Picon

Re: Utang kita Rp2.200.000.000.000.000

duh, tuhan....
 
salam,
ananto

2012/5/23 Sunny <ambon-AVELsB7rqi0@public.gmane.org>
 

Ref: Saya kira kalau orang yang banyak hutangnya akan sulit bergerak leluasa semaunya, karena pendapatannya terbatas dan dikekam oleh hutang yang dipukul. Mungkin sekali masalahnya berlaku bagi negara yang banyak hutangnya, apalagi rezim berkuasanya terdiri dari kaum maling dan tukang copet, jadi kalau begitu misalnya penguasa rezim NKRI berkaok-kaok pembangunan, entah pembangunan apa, dimana dan untuk yang diperuntukan. Jelas halnya ialah para pemberi pinjaman akan menuntut fasilitas-fasilitas yang memberikan mereka posisi lebih kuat dari peminjam. Bukankah begitu situasinya?
 
Bagaimana pendapat Anda tentang hutang yang bertumpuk-tumpuk ini?
 
 
 
 
Utang kita Rp2.200.000.000.000.000
Tanggal : 21 May 2012
Sumber : Harian Terbit
JAKARTA - Utang luar negeri terus menggunung lebih dari 200 miliar dolar Amerika Serikat. Anehnya, utang negara begitu gede, tetapi rakyatnya semakin miskin.

Pengamat ekonomi MRI Research M. Rizal Ismail, mengatakan kondisi utang luar negeri Indonesia sangat memprihatinkan kelangsungan bangsa Indonesia. Bahkan telah menunjukan pada titik rawan karena sudah tergantung kepada luar negeri. "Pemerintah dan Presiden SBY sudah mengeluarkan kebijakan yang salah dengan cara utang keluar negeri,"kata Rizal kepada Harian Terbit, Senin (21/5).

Bahkan, katanya, pemerintah telah mengajarkan hidup konsumtif kepada rakyatnya de-ngan jalan-jalan keluar negeri atau selalu menawarkan produk luar negeri. Banyak barang-barang impor dari luar negeri masuk ke Indonesia.

"Jika sudah banyak barang yang masuk, tentu saja menimbulkan keinginan masyarakat untuk berbelanja. Namun sayangnya, kemampuan rakyat untuk membeli barang-barang sangat minim, sehingga mengharuskan untuk utang. Utang rakyat makin menumpuk, utang pemerintah ke luar negeri pun semakin banyak," tegasnya.

Sayangnya lagi, menurut Rizal, utang luar negeri itu disinyalir dikorupsi oleh pejabat-pejabat negara lewat proyek APBN dan APBD. Sepertinya, para menteri-menteri yang sekarang merupakan titipan luar negeri, sehingga Indonesia telah dikendalikan oleh negara barat.

"Rakyat saat ini merasa tidak mempunyai pemimpin. Mereka merasa hidup sendiri. Sengsara sendiri, semakin banyak yang miskin. Keinginan rakyat tak pernah dipenuhi oleh pemerintah dan bahkan para elit politik telah memperkaya diri sendiri, keluarganya dan kepentingan diri sendiri," ucapnya.


Pertumbuhan ekonomi

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), katanya, pada 2006 total utang luar negeri Indonesia sebesar 132,63 miliar dolar AS. Sedangkan pada 2011 telah menjadi 221,60 miliar dolar AS atau sekitar Rp2,2 biliun. Utang luar negeri pada 2011 didominasi oleh utang luar negeri dari pemerintah dan bank sentral yang berjumlah 119,56 miliar dolar AS. Sementara utang swasta sebesar 102,04 miliar dolar AS.

Menurutnya, besarnya jumlah utang pemerintah tersebut ternyata tidak menunjukkan korelasi signifikan terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi. Indikatornnya ditunjukkan oleh perbaikan kualitas pelayanan dasar kepada masyarakat, seperti ketersediaan infrastruktur (energi dan transportasi), pendidikan maupun kesehatan.

Posisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia masih juga lebih rendah dibanding Thailand dan Malaysia. Begitu juga dengan daya saing dan kemudahan melakukan usaha (doing business) yang juga masih lebih rendah dibanding negara-negara tersebut.

"Salah satu penyebabnya, karena utang luar negeri Indonesia kebanyakan dipergunakan untuk sektor keuangan diban-ding untuk sektor ekonomi riil," tandasnya.

Sementara itu menurut anggota Komisi XI DPR Arif Budimanta kebijakan utang luar negeri pemerintah saat ini dinilai dalam posisi rawan. Terutama di tengah kondisi ancaman menghadapi krisis keuangan global.

Menurut dia, sudah saatnya pemerintah melakukan perubahan fundamental pada kebijakan utang. Hal ini harus dilakukan secara keselurahan yang dapat dimulai dari proses penyusunan nota keuangan pada rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) 2013. (junaedi/aw




--
yasir wa la tu’asir

"Kalau tidak berhasil saya selesaikan kasus korupsi dalam 1 tahun, pulanglah saya ke Makasar. Kami digaji oleh negara, ekspektasi masyarakat begitu besar, terus kami tidak bisa menyelesaikan, itu sama saja kita menerima gaji buta." (Abraham Samad, 02/12/2011)



__._,_.___


Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Al Faqir Ilmi | 22 May 06:31
Picon
Favicon

"PENJAJAHAN MAFIA MINYAK ATAS INDONESIA"

"PENJAJAHAN MAFIA MINYAK ATAS INDONESIA"
by <at> TrioMacan2000

Kondisi bangsa saat ini : hukum hancur, ketahanan pangan dan energy hancur, korupsi marak, kedaulatan rapuh, dst..awal bencana yg lbh besar

Sebulan lalu saya sdh kultwitkan bhw akan terjadi kelngkaan BBM. 2 minggu yg lalu mulai terjadi. Skrg makin parah dan akan semakin parah, Kenapa BBM langka? 1. Stock menipis 2. BBM subsidi 12.4 juta kiloliter digelapkan pertamina 3. Petral "bermain" 4. elpiji mau dinaikan dst

Tahukah anda bhw stock BBM pertamina itu maks hny 24 hari? Pdhl idealnya 40 hari? Kenapa bisa terjadi? Dan skrg stock BBM hny 5-7 hari

Penolakan kenaikan BBM akan dijadikan "kambing hitam" oleh pemerintah dan Pertamina terkait kelangkaan BBM. Pdhl ada mafia yg bermain disini

Ketika kontak intelejen saya di Oman & Nigeria infokan bulan lalu ttg " pembajakan MT SMYRNI dan peledakan pipa bonnylite", alarm sy bunyi Strategi serangan apa yg sedang dilancarkan oleh mafia minyak ini? Kombinasi : stock menipis, cargo crude dibajak, pipa diledakan, dst..

Ditengah2 prahara BBM ini, tiba2 menESDM teriak minta tambahan kuota BBM subsidi 3 juta kiloliter lagi ke DPR. Itu = 25 triliun. Apakah semua clue tsb kebetulan hadirnya ditengah2 pertamina dan petral disorot sbg sarang korupsi terbesar?

Kapasitas Storage BBM pertamina di seluruh Indonesia hny 24 hari. Sbgn storage itu peninggalan belanda. Pembangunan baru selalu digagalkan. Kenapa pembangunan storage BBM selalu digagalkan oleh kompardor2 mafia minyak yg skrg berkuasa di istana, pertamina dan petral?

Dengan kapasitas Storage BBM kkta yg sangat terbatas, RI "terpaksa" harus impor minyak dgn "harga tinggi" krna alasan darurat. Jika stock BBM kita cukup utk 40 hari, opsi harga impor lebih fleksibel dan murah. Tidal seperti orang kebelet yg mau bayar mahal tarif WC

Dirut Pertamina sebutkan bhw kebutuhan BBM kita thn ini 56 juta kiloliter. Faktanya thn 2011 saja 68 juta KL. Ada 12 juta KL yg "dimainkan", Dengan alasan kebutuhan darurat, Petral akan beli crude/product 30% lebih mahal dibandingkan harga rata2 dunia.

Ditengah2 kekacauan supply BBM RI, disinilah "peran" singapore. The litle dot country ini pemasok minyak ke RI. Dgn Storage & refinery-nya. Lalu pemerintah dan mafia minyak akan kambing hitamkan harga BBM yg murah dan subsidi yg besar atas kekacauan pasokan BBM ini. Padahal pemerintah tidak mampu, tidak mau dan malah jadi bagian dari operasi penggelapan BBM bersubsidi itu. Utk logistik 2014 dan pundi2

Tahun 2011 petral impor minyak produk (gasoline/diesel dst) dan crude total : 266.6 juta barel (42.4 juta kiloliter) = US$ 32 milyar APBN. Tahun ini Petral jika tidak dihancurkan oleh rakyat akan impor 300 juta barel (47.7 juta kiloliter). Dgn harga mark up US$ 120-130/barrel. Maka petral akan belanjakan uang APBN US$ 39 milyar atau Rp. 360 triliun uang APBN. Asumsikan saja mark up rata2 = 20%, atau sekitar 70 T

BBM yg kkta impor dengan mahal itu, plus BBM produksi domestik yg ada muatan subsidi nantinya sbgn akan mereka jual ke pasar nonsubsidi. Petral memang jago buat rekayasa pengadaan minyak. Guru mereka adalah trader2 raksasa yg jadi mafia minyak dunia. Bayangkan saja, harga crude saja rata2 2011 hny US$ 87/barel. Gasoline US$ 94 dan diesel US$ 102, eh petral beli sgn harga : 102, 118 & 123

Regim SBY mmg licik. BBM tidak naik is oke. Malah bagus. Mahasiswa ga demo. Tp BBM dibuat langka pdhl impor naik terus. Kemana larinya? Lalu pemerintah berkilah : "itulah..BBM tdk naik, disparitas harga tinggi, makanya banyak penyelundupan". Pdhl yg menyelundup iku sopo?

PT AKR distributor BBM Pertamina sebutkan bhw penyaluran BBM non subsidi thn 2011 hampir 27 juta kiloliter. Kok bisa? Kemana aja? Darimana?

Anggaran BBM bersubsidi di APBN akan semakin besar. Artinya anggaran pembangunan mengecil. Infrastruktur hancur. APBN kita terkuras untuk : biaya dan belanja pegawai, pembayaran utang& bunga, subsidi BBM, pangan dst. Hny tersisa sedikit utk pembangunan. Anggaran pembangunan di APBN yg mengecil itu akan semakin kecil karena 4-10%nya habis utk bayar fee mafia anggaran di DPR. Mantappp !!

So, kalau FPI memang mau amar maruf nahi munkar idealnya mereka menyerang istana, pertamina, petral, BP migas dan DPR. jihad fisabilillah

Semakin byk RI impor minyak, petral apalagi dirutnya bambang irianto akan semakin senang. Kick back beli minyak& fee sewa tanker makin besar. Dirut Pertamina, kakak dan adiknya juga happy..mereka kuasai 1/3 kapal tanker yg disewa petral/pertamina. Rata2 40-50 cargo per bulan. Fee yg diterima keluarga Karen Agustiawan dirut Pertamina dari sewa kapal tanker saja = US$ 2-3 juta/bulan. Mainan kecil sih hehehe ... Sementara itu suami Karen, Herman Agustiawan, buka kantor di Kuala Lumpur utk atur bisnis2 terkait pertamina dari jauh. Mantappp !

Karen Agustiawan itu siapa? Org luar yg sengaja dikarbit utk jadi dirut Pertamina. Sebelumnya dia dititip sbg konsultan pertamina. Setahun setelah itu Karen dipromosi jadi direktur pertamina dan setahun berikutnya jadi Dirut Pertamina atas permintaan khusus SBY. Publik masih ingat ketika menBUMN sofyan djalil sibuk bolak balik ke istana utk nama calon dirut pertamina. Semua ditolak SBY. Sampai2 akhirnya Sofyan djalil putus asa dan sebutkan semua nama yang ada diotaknya. Ketika nama KAREN disebut, langsung disambar oleh SBY

Siapa itu Karen? Kenapa SBY "jatuh cinta" kepadanya? Dia hanya boneka, makekin, dummy dari mafia minyak. Sebentar lagi dia jg akan diganti. Dapat ditebak pengganti Karen adalah Hanung Budya yg baru jadi direktur pemasaran Pertamina. Hanung dulu berkali2 tdk diloloskan BIN. BIN dijaman Sutanto tak pernah mau loloskan Hanung dan Krisna sbg direksi pertamina. Akhirnya sutanto yg dipecat utk amankan skenario mafia

Ary sumarno dirut pertamina juga jadi tumbal karena proyek ISC dan mau pindahkan petral ke Batam. Dipecat !

Karywan Pertamina yg 17.000 org itu asyik2 aja. Toh rejeki mereka ga berkurang. Ugan Ganda ketua SP diamankan dgn promosi tiap tahun hehehe

Dahlan iskan mau bubarkan petral dan tata pertamina malah kebentur tembok. Skrg dia malah difitnah dan mau dijatuhkan. DIS itu kerikil.

Batam, bitung dan biak, cilacap yang mau dikembangkan jadi storage BBM RI agar cad bisa 40 hari juga digagalkan mafia minyak.

So...cadangan BBM kita sebagian adanya di storage singapore. Kita beli BBM dari mereka. BBM itu asalnya crude kita yg kita jual ke spore

2 bulan yang lalu, ketika belum tahu Pertamina itu binatang apa, Dahlan Iskan sesumbar, Pertamina akan kalahkan Petronas..skrg DIS yg korban

Kapasitas kilang minyak kita 41 juta kiloliter tapi ga bisa produksi kapasitas penuh. Sering rusak atau "dirusakan". Ada jadwal2 tertentunya

Hatta Rajasa dulu pernah bilang : penguasa minyak adalah penguasaha yg paling tangguh. Dunianya keras, kejam, sadis, licin, biadab. Ingat kasus Zatapi, minyak oplosan ulah si Reza mafia minyak RI? Kasusnya di SP3 polisi dan skrg pejabat2 yg terlibat jd direksi Pertamina. Wamen alm. Widjajono pernah nyatakan kekagetannya..minyak produk yg kita impor semuanya oktan tinggi, kelas pertamax plus. Pak Wid kaget kenapa tiba di RI jadi premium oktan rendah? Eeh ternyata dioplos ditengah laut oleh petral hehehe

Satu2nya solusi utk perkuat ketahanan energy bidang BBM adalah dgn cara RI harus punya/beli ladang2 minyak di luar negeri. Petral bubarkan

Pola oplos petral : beli 1/3 dari total muatan tanker, isi 2/3 dgn kualitas rendah.. blending.. jadi tuh barang. Satu cargo rata2 US$ 90 juta

Pertnyaan Alm Pak Wid wamen tercinta ttg kualitas BBM yg rendah pdhl kita impor BBM kualitas tinggi di media massa itu "sangat berbahaya"

Proses blending BBM kita baik di kilang lokal atau pun singapore menyimpang dari rumus baku blending utk hasilkan premium standar. Saking serakahnya mafia minyak ini, premium kita sering beroktan hanya 84 saja. Akibatnya fuel oil mobil2 di indonesia jebol !!

Kenapa Pertamina atau pemerintah RI tidak pernah mau beli ladang (field) minyak di luar negeri? Karena bhaya. Impor akan berkurang

Puluhan tahun yl kita sudah tahu bhw nanti kita akan impor minyak. Pemerintah/pertamina tdk pernah mau beli field minyak di luar negeri. Jika RI punya field/ladang minyak di luar negeri, maka impor menyusut drastis, korupsi rente dan mark up berkurang. Koruptor/mafia rugi.

Dulu setiap impor minyak ada titipan US$ 1-2/barrel sekarang mark up alias titipan US$ 20-40/ barrel. Kita impor 266 juta barrel

Dulu mark up atau fee haram sewa kapal US$ 20-40.000 per cargo. Sekarang fee US$ 150-250.000 per cargo. Sebulan 40-50 cargo

Dulu yang bermain mark up BBM adalah cendana / Bambang Tri Cs, sekarang Reza Chalid cs (ada bambang dan rosano dibelakangnya)

Dulu yang bermain fee haram sewa kapal Tommy suharto, sekarang yg bermain Karen agustiawan dan keluarganya / Ronnie cs

Jaman Suharto, korupsi terkendali. Di pertamina jg (except ibnu S). skrg, jaman sby semua tak terkendali. Berlomba2 korupsi gila2an

Suap fee sewa tanker yang jutaan dollar per bulan itu mengalir ke atas. Operatornya ya bambang irianto dirut petral hehehe

Kakak ani sby, wiwiek mau coba2 bawa penguasaha jadi rekanan petral, langsung di cut oleh Reza Chalid. Disuap US$ 400.000 plus Rp. 250 juta. Wiwiek bawa pengusaha yg mau jd rekanan petral. Mau minta jatah impor minyak. Nawazir ditelp Karen. "layani beliau" kata Karen. Nawazier ( dirut petral sebelum Bambang irianto) langsung telp Reza. Infokan "ada musuh yg mau masuk lingkaran" ..reza beraksi : suap wiwik. Wiwiek dibujuk mafia minyak agar ga usah bantu pengusaha itu. US$ 400.000 dan 250 juta plus belanja gila2an di Spore ditanggung Reza

Tender yang dilakukan Petral semuanya sdh diatur. Pemenangnya ya itu2 saja. Dari 5 rekanan yg menang, 1 pasti prshan Reza chalid. Sekarang Petral banyak "main" sama PTT thailand. Itu arahan mafia minyak agar "seolah2" petral bersih. Mafia minyak titip fee di PTT thai

Jend sutanto dan jend endriartono yg komisaris Pertamina aja "keok" lawan mafia minyak. Itu dahsyatnya power mereka hehehe

Harga tender minyak impor petral sdh diatur. Basisnya MOPS plus alpha. Akal2alnnya luar biasa. Prosedur aman. Pembelian minyak Petral yg scra langsung alias non tender, bermain dgn BUMN negara produsen. Yg bisa diajak main ya seperti PTT Thailand

Skrg SBY / Indonesia mau jajaki beli field minyak di Timor Leste. Tp mafia minyak lbh jago. Mereka duluan masuk kesana via PTT thailand. Nanti, Pertamina jika mau beli ladang minyak Timor Leste kembali lagi berurusan dgn PTT thailand. Dikadalin lagi hehehe

Selama RI tdk punya ladang minyak di LN, maka kebutuhan minyak impor makin tinggi. Disana bermain pemburu rente yg jg antek penguasa

Dahlan Iskan : "Mafia hukum memang sadis, tapi Mafia Minyak LEBIH SADISS ! "


__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Sunny | 25 May 00:34
Picon
Favicon

Rights groups to highlight religious prosecution

Ref: Apakah ada yang membawa masalah korban 1965/1966 ataukah sudah diselesaikan?
 
 

Rights groups to highlight religious prosecution

A- A A+

Representatives from human rights groups say they will urge the United Nations Human Rights Council (UNHRC) to issue recommendations forcing the Indonesian government to guarantee the rights of religious minority groups.

“We will specifically address the increasing violence against religious minorities so that the UN’s human rights body can decide on concrete recommendations for the Indonesian government,” Human Rights Working Group (HRWG) executive director Rafendi Djamin told The Jakarta Post from Geneva.

Rafendi added that the NGO delegation would also highlight the murder of rights activist Munir Said Thalib to add urgency to the need to abolish impunity.

The Indonesian delegation to the UNHRC’s quadrennial Universal Periodic Review comprises government officials, representatives from the National Commission on Human Rights (Komnas HAM), the National Commission on the Protection from Violence Against Women (Komnas Perempuan) and the National Commission on Child Protection (KPAI), as well as members of a number of rights groups, including the HRWG and the LGBT rights group Arus Pelangi.

Rafendi said that the HRWG and other civil society organizations had also prepared a damning assessment of human rights in the country.

In a 17-page summary report prepared for the UNHRC summit, 32 rights groups concluded that “in the past four years, there have been a series of retrograde steps in the implementation of state obligations to respect, fulfill and protect human rights, mainly in the freedom of religion, the protection of migrant workers and corporate responsibility in respecting human rights”.

The report further says that freedom of religion has suffered a significant setback, as reflected in the attacks on Ahmadis in Cikeusik, Banten, and the constant harassment of the GKI Yasmin congregation in Bogor, West Java.

“The situation for religious minorities has significantly worsened since 2008,” the report says, citing Human Rights Watch (HRW) data on the increasing attacks on minority religious groups nationwide from 135 incidents in 2007 to 216 in 2010 and 184 attacks in the first few months of 2011.

The report adds 30 cases, including the recent closure of 17 churches in Aceh, recorded by the HRWG between Jan. 1 and May 7 this year.

The report also highlights violence against women, children, migrant workers, indigenous peoples, migrants, refugees and asylum-seekers, as well as internally displaced persons.

The Indonesian government had also issued 207 regulations deemed discriminatory toward some members of society as of August last year. The regulations include the 2008 Pornography Law, a decree on female circumcision issued by the Health Ministry in 2010 and more than 200 ordinances issued by local governments, the report says.

In the report civil society organizations also urge the UNHRC to recommend that the Indonesian government resolve past gross human rights violations including the anti-Chinese riots of 1998, the Semanggi shootings and the Wasior and Wamena massacres in Papua.

Separately, the human rights watchdog Setara Institute said that the government must resolve past human rights abuses or it would be found guilty by omission by the international community.

“The government is committing violations of human rights if it allows so many perpetrators to walk freely. Therefore, it must soon take action to bring those criminals to justice to prove to the international community that we respect human rights in this country,” Setara Institute chairman Hendardi said.



__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Sunny | 24 May 20:23
Picon
Favicon

NKRI Buntung, Tapi Beruntung

Map
Jakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia

NKRI Buntung, Tapi Beruntung

Diterbitkan : 23 Mei 2012 - 3:51pm | Oleh Aboeprijadi Santoso (Foto: Aboeprijadi Santoso)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhir pekan lalu menghadiri Pesta Raya Ulang Tahun ke-10 Restorasi Kemerdekaan Timor Leste, 20 Mei 2012. Oleh-olehnya: persahabatan yang makin kental dan penting bagi kedua negara. Namun persahabatan itu timpang.

Timor Leste mengharapkan Presiden RI datang dengan keterangan tentang jasad pahlawan nasionalnya, Nicolau Lobato, tapi malah dihadiahi meriam kuno. Sementara ratusan perwira Indonesia yang bermasalah karena aksi bumi hangus pada 1999, meski pun dicekal PBB, tetap menikmati impunitas.

Lebih satu dasawarsa setelah "kehilangan" propinsi ke-27, NKRI buntung, tapi ternyata malah beruntung.

Pengingat bermakna
Perayaan satu dasawarsa kemerdekaan Timor Leste itu seharusnya merupakan suatu pengingat (reminder) yang bermakna bagi sang tuan rumah mau pun bagi tetangga besar, bekas penjajah, yang kini menjadi sahabat penting.

Untuk pertama kali sejak pemerintahan bekas propinsi ke-27 itu beralih ke lembaga PBB UNTAET pada 1999, negeri ini mengalami stabilitas politik dan kemajuan ekonomi. Timor Leste memegang kendali baru sejak 2002, namun itu pun dengan basis politik yang rawan.

Di bawah Front CNRM, yang kelak berubah menjadi Partai CNRT, Timor Leste memenangi referendum pada 1999 dengan mayoritas yang meyakinkan. Tapi negeri ini bangkit dari puing-puing amuk tentara Indonesia. Dan CNRM/CNRT hanyalah sebuah konsep tanpa struktur politik.

Walhasil, sekali pun di bawah lambang Xanana Gusmao sebagai pemersatu bangsa, Timor Leste di bawah pemerintahan Partai Fretilin hingga 2006 hanya ramai diguncang dari dalam dan luar.

Politik yang stabil
Baru sejak pertengahan 2000an negeri ini mencatat kemajuan. Politik yang stabil dan angka pertumbuhan digit-ganda. Tapi ini pun bukan sesuatu yang menakjubkan. Berkat bonansa minyak, peluang kerja bertambah secara substansial dan menghasilkan stabilitas.

Pertumbuhan 12% mencolok, tapi jika ini beranjak dari puing-puing masa lalu dan merupakan hasil dari ketergantungan mutlak pada sumberdaya minyak, maka ini tidaklah mengherankan. Bahkan prestasi itu belum menjamin landasan ke depan selagi prasarana masih langka dan kemiskinan masih meluas.

Yang terang pemilu presiden yang aman baru baru ini menunjukkan negeri ini mulai beranjak mematangkan kehidupan yang demokratis.

Bagi tuan rumah, ini merupakan lompatan yang perlu dirayakan. Bagi sang tamu dari RI, ini suatu kehormatan. Presiden Yudhoyono, mantan Danrem di Dili yang dikenal masih bersih dari ulah berdarah, mendapat medali negara.

Sedangkan bagi banyak pengamat, Timor Leste adalah semacam monumen tentang sebuah masa silam yang kelam. Barang siapa berkelana ke pedalaman, tidaklah sulit menjumpai dampak seperempat abad perang dan pendudukan tentara Indonesia.

Dikuburkan bersama-sama
Timor Leste adalah sebuah negeri bertabur kubur. Setiap rata-rata setengah jam berperjalanan, Anda dapat melihat sejumlah kuburan yang berstruktur sama dengan warna dan hiasan yang sama. Artinya, banyak korban ditemukan bersama, dikuburkan bersama-sama, mungkin sekali mereka dibantai bersama-sama pula.

Bahkan, sampai pemerintah menyerukan kepada penduduk agar mengumpulkan sisa sisa jasad kerabat dan membangun monumen di setiap distrik bagi tulang belulang mereka.

Nicolau Lobato
Tapi ada sebuah jasad yang sangat didambakan oleh bangsa Timor Leste, yaitu tulang belulang Nicolau Lobato, Sukarno-nya negara ini. Presiden kedua Timor Leste ini ditembak mati pada akhir 1978 oleh satuan pimpinan Kapten Prabowo Subianto di bawah komandan Yonif 744 Mayor Yunus Yosfiah.

Kepalanya pernah diabadikan di bawah kaki Kolonel Dading Kalbuadi dan Kapten Prabowo serta beberapa perwira lain sebelum kepala tersebut kabarnya diminta Presiden Suharto agar dibawa ke Jakarta. Sejak itu nasib sisa jasad paling berharga bagi Timor Leste itu, tak diketahui.

Berulangkali, melalui diplomasi sunyi, Dili mengharapkan agar Jakarta dapat mengembalikan tulang belulang tersebut, atau setidaknya dapat memberi keterangan. Akhirnya, pada perayaan ulang tahun ke-10 kemenangan referendum pada 2009, Presiden Jose Ramos-Horta secara terbuka meminta kembali jasad Lobato.

Bahkan, April yang lalu di Dili santer berita seolah jasad itu akan dikembalikan, namun kehadiran Presiden Yudhoyono membuktikan kebalikannya. Indonesia malah menghibahkan sebuah meriam historis yang hanya berguna untuk upacara saja.

Kerjasama militer
Boleh jadi, TNI kerepotan untuk melacak kembali sisa jasad Nicolau Lobato, justru karena hal itu akan mengungkap aib tentara Indonesia, sekali pun hubungan kemiliteran kedua negara membaik. Presiden baru Taur Matan Ruak April yang lalu menegaskan kepada Radio Nederland, Timor Leste tetap menjaga hubungan baik, bahkan juga akan meningkatkan kerjasama militer.

Jose Belo, wartawan yang kala itu membantu kampanye Jenderal Taur, mengungkap pengganti Taur Brigjen Lere Anan Timor telah bertemu dengan Letjen pur. Prabowo dan Letjen pur. Kiki Syanakri, komandan TNI semasa bumi hangus 1999.

Yang menarik, Kiki kepada media Australia mengakui dirinya belum bisa datang ke Dili karena masih dicekal PBB. Inilah pertama kali perwira TNI mengakui bahwa sekitar 300an perwiranya resminya masih dalam Daftar Hitam SCU, Serious Crimes Unit, badan PBB yang mendakwa mereka yang bertanggungjawab atas kekerasan 1999.

Maju tapi gagal
Walhasil, meski Indonesia dan Timor Leste sejak 2008 bersama-sama mengubur kejahatan masa lalu melalui KKP (Komisi Kebenaran dan Persahabatan), sejumlah perwira TNI-bermasalah, seperti Wiranto dan Prabowo, sebenarnya masih dipenjara di negerinya sendiri.

Boleh jadi, itu satu alasan mereka selalu maju sebagai capres, meski pun selalu gagal.

Apa pun, meningkatnya hubungan dagang, ekonomi, politik dan militer antara Indonesia dan Timor Leste di sisi lain tetap ditandai ketimpangan yang merupakan dampak langsung dari pendudukan brutal tentara Indonesia.

Inilah yang seharusnya pantas menjadi reminder bagi seorang presiden RI yang berkunjung ke Timor Leste.

  • © Foto: Aboeprijadi Santoso - www.ranesi.nl
  • © Foto: Aboeprijadi Santoso - www.ranesi.nl
  • © Foto: Aboeprijadi Santoso - www.ranesi.nl
  • © Foto: Aboeprijadi Santoso - www.ranesi.nl


__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Sunny | 25 May 00:25
Picon
Favicon

Gaga speaks out about Jakarta drama + FUI to hold anti-Gaga rally

Gaga speaks out about Jakarta drama

A- A A+

(AP Photo/Wally Santana)

US pop singer Lady Gaga has broken her silence on the long-running drama over her planned Jakarta concert, making note of censorship concerns and threats of violence against her.

After more than a week conflicting statements and international headlines over whether authorities would allow the June 3 concert in Bung Karno Stadium in Jakarta to go ahead, Gaga used her Twitter account, <at> ladygaga, to provide two brief statements.

"The Jakarta situation is 2-fold: Indonesian authorities demand I censor the show & religious extremist separately, are threatening violence," she posted on Tuesday. “If the show does go on as scheduled, I will perform the BTWBall [Born This Way Ball] alone.”

One of those authorities is Religious Affairs Minister Suryadharma Ali, who said last week that Gaga "indulges in pornography by wearing revealing costumes" and that she would have a negative influence on young Indonesians.

There are also groups like the Islam Defenders Front (FPI), which has expressed strong opposition to the Grammy Award-winning artist, with one FPI chief, Habib Salim Alatas, saying that Gaga brings "the faith of Satan to our country and thus will destroy the nation’s morals".

FPI spokesman, Munarman, told reporters on Tuesday that Indonesian Christians should praise the FPI, as well as other Islamic organizations for opposing the American singer Lady Gaga’s concert in the country.

"Lady Gaga has obviously misused symbols of Christianity, such as the cross, in her work," he said on the sidelines of a meeting with the House of Representatives Commission III overseeing law and human rights, citing Gaga's song "Judas" as an example.

”We should be praised for what we have done instead of being condemned for threatening religious minority groups,” he added.

Meanwhile, the Islamic People’s Forum (FUI), made up of several hard-line groups, plans to stage a protest against American pop diva Lady Gaga on Friday.

It claims the protest would be “an action of a million people” that would be held at 1:30 p.m., after Friday prayers, in front of the Jakarta Police headquarters, before a march to the Bung Karno Stadium and the National Police headquarters.

FUI has called on all Islam organizations, Muslim students and Islamic study groups to join the protest.

“This action aims to urge the police and related institutions to rebuff Lady Gaga,” protest coordinator Abdul Jabbar said on Wednesday.

He said that the protest was necessary to prevent Gaga - who he deemed was an American porn star, a member of the Illuminati (a secret society believed to be planning a design for a new world order) and a devil worshipper - from corrupting the morals of young Indonesians.

Gaga's ability to perform in the country hinges on whether the National Police issues her a concert permit.

Article 15 of the 2002 Police Law stipulates that it is the National Police who have the authority "to issue a permit for, and monitor activities, involving crowds".

After saying last week that it would not issue a concert permit for the pop singer, the National Police are now saying that one would be issued if Gaga’s concert promoters can get recommendations from the Indonesian Ulema Council (MUI) and the Religious Affairs Ministry.

In response to the move made by the National Police, University of Indonesia sociologist Sarlito Wirawan Sarwono has accused police of trying to “make friends” to divert some of the blame over the Lady Gaga controversy.

“Police rarely get support from the community, no matter what they do. So this time they make friends with those institutions so they are not the only ones to be blamed,” he said.

Sarlito said that behind all the Gaga brouhaha lies the competition to show which group had the most power and could benefit from it.

“Unfortunately, we find no role for the state to calm things down and take control of everything,” he said.

Meanwhile, a criminal sociologist from the same university, Muhammad Mustofa, said the inconsistency between the two police forces showed that there was no clear criteria dividing them.

In related development of the concert, The Immigration Office has revealed that American singer Lady Gaga has already obtained a visa to enter Indonesia.

Immigration Office spokesman Maryoto Sumadi said that the visa was issued last month.

“Administrative-wise, every requirement has been met,” Maryoto said on Monday, as quoted by tempo.co.

Maryoto said the singer, whose full name is Stefani Joanne Angelina Germanotta, also had a sponsor for her stay in Jakarta.

“The status of her sponsor is also clear for us,” he said, without elaborating on the sponsor’s identity.

He said that although Gaga has not been barred from entering the country, the Immigration Office cannot provide assurances about her upcoming Jakarta concert as it was up to other government agencies to decide on the event.

More than 52,000 tickets, with prices ranging from Rp 465,000 (US$50.75) to Rp 2.25 million, have been sold for the concert since they went on sale on March 10. (png/iwa)

++++

http://www.thejakartapost.com/news/2012/05/23/fui-hold-anti-gaga-rally-friday.html

FUI to hold anti-Gaga rally Friday

A- A A+

The Islamic People’s Forum (FUI), made up of several hard-line groups, plans to stage a protest against American pop diva Lady Gaga on Friday.

It claims the protest would be “an action of a million people” that would be held at 1:30 p.m., after Friday prayers, in front of the Jakarta Police headquarters, before a march to the Bung Karno Stadium and the National Police headquarters.

FUI has called on all Islam organizations, Muslim students and Islamic study groups to join the protest.

“This action aims to urge the police and related institutions to rebuff Lady Gaga,” protest coordinator Abdul Jabbar said, as quoted by tribunnews.com on Wednesday.

He said that the protest was necessary to prevent Gaga - who he deemed was an American porn star, a member of the Illuminati (a secret society believed to be planning a design for a new world order) and a devil worshipper - from corrupting the morals of young Indonesians.

The Grammy Award-winning singer is slated to hold her Born This Way Ball concert in Bung Karno Stadium on June 3.

“In every concert, Lady Gaga often shows off symbols of the Illuminati and paganism,” Abdul said. (iwa)



__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
lola amelia | 24 May 04:09
Picon

{ UNDANGAN } The Indonesian Forum Seri 17, The Indonesian Institute dengan Tema: Menyoal Penangangan Konflik Sosial di Indonesia (Selasa, 29 Mei 2012 Pukul 14-16 WIB

Bersama ini kami mengundang Bapak/Ibu/Sdr/Sdri dalam Diskusi

“THE INDONESIAN FORUM Seri 17


Waktu               : Selasa, 29 Mei 2012 Pk. 14.00-16.00 WIB

Tema                 : Menyoal Penanganan Konflik Sosial di Indonesia

Tempat             : Lt. 1 Gd The Indonesian Institute Jl. Wahid Hasyim 194 Kampung Bali, Jakarta Pusar

 

Pada 11 April 2012 yang lalu, DPR RI dalam sidang paripurnanya telah menetapkan Rancangan Undang-Undang Penanganan Konflik Sosial (RUU PKS) menjadi Undang-Undang (UU). UU ini langsung menuai berbagai penolakan karena dinilai tak akan cukup menangani berbagai konflik sosial yang terjadi dan berkembang di Indonesia belakangan ini, terutama dengan ketentuan yang memungkinkan masuknya TNI dalam penanganan konflik.

 

Di Indonesia, ada berbagai bentuk konflik sosial, dari yang berkaitan dengan isu etnis, agama, kelompok kepemudaan, maupun kewilayahan. Di satu sisi, keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia adalah aset berharga yang menyimpan berbagai kekayaan lokal yang menjadi modal kemakmuran dan kesejahteraan bangsa. Di sisi lain, konflik yang sering terjadi saat ini disebabkan oleh persoalan yang sangat beragam dan tak melulu karena isu keberagaman.


Aktor-aktor yang terlibat pun bukan hanya kelompok-kelompok yang terlihat saling berhadapan dan berkonflik satu sama lain, namun ada aktor-aktor lain yang juga berperan penting sebagai katalisator atau penengah, seperti media, tokoh masyarakat, pemerintah (pusat dan daerah) maupun aparat keamanan.


Pertanyaan Diskusi:

1.      Bagaimana sebaiknya mendefinisikan “konflik sosial”?

2.      Bagaimana peta konflik sosial di Indonesia saat ini ?

3.      Bagaimana idealnya peran polisi maupun TNI dalam upaya pencegahan dan penanganan konflik sosial?

4.      Langkah-langkah strategis apa yang sebaiknya diambil oleh berbagai pihak untuk dapat mencegah atau menangani terjadinya konflik sosial?

 Pengantar diskusi oleh:

(1)Dr. Pos M. Hutabarat, Ph.D (Dirjen Potensi Pertahanan, Kementerian Pertahanan RI)

(2)Eva K. Sundari, Anggota Komisi III DPR RI, Fraksi PDI Perjuangan

(3)Otto Syamsuddin Ishak, Peneliti Senior IMPARSIAL

 

Moderator: Jaleswari Pramodhawardani (Dewan Penasehat The Indonesian Institute).

 

Sampai jumpa di Diskusi TIF. Pada akhir acara, akan dibagikan rangkuman hasil diskusi.

 

Salam, 



Adinda Tenriangke Muchtar. 

Direktur Program The Indonesian Institute

 

Konfirmasi dan Informasi:  Lola 081320255817 – ameliaislola-Re5JQEeQqe8AvxtiuMwx3w@public.gmane.org

 

THE INDONESIAN FORUM

Diskusi Bulanan

The Indonesian Institute

Center for Public Policy Research

The Indonesian Institute (TII) adalah lembaga penelitian kebijakan publik yang independen, nonpartisan, dan nirlaba yang didirikan sejak Oktober 2004. Kegiatan TII antara lain kajian masalah-masalah di bidang politik, ekonomi, dan sosial. Selain kajian, TII juga melakukan fasilitasi kelompok kerja serta pelatihan.

Di bidang pendidikan publik, TII juga aktif di kegiatan advokasi publik, penulisan opini dan editorial (Wacana TII), kajian bulanan (Update Indonesia) dan tahunan (Indonesia Report) serta forum diskusi (The Indonesian Forum). TII berkomitmen memberikan sumbangan pada debat-debat kebijakan publik dan memperbaiki kualitas pembuatan dan hasil kebijakan publik dalam situasi demokrasi baru di Indonesia.


The Indonesian Forum adalah kegiatan diskusi tentang masalah-masalah aktual di bidang politik, ekonomi, sosial, hukum, budaya, pertahanan keamanan dan lingkungan. TII mengadakan diskusi ini sebagai media bertemunya para narasumber yang kompeten di bidangnya, dan para pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan, serta penggiat civil society, akademisi, dan media.


Diskusi ini dilakukan rutin setiap bulannya, bertempat di Gedung The Indonesian Institute, Lt. 1. Jl. K.H. Wahid Hasyim 194  Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Telp. 3905558

 



__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Sunny | 24 May 23:16
Picon
Favicon

In Memoriam : Hans Teeuw: Ever a student of Indonesia

In Memoriam : Hans Teeuw: Ever a student of Indonesia

A- A A+
Hans Teeuw was born on Aug. 12, 1921 in Gorinchem, in the Netherlands.
He died on May 18.

JP

Hans Teeuw was born on Aug. 12, 1921 in Gorinchem, in the Netherlands.

He died on May 18.

In 1938, Teeuw became a student of Indology at Leiden, the common educational path for future colonial officials. In 1941, the war made formal study impossible.

At that time, Teeuw, barely further than being a brilliant undergraduate, addressed Prof. Jan Gonda and, while in hiding in different places managed to write the draft of a Ph.D. dissertation that was accepted in 1946. It was the edition and translation of the story and death of the criminal Bhoma.

In 2005, an English edition of the work was published by Teeuw in cooperation with Stuart Robson. A more poetic Dutch rendering was finished by Teeuw in 2011.

It would be his last work; he then prepared himself for death, not the preliminary death, of “those who died but did not reach Death” (Bhomantaka, Canto 11:9) preceding a new and better life in the earthly regions, but the fulfillment of all duties and the act of becoming unchained. That is Death written with a capital D, also in Teeuw’s translation.

His wife Joosje had preceded him in late May 2009; Hans decided to opt for starvation and reached his goal in five days – in peace and harmony.

In the uncertain period of the aftermath of the Nazis and the Pacific War, Teeuw received a government position as a language researcher, especially among the Sasak people of Lombok.

This was a hard time for him: his wife (already his fiance in 1935), had to go to Switzerland for a cure for tuberculosis. He arrived in Jakarta on September 18, 1947, and stayed until October 1951, doing fieldwork in Lombok from September 1949 to October 1950.

In late 1951 Teeuw was nominated professor of comparative linguistics at Utrecht until he moved to Leiden in 1955, when he became professor of Malay and Indonesian language and literature. This was the start of a difficult period: colonialism had ended and there was no longer a secure position for students of “Indology” and there were few students.

Willem van der Molen tells an anecdote that at an information session he was looking for something absolutely different, but instead found Teeuw sitting alone in a room, started to talk with him and so Van der Molen became one of the few students of Indonesian languages and culture between 1955 and 1965.

Teeuw was active in many fields: he published his study of Lombok, more on Old Javanese, on classical Malay (in 1966 the publication of the lovely Syair Kem Tambuhan) and started his two-volume work on modern Indonesian literature.

In the late 1960s the political relations between the Netherlands and Indonesia improved, and Teeuw became a true post-colonial scholar. He had no direct links with colonialism, loved Indonesian culture and also experienced hard times in Europe during a terrible war. He wanted true cooperation between Dutch and Indonesian scholars for the best of the two countries, but first for the enrichment of both cultures. He was not only a scholar of manuscripts and linguistic research, but could handle the bureaucracy on both sides with respect and in an effective way.

He started BIS (Bureau Indonesische Studiën) for projects in anthropology, linguistics and religious studies. In this way, I was myself invited in 1978 to start a one-year training for nine IAIN (State Institute of Islamic Studies) staff who came to the Netherlands. He accompanied these projects from a distance but when necessary he intervened with the higher levels of bureaucracy to find practical solutions.

Indonesian students in the Netherlands were always surprised to see how Teeuw could also be interested in their practical problems, welcoming them into his home.

In speeches he liked to start by giving thanks to the cleaners, administrative staff, drivers and others who made academic life possible.

A special position in the last two decades was given to Pramoedya Ananta Toer. Teeuw wrote two books about this novelist of modern Indonesia and hoped Toer would receive the Nobel Prize for literature.

If we look back at the formidable list of publications, we can only be astonished by the quantity of his work: an Indonesian-Dutch dictionary with five editions and, until five years ago at the age of 87, Pak Teeuw was still reading TEMPO to see whether new words had found their way into modern Indonesian.

But, language was most of all communication for him: he set new standards for relations between the Dutch and Indonesians in the post-colonial period.

Terima kasih, thank you very much, Pak Teeuw!


__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
fendi.felix | 23 May 16:54
Picon
Favicon
Gravatar

Mohon Bantuan Menjadi Responden [1 Attachment]

Yth. Bapak/Ibu/Sdr/i Editor dan Pecinta Buku

Mohon bantun untuk mengisi kuesioner berikut. Kuesiner ini dibuat sebagai data sekunder (pendukung) penelitian tesis saya dgn topik "Analisis Semantis Nomina Persona Berorientasi Gender dalam KBBI IV". Yang dibutuhkan adalah jawaban spontan. Tidak ada jawaban benar dan salah. Oleh karena itu, mohon dengan sangat tidak membuka kamus, google, dsb. Setelah diisi, mohon perkenan Bpk/Ibu/Sdr/i mengirim balik via e-mail berikut naniklipi-Re5JQEeQqe8AvxtiuMwx3w@public.gmane.org.

Demikian, terima kasih tak terhingga saya haturkan atas waktu dan bantuan Bpk/Ibu/ Sdr/i. Teriring doa moga segala aktivitas Anda lancar. Sekali lagi, terima kasih:) Maaf merepotkan.

Salam kreatif,

Nanik Supriyanti
085228012533
Magister Linguistik Universitas Indonesia
Bekerja di LIPI

NB: jika berkenan, mohon bantuan mem-forward kuesioner ini ke editor lainya. Terima kasih.
Yg sedang mengadakan tesis adalah istri saya (fendi.felix).

Attachment(s) from fendi.felix

1 of 1 File(s)


__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Sunny | 24 May 21:22
Picon
Favicon

Reformasi Kacau Balau

 
Reformasi Kacau Balau
Masduri* | Rabu, 23 Mei 2012 - 14:45:21 WIB


(dok/ist)
Reformasi sejatinye memperbaiki malah membuat kacau negara Indonesia.

Sudah 14 tahun bangsa Indonesia melakukan reformasi, tepatnya sejak 21 Mei 1998. Lengsernya Soeharto menandai era baru ini, sebuah era yang membuka sekat-sekat kebebasan, sehingga masyarakat dapat menyuarakan pendapat dan berekspresi secara bebas tanpa intervensi dari siapa pun.

Era itu biasa kita sebut Era Reformasi, era yang menjadikan aspiriasi masyarakat sebagai tumpuan setiap pembangunan bangsa dan negara. Era Reformasi diperakarsai oleh mahasiswa, sebagai penggerak perubahan dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945.

Keberhasilan mahasiswa melengserkan Soeharto dari jabatannya sebagai presiden tentu sangat kita apresiasi sekali sebab sebelumnya sangat sulit sekali pemberontakan terhadap rezim yang berkuasa dilakukan. Paling-paling jika terjadi pemberontakan orangnya langsung hilang atau bahkan tidak segan-segan dilenyapkan nyawanya.

Rezim Soeharto sangat represif dan otoriter, kekuatan militer menjadi senjata ampuh dalam mempertahankan kekuasaan yang dipimpinnya. Maka ketika mahasiswa mampu menggalang kekuatan yang besar dan menumbangkan rezim Soeharto, tepuk tangan bersorak-sorai di mana-mana. Tanda kemajuan bagi bangsa Indonesia sudah terbuka. Tinggal bagaimana kita mengolah kebebasan ini melanjutkan perjuangan yang dilakukan para mahasiswa 1998.

Nyatanya, sampai saat ini reformasi yang kita lakukan tidak membuahkan hasil maksimal. Bahkan yang lebih sering terjadi kekacauan yang semakin parah. Korupsi semakin marak, kekerasan dari beragam mudusnya mudah terjadi, kemiskinan semakin parah, hukum diperjualbelikan, dan kebebasan pers semakin memperkeruh persoalan.

Harapan-harapan yang semula begitu besar semakin redup melihat kenyataannya kehadiran Era Reformasi membuat negara kacau balau. Kebebasan yang terjadi melampaui etika kepatutan yang tertuang dalam Pancasila dan UUD1945. Bahkan tidak jarang kebebasan yang ada banyak dikebiri oleh kepentingan elite politik, sehingga kehadiran Era Reformasi hanya memunculkan politikus-politikus busuk yang tak bertanggung jawab.

Mestinya kebebasan yang kita miliki semakin menanusiakan manusia, dengan terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Karena tidak lain, perjuangan yang dilakukan mahasiswa tahun 1998 hanya untuk terciptanya kesejahteraan bangsa Indonesia. Bukan untuk membebaskan para elite korup mengeruk kekayaan negara sebesar-besarnya, sehingga nasib rakyat kecil semakin terpuruk. Sangat disayangkan, jika perjuangan mahasiswa yang melelahkan, bahkan mengorbankan nyawa hanya menghasilkan kesia-siaan, bahkan lebih banyak dinikmati para koruptor. Perjuangan mahasiswa tahun 1998 merupakan pengorbanan besar yang tak ternilai. Hanya saja pengorbanan tersebut sering disalahgunakan oleh anak-anak bangsa, termasuk mahasiswa sendiri saat ini.

Mahasiswa sebagai penerus reformasi 1998 mestinya tidak apatis dengan realitas kebangsaan yang kita hadapi saat ini. Sekarang mahasiswa banyak terjebak pada gaya hedonisme dan materialisme, paling-paling jika melakukan gerakan banyak yang dibayang-bayangi elite politik. Sangat sulit menemukan gerakan-gerakan mahasiswa yang murni untuk kepetingan bangsa Indonesia.

Yang sangat kita risaukan, gerakan-gerakan mahasiswa banyak yang anarkistis, tidak jarang pula dengan sesama mahasiswa yang berbeda organisasi ekstra sering terlibat bentrok, lantaran egoisme yang besar tanpa didasari semangat nasionalisme dan persatuan seperti ditegaskan dalam Sumpah Pemuda.

Lebih tepatnya lagi, semangat pergerakan reformasi mahasiswa terputus di tahun 1998. Perjuangan mahasiswa setelahnya tidak jelas arah perjuangannya, pergerakan yang dilakukan sering memunculkan persoalan baru, seperti anarkisme, kemacetan, kerusakan fasilitas negara dan beragam bentuk dampak buruk lainnya yang mestinya tidak dilakukan oleh seorang mahasiswa yang menyandang gelar agent of change, agent of control, iron stock dan avant garde.

Kebanggaan julukan ini mestinya semakin memantapkan mahasiswa dalam menjalankan arah pergerakannya sehingga perjuangan yang dilakukan membuahkan hasil yang maksimal. Tidak seperti yang terjadi akhir-kahir ini, pergerakan yang dilakukan mahasiswa sulit berhasil atau tidak didengar oleh elite pemerintah.

Ini karena gerakan mahasiswa kurang terkoordinasi dengan baik, semangat kebersamaan juga tidak ada, atau lebih parahnya perjuangan yang dilakukan mahasiswa banyak digerakkan oleh elite politik.

Tanggung jawab reformasi secara berkesinambungan berada di tangan mahasiswa sebagai kontrol sosial terhadap perjalanan reformasi yang kita buka 21 Mei 1998 lalu. Tanggung jawab ini sejalan dengan peran mahasiswa sebgai agent of control dalam masyarakat.

Artinya, jika perjalanan reformasi yang kita hadapi saat ini sudah menyimpang dari misi utama penyejahteraan masyarakat, mahasiswa harus berada di garda depan menyuarakan kembali secara lantang perjuangan yang dilakukan mahasiswa tahun 1998. Perjuangan reformasi 1998 sampai hari ini harus selalu disuarakan, agar para elite pemerintah dan masyarakat secara umum sadar peran serta fungsi masing-masing, sehingga dapat bergerak secara simultan untuk merealisasikan tujuan reformasi, yakni terwujudanya Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Sekarang kita tinggal menjalankan amanat reformasi 1998, sebuah pekerjaan besar yang harus senantiasa kita perjuangkan bersama. Dengan demikian, reformasi tidak berdampak buruk seperti yang terjadi saat ini, di mana reformasi dengan kebebasan liberal meunculkan kekacauan bagi kehidupan berbangsa benegara.

Kebebasan harus tetap kita tempatkan dalam proporsi yang benar, demi kepentingan bersama bangsa Indonesia. Nilai-nilai ideal kehidupan berbangsa bernegara yang tertera dalam Pancasila dan UUD 1945 harus senantiasa menjadi spirit kita dalam menjalakan reformasi, agar kebebasan yang kita jalankan bermakna bagi kebaikan bersama bangsa Indonesia. (*)

*Penulis adalah aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) IAIN Sunan Ampel Surabaya.



__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Sunny | 24 May 23:12
Picon
Favicon

Reformasi Tanpa Transformasi

Reformasi Tanpa Transformasi
Selasa, 22 Mei 2012 | 14:51

Sejak Soeharto lengser pada Mei 1998, Indonesia mengalami perubahan yang luar biasa. Pada masa Soekarno, kita mengalami demokrasi terpimpin dan ketika masa Soeharto berubah menjadi demokrasi Pancasila, tetapi hakikatnya adalah otoritarianisme.

Setelah 53 tahun berlalu, Indonesia memasuki era baru, yakni era reformasi, era kebebasan. Setidaknya ada dua agenda utama reformasi, yakni pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dan demokratisasi. Pelaksanaan kedua agenda utama reformasi itu diatur melalui berbagai revisi undang-undang, bahkan dengan empat kali amendemen UUD 1945 yang dahulu dikenal sakral.

Terkait pelaksanaan kedua agenda itu, setidaknya kita memiliki tiga catatan. Pertama, dalam upaya memberantas KKN, ada sejumlah kebijakan baru yang dilahirkan. Salah satu kebijakan yang paling fenomenal adalah pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Awalnya, lembaga super itu dibentuk untuk “memecut” kinerja Kepolisian dan Kejaksaan Agung yang selama ini dinilai sangat lemah. Tetapi setelah lebih dari delapan tahun berdiri, KPK justru menjelma menjadi lembaga yang mulai bisa diandalkan, tetapi sebaliknya belum cukup mampu mendongkrak kinerja kedua lembaga penegak hukum lainnya. Sepertinya tak ada korelasi antara pendirian KPK dengan perbaikan kinerja Kepolisian dan Kejaksaan.

Reformasi boleh terus berkumandang, Kepolisian dan Kejaksaan bergeming. Persoalannya, kinerja KPK setelah memasuki jilid III juga relatif kurang memuaskan. Lembaga itu belum sepenuhnya mampu memaksimalkan kewenangan yang dimiliki untuk menuntaskan kasus korupsi kelas kakap.

Praktik pemberantasan korupsi secara tebang pilih masih tetap terjadi. Bahkan, tudingan bahwa KPK menjadi alat penguasa untuk menekan lawan-lawan politik tak pernah mengendur. Kasus Century yang merugikan keuangan negara Rp 6,7 triliun seolah dipetieskan. Kasus dugaan korupsi pajak, baru sampai pada pegawai kelas teri sekelas Gayus Tambunan dan Dhana Widyatmika. Dugaan korupsi di Badan Anggaran DPR masih terkatung-katung dan gurita-korupsi yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M Nazaruddin, tak jua menyengat beberapa elite parpol. Penegakan hukum yang masih tebang-pilih membuat wajah reformasi di bidang hukum tetap memelas.

Kedua, reformasi membuat DPR menjadi lembaga negara yang sangat kuat. Sayangnya, kekuatan itu justru dimanfaatkan untuk memperkaya diri dan menjadi ATM parpol. Proyek-proyek pemerintah telah dikaveling, bahkan diijonkan. Fit and proper test menjadi ajang mengeruk keuntungan dari para calon pejabat publik. Pembuatan UU pun disesuaikan dengan pesanan sponsor, baik dari dalam maupun luar negeri.

Semua itu terjadi karena proses perekrutan calon anggota legislatif (caleg) yang buruk dan parpol tak mempunyai sumber dana mandiri. Sumber pendanaan parpol yang berasal dari iuran anggota, donasi perorangan dan badan swasta, serta APBN dan APBD, hanya formalitas belaka. Sebagian besar dana partai justru berasal dari kader-kadernya di parlemen yang memang ditugaskan mencari duit melalui berbagai proyek pemerintah. Modus tersebut tak pernah terungkap selama ini karena minimnya transparansi anggaran parpol dan adanya “perlindungan” dari undang-undang yang memang sengaja dirancang untuk tak memberi sanksi kepada parpol yang melanggar aturan transparansi pendanaan.

Ketiga, terkait dengan poin kedua, kinerja DPR yang selalu menuai kritik tak terlepas dari proses demokrasi prosedural, bukan demokrasi substantif. Pemilihan langsung anggota legislatif dengan sistem proporsional terbuka tetap membuka celah permainan politik uang.
Tak heran bila tak banyak kader parpol mumpuni yang menjadi anggota legislatif. Para caleg berduit dan populer yang lebih banyak “mewakili” rakyat, tetapi tak banyak berbuat bagi rakyat. Mereka lebih cenderung bekerja untuk kepentingan parpol dan diri sendiri.

Sedangkan kader parpol yang berkualitas justru tenggelam dan mengikuti arus besar politisi sontoloyo, bahkan mulai mengecap nikmatnya kekuasaan. Kenyataan tersebut membuat kita mendorong proses reformasi berjalan simultan dengan proses transformasi. Kebebasan yang diperoleh selama reformasi justru kerap disalahgunakan untuk merusak pluralisme. Semua itu terjadi karena lemahnya penegakan hukum.

Bagi kita, tanpa transformasi, reformasi hanya menguntungkan segelintir elite, tetapi tetap menyengsarakan rakyat. Transformasi akan terwujud apabila terjadi perubahan pola pikir, sikap-mental, dan perilaku, khususnya di kalangan penyelenggara negara dan elite bangsa.

Para penyelenggara dan elite harus mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi dan keluarga, sekaligus mengedepankan kepentingan rakyat daripada ego penyelenggara negara dan kepentingan parpol.

Tanpa itu, transformasi yang diharapkan tetap berhenti pada reformasi dan negeri ini akan sulit maju, bahkan cenderung mundur. Untuk mewujudkannya dibutuhkan sosok pemimpin nasional yang tegas, sekaligus bijak, didukung lembaga-lembaga negara yang kredibel dan mengedepankan prinsip check and balances, serta penyelenggara negara yang amanah.



__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
chendra panatan | 24 May 19:14
Picon
Favicon

Undangan pers utk meliput opera IBU (Ananda Sukarlan / Seno G.Ajidarma)

Dengan hormat,

Dengan ini kami ingin menyampaikan undangan untuk meliput konser Opera "Ibu, yang anaknya diculik itu" (musik oleh Ananda Sukarlan, dari cerpen monolog Seno Gumira Ajidarma dan dinyanyikan soprano Aning Katamsi) yang akan diselenggarakan

di Gedung Kesenian Jakarta
Sabtu 26 Mei 2012 pk. 7.30 malam

Ananda Sukarlan sendiri sejak sore (sekitar pukul 4) sudah available di Ged. Kesenian jika ingin mewawancarainya.

  Jika anda berminat untuk meliputnya, kami menyediakan 2 (dua) undangan untuk media anda. Mohon reserve sebelumnya ke kami, ycep-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@public.gmane.org atau 0818 891038 sehingga kami dapat menyediakan tempat duduk untuk anda.
   Jika anda ingin mewawancarai Ananda Sukarlan secara terpisah silakan hubungi kami juga. Ananda bisa di follow di twitternya <at> anandasukarlan .
   Besar harapan kami untuk menyambut kehadiran anda. Dibawah ini kami lampirkan details tentang opera ini. Terima kasih

Salam
Chendra Panatan
manager Ananda Sukarlan

 

Ibu, yang anaknya diculik itu

Sebuah pocket opera oleh Ananda Sukarlan, berdasarkan cerpen dari Seno Gumira Ajidarma. Lighting & stage direction oleh Chendra Panatan.

Aning Katamsi (soprano) sebagai "Ibu", Ananda Sukarlan (piano) Elizabeth Ashford  (flute)



Pocket opera adalah sebuah bentuk baru yang menggambarkan sebuah opera yang 'praktis dipagelarkan'; karena tidak melibatkan terlalu banyak pemain dan stage decor, tanpa mengurangi kualitas dan 'magic' dari suatu pertunjukan opera.

Untuk IBU, Ananda Sukarlan menciptanya untuk satu penyanyi saja, yang akan ditampilkan oleh soprano terkemuka Indonesia Aning Katamsi, sehingga karya ini menjadikannya sebuah 'tour-de-force' yang sangat virtuosik, karena Aning (atau soprano manapun yang akan mementaskannya di masa depan) harus menyanyi, berakting dan berdeklamasi selama 35 menit sendirian. Opera ini adalah sebuah kontribusi yang penting dalam khasanah musik sastra Indonesia, terutama karena menjadi 'ujian' bagi setiap penyanyi soprano yang kelak mempagelarkannya, baik dari segi artistik, musikalitas, stamina dan teknik.

Karya IBU ini berdasarkan drama monolog dari Seno Gumira Ajidarma, dengan judul yang sama dan telah dipagelarkan oleh aktris Niniek L. Karim tahun 2008 yang lalu. Ceritanya mengisahkan kepedihan seorang ibu yang anaknya hilang diculik lebih dari 10 th yang lalu dan tidak kembali sampai saat ini.


Mohon konfirmasi berhubung tempat yang terbatas ke:
Ananda Sukarlan Center : (021)-723 7285 (jam kerja)
atau hp 0818 891038, atau ycep-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@public.gmane.org

Follow juga twitter <at> anandasukarlan untuk updates



__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Group <at> FB:
http://www.facebook.com/groups/mediacare/






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Gmane