Zhang Yimou, nama sutradara besar asal Tiongkok
ini saja sudah cukup membuat orang merasa wajib menonton filmnya. Apalagi
ditambah dengan nama besar aktor papan atas Hollywood, Christian Bale.
Zhang Yimou adalah sutradara Tiongkok yang karya-karyanya
banyak menuai pujian dari para kritikus film dunia, di antaranya Hero (2002), House of the Flying Daggers (2004), dan Curse of the Golden Flower (2006).
Sedangkan Christian Bale, siapakah penggemar film
Hollywood yang tidak tahu namanya? Saat ini Bale seolah-olah sudah diidentikkan
dengan tokoh super hero dari DC Comics, Batman, yang sequel terbarunya, The Dark
Knight Rises akan ditayangkan di bioskop-bioskop di seluruh dunia pada 20
Juli 2012 ini. Christian Bale juga sukses meraih Piala Oscar 2011, sebagai aktor
pendukung terbaik dalam film The Fighter
(2010).
Ketika dua tokoh besar dari dunia film barat dan
dunia film timur itu bertemu dalam satu film tentu akan ada yang menarik.
Itulah terjadi pada film terbaru Zhang
Yimou, The Flowers of War (2011).
Sebuah film yang diadaptasi dari sebuah novel karya novelis Tiongkok terkenal, Yan
Geling, yang berjudul 13 Flowers of
Nanjing. Meskipun fiksi, insipirasi novel tersebut dikabarkan berasal dari
kejadian nyata. Yakni, ketika itu di Nanking, ada sejumlah perempuan penghibur
(PSK) yang rela mengorbankan diri menggantikan sejumlah mahasiswi yang hendak
diperkosa tentara-tentara Jepang.
Latar belakang kisahnya adalah masa pembantaian
yang dilakukan oleh bala tentara Kekaisaran Jepang terhadap warga kota Nanjing
(Nanking), Tiongkok, ketika mereka berhasil memasuki kota tersebut pada 13
Desember 1937, dan berhasil menduduki ibu kota Tiongkok pada masa itu selama
enam minggu. Di dalam massa itulah sejarah mencatat terjadi pembantaian
besar-besaran terhadap warga sipil kota Nanjing oleh bala tentara Kekaisaran
Jepang. Mulai dari anak-anak, sampai orang tua, baik laki-laki, maupun
perempuan. Diperkirakan 250.000 – 300.000 warga sipil yang tewas dibantai
tentara Jepang. Di antaranya sekitar 20.000 – 30.000 perempuan yang terdiri
dari anak-anak, remaja sampai dewasa dijadikan korban pelampian nafsu seks
tentara Jepang. Mereka menjadi korban penyiksaan, diperkosa, dan kemudian
dibunuh. Sejarah gelap Tiongkok ini biasanya disebut juga dengan sebutan “The Nanking Massacre”, atau The Rape of Nanking”.
Pada masa itulah kisah dalam film The
Flowers of War yang berdurasi 146 menit itu terjadi.
Meskipun penuh dengan kekelaman, kekerasan,
kehancuran kota, darah, dan kekejaman yang luar biasa, Zhang Yimou tetap tak
meninggalkan ciri khas dalam film-filmnya, yang selalu menggambarkan keindahan
sebuah karya seni. Seperti pada karya-karyanya yang lain, Hero, House of Flying Dagger, dan Curse of the Golden Flower, kali ini Zhang Yimou juga bekerja sama
dengan Zhao Xiading, untuk menampilkan keindahan-keindahan lewat kecantikan dan
pakaian tradisional Tiongkok yang dikenakan 15 perempuan penghibur (PSK) dan
lagu-lagu yang mengiringinya dalam The
Flowers of War..
John Miller (Christian Bale) adalah seorang warganegara
Amerika, pekerja perias jenazah. Dia dikirim ke Nanking merias jenazah seorang
pendeta yang baru saja meninggal dunia. Sial bagi Miller, baru beberapa hari di
Nanking, bala tentara Jepang menyerbu kota Nanjing. Miller pun terjebak, dalam
kepungan bala tentara Jepang yang telah menguasai Nanjing. Dalam upayanya untuk
menyelamatkan diri, dia bertemu dengan dua orang remaja perempuan yang sedang
bersembunyi dari kejaran tentara Jepang. Dua remaja perempuan itu adalah bagian
dari 14 temannya dari sekolah Kristen perempuan dari Gereja Winchester, ditambah dengan seorang remaja laki-laki
bernama George (Huang Tianyuan), yang adalah asisten pendeta yang bertugas
menjaga 14 remaja perempuan dari sekolah Kristen itu. John Miller pun mengikuti
dua remaja perempuan itu untuk bersembunyi bersama-sama dengan teman-temannya
itu di dalam sebuah gereja yang sudah kosong.
Gereja dianggap sebagai tempat persembunyian yang
paling aman, karena menurut informasi yang mereka dapat, tentara Jepang
dilarang masuk ke dalam gereja. Apalagi di dalam gereja terdapat makanan dan
minuman yang cukup. Tetapi, sampai seberapa lamakah? Maka itu, mereka harus tetap
berupaya untuk keluar dari Nanjing demi keselamatan nyawanya.
Tak berapa lama kemudian gereja itu pun didatangi
oleh 15 orang PSK dari lokalisasi terkenal di Nanking, “Jade Pradise”, dipimpin
oleh Yu Mo (Ni Ni), dengan maksud untuk mencari tempat perlindungan pula di
situ. Awalnya, kedatangan para perempuan penghibur itu ditolak mentah-mentah
oleh George dan 14 remaja perempuan itu. Salah satu yang menonjol dari 14
remaja perempuan itu adalah Shu (Zhang Xinyi). Mereka menganggap para perempuan
penghibur itu hanya mengotori gereja yang suci. Namun Yu Mo dan kawan-kawannya
itu akhirnya berhasil masuk secara paksa ke dalam gereja dan berlindung di
sana.
Shu sebenarnya bisa saja keluar dari Nanjing
dengan bantuan ayahnya yang berkolaborasi dengan pihak Jepang, tetapi dia
menolak ajakan ayahnya itu. Karena selain muak dengan sikap ayahnya yang
mengkhianati negaranya, Shu juga tidak mau meninggalkan teman-temannya. Dia
baru mau keluar dari Nanjing bila semua temannya itu bisa ikut. Tapi, tentu
saja hal itu bukan sesuatu yang mudah. Bahkan lebih tepat dikatakan mustahil.
Apalagi kini ditambah dengan kedatangan 15 PSK itu.
Ketika mengetahui ada orang Amerika (John Miller)
bersama mereka, Yu Mo dan kawan-kawannya menaruh harapan bahwa dengan perantara
Miller, yang adalah orang Amerika/barat yang tidak bakal diganggu tentara
Jepang, mereka semua bisa keluar dari Nanjing. Yu Mo menjanjikan sesuatu yang
“istimewa” dan “luar biasa” dari mereka kalau Miller bersedia dan berhasil
membawa mereka semua keluar dari kota itu.
Namun, belum lagi menemukan cara untuk bisa
keluar dari Nanjing, tiba-tiba mereka
semua yang sedang bersembunyi di dalam gereja itu dikejutkan dengan suara gaduh
di pintu masuk gereja. Ternyata, sejumlah tentara Jepang menerobos masuk. Tentu
saja mereka semua sangat ketakutan dan panik. Serta-merta berusaha secepatnya
untuk mencari tempat persembunyian. Karena kalau sampai terlihat dan ditangkap
tentara Jepang, pasti akan menjadi korban perkosaan massal, sebelum dibunuh.
Para PSK terlebih dahulu berhasil masuk ke sebuah
lubang persembunyian rahasia, yang sebenarnya adalah tempat sembunyi para
remaja perempuan itu. Mereka ini, juga sebetulnya sudah diperbolehkan ikut
bersembunyi di tempat itu oleh Yu Mo. Tetapi, belum sempat mereka masuk,
tentara Jepang sudah sangat terlalu dekat. Sejenak Shu dan kawan-kawannya
bimbang, tetapi kemudian mereka memutuskan berlari ke arah lain, ke
perpustakaan gereja. Karena kalau mereka bersikeras masuk ke lubang
persembunyian itu, tidak sempat lagi, tentu tentara Jepang akan menemukan
mereka semua. Maka, selamatlah para PSK itu dari incaran tentara Jepang, yang
tidak mengetahui adanya tempat persembunyian rahasia itu. Perhatian mereka
teralihkan ke para remaja perempuan yang sedang lari ketakutan itu. Para remaja
perempuan yang sudah terlihat oleh tentara Jepang itu terus dikejar sampai ke
dalam perpustakaan, dan satu per satu berhasil ditangkap, dan langsung hendak
diperkosa. Para remaja perempuan itu tentu saja berontak sekuat tenaga sambil
berteriak-teriak ketakutan minta tolong.
John Miller yang ada di kamar pendeta tadinya
hendak bersembunyi, tetapi kemudian nuraninya terusik mendengar
teriakan-teriakan pilu para remaja itu. Berbekal jubah pendeta, Miller
memberanikan diri keluar dari tempat persembunyiannya, menyaru sebagai pendeta.
Dia berteriak kepada tentara-tentara Jepang itu agar menghentikan aksinya, “Ini
Rumah Tuhan! Kalian tidak boleh ada di sini! Ini Rumah Tuhan, jangan dikotori
dengan perbuatan-perbuatan jahat kalian! Lepaskan mereka! Mereka masih
anak-anak!” Teriak Miller sambil membuka
selembar kain putih besar berlogo Palang Merah. “Anak-anakku, berdiri di
belakangku!” Teriak Miller lagi.
Tetapi tentara-tentara Jepang itu hanya sejenak
terkejut dengan aksi Miller itu, bukannya menghentikan aksi keji mereka, salah
satu dari mereka malah menghunus samurainya dan menebas ke arah John Miller
.... memotong kain Palang Merah yang dipegang Miller sampai putus. Kemudian
mereka kembali mengejar anak-anak remaja perempuan itu untuk diperkosa.
Pada saat kritis itulah muncul seorang tentara
Tiongkok yang tersisa dari pembantaian militer Jepang sebelumnya, Mayor Li
(Tong Dawei, salah satu pemain dalam film Red
Cliff). Dengan taktik gerilyanya dia berhasil menghabisi semua tentara
Jepang yang menyerbu masuk gereja itu, sebelum dia sendiri akhirnya tewas.
Setelah kejadian itu datanglah sepasukan tentara
Jepang lainnya yang dipimpin oleh
seorang perwira militer berpangkat Kolonel, Hasegawa (Atsuro Watabe). Dia
menemui John Miller yang terus menyamar sebagai seorang pendeta itu. Kolonel
Hasegawa minta maaf atas ulah para anak buahnya itu, dan memberi makanan berupa
beberapa karung kentang. Kemudian dia meminta anak-anak gereja itu bernyanyi
untuknya, karena dia suka musik dan lagu.
Setelah mendengar anak-anak remaja perempuan itu
bernyanyi, Kolonel Hasegawa mengundang
mereka untuk datang, ke markas tentara Jepang di Nanjing untuk bernyanyi di
sebuah acara perayaan kemenangan tentara Jepang. John Miller spontan merasa
sangat khawatir dengan keselamatan anak-anak remaja yang sudah terjalin ikatan
bathin kasih sayang dan ingin melindungi mereka itu. Mengingat reputasi tentara
Jepang yang sangat doyan memperkosa perempuan-perempuan muda. Miller mencoba
menolaknya secara halus dengan mengatakan anak-anak tersebut masih kecil,
tetapi Hasegawa tetap bersikeras bahwa itu adalah perintah atasannya. Tidak
bisa ditolak. Hasegawa pun memerintah beberapa anak buahnya untuk menjaga di
sekitar gereja agar tidak ada satu orang pun yang diperbolehkan keluar.
Putus asa dan ketakutan, para remaja perempuan
dipimpin oleh Shu memanjat menara gereja dengan maksud bersama-sama meloncat
bunuh diri dari menara tersebut. Upaya mereka itu sekuat tenaga dicegah oleh John
Miller bersama dengan Yu Mo dan kawan-kawannya. Yu Mo mengatakan kepada
anak-anak itu bahwa dia dan teman-temannya telah sepakat, menyamar untuk mengganti posisi mereka. Jadi,
nanti yang ke markas Jepang untuk bernyanyi itu adalah para PSK itu, bukan
anak-anak tersebut. Hal yang semula diucapkan hanya supaya anak-anak itu
mengurung niatnya bunuh diri, berubah menjadi sesuatu yang sungguh-sungguh
dilakukan para PSK itu. Dengan keahliannya sebagai perias jenazah, Miller pun
membantu penyamaran tersebut.
Tentu saja keputusan para PSK untuk mengganti
posisi para remaja putri itu sangat tinggi risikonya. Terbongkarnya penyamaran
tersebut dengan segala risiko yang sangat mengerikan bisa dikatakan hanya
tinggal waktunya saja.
Demikian juga dengan upaya yang dilakukan oleh John
Miller yang mencoba membawa keluar para remaja perempuan itu dari gereja
tersebut menembus blokade militer tentara Jepang di kota Nanjing.
Nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang terkandung
dalam The Flowers of War ini adalah
bahwa betapa kejamnya perang itu, terutama bagi warga sipil anak-anak dan
perempuan. Kekejaman perang, dalam hal ini tentara Jepang juga telah menyentuh
hati seorang laki-laki bernama John Miller, yang awalnya hanyalah berprofesi
sebagai seorang perias jenazah, yang urakan, suka menggoda perempuan, dan
pemabuk, berubah menjadi seorang yang penuh welas kasih terhadap anak-anak
perempuan korban kekejaman perang itu. Dia pun dengan sukarela dengan taruhan
nyawanya sendiri berupaya membebaskan mereka semua dari ancaman pemerkosaan dan
pembunuhan tentara Jepang.
Perang juga telah mempersatukan para remaja
perempuan anak-anak sekolah yang dididik secara Kristen dan para PSK, dua
kelompok yang bertolak belakang secara moral itu. Selama berlindung di dalam gereja, mereka sama-sama mengalami berbagai
pengalaman yang menegangkan dan mengerikan, yang kemudian mempersatukan mereka,
serta tumbuh sikap dari saling bermusuhan menjadi saling menghargai.
Pengorbanan duabelas orang PSK demi keselamatan
para remaja perempuan dari risiko menjadi korban kekejaman tentara Jepang
adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Profesi PSK oleh kebanyakan orang
dipandang hina. Tetapi ternyata di balik apa yang dipandang hina oleh
kebanyakan orang itu tersembunyi pula jiwa yang mulia. Setelah sekian lama
tinggal bersama, timbul pula respek dan rasa kasihan Yu Mo dan kawan-kawan
terhadap para remaja anak-anak sekolah Kristen itu. Sehingga mereka rela untuk
melakukan penyamaran mengganti posisi para remaja yang dikirim ke markas tentara
Jepang di Nanjing itu.
Sekejam-kejamnya tentara Jepang, mereka masih
menghormati juga profesi seorang pendeta. Padahal mereka pasti bukan Kristen.
Karena menyamar sebagai pendeta ditambah dengan dirinya sebagai seorang
Amerika, maka pihak tentara Jepang pun enggan untuk mengusiknya. Halmana
berperan banyak bagi John Miller untuk menolong para remaja malang itu untuk
keluar dari kota Nanjing. Tetapi, apakah memang mereka berhasil?
The Flowers of War (Jin li’ng
shi’ san chai’) telah diputar di Tiongkok pada Desember 2011, yang juga
dijadikan momen memperingati 74 tahun pembantaian bala tentara Jepang di
Nanjing. Film yang berbiaya terbesar di Tiongkok sampai saat ini, 94 juta
dollar AS, sukses menduduki urutan keenam film terlaris sepanjang masa di sana.
Berhasil meraup pendapatan sebesar 89 juta dollar AS, atau sekitar Rp 747
miliar, selama 3 minggu pemutarannya di bioskop-bioskop.
Film ini juga sudah dirilis DVD dan Blu-ray-nya
di Tiongkok, Hongkong, Korea Selatan, Singapura, dan beberapa negara Asia
lainnya. Entah kenapa di Indonesia baru diputar pada pertengahan Juni 2012 ini.
Namun demikian tidak ada kata terlambat untuk menontonnya di bioskop. ***