama calon dekan baru di FK, selambat-lambatnya 3 Agustus 2012. Gumilar nantinya akan menentukan siapa yang akan terpilih sebagai Dekan definitif.
Surat ini dengan segera mendapat reaksi keras. Para Dekan dan para pengajar dari berbagai fakultas yang menghadiri rapat Senat Akademik Universitas (28 Juni 2012) sudah memutuskan untuk segera mengirimkan surat yang mempertanyakan keputusan Rektor tersebut.
Para anggota SAU pada dasarnya mengecam langkah sepihak rektor yang dianggap melanggar begitu saja berbagai kesepakatan dan terkesan diskriminatif.
Sejumlah organ lain diduga akan menunjukkan sikap serupa. Anggota Tim Transisi dari FISIP, Prof. Ferdinand Saragih menyatakan akan meminta Tim Transisi untuk mempertanyakan keputusan Gumilar itu. Anggota Majelis Wali Amanat (MWA),  Prof. Akmal Taher juga menyatakan akan mengangkat masalah ini dalam rapat MWA pada 29 Juni ini.
Keputusan Gumilar ini dianggap sangat bermasalah karena sejumlah hal.
Pertama, kendatipun dengan merujuk pada surat pengangkatannya masa bakti Ratna Sitompul sebagai Dekan FK sebenarnya sudah berakhir April 2012 , ada banyak Dekan di fakultas lain yang sebenarnya juga sudah habis masa baktinyadi saat yang kuang lebih sama.
Kedua, penundaan pemilihan dekan baru di berbagai fakultas itu – termasuk FK — didasarkan pada sejumlah kesepakatan dan surat keputusan. Salah satu yang paling awal adalah ketusan pertemuan 22 Desember 2011, antara Menteri Dikbud Mohammad Nuh,  Ketua MWA (lama) dr. Purnomo dan Gumilar sendiri .
Setelah itupun ada Surat Dirjen Dikti (16 Januari 2012), serta Surat Ketua MWA (16 Maret 2012) yang juga mengatur pemilihan Dekan.  Bahkan khusus untuk Dekan FK UI, ada pula   Surat Ketua Tim Transisi (26 April 2012) perihal Perpanjangan Masa Tugas Dekan FKUI.
Pada intinya semangat seluruh keputusan itu sama: pemilihan dekan baru oleh rektor hanya bisa dilangsungkan sesudah terpilihnya rektor baru pada Agustus 2012.
Alasannya sederhana. Pemilihan rektor nanti akan dimulai dari tahap seleksi oleh Senat Akademik Universitas. Anggota SAU adalah para dekan beserta para perwakilan dosen dari masing-masing fakultas. Dengan demikian, bila pada saat pemilihan nanti, SAU diisi oleh para dekan yang loyalis pada Gumilar, dikhawatirkan pemilihan tidak akan berlangsung secara objektif. Bukan saja para dekan itu diduga akan otomatis mendukung Gumilar, namun para wakil dosen pun sangat mungkin dipengaruhi para dekan itu. Karena itulah, untuk mencegah kemungkinan tersebut, diputuskan bahwa seluruh dekan di UI baru akan dipilih sesudah rektor baru terpilih.
Dengan latar belakang itu, sebagian peserta rapat SAU  mempertanyakan mengapa Gumilar mengabaikan begitu saja seluruh keputusan itu? Mengapa untuk keputusan sepenting itu, Gumilar tidak berkonsultasi pada MWA dan SAU (dua organ resmi yang menentukan dalam struktur organisasi UI)? Lebih jauh lagi: mengapa Gumilar memperlakukan Dekan FK secara berbeda dari dekan-dekan lain yang sebenarnya juga sudah habis masa baktinya? Ataukah pemberhentian Dekan FK ini hanya satu dari serangkaian ‘pemberhentian’ berikutnya?
Sejumlah penjelasan nampaknya bisa diajukan.
Pertama, pemberhentian Ratna ini secara jelas menunjukkan niat Gumilar untuk menghukum Dekan FK tersebut.  Ratna selama ini dikenal sebagai ketua UI Bersih yang secara konsisten menuntut pembersihan UI dari praktek penyalahgunaan kekuasaan, salahkelola dan  korupsi yang merugikan puluhan milyar rupiah yang dilakukan Gumilar. Tabloid Prioritas yang menyajikan laporan utama tentang UI secara sengaja memuat gambar close up Gumilar dan Ratna di halaman muka. Ratna juga diketahui tak pernah segan mengecam secara pedas dan terbuka kepemimpinan Gumilar.
Lebih dari itu, dengan memberhentikan Ratna, Gumilar bukan saja dapat menghukum Dekan dan para koleganya di FK tapi juga akan memperoleh pengganti Ratna yang diharapkan akan menjadi pendukung loyalnya.
Kedua, dengan memberhentikan Ratna, Gumilar hendak menunjukkan ‘siapa yang berkuasa’ di UI. Pesan ini hendak ia sampaikan kepada seluruh Dekan di UI, serta juga mereka yang berada di sekeliling kekuasaannya. Dengan kata lain. Gumilar ingin menunjukkan bahwa ia masih berkuasa untuk menentukan hidup-mati para dekan dan tak ada satupun kekuatan yang dapat menandinginya.
Kesan ini perlu dibangun Gumilar mengingat ia tahu bahwa para dekan yang selama ini ia kira  adalah basis pendukungnya sekarang sudah semakin muak dengannya, terutama setelah bukti demi bukti penyalahgunaan kekuasaannya mengemuka. Gumilar menyangka bahwa  para dekan itu adalah kaum loyalis yang akan dibutkan matanya hanya karena mereka dulu ditunjuk olehnya.
Nyatanya, kondisinya jauh berbeda.  Banyak dekan selama ini memilih untuk tidak terlibat dalam aksi menggugat Rektor karena mereka tak ingin mencoreng nama UI dan merasa belum memiliki bukti cukup tentang kecurangan Gumilar. Kalaupun ada keluhan selama ini lebih ditujukan pada ‘gaya kepemimpinan’ Gumilar. Namun sekarang, dengan begitu banyak data terungkap, tak ada lagi alas an bagi para dekan untuk berada di kubu yang sama.
Saat ini mayoritas dekan di UI secara rutin melakukan pertemuan-pertemuan tanpa melibatkan Gumilar dan para wakilnya untuk membahas nasib UI ke depan.    Bahkan pekan lalu, para dekan sudah berencana untuk bertemu dengan Menteri Dikbud antara lain untuk membicarakan sikap mereka mengenai ‘UI pasca Gumilar’. Pertemuan ini gagal setelah agen Gumilar mengendus rencana pertemuan ini dan melaporkannya kepada Gumilar.
Ini adalah perkembangan yang tidak pernah diantisipasi oleh Gumilar. Kini ia nampaknya sadar bahwa kalau ia maju sebagai calon rektor UI  2012-2017 yang akan berlangsung Agustus ini, dia tidak bisa berharap pada para dekan yang ada. Dalam kepanikannya, ia diketahui berulangkali marah pada sejumlah dekan yang ia kira adalah orang-orang setianya yang kini secara terbuka tak sungkan mengungkapkan kritik mereka.  Diperkirakan hanya satu-dua dekan yang masih berposisi sebagai loyalis pada Gumilar karena ketergantungan ekonomi mereka pada sang rektor.
Bahkan di lingkungan rektorat, Gumilar tahu satu per satu orang sudah menjauhinya. Diduga orang-orang yang masih bersedia membelanya adalah: Wakil Rektor I Bidang Keuangan (Tafsir Nurchamid), Direktur Umum dan Fasilitas (Donanta Dhaneswara), Direktur Keuangan (Lien Indriana) dan Devie Rachmawati (yang berubah-ubah posisinya; kadang juru bicara UI, sekretaris Rektor atau Chief of Staff).
Akan halnya orang seperti Prof. Muhammad Anis (Wakil rektor 2 bidang akademik) sudah lama diabaikannya. Saran-saran Anis dianggap angin lalu. Gumilar bahkan dikabarkan dengan sengaja memata-matai aktivitas Anis di kantor rektorat karena Anis dianggap sebagai berambisi menjadi calon rektor atau setidaknya tim sukses calon rektor untuk menggantikan Gumilar.
Dengan demikian, pemberhentian Ratna ini adalah bentuk unjuk kuasa – Who’s the Boss – oleh Gumilar pada banyak pihak: kepada Dekan FK, pada semua penentangnya, pada MWA, pada SAU, pada seluruh Dekan, pada wakil rektornya.
Hari-hari ini akan menentukan kemana unjuk kuasa Gumilar akan berujung.   Seorang dekan berkata: “Ini adalah blunder oleh Gumilar,” ujarnya. “Ini memang bukan yang pertama, tapi mudah-mudahan yang terakhir.”
Foto: vivanews
 




__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Sunny | 2 Jul 00:34 2012
Picon

Aroma Korupsi Kitab Suci

Ref: Aroma korupsi kitab suci pasti wangi baunya dan lezat rasanya bagi koruptor.
 
 

Al Quran (Foto qadin.net)

Dugaan korupsi pengadaan Al-Quran diselidiki KPK. Mantan Dirjen Bimas Islam, Nasaruddin Umar, tersodok. Tak ada jejak temuan dalam audit BPK dan itjen. Anggaran melesat sejak APBN-P 2011. Pemenang lelang 2011-2012 berbeda perusahaan, tapi "bersaudara". ---

Bermula dari seminar pemberantasan korupsi di Universitas Al-Azhar Jakarta, Rabu 20 Juni, pekan lalu. Deputi Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), K.M.S. Rony, tak tahan "membocorkan" potret korupsi yang kian miris. "Ada korupsi pengadaan Al-Quran. Menyedihkan," katanya. Rony tak menyebut nilai kerugian, waktu, dan pemain yang terlibat, demi strategi penyelidikan. Sinyal nama menyusul muncul dari pernyataan Ketua KPK, Abraham Samad, saat dikonfirmasi wartawan di sela-sela rapat dengan Komisi III DPR, selang beberapa saat.

"Itu waktu wamen (wakil menteri) masih menjadi Dirjen Pendidikan Agama Islam," kata Samad kepada wartawan di Senayan. "Kami punya bukti kuat," Samad optimistis. KPK sudah melakukan ekspose. Samad berkeyakinan, tak lama lagi kasus ini naik ke tahap penyidikan. Wamen Agama saat ini adalah Nasaruddin Umar. Tapi ia bukan mantan Dirjen Pendidikan Islam, melainkan Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Juni 2006-April 2011.

Awal pekan ini, GATRA memperoleh informasi, KPK mengirim surat pemanggilan pemeriksaan staf Ditjen Pendidikan Islam. Berkembanglah spekulasi, jangan-jangan kasus ini bukan pada Ditjen Bimas Islam yang pernah dipimpin Nasar. Apalagi, anggaran Ditjen Pendidikan Islam jauh lebih besar: Rp 28-an trilyun. Sedangkan Bimas Islam hanya Rp 300-an milyar.

Juru bicara KPK, Johan Budi S.P., kemudian memastikan, kasus itu di Ditjen Bimas Islam pada anggaran 2011-2012, dengan nilai Rp 35 milyar. Sebelumnya beredar kabar lain: tahun anggaran 2010-2011. "Biar tidak simpang siur, proyek pengadaan anggaran ini tahun 2011-2012," kata Johan kepada GATRA, Selasa lalu.

Kasus ini, menurut Johan, baru pekan lalu dimulai penyelidikannya. Pemanggilan terperiksa dimulai pekan ini. Benarkah Nasaruddin Umar terlibat? "Belum ada kesimpulan seperti itu," katanya. "Belum ada nama yang disebutkan. Bahkan belum ada kesimpulan adanya tindak pidana korupsi."

GATRA beberapa kali menghubungi Abraham Samad untuk mengklarifikasi maksud penyebutan wamen: sekadar penjelasan waktu atau keterlibatan sang tokoh. Samad tak merespons.

Publikasi kasus ini membuat geger Kementerian Agama (Kemenag) dan lingkaran Nasaruddin Umar. Rabu itu, saat kabar ini meledak, para pejabat puncak Kemenag sedang berkumpul di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, untuk mengikuti rapat kerja nasional (rakernas). Mulai menteri, wamen, sampai pejabat eselon II.

Nasar mengaku terpukul. Apalagi, dalam rakernas itu beredar kliping pemberitaan berbagai media siber seputar berita ini dengan beragam judul yang menyodok namanya. "Ayah saya di Bone shock, langsung sakit, dan dilarikan ke rumah sakit," kata profesor ilmu tafsir Al-Quran UIN Jakarta itu.

Pada hari kedua rapat di Ancol, Nasar mengumpulkan seluruh stafnya yang pernah terlibat pengadaan Al-Quran, sejak 2009 sampai 2011. "Semua berkas kami bawa dari kantor ke kamar hotel di Ancol," katanya.

Saat itu, Nasar belum tahu, pengadaan tahun berapa yang dibidik KPK. Jadinya, ia memeriksa seluruh berkas. "Audit BPK dan inspektorat tidak pernah menyatakan ada masalah," ujarnya. Ia pun fokus pada kasus yang pernah disurati Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemenag: pengadaan Al-Quran pada APBN 2011. Saat itu, ada penggunaan (optimalisasi) sisa anggaran (efisiensi) untuk menambah volume cetakan Al-Quran.

Pada pengadaan dengan APBN 2009, 2010, dan APBN-P 2011 juga ada sisa anggaran, mulai Rp 23 juta sampai Rp 2 milyar (lihat tabel). Tapi sisanya tidak dicairkan dari kas negara. Hanya pada APBN 2011, sebagian sisanya, sejumlah 9,99% dari nilai kontrak, sekitar Rp 459 juta, digunakan lagi untuk menambah cetakan mushaf, dari semula 67.600 eksemplar menjadi 85.110 eksemplar. Menurut Perpres 54/2010, kata Nasar, penggunaan sisa anggaran, sepanjang di bawah 10%, dibolehkan.

Itulah sebabnya, dalam audit BPK tahun 2010 dan 2011, kasus pengadaan Al-Quran tidak masuk dalam temuan masalah. Status audit keuangan Kemenag oleh BPK tahun 2010 adalah wajar dengan pengecualian (WDP). Yang dikecualikan itu bukan soal pengadaan kitab suci, melainkan tentang kas Badan Layanan Umum. Sedangkan pada audit BPK tahun 2011, status keuangan Kemenag meningkat: dinyatakan wajar tanpa pengecualian (WTP).

Bahtiar Arief, Kepala Biro Humas BPK, tidak bisa memberikan tanggapan atas dugaaan korupsi pengadaan Al-Quran itu. "Kami sedang teliti, kumpulkan data dan informasi," katanya lewat pesan singkat kepada GATRA. Seorang auditor yang menolak disebut namanya bersikukuh bahwa tidak ada masalah dalam pemeriksaan BPK atas keuangan Kemenag. "Dalam pengadaan Al-Quran juga nggak ada masalah," ia menambahkan.

Anggaran pengadaan kitab suci sejak 2009 naik setiap tahun. Baru pada APBN-P 2011, kenaikannya tajam, dari Rp 5,6 milyar menjadi Rp 22,8 milyar. Lalu pada APBN 2012 melonjak lagi menjadi Rp 55 milyar. Peneliti ICW, Ade Irawan, menyebutkan bahwa dalam korupsi pengadaan Al-Quran ini ada dua kemungkinan. Pertama, korupsi politik. Kedua, pengadaan diada-adakan atau dibutuh-butuhkan karena ada yang mau menggarap.

Sumber GATRA menyebutkan, pemenang lelang pengadaan 2011 yang nilainya sudah melonjak jauh itu merupakan titipan anggota DPR asal daerah pemilihan (dapil) Bekasi, tempat pemenang lelang. Mitra Kemenag di DPR adalah Komisi VIII dan salah satu anggota komisi ini yang asal dapil Bekasi-Depok adalah Zulkarnaen Djabbar, anggota Fraksi Golkar yang juga Wakil Ketua MKGR.

GATRA berkali-kali menghubungi nomor Zulkarnaen dan mengirim SMS, tapi tak ada jawaban. Dua hari terakhir, GATRA bolak-balik ke Komisi VIII, tapi tetap sepi. Beberapa nama pimpinan dan anggota Komisi VIII yang biasa terbuka, seperti Said Abdullah (PDIP), Chairun Nisa (Golkar), dan Gondo Radityo (Demokrat), tidak merespons.

Hanya Erwin Moeslimin Singajuru, anggota baru Komisi VIII asal PDIP, yang mau menanggapi. "Komisi VIII segera melayangkan surat untuk rapat dengan Menteri Agama. Nanti kami tanyakan dugaan korupsi pengadaan Al-Quran," tuturnya kepada Ade Faizal Alami dari GATRA.
Dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK atas Laporan Keuangan Kemenag Tahun Anggaran 2010 dan
2011, masalah yang terkait dengan pengadaan Al-Quran hanya ditemukan pada LHP tahun 2010. Bukan soal pengadaan, melainkan denda keterlambatan. Bukan kegiatan tahun 2010, melainkan tahun 2008. Denda total Rp 1,17 milyar itu untuk pengadaan dan pengiriman sejumlah barang: Al-Quran, Juz Amma dan terjemahannya, serta tafsir Al-Quran di Ditjen Bimas Islam.

Ada tiga perusahaan yang diminta membayar denda. Dua perusahan membayar penuh pada Oktober 2009. Nah, yang terlihat ganjil, ada satu perusahaan, PT Pura Barutama, yang semestinya membayar denda Rp 874,5 juta, tapi baru menyetor Rp 50 juta. Itu pun dibayarkan paling akhir dibandingkan dengan dua perusahan lainnya: Februari 2010. Ke mana sisa denda senilai Rp 820-an juta? Pemeriksa BPK akan memeriksa lagi berkasnya.

Asrori S. Karni, Cavin R. Manuputty, dan Anthony Djafar

(Laporan Khusus Majalah GATRA edisi 18/44, terbit Kamis, 28 Juni 2012)



__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Yusran Darmawan | 1 Jul 05:55 2012
Picon

Akhir Kisah Avatar KORRA

Avatar Korra

SERIAL Avatar Korra atau Legend of Korra akhirnya berakhir. Bukan berarti tak ada lagi Korra, sebab yang berakhir adalah musim pertama yang berjudul water (air). Serial ini cukup singkat sebab hanya 12 episode. Seingat saya, serial Avatar Aang musim pertama terdiri atas 20 episode.

Berbeda dengan Avatar Aang, yang banyak berisi kisah-kisah selipan atau perjalanan Aang, maka Legend of Korra langsung pada inti kisah yang menengangkan. Mustahil anda memahami kisahnya jika tidak mengikuti serial ini secara berurutan. Ketegangan ditata secara perlahan sehingga semakin akhir, penonton semakin penasaran. Teka-tekinya kian menarik. Saya didera penasaran untuk menuntaskan kisah ini.

Di akhir kisah, terungkap satu per satu misterinya. Mulai dari Amon (musuh terbesar Korra) yang ternyata adalah saudara Tarlock, yang memiliki kemampuan yang sama yakni pengendali air dan pengendali darah. Tadinya, saya berpikir bahwa Amon adalah Asami. Atau minimal seseorang yang dekat dengan Korra biar kisahnya semakin mengejutkan. Ternyata Amon adalah sosok lain.

Jenderal Iroh
Sosok yang paling saya senangi adalah Jenderal Iroh, yang suaranya diisi oleh pengisi suara Zuko. Jenderal Iroh adalah cucu Zuko, putra raja api yang menjadi sahabat Aang. Ia digambarkan tampan, berpakaian selayaknya pangeran Kerajaan Inggris, serta memimpin bala tentara yang menempati kapal induk. Sepintas wajahnya mirip Clark Kent. Ia juga hebat, jago berkelahi, dan menguasai ilmu api hingga membuatnya nyaris terbang.

Saya menikmati beberapa adegan pertempuran dalam film. Saat beberapa pesawat berbaling-baling membom kapal induk, saya teringat film Pearl Harbor. Saat Jenderal Iroh mengendarai pesawat tempur, saya teringat film Avatar (yang disutradarai James Cameroon). Sosok Amon mengingatkan saya pada Darth Vader, musuh paling besar dalam film Star Wars.

Beberapa adegan juga dibuat sangat mengegangkan. Mulai dari Korra yang kemampuannya dipreteli oleh Amon, hingga upaya Mako untuk membantu Korra. Di detik-detik terakhir itu, tiba-tiba saja kemampuan Korra untuk mengendalikan udara langsung muncul. Ia lalu mengalahkan Amon dalam duel, dan terungkaplah siapa Amon.

poster serial ini

Adegan terakhir adalah adegan paling menyentuh. Saat itu, Katara gagal mengembalikan kemampuan Korra. Korra lalu pergi ke tepi tebing, lalu bersedih. Di puncak kesedihannya, muncullah Avatar Aang bersama Avatar Roku, Avatar Kiyoshi, dan avatar lainnya.

“Aang?” tanya Korra.
“Kamu akhirnya terhubung dengan kekuatan spiritualmu sendiri,” jawab Aang
“Kok bisa?”
“Ketika kita menyentuh titik terendah, maka kita sedang membuka gerbang perubahan besar dalam diri kita,” kata Aang.

Daam bahasa Inggris, Aang berkata, “When we hit our lowest point, we are open to the greatest change.” Kalimat ini sedemikian kuat. Saya teringat filsuf Lao Tze yang selalu berkata bahwa keterpurukan adalah awal dari perubahan besar pada diri manusia. Ketika manusia menyentuh titik keterpurukan, maka manusia bisa menemukan titik untuk bangkit, menancapkan tekad kuat, dan melejitkan potensinya untuk sesuatu yang lebih besar, yang sebelumnya tidak kamu bayangkan. Lao Tze sering berkata, "Failure is a great oppurtunity."

Avatar Aang lalu mengembalikan kekuatan Korra sehingga ia sanggup menguasai empat unsur, lalu memunculkan kekuatan avatar. Korra lalu mengembalikan kemampuan mereka yang dipunahkan kekuatannya, yang satu di antaranya adalah Lin Beifong, putri Tof Beifong, sahabat Aang.

Korra

Buat saya, ini serial yang hebat. Bukan saja penuh dengan hikmah dan pelajaran berharga. Tapi juga cerita yang penuh lika-liku serta penuh inspirasi. Pantas saja jika serial ini begitu digandrung warga Amerika. Pantas saja, setiap minggunya, begitu banyak orang yang memberi analisis tentang kelanjutan cerita, kemudian mem-publish-nya di Youtube.

Serial ini telah memicu atensi dan ketertarikan besar bagi warga Amerika. Pantas saja jika serial ini disejajarkan dengan Harry Potter dan Lord of the Ring, sebagai serial yang penuh kejutan, sarat hikmah, sarat filosofi, serta perenungan yang mendalam. Serial ini mengajak saya untuk melihat dunia sebagai kontinuitas yang saling berkesinambungan. Manusia belajar hal-hal baik pada kehidupan sebelumnya, juga belajar untuk tidak selalu mengulangi kesalahan di masa silam.

Saya tak sabar menanti kelanjutan serial ini. Jika musim pertama (atau book 1) berjudul water, maka musim kedua direncanakan berjudul energy. Sebab kemampuan Korra telah melampaui kesemua unsur. Ia telah menjadi pengendali energi.


Athens, 25 Juni 2012

BACA JUGA:









__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Benny D Setianto | 1 Jul 07:54 2012

Re: Fw: Gumilar Unjuk Kuasa



Kok malah jadi curcol fisip didzholimi FK.. ?

Jaka sembung ...


Benny D Setianto
Sent from my BenzBerry®mobile
From: Lisman Manurung <lismanm <at> yahoo.com>
Sender: mediacare <at> yahoogroups.com
Date: Sat, 30 Jun 2012 20:08:45 -0700 (PDT)
To: <mediacare <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: mediacare <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [mediacare] Fw: Gumilar Unjuk Kuasa

 

Situasi ini memang unik. Dari semua elemen yang paling geram dan aktif berkecimpung dalam 'keramaian' di UI ini adalah unsur FISIP sendiri. Lupa, bahwa suatu hari kita akan ada  kampung yang sama: FISIP UI.
 
Rekan-rekanku itu lupa barulah dalam sejarah  kali ini pertama sekali UI dipimpin oleh FISIP. Mestinya kita tidak lebih arif, dan menanti sampai putaran-putaran kepemimpinan UI bergulir dan berakhir. Dan secara statistik kesempatan FISIP UI adalah pada putaran ke 8 (ada 8 fakultas yang belum pernah menjadi rektor UI) atau 64 tahun lagi jika masing-masing rektor menjabat 8 tahun!
 
Soal proses hukum sejatinya harus kita letakkan sebagai proses lembaga hukum sebagaimana dari sananya. Proses hukum itu tidak bisa didorong-dorong. Sehingga mestinya kita bersikap arif dan adil saja. 
 
Sebagai contoh, saya tidak pernah ikut menambah beban batin seorang dosen senior FE UI yang kini menjadi tahanan KPK. Saya ikut prihatin, karena hal yang samapun bisa kita alami. Rekan-rekan di Save UI tentu lebih prihatin karena beliau juga amat sering berada di lingkungan itu.
 
Tetapi kemudian, masak untuk hal-hal yang dialami oleh Prof GRS kita tidak bersikap sama?
 
Lagi pula rekan-rekanku lupa bahwa hanya pada putaran ke 8 kali 8 tahun mendatang ada peluang FISIP menjadi rektor lagi, atau tahun 208-an. Kenapa?  Mosok FE, FMIPA, FT engga ingin ada di puncak UI sih?
 
Lupa juga jika kemudian leadership UI kembali di  tangan FK, maka  business will be as usual, dan FISIP et al tidak lebih dari elemen periferal belaka....
 
 
 
 
 
 


--- On Fri, 6/29/12, Ade Armando <im_armando <at> yahoo.com> wrote:

From: Ade Armando <im_armando <at> yahoo.com>
Subject: [mediacare] Fw: Gumilar Unjuk Kuasa
To: "sau1213 <at> uinews.ui.ac.id" <sau1213 <at> uinews.ui.ac.id>, "Senat Akademik FISIP UI" <senatakademik.fisip <at> gmail.com>, "suara mahasiswa" <suaramahasiswa <at> yahoogroups.com>, "depkomui <at> yahoogroups.com" <depkomui <at> yahoogroups.com>, "iluni_fisip_ui <at> yahoogroups.com" <iluni_fisip_ui <at> yahoogroups.com>, "Iluni Ui Chandra motik" <chandra.motik <at> gmail.com>, "depkomui <at> yahoogroups.com" <depkomui <at> yahoogroups.com>, "angkatan80fisipui <at> yahoogroups.com" <angkatan80fisipui <at> yahoogroups.com>, "jurnalisme" <jurnalisme <at> yahoogroups.com>, "mediacare <at> yahoogroups.com" <mediacare <at> yahoogroups.com>, "li_channel <at> yahoogroups.com" <li_channel <at> yahoogroups.com>, "devie UI rahmawati" <devie.indonesia <at> gmail.com>, "Fi SIP Prof Imam Prasodjo Ph D" <ibprasodjo <at> yahoo.com>
Date: Friday, June 29, 2012, 10:12 AM

 

Pemberhentian Dekan FK UI: Gumilar Unjuk Kuasa dalam Kepanikan
 http://uibersih.org/?p=157
UI Bersih (29 Juni 2012)
Dalam langkah unjuk kuasa yang menunjukkan kepanikan menghadapi ancaman atas kursinya, Rektor UI Gumilar Somantri mengeluarkan keputusan agar Dekan Fakultas Kedokteran UI, Dr. Ratna Sitompul. segera diganti.
Dalam surat tertanggal 26 Juni 2012, Rektor menyatakan bahwa  FK harus mengajukan tiga nama calon dekan baru di FK, selambat-lambatnya 3 Agustus 2012. Gumilar nantinya akan menentukan siapa yang akan terpilih sebagai Dekan definitif.
Surat ini dengan segera mendapat reaksi keras. Para Dekan dan para pengajar dari berbagai fakultas yang menghadiri rapat Senat Akademik Universitas (28 Juni 2012) sudah memutuskan untuk segera mengirimkan surat yang mempertanyakan keputusan Rektor tersebut.
Para anggota SAU pada dasarnya mengecam langkah sepihak rektor yang dianggap melanggar begitu saja berbagai kesepakatan dan terkesan diskriminatif.
Sejumlah organ lain diduga akan menunjukkan sikap serupa. Anggota Tim Transisi dari FISIP, Prof. Ferdinand Saragih menyatakan akan meminta Tim Transisi untuk mempertanyakan keputusan Gumilar itu. Anggota Majelis Wali Amanat (MWA),  Prof. Akmal Taher juga menyatakan akan mengangkat masalah ini dalam rapat MWA pada 29 Juni ini.
Keputusan Gumilar ini dianggap sangat bermasalah karena sejumlah hal.
Pertama, kendatipun dengan merujuk pada surat pengangkatannya masa bakti Ratna Sitompul sebagai Dekan FK sebenarnya sudah berakhir April 2012 , ada banyak Dekan di fakultas lain yang sebenarnya juga sudah habis masa baktinyadi saat yang kuang lebih sama.
Kedua, penundaan pemilihan dekan baru di berbagai fakultas itu – termasuk FK — didasarkan pada sejumlah kesepakatan dan surat keputusan. Salah satu yang paling awal adalah ketusan pertemuan 22 Desember 2011, antara Menteri Dikbud Mohammad Nuh,  Ketua MWA (lama) dr. Purnomo dan Gumilar sendiri .
Setelah itupun ada Surat Dirjen Dikti (16 Januari 2012), serta Surat Ketua MWA (16 Maret 2012) yang juga mengatur pemilihan Dekan.  Bahkan khusus untuk Dekan FK UI, ada pula   Surat Ketua Tim Transisi (26 April 2012) perihal Perpanjangan Masa Tugas Dekan FKUI.
Pada intinya semangat seluruh keputusan itu sama: pemilihan dekan baru oleh rektor hanya bisa dilangsungkan sesudah terpilihnya rektor baru pada Agustus 2012.
Alasannya sederhana. Pemilihan rektor nanti akan dimulai dari tahap seleksi oleh Senat Akademik Universitas. Anggota SAU adalah para dekan beserta para perwakilan dosen dari masing-masing fakultas. Dengan demikian, bila pada saat pemilihan nanti, SAU diisi oleh para dekan yang loyalis pada Gumilar, dikhawatirkan pemilihan tidak akan berlangsung secara objektif. Bukan saja para dekan itu diduga akan otomatis mendukung Gumilar, namun para wakil dosen pun sangat mungkin dipengaruhi para dekan itu. Karena itulah, untuk mencegah kemungkinan tersebut, diputuskan bahwa seluruh dekan di UI baru akan dipilih sesudah rektor baru terpilih.
Dengan latar belakang itu, sebagian peserta rapat SAU  mempertanyakan mengapa Gumilar mengabaikan begitu saja seluruh keputusan itu? Mengapa untuk keputusan sepenting itu, Gumilar tidak berkonsultasi pada MWA dan SAU (dua organ resmi yang menentukan dalam struktur organisasi UI)? Lebih jauh lagi: mengapa Gumilar memperlakukan Dekan FK secara berbeda dari dekan-dekan lain yang sebenarnya juga sudah habis masa baktinya? Ataukah pemberhentian Dekan FK ini hanya satu dari serangkaian ‘pemberhentian’ berikutnya?
Sejumlah penjelasan nampaknya bisa diajukan.
Pertama, pemberhentian Ratna ini secara jelas menunjukkan niat Gumilar untuk menghukum Dekan FK tersebut.  Ratna selama ini dikenal sebagai ketua UI Bersih yang secara konsisten menuntut pembersihan UI dari praktek penyalahgunaan kekuasaan, salahkelola dan  korupsi yang merugikan puluhan milyar rupiah yang dilakukan Gumilar. Tabloid Prioritas yang menyajikan laporan utama tentang UI secara sengaja memuat gambar close up Gumilar dan Ratna di halaman muka. Ratna juga diketahui tak pernah segan mengecam secara pedas dan terbuka kepemimpinan Gumilar.
Lebih dari itu, dengan memberhentikan Ratna, Gumilar bukan saja dapat menghukum Dekan dan para koleganya di FK tapi juga akan memperoleh pengganti Ratna yang diharapkan akan menjadi pendukung loyalnya.
Kedua, dengan memberhentikan Ratna, Gumilar hendak menunjukkan ‘siapa yang berkuasa’ di UI. Pesan ini hendak ia sampaikan kepada seluruh Dekan di UI, serta juga mereka yang berada di sekeliling kekuasaannya. Dengan kata lain. Gumilar ingin menunjukkan bahwa ia masih berkuasa untuk menentukan hidup-mati para dekan dan tak ada satupun kekuatan yang dapat menandinginya.
Kesan ini perlu dibangun Gumilar mengingat ia tahu bahwa para dekan yang selama ini ia kira  adalah basis pendukungnya sekarang sudah semakin muak dengannya, terutama setelah bukti demi bukti penyalahgunaan kekuasaannya mengemuka. Gumilar menyangka bahwa  para dekan itu adalah kaum loyalis yang akan dibutkan matanya hanya karena mereka dulu ditunjuk olehnya.
Nyatanya, kondisinya jauh berbeda.  Banyak dekan selama ini memilih untuk tidak terlibat dalam aksi menggugat Rektor karena mereka tak ingin mencoreng nama UI dan merasa belum memiliki bukti cukup tentang kecurangan Gumilar. Kalaupun ada keluhan selama ini lebih ditujukan pada ‘gaya kepemimpinan’ Gumilar. Namun sekarang, dengan begitu banyak data terungkap, tak ada lagi alas an bagi para dekan untuk berada di kubu yang sama.
Saat ini mayoritas dekan di UI secara rutin melakukan pertemuan-pertemuan tanpa melibatkan Gumilar dan para wakilnya untuk membahas nasib UI ke depan.    Bahkan pekan lalu, para dekan sudah berencana untuk bertemu dengan Menteri Dikbud antara lain untuk membicarakan sikap mereka mengenai ‘UI pasca Gumilar’. Pertemuan ini gagal setelah agen Gumilar mengendus rencana pertemuan ini dan melaporkannya kepada Gumilar.
Ini adalah perkembangan yang tidak pernah diantisipasi oleh Gumilar. Kini ia nampaknya sadar bahwa kalau ia maju sebagai calon rektor UI  2012-2017 yang akan berlangsung Agustus ini, dia tidak bisa berharap pada para dekan yang ada. Dalam kepanikannya, ia diketahui berulangkali marah pada sejumlah dekan yang ia kira adalah orang-orang setianya yang kini secara terbuka tak sungkan mengungkapkan kritik mereka.  Diperkirakan hanya satu-dua dekan yang masih berposisi sebagai loyalis pada Gumilar karena ketergantungan ekonomi mereka pada sang rektor.
Bahkan di lingkungan rektorat, Gumilar tahu satu per satu orang sudah menjauhinya. Diduga orang-orang yang masih bersedia membelanya adalah: Wakil Rektor I Bidang Keuangan (Tafsir Nurchamid), Direktur Umum dan Fasilitas (Donanta Dhaneswara), Direktur Keuangan (Lien Indriana) dan Devie Rachmawati (yang berubah-ubah posisinya; kadang juru bicara UI, sekretaris Rektor atau Chief of Staff).
Akan halnya orang seperti Prof. Muhammad Anis (Wakil rektor 2 bidang akademik) sudah lama diabaikannya. Saran-saran Anis dianggap angin lalu. Gumilar bahkan dikabarkan dengan sengaja memata-matai aktivitas Anis di kantor rektorat karena Anis dianggap sebagai berambisi menjadi calon rektor atau setidaknya tim sukses calon rektor untuk menggantikan Gumilar.
Dengan demikian, pemberhentian Ratna ini adalah bentuk unjuk kuasa – Who’s the Boss – oleh Gumilar pada banyak pihak: kepada Dekan FK, pada semua penentangnya, pada MWA, pada SAU, pada seluruh Dekan, pada wakil rektornya.
Hari-hari ini akan menentukan kemana unjuk kuasa Gumilar akan berujung.   Seorang dekan berkata: “Ini adalah blunder oleh Gumilar,” ujarnya. “Ini memang bukan yang pertama, tapi mudah-mudahan yang terakhir.”
Foto: vivanews
 




__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Holy Uncle | 1 Jul 08:12 2012
Picon

Press councils: the Indonesian experience

Press councils: the Indonesian experience

 by Andreas Harsano 

Published in: The Myanmar Times 
June 20, 2012

As Myanmar moves to institute a press council to replace previous systems of media control, regional
perspectives could provide some salient lessons. I have been a journalist in Indonesia for more than 20
years and have seen our media environment change from authoritarian to greater openness.

When President Suharto stepped down from power in May 1998, hundreds of previously underground
journalists emerged to push for the reform of Indonesia¡¯s press law. One of their primary goals was to
replace the state-sanctioned journalist association with an independent press council. With careful
compromise, members of a formerly illegal journalist association did something previously
unthinkable: they formed a coalition with members of the state-sponsored Indonesian Journalists
Association to rewrite the law and create a self-regulatory body to mediate media disputes.

In September 1999, when BJ Habibie succeeded Suharto as president, he promulgated a new press law that
expanded press freedom and safeguarded freedom of expression. The Press Law prohibits the government
from banning any newspaper, protects freedom of association, including the formation of journalist
unions, and led to the establishment of an independent press council. Government officials cannot sit on
the nine-member body. It contrasts sharply with Suharto¡¯s press council, set up in 1968 and later
amended through the 1983 Press Law, which was always chaired by the government¡¯s minister of information.

President Habibie inaugurated Indonesia¡¯s new press council in April 2000 with nine councillors ¨C
three represent journalists, three represent media owners and three represent the public ¨C who in turn
elected Atmakusumah Astraatmadja, a lecturer of journalism, to be their chairman.

When Muslim scholar Abdurrahman Wahid won the 2000 election and succeeded Habibie, he took the council a
step further and disbanded the Ministry of Information altogether. President Wahid said a democratic
state does not need censorship. He supported the press council and turned it into a complaints mechanism,
enabling it to adjudicate complaints from the public. The mechanism began with the establishment of a
committee to select the first councillors under the revised system. Within a few months, more than 20 new
journalist and publisher associations emerged to nominate candidates.

In 2003, the press council evolved again when it voted that its chairperson would be a non-media person ¨C
the idea being that a member of the public, rather than a journalist or publisher, would be more
independent. The chairmanship has since been held by a retired college president and a retired chairman
of Indonesia¡¯s Supreme Court.

According to the press council, it has gradually resolved more media disputes, from 101 cases in 2003 to 207
in 2006 and 511 in 2011. Today, it receives an estimated three complaints a week, mostly involving
allegations of unbalanced coverage, unreliable sources, breaches of privacy, indecency, blackmail,
racism and perceived insults. The council says 97 percent of the cases have reached ¡°amicable
solutions¡±. Moreover, a degree of transparency is found on the council¡¯s own website, which
reports on the substance of complaints and identifies the parties involved.

But attacks on free speech persist because a number of problematic laws remain on the books. Influential
persons usually enlist the police ¨C not the press council ¨C to ¡°resolve¡± disputes, and that
typically means harassing or intimidating journalists. These laws, such as restrictive internet
legislation and criminal defamation provisions, enable these powerful figures, including public
officials, to bring criminal charges against activists, journalists, consumers and others who
criticise them.

For instance, in 2009 a housewife was jailed for three weeks and spent over 12 months in the criminal justice
process simply for sending a message to friends on Facebook complaining about medical treatment. In
another case, a newspaper columnist was convicted of defamation in 2008 and given a suspended prison
sentence for writing an opinion column that criticised the Indonesian attorney general¡¯s decision
to ban a high school history textbook.

Criminal defamation investigations and prosecutions can have a dramatic impact on the lives of those
accused. Some of those charged with defamation lost their jobs and had difficulty finding more work.
Others suffered professional setbacks while they endured lengthy prosecutions, some of which lasted
for years. Some reported that their personal and professional relationships were strained by the stigma
of prosecution or conviction.

In December 2008, the Supreme Court issued a circular recommending Indonesian courts seek ¡°expert
testimonies¡± from the press council when handling defamation trials. In February 2012, the press
council signed an agreement with the national police, in which the police agreed to forward any
press-related defamation complaints to the press council. ¡°We cannot repeal the defamation
articles but we try to minimise the damages,¡± said Atmakusumah Astraatmadja.

It¡¯s been 12 years since the post-Suharto press council was born. If there is a lesson for Myanmar from
Indonesia, it is that while a genuinely independent press council can be an important tool to help
establish and protect a free press, it is not a silver bullet. Parliament must be vigilant to repeal
repressive criminal defamation laws and pass legislation that will align the country with
international human rights standards on freedom of expression and press freedom.

(Andreas Harsono, Human Rights Watch¡¯s Indonesia researcher, helped set up the Alliance of
Independent Journalists and the Institute for the Studies on Free Flow of Information in Jakarta,
involved in writing the 1999 Press Law.) 

http://www.hrw.org/news/2012/06/20/pres ... experience

------------------------------------

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group  <at>  FB: 
http://www.facebook.com/groups/mediacare/

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mediacare-digest@... 
    mediacare-fullfeatured@...

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    mediacare-unsubscribe@...

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

muskitawati | 1 Jul 10:38 2012
Picon

Re: Siti Fadila Supari: Rujukan Berjenjang Bisa Tingkatkan Kematian

Pernyataan Siti fadila Supari ini hanya membuktikan bahwa dirinya belum pernah menginjak pendidikan
ilmu kedokteran dimanapun didunia ini.

Semua Fakultas Kedokteran didunia ini mendidik berbagai bidang lanjutan spesialisasi Kedokteran
sebagai rujukan selanjutnya para dokter umum yang mengkonsultasikan pasien2nya.

Rupanya Siti fadila Supari ini belum pernah mendapatkan pendidikan Kedokteran yang formal se-benar2nya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.

--- In mediacare@..., "Evi Douren" <evi_eds <at> ...> wrote:
>
> 
> Cerdas! :)
> 
> 
> ED
> 
> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
> 
> -----Original Message-----
> From: dokterMade <imcw06 <at> ...>
> Sender: mediacare@...
> Date: Thu, 28 Jun 2012 22:25:08 
> To: <mediacare@...>
> Reply-To: mediacare@...
> Subject: Re: [mediacare] Siti Fadila Supari: Rujukan Berjenjang Bisa
>  Tingkatkan Kematian
> 
> Kalau rujukan berjenjang ini benar benar diterapkan maka dokter umum akan  
> kebanjiran pasien dan dokter spesialis hanya bisa berharap menerima  
> rujukan dari dokter umum.
> 
> On Thu, 28 Jun 2012 12:19:45 +0800, Evi Douren <evi_eds <at> ...> wrote:
> 
> >
> > Aduh, Tuhanku, Ibu Fadila.  Selain bangun pikir yang salah atas prinsip  
> > rujukan berjenjang dalam sistim pelayanan medis pernyataan ini juga  
> > sangat menghina kemampuan dokter umum dan, terlebih lagi, keberadaan  
> > PUSKESMAS!
> >
> > Dulu pernyataannya yang bak sembilu pernah melukai profesi dokter hewan  
> > dalam lingkaran penelitian klinis lewat isu susu formula.
> >
> > Ada apa denganmu, Ibu Fadila?
> >
> >
> > ED
> > ______
> >
> > http://m.shnews.co/detile-3878-rujukan-berjenjang-bisa-tingkatkan-kematian.html
> >
> > Rujukan Berjenjang Bisa Tingkatkan Kematian
> >
> > Rencana sejumlah pemerintah daerah (pemda) untuk menerapkan rujukan
> > berjenjang bagi pasien miskin dan tidak mampu dinilai bisa
> > meningkatkan angka kematian.
> > Rujukan berjenjang baru bisa dilakukan jika infrastruktur pendukung
> > layanan kesehatan sudah tersedia dengan baik.
> > Menurut mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari, rujukan
> > berjenjang mewajibkan pasien untuk datang ke puskesmas terlebih dulu
> > sebelum dirujuk ke rumah sakit daerah maupun pusat. Padahal, selama
> > ini, dokter maupun tenaga medis di puskesmas masih belum mumpuni.
> > Dokter yang bertugas di puskesmas umumnya hanya dokter umum. Sangat
> > jarang di puskesmas ada dokter spesialis.
> > “Dokter umum itu tidak bisa mendeteksi penyakit dalam yang perlu
> > penanganan segera. Bisa-bisa rekomendasinya salah, semua pasien
> > dianggap sebagai pasien biasa,” katanya kepada SH, Senin (25/6).
> > Apalagi berdasarkan penelitian yang dibuatnya beberapa tahun lalu,
> > ditemukan fakta hampir 60 persen dokter di Indonesia tidak bisa
> > mendeteksi hipertensi (tekanan darah tinggi).
> > Mereka hanya mengetahui, pasien memiliki tekanan darah tinggi melalui
> > alat ukur. Namun, penyebab hipertensi tidak pernah bisa dideteksi.
> > Padahal, dekteksi itu sangat penting untuk mengetahui keterkaitan
> > dengan organ tubuh lain.
> > “Hipertensi sangat berhubungan dengan kardiovaskuler,” katanya.
> > Penyakit jantung saat ini masih menduduki peringkat teratas penyebab
> > kematian. Setelah itu, penyakit stroke.
> > “Hati-hati itu. Orang sakit jantung tidak bisa diperiksa sederhana di
> > puskesmas. Karena ketidaktahuan dokter dia dianggap biasa saja.
> > Padahal, butuh tindakan segera. Bisa mati itu mereka di puskesmas
> > gara-gara tunggu antrean,” katanya.
> > Oleh karena itu, ia menilai rujukan berjenjang itu justru berpotensi
> > menaikkan angka kematian. Keminiman pengetahuan dokter menyebabkan
> > pasien penyakit dalam yang seharusnya segera dirujuk tidak mendapatkan
> > rujukan dengan cepat.
> > “Rujukan berjenjang bagus kalau infrastrukturnya bagus. Nanti angka
> > kematian pasti akan naik drastis, perlu konsultasi lebih dulu. Apakah
> > sistem ini untuk genosida? Di AS sistemnya sudah bagus makanya bisa
> > jalan,” katanya.
> > Sementara itu, Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Jabodetabek Agung
> > Nugroho menambahkan, rujukan berjenjang sangat bergantung pada
> > kesiapan masyarakat dan koordinasi yang baik antar-rumah sakit.
> > “Jangan sampai ketika dirujuk balik dari rumah sakit pusat ke rumah
> > sakit daerah tidak ada kamar,” ujarnya.
> >
> > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung  
> > Teruuusss...!
> >
> > ------------------------------------
> >
> > Mailing list:
> > http://groups.yahoo.com/group/mediacare/
> >
> > Group  <at>  FB:
> > http://www.facebook.com/groups/mediacare/
> >
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
>

------------------------------------

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group  <at>  FB: 
http://www.facebook.com/groups/mediacare/

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mediacare-digest@... 
    mediacare-fullfeatured@...

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    mediacare-unsubscribe@...

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Evi Douren | 1 Jul 10:41 2012
Picon

Re: Siti Fadila Supari: Rujukan Berjenjang Bisa Tingkatkan Kematian




Ha ha ha. Die hard u/Bu Endang, ya, akYu?! *wink *wink

Nggak loh. Aku mengritik Bu Endang terkait sirkumsisi u/perempuan loh dan hal lain. Yang "kubela" pada Bu Endang a/'tuduhan' dia membawa lari virus flu burung ke LN dan kaitannya sebagai antek2 AS.


ED

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
From: "gawang" <g4w4ng <at> yahoo.com>
Sender: mediacare <at> yahoogroups.com
Date: Sat, 30 Jun 2012 11:21:45 +0000
To: mediacare <at> yahoogroups.com<mediacare <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: mediacare <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [mediacare] Siti Fadila Supari: Rujukan Berjenjang Bisa Tingkatkan Kematian

 


Kalau saya perhatikan Evi juga selalu belain bu Endang almh saat ada yg berkomentar miring.

Tapi kita ngak sebut mbak Evi "die hard"nya Endang.

Jadi mending yang santai aja diskusinya.. Ngak usah pakai esmosi..

Pissssss


Sent from BB-nya gawang
From: "Evi Douren" <evi_eds <at> yahoo.co.uk>
Sender: mediacare <at> yahoogroups.com
Date: Sat, 30 Jun 2012 09:26:28 +0000
To: Mediacare Milis<mediacare <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: mediacare <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [mediacare] Siti Fadila Supari: Rujukan Berjenjang Bisa Tingkatkan Kematian

 


Irwan ini "die hard" u/Bu Siti Fadila deh nampaknya. Ada apa, Wan?


ED

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
From: Irwan Kurniawan <irwank2k12 <at> gmail.com>
Sender: mediacare <at> yahoogroups.com
Date: Fri, 29 Jun 2012 16:22:08 +0700
To: <mediacare <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: mediacare <at> yahoogroups.com
Cc: Perempuan Milis<perempuan <at> yahoogroups.com>
Subject: Re: [mediacare] Siti Fadila Supari: Rujukan Berjenjang Bisa Tingkatkan Kematian

 

"..
Ke dokter umum di puskesmas bisa meningkatkan kematian....
.."
 
Kalau pernyataan dipotong ya begini ini..
 
"..
> Dokter yang bertugas di puskesmas umumnya hanya dokter umum. Sangat
> jarang di puskesmas ada dokter spesialis.
> “Dokter umum itu tidak bisa mendeteksi penyakit dalam yang perlu
> penanganan segera. Bisa-bisa rekomendasinya salah, semua pasien
> dianggap sebagai pasien biasa,” katanya kepada SH, Senin (25/6).
> Apalagi berdasarkan penelitian yang dibuatnya beberapa tahun lalu,
> ditemukan fakta hampir 60 persen dokter di Indonesia tidak bisa
> mendeteksi hipertensi (tekanan darah tinggi).
> Mereka hanya mengetahui, pasien memiliki tekanan darah tinggi melalui
> alat ukur. Namun, penyebab hipertensi tidak pernah bisa dideteksi.
.."
Salah1 poinnyakan di sini.. Bener/gak? Harusnya bahas dasarnya, bukan cuma
main potong doank.. dasar tukang jagal.. :-p

--
Wassalam,

Irwan.K
"Better team works could lead us to better results"
http://irwank.blogspot.com
fb/twitter/skype: irwank2k2


Pada 28 Juni 2012 13:26, ttbnice <rparapat <at> live.com> menulis:
Bahasanya itu yang ga nahan. Bisa meningkatkan kematian. Kalo yg ngomong
pemain bola saya bisa cuek. Tapi ini yg ngomong dokter dan mantan menkes
lho. Ini serius...
Ke dokter umum di puskesmas bisa meningkatkan kematian....

Waktu saya kecil, dokter spesialis sangat jarang, toh system kesehatan
tetep jalan kok meski dengan dokter umum. Apa sekarang kualitas dokter spesialis
sama dengan dokter umum di masa lalu?



--------------------------------------------------
From: "Evi Douren" <evi_eds <at> yahoo.co.uk>
Sent: Thursday, June 28, 2012 11:19 AM
To: "Mediacare Milis" <mediacare <at> yahoogroups.com>; "Perempuan Milis"
<perempuan <at> yahoogroups.com>
Subject: [mediacare] Siti Fadila Supari: Rujukan Berjenjang Bisa Tingkatkan Kematian

> Aduh, Tuhanku, Ibu Fadila.  Selain bangun pikir yang salah atas prinsip
> rujukan berjenjang dalam sistim pelayanan medis pernyataan ini juga sangat
> menghina kemampuan dokter umum dan, terlebih lagi, keberadaan PUSKESMAS!
>
> Dulu pernyataannya yang bak sembilu pernah melukai profesi dokter hewan
> dalam lingkaran penelitian klinis lewat isu susu formula.
>
> Ada apa denganmu, Ibu Fadila?
>
>
> ED
> ______
>
> http://m.shnews.co/detile-3878-rujukan-berjenjang-bisa-tingkatkan-kematian.html
>
> Rujukan Berjenjang Bisa Tingkatkan Kematian
>
> Rencana sejumlah pemerintah daerah (pemda) untuk menerapkan rujukan
> berjenjang bagi pasien miskin dan tidak mampu dinilai bisa meningkatkan angka kematian.
> Rujukan berjenjang baru bisa dilakukan jika infrastruktur pendukung
> layanan kesehatan sudah tersedia dengan baik.
> Menurut mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari, rujukan
> berjenjang mewajibkan pasien untuk datang ke puskesmas terlebih dulu
> sebelum dirujuk ke rumah sakit daerah maupun pusat. Padahal, selama
> ini, dokter maupun tenaga medis di puskesmas masih belum mumpuni.
> Dokter yang bertugas di puskesmas umumnya hanya dokter umum. Sangat
> jarang di puskesmas ada dokter spesialis.
> “Dokter umum itu tidak bisa mendeteksi penyakit dalam yang perlu
> penanganan segera. Bisa-bisa rekomendasinya salah, semua pasien
> dianggap sebagai pasien biasa,” katanya kepada SH, Senin (25/6).
> Apalagi berdasarkan penelitian yang dibuatnya beberapa tahun lalu,
> ditemukan fakta hampir 60 persen dokter di Indonesia tidak bisa
> mendeteksi hipertensi (tekanan darah tinggi).
> Mereka hanya mengetahui, pasien memiliki tekanan darah tinggi melalui
> alat ukur. Namun, penyebab hipertensi tidak pernah bisa dideteksi.
> Padahal, dekteksi itu sangat penting untuk mengetahui keterkaitan
> dengan organ tubuh lain.
> “Hipertensi sangat berhubungan dengan kardiovaskuler,” katanya.
> Penyakit jantung saat ini masih menduduki peringkat teratas penyebab
> kematian. Setelah itu, penyakit stroke.
> “Hati-hati itu. Orang sakit jantung tidak bisa diperiksa sederhana di
> puskesmas. Karena ketidaktahuan dokter dia dianggap biasa saja.
> Padahal, butuh tindakan segera. Bisa mati itu mereka di puskesmas
> gara-gara tunggu antrean,” katanya.
> Oleh karena itu, ia menilai rujukan berjenjang itu justru berpotensi
> menaikkan angka kematian. Keminiman pengetahuan dokter menyebabkan
> pasien penyakit dalam yang seharusnya segera dirujuk tidak mendapatkan
> rujukan dengan cepat.
> “Rujukan berjenjang bagus kalau infrastrukturnya bagus. Nanti angka
> kematian pasti akan naik drastis, perlu konsultasi lebih dulu. Apakah
> sistem ini untuk genosida? Di AS sistemnya sudah bagus makanya bisa
> jalan,” katanya.
> Sementara itu, Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Jabodetabek Agung
> Nugroho menambahkan, rujukan berjenjang sangat bergantung pada
> kesiapan masyarakat dan koordinasi yang baik antar-rumah sakit.
> “Jangan sampai ketika dirujuk balik dari rumah sakit pusat ke rumah
> sakit daerah tidak ada kamar,” ujarnya.


__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Gmane