Jakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia
NKRI Buntung, Tapi
Beruntung
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhir
pekan lalu menghadiri Pesta Raya Ulang Tahun ke-10 Restorasi Kemerdekaan Timor
Leste, 20 Mei 2012. Oleh-olehnya: persahabatan yang makin kental dan penting
bagi kedua negara. Namun persahabatan itu timpang.
Timor Leste mengharapkan Presiden RI datang
dengan keterangan tentang jasad pahlawan nasionalnya, Nicolau Lobato, tapi malah
dihadiahi meriam kuno. Sementara ratusan perwira Indonesia yang bermasalah
karena aksi bumi hangus pada 1999, meski pun dicekal PBB, tetap menikmati
impunitas.
Lebih satu dasawarsa setelah "kehilangan"
propinsi ke-27, NKRI buntung, tapi ternyata malah beruntung.
Pengingat bermakna
Perayaan
satu dasawarsa kemerdekaan Timor Leste itu seharusnya merupakan suatu pengingat
(reminder) yang bermakna bagi sang tuan rumah mau pun bagi tetangga
besar, bekas penjajah, yang kini menjadi sahabat penting.
Untuk pertama kali sejak pemerintahan bekas
propinsi ke-27 itu beralih ke lembaga PBB UNTAET pada 1999, negeri ini mengalami
stabilitas politik dan kemajuan ekonomi. Timor Leste memegang kendali baru sejak
2002, namun itu pun dengan basis politik yang rawan.
Di bawah Front CNRM, yang kelak berubah menjadi
Partai CNRT, Timor Leste memenangi referendum pada 1999 dengan mayoritas yang
meyakinkan. Tapi negeri ini bangkit dari puing-puing amuk tentara Indonesia. Dan
CNRM/CNRT hanyalah sebuah konsep tanpa struktur politik.
Walhasil, sekali pun di bawah lambang Xanana
Gusmao sebagai pemersatu bangsa, Timor Leste di bawah pemerintahan Partai
Fretilin hingga 2006 hanya ramai diguncang dari dalam dan luar.
Politik yang stabil
Baru
sejak pertengahan 2000an negeri ini mencatat kemajuan. Politik yang stabil dan
angka pertumbuhan digit-ganda. Tapi ini pun bukan sesuatu yang menakjubkan.
Berkat bonansa minyak, peluang kerja bertambah secara substansial dan
menghasilkan stabilitas.
Pertumbuhan 12% mencolok, tapi jika ini beranjak
dari puing-puing masa lalu dan merupakan hasil dari ketergantungan mutlak pada
sumberdaya minyak, maka ini tidaklah mengherankan. Bahkan prestasi itu belum
menjamin landasan ke depan selagi prasarana masih langka dan kemiskinan masih
meluas.
Yang terang pemilu presiden yang aman baru baru
ini menunjukkan negeri ini mulai beranjak mematangkan kehidupan yang
demokratis.
Bagi tuan rumah, ini merupakan lompatan yang
perlu dirayakan. Bagi sang tamu dari RI, ini suatu kehormatan. Presiden
Yudhoyono, mantan Danrem di Dili yang dikenal masih bersih dari ulah berdarah,
mendapat medali negara.
Sedangkan bagi banyak pengamat, Timor Leste
adalah semacam monumen tentang sebuah masa silam yang kelam. Barang siapa
berkelana ke pedalaman, tidaklah sulit menjumpai dampak seperempat abad perang
dan pendudukan tentara Indonesia.
Dikuburkan
bersama-sama
Timor Leste adalah sebuah negeri bertabur kubur. Setiap
rata-rata setengah jam berperjalanan, Anda dapat melihat sejumlah kuburan yang
berstruktur sama dengan warna dan hiasan yang sama. Artinya, banyak korban
ditemukan bersama, dikuburkan bersama-sama, mungkin sekali mereka dibantai
bersama-sama pula.
Bahkan, sampai pemerintah menyerukan kepada
penduduk agar mengumpulkan sisa sisa jasad kerabat dan membangun monumen di
setiap distrik bagi tulang belulang mereka.
Nicolau Lobato
Tapi ada
sebuah jasad yang sangat didambakan oleh bangsa Timor Leste, yaitu tulang
belulang Nicolau Lobato, Sukarno-nya negara ini. Presiden kedua Timor Leste ini
ditembak mati pada akhir 1978 oleh satuan pimpinan Kapten Prabowo Subianto di
bawah komandan Yonif 744 Mayor Yunus Yosfiah.
Kepalanya pernah diabadikan di bawah kaki
Kolonel Dading Kalbuadi dan Kapten Prabowo serta beberapa perwira lain sebelum
kepala tersebut kabarnya diminta Presiden Suharto agar dibawa ke Jakarta. Sejak
itu nasib sisa jasad paling berharga bagi Timor Leste itu, tak
diketahui.
Berulangkali, melalui diplomasi sunyi, Dili
mengharapkan agar Jakarta dapat mengembalikan tulang belulang tersebut, atau
setidaknya dapat memberi keterangan. Akhirnya, pada perayaan ulang tahun ke-10
kemenangan referendum pada 2009, Presiden Jose Ramos-Horta secara terbuka
meminta kembali jasad Lobato.
Bahkan, April yang lalu di Dili santer berita
seolah jasad itu akan dikembalikan, namun kehadiran Presiden Yudhoyono
membuktikan kebalikannya. Indonesia malah menghibahkan sebuah meriam historis
yang hanya berguna untuk upacara saja.
Kerjasama militer
Boleh
jadi, TNI kerepotan untuk melacak kembali sisa jasad Nicolau Lobato, justru
karena hal itu akan mengungkap aib tentara Indonesia, sekali pun hubungan
kemiliteran kedua negara membaik. Presiden baru Taur Matan Ruak April yang lalu
menegaskan kepada Radio Nederland, Timor Leste tetap menjaga hubungan baik,
bahkan juga akan meningkatkan kerjasama militer.
Jose Belo, wartawan yang kala itu membantu
kampanye Jenderal Taur, mengungkap pengganti Taur Brigjen Lere Anan Timor telah
bertemu dengan Letjen pur. Prabowo dan Letjen pur. Kiki Syanakri, komandan TNI
semasa bumi hangus 1999.
Yang menarik, Kiki kepada media Australia
mengakui dirinya belum bisa datang ke Dili karena masih dicekal PBB. Inilah
pertama kali perwira TNI mengakui bahwa sekitar 300an perwiranya resminya masih
dalam Daftar Hitam SCU, Serious Crimes Unit, badan PBB yang mendakwa mereka yang
bertanggungjawab atas kekerasan 1999.
Maju tapi gagal
Walhasil,
meski Indonesia dan Timor Leste sejak 2008 bersama-sama mengubur kejahatan masa
lalu melalui KKP (Komisi Kebenaran dan Persahabatan), sejumlah perwira
TNI-bermasalah, seperti Wiranto dan Prabowo, sebenarnya masih dipenjara di
negerinya sendiri.
Boleh jadi, itu satu alasan mereka selalu maju
sebagai capres, meski pun selalu gagal.
Apa pun, meningkatnya hubungan dagang, ekonomi,
politik dan militer antara Indonesia dan Timor Leste di sisi lain tetap ditandai
ketimpangan yang merupakan dampak langsung dari pendudukan brutal tentara
Indonesia.
Inilah yang seharusnya pantas menjadi
reminder bagi seorang presiden RI yang berkunjung ke Timor
Leste.
-
© Foto: Aboeprijadi Santoso -
www.ranesi.nl
-
© Foto: Aboeprijadi Santoso -
www.ranesi.nl
-
© Foto: Aboeprijadi Santoso -
www.ranesi.nl
- © Foto: Aboeprijadi Santoso -
www.ranesi.nl